Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 110

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 110

Namun, Vijananda yang berasal dari Thian-tok (India) itu menangkis.

"Niocu, nanti dulu... aku, ah... plak-brett!" Vijananda menghentikan seruannya. Tongkatnya mental saat bertemu lengan wanita itu, tertolak dan hampir mengemplang kepalanya sendiri. Sementara dia melompat mundur untuk menarik kepalanya, baju sang pendeta tiba-tiba disambar dan robek oleh tangan kiri wanita itu yang bergerak menyusul.

"Ah...!" Vijananda menjatuhkan diri bergulingan. Dia ingat dan mencelos oleh keganasan lawannya ini. Namun, ia melompat bangun dan buru-buru menggoyangkan lengan sambil berseru, "Niocu, nanti dulu. Dengarkan dulu omonganku."

Vijananda kembali menghentikan seruannya. Dia melihat Lie Lan memekik dan mengejarnya tanpa peduli, sama sekali tidak menghiraukan seruannya itu. Melihat wanita ini menampar dan bertubi-tubi melakukan pukulan Tok-hiat-jiu, akhirnya Vijananda mengeluh dan menangkis dengan menggerakkan tongkatnya, berlompatan ke sana ke mari menghindari pukulan lawan yang berbahaya, terutama telapak tangan wanita itu yang berubah kemerah-merahan dan berbau amis.

Begitu dua orang ini berkelebatan saling sambar-menyambar, pertandingan pun tidak dapat dihindari lagi. Vijananda bertahan dengan tongkatnya, mati-matian menangkis dan balas menyerang. Namun, karena pukulan Tok-hiat-jiu adalah pukulan beracun yang membawa bau amis, akhirnya pendeta ini sesak napas dan batuk-batuk. Dia mundur, kewalahan oleh serangan lawan yang gencar dan bertubi-tubi, terutama oleh bau sengak yang mulai meracuni paru-parunya.

Ketika dirinya semakin terdesak dan Tok-sim Sian-li melancarkan pukulan-pukulan maut yang siap merenggut nyawanya, tiba-tiba Vijananda melirik ke sana ke mari untuk melarikan diri. Namun, Tok-sim Sian-li rupanya tahu. Wanita ini melihat gerak-gerik lawan yang mencurigakan, selalu mencari tempat gelap. Maka, ketika lawan kembali mundur oleh tamparan lengannya dan Vijananda melompat jauh untuk melarikan diri, tiba-tiba Lie Lan membentak dan mencabut bendera iblisnya.

"Vijananda, ke mana kau lari?"

Vijananda terkejut. Dia sudah memutar tubuh untuk melarikan diri, tapi ketika sebuah benda hitam menyambar tubuhnya dan kain bendera menderu dengan dahsyat, tiba-tiba pendeta ini berteriak dan menggerakkan tongkat. "Tok-sim Sian-li, kau wanita telengas...!"

Lie Lan tertawa mengejek. Dia terus mengibaskan kain benderanya, bertemu tongkat, dan diputar menggulung diri lawannya. Ketika Vijananda berteriak kaget karena tubuhnya terbungkus bendera, saat itulah untuk pertama kalinya Vijananda memekik ketika pukulan Tok-hiat-jiu yang dilancarkan tangan kiri Lie Lan mengenai lehernya.

"Plak!" Vijananda menjerit. Dia terlempar dan terbanting roboh, bergulingan tapi masih tetap terbelit bendera. Kaget serta marah oleh desakan lawan yang tak mengampuninya, tiba-tiba pendeta ini menjadi nekat. Dia menyeruduk ke depan sekenanya, dan tongkat yang mencuat dari sela-sela bendera sudah ditusukkan dengan penuh kemarahan.

"Tok-sim Sian-li, kau culas!"

Lie Lan mendengus. Ia mengelak ke kiri, membuat tongkat mengenai tempat kosong. Begitu jarinya menampar, untuk kedua kalinya Vijananda menerima pukulan Tok-hiat-jiu. Kontan pendeta itu menjerit, dan sementara dia terguling-guling dengan tubuh masih dibungkus bendera, saat itulah Lie Lan melancarkan serangan ketiga.

"Vijananda, mampuslah menghadap Giam-lo-ong!"

Vijananda tidak dapat mengelak. Dia hanya menjerit sekali ketika pukulan terakhir itu datang, persis mengenai kepalanya. Begitu terdengar suara "prak" yang cukup keras, pendeta ini pun mengeluh dan roboh tak berkutik. Tewas!

Lie Lan membuka lilitan benderanya. Dia melihat pendeta itu terkapar, tengkoraknya pecah dan mendelik dengan mata melotot, rupanya penasaran akan kematiannya itu. Namun, Lie Lan yang tidak peduli akan semuanya ini sudah menendang mayat pendeta itu ke dalam semak-semak.

Saat itulah tiba-tiba terdengar suara, "Tok-sim Sian-li, kau tak dapat diberi tahu orang. Anakmu itu kelak akan membunuhmu seperti kau membunuh aku!"

Lie Lan terkejut. Dia merinding oleh kata-kata ini, seruan dari roh Vijananda yang seolah mengutuknya. Tapi tidak peduli dan tertawa mengejek oleh ancaman yang dianggapnya kosong itu, Lie Lan sudah membalikkan tubuhnya dan terkelebat kembali memasuki kamar.

Seperti biasa, pagi itu dalam kekecewaannya yang berlarut-larut, Pendekar Kepala Batu duduk di belakang rumahnya. Dia menenggak arak dengan guci besar, tidak mempergunakan cawan melainkan menggelogok langsung dari mulut guci ke dalam mulutnya sendiri. Suasana pagi itu sepi. Tidak ada orang, karena Ceng Ban dan dua putranya pergi turun gunung ke Ta-pie-san. Ciok-thouw Taihiap yang sudah bertahun-tahun dilanda kekecewaan pribadi ini akhirnya bicara seperti orang mabuk sambil menenggak araknya.

"Han Ki, Han Bu... kalian dua bocah tolol yang tidak tahu hebatnya Soan-hoan-ciang. Kenapa tidak berlatih sungguh-sungguh dan mengecewakan aku? Ah, kalian anak-anak bodoh, Han Ki. Kau dan adikmu itu goblok melebihi kerbau! Ha-ha, Soan-hoan-ciang harus kuwariskan pada siapa? Kepada angin lalukah? Atau kepada setan yang gentayangan di muka bumi?"

Ciok-thouw Taihiap tertawa-tawa. Dia menenggak kembali araknya, tapi menggebrak meja dan tiba-tiba menyemprotkan arak tersebut. Arak yang berubah beku itu menyambar ke kiri di mana seseorang bersembunyi!

"Siapa di situ?"

Seseorang terdengar mengaduh. Ciok-thouw Taihiap melihat seorang pemuda muncul dengan tiba-tiba, melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Pemuda tak dikenal itu langsung menjatuhkan diri berlutut. Ciok-thouw Taihiap yang terbelalak memandang pemuda ini tiba-tiba menggereng dan bangkit berdiri.

"Kau siapa, bocah? Kenapa mengintai dan memasuki tempat ini?"

Pemuda itu membenturkan dahinya. "Siauwte (aku) Liong Ceng, locianpwe. Maaf bahwa siauwte datang tanpa izin."

"Ya, aku tahu. Tapi apa maksudmu datang ke mari?" Ciok-thouw Taihiap membentak.

"Siauwte... siauwte..." pemuda itu tergagap, menyeringai, dan tiba-tiba menangis. "Siauwte datang untuk melamar sesuatu, locianpwe. Siauwte ingin menjadi muridmu untuk membalas sakit hati!"

"Apa? Kau mau berguru kepadaku?"

"Kalau kau perkenankan, locianpwe. Karena siauwte ingin membalas dendam atas kematian orang tua siauwte di tangan So-beng!"

"Hah?" Ciok-thouw Taihiap tertegun. "So-beng?"

"Ya, So-beng, locianpwe. Iblis Penagih Jiwa itu telah membunuh dua orang tua siauwte yang katanya membela Ho-han-hwe (Perkumpulan Kaum Patriot)!"

Ciok-thouw Taihiap terhenyak, melangkah maju, dan tiba-tiba tergerak hatinya. "Bocah, angkat wajahmu dan tengadahkan kepala. Aku ingin melihat tampangmu!"

Liong Ceng mengangkat mukanya. Dia tergetar dan terkejut melihat pandang mata ketua Beng-san-pai itu berkilat mirip mata seekor naga, garang, keren, dan menakutkan. Liong Ceng yang sebentar saja sudah menundukkan kepala, tidak berani lama-lama beradu pandang dengan pendekar sakti itu. Tiba-tiba, kepalanya dicengkeram oleh lima jari Ciok-thouw Taihiap yang mengeluarkan suara berkerotok.

"Bocah, tengadahkan kepala dan lihat mataku! Kenapa menunduk? Kau tidak dengar, hah?"

Liong Ceng terkesiap. Dia terpaksa mengangkat kepalanya, terkejut oleh bentakan yang bengis dan menggetarkan isi dadanya itu. Mendongkol karena Ciok-thouw Taihiap selalu membentak-bentak, tiba-tiba pemuda ini melotot dan memandang marah pendekar itu! Aneh sekali, Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba tertawa.

"Ha-ha, bagus, anak muda. Kau memiliki keberanian besar yang mengagumkan hatiku. Tapi jangan melotot, aku tidak suka itu... plak!"

Ciok-thouw Taihiap menggerakkan jari menepuk Liong Ceng, membuat pemuda itu mencelat dan terlempar roboh dengan seruan kaget, "Locianpwe...!"

Namun, Ciok-thouw Taihiap memutar tubuhnya. Ketua Beng-san-pai itu kembali ke tempat duduknya semula, menyambar arak, dan tergelak-gelak tanpa peduli pada pemuda yang sudah melompat bangun itu. Liong Ceng yang penasaran melihat ketua Beng-san-pai ini tidak menghiraukan dirinya, akhirnya melompat maju dan menjatuhkan diri berlutut.

"Locianpwe, bagaimana dengan permohonanku? Bisakah kau terima aku untuk menjadi murid?"

"Hm, kau kurang memenuhi syarat, bocah," Ciok-thouw Taihiap acuh tak acuh. "Sebaiknya kembali saja dan buang jauh-jauh keinginanmu untuk menjadi muridku!"

"Tapi, locianpwe, So-beng hanya takut kepadamu. Kalau tidak mendapatkan warisan ilmu silatmu, lalu bagaimana aku dapat membalas kematian orang tuaku? Di dunia ini hanya kau yang kuharap, locianpwe. Aku telah bersumpah untuk menjadi muridmu atau mati di tempat ini kalau kau menolak!"

Ciok-thouw Taihiap terbelalak. "Kau main paksa, bocah! Bagaimana kau mau mati?"

"Aku akan berlutut di depanmu, locianpwe. Sampai kau meluluskan permintaanku atau tetap menolaknya sampai aku mampus!"

"Kalau aku pergi?"

"Aku akan mengikutimu, locianpwe. Aku akan mengejarmu sampai ke mana pun kau pergi."

"Keparat!" Ciok-thouw Taihiap menjadi marah. "Kalau begitu biar kutendang kau, bocah. Nah, enyahlah di sana dan berlutut seperti katamu tadi... dess!"

Liong Ceng yang ditendang pendekar ini mencelat dan jatuh sepuluh tombak lebih. Ia menggigit bibirnya, namun bangkit berdiri, terhuyung-huyung, dan kembali mendekati pendekar ini, lalu berlutut. Dengan suara nyaring dan sungguh-sungguh, pemuda ini mengeraskan dagunya, "Locianpwe, aku tidak mau berlutut jauh di depan kakimu. Kalau kau menolak, biarlah kau lihat mayatku menggeletak di depan kakimu!"

Ciok-thouw Taihiap terbelalak. Dia melihat pemuda itu benar-benar berlutut di dekatnya, tidak jauh, hanya semeter saja. Ciok-thouw Taihiap yang gusar hatinya tiba-tiba menendang kembali dengan marah. "Bocah, kalau kau mau mati, mampuslah di tempat yang jauh sana. Jangan di sini. Dess...!"

Liong Ceng kembali terlempar. Pemuda itu terguling-guling, tapi melompat bangun dan terhuyung-huyung memandang ketua Beng-san-pai itu kembali. Pemuda ini menjatuhkan diri berlutut di tempat yang sama, duduk tak jauh dari pendekar itu!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment