Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 111

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 111

"Locianpwe, kau boleh membunuhku kalau tidak percaya akan keteguhan niatku. Aku tak mau jauh darimu sebelum cita-citaku berhasil!"

"Eh?" Ciok-thouw Taihiap tertegun.

"Kau nekat?"

"Selama kau masih menolakku, locianpwe. Selama keinginanku belum terpenuhi dan kau ingin melihat aku mati di sini!"

Ciok-thouw Taihiap bangkit berdiri. Sekarang pendekar ini tertarik, tetapi tiba-tiba dia tertawa mengejek untuk ketiga kalinya dan kembali menendang pemuda itu.

"Bocah, aku tak suka mengambil murid untuk saat ini. Kau pergilah dan jangan ganggu aku!"

Liong Ceng terlempar. Untuk ketiga kalinya pula dia menahan sakit, tetapi bangkit berdiri dan terhuyung menghampiri pendekar itu. Kembali dia menjatuhkan diri berlutut di tempat yang sama. Tak mau mengalah! Ciok-thouw Taihiap yang jengkel tiba-tiba kembali menendang dan menendang. Akibatnya, Liong Ceng dihajar pulang-balik. Namun, ketika pemuda itu tetap nekat dan kembali mendekati meja araknya untuk berlutut di situ, akhirnya Ciok-thouw Taihiap mengangkat kakinya dan ganti menendang meja berikut araknya itu ke sudut taman.

"Bocah, baik kau berlutut di situ saja. Aku yang pindah!"

Ciok-thouw Taihiap benar-benar pindah. Dia sudah menyambar dan menenggak araknya, minum dengan jengkel. Namun, begitu menurunkan guci arak dan melihat ke kiri, tahu-tahu pemuda itu sudah mengikutinya pula dan berlutut tak jauh di bawah kakinya.

"Locianpwe, aku juga ikut pindah. Aku selalu akan membayangimu ke manapun kau pergi..."

Ciok-thouw Taihiap mendelik. Dia marah, tapi juga heran. Merasa terganggu dan gusar oleh sikap pemuda ini, mendadak ketua Beng-san-pai itu membungkukkan tubuhnya dan mencengkeram leher baju pemuda itu.

"Bocah, enyahlah. Aku tak mau mengambilmu sebagai murid, brengsek!"

Liong Ceng terguling-guling. Dia dilempar jauh dari tempat itu. Ketika dia bangkit berdiri dan kembali akan mendekati pendekar itu, tahu-tahu Ciok-thouw Taihiap sudah berkelebat di depannya dan menangkap leher bajunya lagi. Lalu, membentak dan melemparnya jauh. Liong Ceng melayang dan jatuh di luar tembok taman, berdebuk dan terguling-guling di situ. Namun, Ciok-thouw Taihiap yang rupanya tak puas dengan sepak terjangnya itu kembali menyusul dan bertubi-tubi melempar serta menendang pemuda ini. Tidak sekali dua kali, tapi berkali-kali, hingga pemuda itu mengeluh dan babak belur. Lalu, ketika Ciok-thouw Taihiap menghentikan gerakannya dan Liong Ceng tak dapat bangkit berdiri karena tulang-tulangnya seakan remuk, maka ternyatalah pemuda itu sudah keluar dari tempat tinggal pendekar itu dan jauh di kaki gunung!

"Nah, sekarang kau tak dapat menggangguku lagi, bocah. Tidur dan beristirahatlah di situ...!"

Ciok-thouw Taihiap berkelebat lenyap. Dia sekarang puas dan lega; pemuda yang mengganggunya ini sudah dibuatnya tak berdaya di kaki gunung, jauh dari tempat tinggalnya, dan tak akan mengganggu lagi. Ciok-thouw Taihiap kembali ke meja araknya dan menenggak minuman keras itu, melanjutkan pekerjaannya sehari-hari dengan mabuk-mabukan, tak peduli lagi akan keadaan sekitar dan melupakan pemuda itu.

Namun, ketika keesokan harinya dia bangun tidur dan membuka pintu kamarnya, tiba-tiba saja pemuda itu telah ada di depannya, berlutut dan menungging dalam keadaan tidur.

"Ah, kau kembali ke sini, anak setan?"

Ciok-thouw Taihiap langsung menggerakkan kakinya, menendang Liong Ceng yang terpental dan bangun dari tidurnya karena kaget. Namun, melihat bahwa yang melakukan itu adalah Pendekar Kepala Batu, tiba-tiba pemuda ini menjadi girang dan berseru, "Locianpwe, aku menepati janjiku. Aku akan selalu bersamamu di manapun kau berada!"

Ciok-thouw Taihiap tertegun. Dia benar-benar heran dan terbelalak memandang pemuda ini; pemuda yang memiliki kekerasan hati dan kebencian besar, pemuda yang nekat dan bandel! Namun, Ciok-thouw Taihiap yang kembali merasa terganggu oleh pemuda itu sekonyong-konyong mengebutkan lengannya, menampar dari jauh.

"Bocah, pergilah. Sudah kubilang aku tak mau mengambilmu sebagai murid. Plak!"

Liong Ceng terbanting di luar kamar. Dia mengaduh dan menahan sakit. Bajunya robek-robek. Tapi bangkit berdiri dan tersenyum getir, dia terhuyung menghadap pendekar itu lagi.

"Locianpwe, kau tak dapat mengusirku begitu saja. Aku telah bertekad untuk mempertaruhkan nyawaku bila keinginanku gagal. Boleh kau bunuh aku kalau tidak percaya!"

Ciok-thouw Taihiap tertegun. Dia terhenyak dan kagum memandang pemuda ini. Tergerak serta mulai tertarik, tiba-tiba dia melompat keluar dan lari turun gunung.

"Bocah, kau benar-benar anak setan. Tapi coba kau kejar dan dekati aku...!"

Liong Ceng menggigit bibir. Dia melihat pendekar itu terbang turun gunung; ginkangnya hebat sekali dan meluncur bagai gerakan seorang iblis. Namun, mengeraskan hati dan tersaruk-saruk, tiba-tiba dia pun melompat dan berseru, "Baik, aku akan mengejarmu, locianpwe. Dan tak akan berhenti sebelum aku roboh!"

Ciok-thouw Taihiap tertawa. Dia melihat pemuda itu mengejarnya di belakang. Karena ingin tahu sampai di manakah kemampuan pemuda itu, tiba-tiba Ciok-thouw Taihiap berputar-putar di pinggang gunung. Dengan geli tapi juga kagum, dia melihat pemuda itu terus membuntutinya, terkadang kehilangan jejak. Namun, Ciok-thouw Taihiap yang sengaja menampakkan diri akhirnya muncul kembali, membiarkan pemuda itu terengah dan jatuh bangun di belakang. Dan ketika seharian penuh dia menguji pemuda itu dan mendapat kenyataan bahwa pemuda itu memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa kuat, tiba-tiba Ciok-thouw Taihiap tertawa girang bukan main.

"Bocah, kau memang hebat. Tapi sekarang kau tak dapat mendekatiku lagi...!"

Ciok-thouw Taihiap melompati sebuah jurang. Jurang ini lebar dan dalam sekali, ada dua puluh tombak. Ketika Liong Ceng menyusul dan tiba dengan napas memburu di tepi jurang sebelah sana, Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak dan berkata mengejek, "Bagaimana, kau tak dapat mendekatiku lagi bukan, anak muda? Jurang ini lebar sekali. Salah-salah kau mampus kalau berani melompat ke sini!"

Liong Ceng terbelalak. Dia melihat ketua Beng-san-pai ini tertawa di sebelah sana, mengebutkan baju, dan duduk dengan sombong. Sikapnya mengejek dan merendahkan sekali. Namun, Liong Ceng yang benar-benar berani ini tiba-tiba mengepalkan tinju dan berkata marah, "Locianpwe, agaknya kau memang ingin melihat aku mampus. Baiklah, siapa takut menghadapi kematian? Aku tak gentar, Ciok-thouw Taihiap! Aku akan menyeberangi jurang ini dan biar mampus kalau gagal... haitt!"

Liong Ceng melompat dengan nekat melewati jurang itu, menghentakkan seluruh kekuatan kakinya untuk tiba di seberang. Tapi Liong Ceng gagal. Dia benar-benar tak sanggup. Pertama karena dirinya sudah lelah, dan kedua karena jurang itu memang terlalu lebar baginya. Begitu melayang baru setengah jarak, tiba-tiba tubuhnya amblas dan meluncur ke bawah.

"Hei...!" Ciok-thouw Taihiap terkejut.

Ketua Beng-san-pai itu mengeluarkan bentakan keras, kaget melihat pemuda itu terjerumus di dalam jurang. Namun, bergerak cepat bagai seekor burung besar, tahu-tahu ketua Beng-san-pai ini sudah melenting dan berjungkir balik ke dalam jurang. Dengan kepandaiannya yang luar biasa, pendekar ini menyambar tubuh Liong Ceng. Sejenak terjerumus pula di dalam jurang, tapi kedua kakinya yang bergerak menotol dinding sudah membuat Ciok-thouw Taihiap terjungkir balik di udara dan keluar dengan selamat di bibir jurang sebelah sana!

"Siluman, kenapa kau nekat, bodoh?" Liong Ceng dibanting kasar.

Dia melihat Ciok-thouw Taihiap mendelik padanya, marah tapi juga kagum. Liong Ceng yang tahu bahwa pendekar ini sudah berhasil "ditaklukkan" tiba-tiba tertawa dan menjatuhkan diri berlutut.

"Suhu, siauw-te menghaturkan hormat. Terima kasih atas pertolonganmu!"

Ciok-thouw Taihiap membanting kakinya. "Siapa mengangkatmu murid? Apa kau bilang?"

"Teecu bilang terima kasih, Suhu. Kau ternyata mengabulkan permintaanku dan tidak membiarkan aku mati di dalam jurang!"

"Keparat, tapi itu bukan berarti aku mengangkatmu sebagai murid, bocah. Aku tak sudi menjadi guru dan mengangkat murid!"

"Kalau begitu kenapa kau menyelamatkan nyawaku? Aku berhutang budi, Suhu. Betapapun aku akan menyertaimu dan menjadi murid!"

Liong Ceng tiba-tiba pai-kui, membenturkan dahinya sebanyak delapan kali di depan kaki Ciok-thouw Taihiap. Ciok-thouw Taihiap yang akhirnya luluh oleh kenekatan pemuda ini tiba-tiba menendang pantat pemuda itu hingga terlempar berjungkir balik di udara, dijadikan permainan macam bola yang berputar-putar di ujung kakinya belasan kali sambil mengomel panjang pendek. Tapi ketika puas dan tertawa setengah gemas, ketua Beng-san-pai ini akhirnya menurunkan kakinya.

"Baiklah... baiklah, anak setan. Aku akan memberimu pelajaran seperti yang kauinginkan. Tapi jangan menyebutku Suhu. Aku tidak tahu pantaskah kau menjadi murid Ciok-thouw Taihiap atau tidak!"

Liong Ceng girang. "Suhu..."

"Keparat, kau tidak dengar kata-kataku? Aku belum mau kau sebut Suhu, anak setan. Sebaiknya kau sebut aku seperti biasanya!" Ciok-thouw Taihiap membentak.

Liong Ceng terbelalak. Melihat ketua Beng-san-pai itu marah dan bersungguh-sungguh padanya, akhirnya dia pun tersenyum pahit dan menjatuhkan diri berlutut.

"Baiklah, locianpwe. Aku tak akan menyebutmu Suhu sesuai keinginanmu. Tapi bolehkah teecu bertanya kenapa begitu?"

"Hm, aku telah mempunyai anak dan cucu yang menjadi muridku, bocah. Dan aku juga belum tahu bagaimana watakmu. Siapa yang tanggung kalau kau berwatak culas?"

Liong Ceng merah mukanya. "Baik, kalau begitu teecu tunduk pada kehendakmu, locianpwe. Dan teecu harap..."

"Tak usah... tak usah kau menyebut dirimu sebagai teecu! Aku sudah bilang sebaiknya hubungan guru dan murid di sini tak perlu diikat!" Ciok-thouw Taihiap memotong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment