Chapter 112
"Dan kau jangan macam-macam, bocah. Aku tak perlu calon murid yang cerewet!" Ia lalu memutar tubuh dan kembali ke atas gunung.
Ciok-thouw Taihiap berseru, "Anak setan, ayo ikuti aku. Kita kembali ke puncak!"
Liong Ceng mengangguk. Dia menggigit bibir, merasa kesal karena Ciok-thouw Taihiap menyebutnya "anak setan", padahal dia punya nama. Namun, dia merasa girang karena rencananya berhasil dan Ciok-thouw Taihiap mengajaknya ke atas gunung. Pemuda itu segera bangkit berdiri dan mengikuti, berlari cepat di belakang pendekar tersebut.
Ketika mereka tiba di puncak dan Ciok-thouw Taihiap sudah menunggunya di meja arak, resmilah mulai hari itu juga Liong Ceng diberi pelajaran dasar-dasar ilmu silat. Namun, Ciok-thouw Taihiap tertegun. Baru sekali dua kali ia memberi contoh, ternyata pemuda itu sudah pandai memainkan *bhesi* (kuda-kuda). Kakinya kokoh dan tidak bergeming, tanda otot-ototnya cukup terlatih dan rupanya sudah terbiasa memainkan *bhesi*.
Dengan heran, dia memandang Liong Ceng dengan alis dikerutkan, "Bocah, kau sudah pernah mempelajari dasar-dasar ilmu silat tinggi? Dari mana kau memperolehnya?"
Liong Ceng membungkuk hormat. "Dari ayah siauw-te, Su... eh, Locianpwe. Siauw-te mempelajarinya sedikit-sedikit, tapi tak cukup berharga untuk ditunjukkan!" Liong Ceng hampir menyebut "suhu", tetapi cepat meralatnya dengan sebutan *locianpwe* yang berarti tokoh sakti tingkat atas.
Ciok-thouw Taihiap mengangguk-angguk lalu berdehem. "Baik, kalau begitu siapa ayahmu?"
"Maaf," pemuda itu buru-buru memotong. "Ayah siauw-te bukan orang terkenal, Locianpwe. Dia bernama Liong Tek dan berasal dari kota Liong-hun. Pekerjaannya sehari-hari sebagai *piauwsu* (pengawal barang) dari perusahaan Cap-sha-seng Piauw-kiok (Ekspedisi Tigabelas Bintang)!"
"Hm, aku tak kenal," Ciok-thouw Taihiap menggelengkan kepalanya. "Tapi pelajaran apa yang sudah kaupelajari dari ayahmu itu?"
"Ah, pelajaran yang masih rendah sekali, Locianpwe. Aku hanya diberi pelajaran tentang *bhesi* dan cara pernapasan untuk memperkuat tubuh. Itu saja!"
Ciok-thouw Taihiap mengangguk. Dia memang melihat omongan pemuda itu benar, terbukti dari daya tahan tubuh pemuda ini yang sanggup berlarian seharian penuh di atas gunung ketika dia mencobanya tadi. Girang karena pemuda ini ternyata memiliki bakat yang besar, dia pun melanjutkan pelajarannya sedikit demi sedikit. Ciok-thouw Taihiap semakin terheran-heran. Dia melihat dasar-dasar ilmu silatnya diserap dengan mudah oleh pemuda ini. Seakan pemuda itu demikian gampang mempelajari ilmu silat; tak ada yang sukar!
Hari demi hari, pemuda itu menunjukkan sikap yang jenius dan menyenangkan hatinya. Tiba-tiba, Ciok-thouw Taihiap berseri dan mulai menurunkan ilmu-ilmunya yang tinggi. Liong Ceng benar-benar ketiban rezeki. Pemuda itu memang berambisi sekali untuk mewarisi kepandaian pendekar ini. Dia berlatih sungguh-sungguh dan tak kenal lelah, hal yang tentu saja menggembirakan Ciok-thouw Taihiap. Ketika satu demi satu pelajaran dasar tentang ilmu silat sudah dikuasai betul oleh pemuda ini, Ciok-thouw Taihiap akhirnya memberikan *Soan-hoan-ciang* (Kibasan Angin Taufan).
Namun, Ceng Han mengerutkan alisnya. "Ayah, Liong Ceng bukan muridmu resmi. Kenapa hendak memberikan semua kepandaianmu? Bagaimana kalau ada apa-apa?"
"Hm, pemuda itu telah kita kenal tindak-tanduknya, Han-ji. Bukankah kau tahu sendiri dia tak pernah melakukan sesuatu yang jelek? Dia cukup baik selama ini, penurut, dan setia kepadaku!" Ciok-thouw Taihiap mendengus, memandang Ceng Han yang sudah kembali dari perjalanannya.
Ceng Han, yang tahu ayahnya mendongkol tentang masalah Han Ki dan Han Bu, menganggukkan kepalanya dan menjawab, "Betul, tapi kebaikan seseorang bisa diatur, Ayah. Artinya apa yang tampak sekarang ini belum tentu sesuai dengan apa yang menjadi dasar wataknya. Liong Ceng memang boleh kau beri ilmu apa saja, tapi jangan seluruhnya. Terutama *Soan-hoan-ciang* itu!"
"Hm, kenapa, Han-ji? Bukankah dua orang anakmu juga sudah kuberi warisan ilmu itu? Kalau ada apa-apa tentu mereka tak akan tinggal diam dan menghadapi Liong Ceng!"
"Benar, tapi kalau kau menitikberatkan konsentrasimu pada Liong Ceng, tentu Han Ki dan Han Bu menjadi tak senang, Ayah. Mereka bisa menganggapmu pilih kasih atau berat sebelah!"
"Peduli apa?" Ciok-thouw Taihiap membentak. "Bukankah mereka sendiri tak menghiraukan keinginanku? Dua orang anakmu itu tak berlatih sungguh-sungguh tentang *Soan-hoan-ciang*, Han-ji. Dan aku melihat Liong Ceng dapat memenuhi keinginanku ini dengan kesungguhannya mempelajari ilmu silat!"
Ceng Han melangkah maju, wajahnya memerah. "Ayah, ketahuilah bahwa Han Ki dan Han Bu tak mempelajari *Soan-hoan-ciang* dengan sungguh-sungguh karena mereka tak mau mewarisi ilmu yang dahsyat itu untuk kau adu dengan Sin Hong! Bukankah kau menghendaki dua cucumu ini melatih *Soan-hoan-ciang* untuk bertanding melawan Sin Hong? Nah, itulah yang tidak mereka kehendaki, Ayah. Han Ki dan Han Bu mempelajari *Soan-hoan-ciang* dengan setengah hati karena mereka tak mau menghadapi Sin Hong!"
Ciok-thouw Taihiap membanting kakinya. "Justru itulah. Karena tak mau melawan Sin Hong, maka aku akan mempersiapkan Liong Ceng untuk menghadapi murid Naga Bongkok ini, Han-ji. Dan karena dua cucuku tak mau mengangkat namaku, biarlah orang lain yang tampil ke depan!"
"Tapi *Soan-hoan-ciang* adalah ilmumu yang paling hebat, Ayah. Sebaiknya Liong Ceng kauberi saja *Pek-hong-ciang* (Pukulan Angin Putih). Jangan *Soan-hoan-ciang*!"
"Keparat, itu urusanku sendiri, Han-ji. Aku mau memberikan *Pek-hong-ciang* atau *Soan-hoan-ciang* itu terserah padaku sendiri! Kenapa memprotes ayahmu?"
Ceng Han marah. Namun, belum sempat mereka ribut kembali, istrinya muncul—Cui Ang, yang merupakan putri si Belut Emas, Cui Lok. Melihat suami serta ayah mertuanya bertengkar tentang *Soan-hoan-ciang*, Cui Ang pun menengahi, "Gik-hu, sebaiknya diambil jalan tengah saja. Liong Ceng memang selama ini tidak menunjukkan keburukannya. Tapi sebelum memberikan ilmu itu, sebaiknya Han Ki dan Han Bu kita panggil."
"Hm, untuk apa?"
"Untuk mendengarkan pendapat mereka, Gik-bu. Setuju atau tidak bila Liong Ceng kauberi ilmu silat itu. Karena memberikan *Soan-hoan-ciang* pada orang lain sama halnya dengan membagi warisan tertinggi yang ada di dalam keluarga ini!"
"Baik!" Ciok-thouw Taihiap menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu panggil mereka, Han-ji. Dan kalau mereka tidak setuju, maka *Soan-hoan-ciang* harus mereka pelajari sungguh-sungguh, tak boleh setengah-setengah. Itu syaratku!"
Ceng Han memanggil dua putranya. Han Ki dan Han Bu sebentar saja sudah menghadap, masing-masing terheran oleh keseriusan suasana di ruangan itu. Namun, melihat *kong-kong* (kakek) mereka terbelalak dan tampak geram, dua orang pemuda ini pun berdebar dan langsung bertanya, "Ayah, ada apa *kong-kong* memanggil kami?"
"Hm, kautanya sendiri kakekmu itu, Ki-ji. Tanya apa sebabnya kalian dipanggil!"
Han Ki langsung memandang kakeknya. "Ada apa, Engkong? Kami hendak disuruh turun gunungkah?"
"Hm, aku hendak bertanya pada kalian, Ki-ji. Tentang ilmu silat kita, *Soan-hoan-ciang* itu. Yakni, bagaimana bila Liong Ceng mendapat warisan ilmu silat ini!"
Han Ki terkejut. "Boleh saja, *kong-kong*. Tapi bukankah dia bukan muridmu resmi?"
Ciok-thouw Taihiap mendongkol. "Jadi kau tidak iri hati?"
"Ah, untuk apa harus iri, *kong-kong*? Itu milikmu pribadi. Tentu bebas kauberikan pada Liong Ceng bila itu kuanggap tepat!"
Tapi Han Bu menyela, "Tapi Liong Ceng orang luar, *kong-kong*. Masa berhak pula mendapat warisan keluarga ini? Apalagi *Soan-hoan-ciang* adalah ilmu silat keluarga kita yang paling hebat!"
Ciok-thouw Taihiap membalikkan tubuh, wajahnya bersinar. "Jadi kau keberatan jika ilmu silat itu kuberikan pada Liong Ceng?"
"Sepanjang dia bukan keluarga kita, *kong-kong*. Artinya kalau pemuda itu merupakan orang luar yang tidak berhak mendapatkan warisan keluarga Souw!"
"Bagus, kalau begitu kalian harus mempelajari *Soan-hoan-ciang* dengan sungguh-sungguh, Bu-ji. Liong Ceng tak akan kuwarisi ilmu silat ini bila kalian bersungguh-sungguh mempelajari *Soan-hoan-ciang*!"
Han Ki terkejut. "Tapi kalau kami harus memenuhi keinginanmu untuk menghadapi Sin Hong, kami tak sanggup, *kong-kong*. *Soan-hoan-ciang* terlalu berbahaya dan merupakan ilmu pembunuh yang ganas sekali!"
"Nah, apa kataku, Han-ji?" Ciok-thouw Taihiap mulai menggerutu. "Bukankah dua anakmu ini cerewet sekali dan selalu ragu-ragu? Mereka memang tak dapat diandalkan. Dan aku akan kalah oleh si Naga Bongkok itu!"
Ceng Han mengerutkan kening. "Tapi keragu-raguan mereka karena kau menghendaki mereka berhadapan dengan Sin Hong, Ayah. Dan mereka menolak karena Sin Hong adalah saudara sepupu sendiri!"
"Tapi dia murid Naga Bongkok, Han-ji. Dan aku melihat Sin Hong sebagai murid Naga Bongkok, bukan keluarga."
"Benar, tapi kalau salah satu celaka maka kita jugalah yang repot, Ayah. Betapapun Sin Hong adalah putra Pendekar Gurun Neraka, bukan orang lain!"
"Jadi bagaimana putusan kalian?"
"Aku menyerahkannya pada kebijaksanaanmu, *kong-kong*. Tidak menolak, tapi juga tidak menerima. Terserah!" Han Ki menjawab, mengerutkan keningnya seperti sang ayah yang berdiri di sampingnya. Han Bu, yang ikut menganggukkan kepalanya, juga berkata, "Ya, terserah padamu, *kong-kong*. Tapi kalau benar kau hendak menurunkan ilmu silat tertinggi itu pada Liong Ceng, maka dia harus diangkat sebagai murid resmi!"
Klop-lah sudah. Ciok-thouw Taihiap mendapat jawaban tegas. Marah bahwa persoalannya "diretur" kembali padanya, Ciok-thouw Taihiap menggebrak meja dan melompat ke belakang. Dengan gusar dan sengit, dia memanggil Liong Ceng dibawa ke ruang di mana Ceng Han dan keluarganya berkumpul. Dengan suara geram namun penuh harapan, ketua Beng-san-pai ini menyuruh Liong Ceng berlutut di meja altar, menyulut delapan lilin besar sebagai saksi, dan bersumpah, "Liong Ceng, disaksikan langit dan bumi serta anak dan dua orang cucuku, bersumpahlah kau!"