Chapter 113
"Bahwa hari ini resmi kau menjadi murid Ciok-thouw Taihiap dan diangkat sebagai keluarga untuk membawa nama harum keluarga Souw!"
Liong Ceng terkejut. Dia tak tahu mengapa buru-buru Ciok-thouw Taihiap menyeretnya ke situ. Namun, mendengar bahwa dia resmi akan diangkat sebagai murid dan bahkan menjadi anggota keluarga Souw, mendadak dia girang bukan main dan hampir tertawa terbahak-bahak.
Meski begitu, Liong Ceng berpura-pura ketakutan, melirik kiri-kanan, dan bangkit berdiri. Dia melihat keluarga besar Souw Ki Beng ada di situ memandang dirinya. Mendadak, pemuda ini menjatuhkan diri, berlutut, dan menolak.
"Locianpwe, mohon ampun beribu ampun. Siauw-te tak berani mengharap berlebihan. Siauw-te sudah cukup puas dengan kedudukan siauw-te seperti yang sekarang ini. Jangan terlalu mengangkat siauw-te dalam kedudukan yang membuat siauw-te mabuk kegembiraan dan besar kepala!"
"Hm," Ciok-thouw Taihiap mendengus marah. "Sekarang aku yang akan memaksamu untuk menjadi murid, Liong Ceng. Kami sekeluarga siap dan sepakat menurunkan Soan-hoan-ciang kepadamu asal kau resmi menjadi anggota keluarga Souw. Hayo berlutut dan mulai bersumpah!"
"Apa?" Liong Ceng berpura-pura kaget. "Kau... kau akan menurunkan Soan-hoan-ciang, Locianpwe? Ah, tak berani aku menerimanya. Itu warisan keluarga Souw yang paling berharga!"
Lalu, sambil membentur-benturkan dahinya dengan berpura-pura ketakutan, pemuda ini menolak, "Locianpwe, jangan buat diriku menjadi tak enak dengan warisan ini. Ada saudara Han Ki dan Han Bu, masa aku hendak diwarisi ilmu itu? Ah, jangan main-main, Locianpwe... aku tak berani menerimanya dan biarlah warisan tertinggi itu dimiliki dua orang cucumu."
Sikap Liong Ceng yang tampak tidak dibuat-buat itu tiba-tiba mendapat sambutan simpatik di hati Cui Ang, menantu Ciok-thouw Taihiap, yang mengangguk-anggukkan kepalanya dengan puas. Ia menaruh kepercayaan bahwa Liong Ceng kiranya pemuda yang baik, tahu diri, dan tampaknya jujur. Han Ki serta adiknya yang juga merasa simpatik dengan sikap pemuda ini ikut menaruh rasa percaya seperti ibunya. Kecuali Ceng Han, yang tiba-tiba mengerutkan alis karena melihat ada sesuatu yang tidak beres. Ia melihat kerling mata pemuda itu yang bersinar penuh nafsu, sesuatu yang lain dengan yang ditunjukkannya di depan semua orang!
Tapi Ciok-thouw Taihiap yang sudah mencengkeram pundak pemuda ini membentak, "Bocah, tak perlu banyak sungkan. Hayo, kau mau atau tidak menuruti perintahku!"
Liong Ceng gemetar. Dia berpura-pura ketakutan, tapi melihat Ciok-thouw Taihiap mencengkeram pundaknya dan bertanya mau atau tidak dia memenuhi permintaan pendekar itu, mendadak dia menjatuhkan diri berlutut dan memegang dua batang lilin yang menyala.
"Locianpwe, karena ini perintahmu, biarlah aku yang bodoh mengikutinya. Aku telah berhutang budi, juga berhutang nyawa. Mana bisa aku menentangnya? Biarlah disaksikan langit dan bumi aku bersumpah, Locianpwe. Bahwa sejak hari ini aku adalah muridmu dan mendapat kehormatan besar menjadi keluarga Souw dan akan menjunjung tinggi serta mengharumkan nama keluarga Souw...!"
"Bagus, dan kau harus melawan kejahatan, Liong Ceng. Karena semua yang jahat adalah musuh keluarga Souw!"
"Ya, aku akan melawan kejahatan, Locianpwe. Dan bila aku membela kejahatan, biarlah aku mampus di tangan keluarga Souw pula!"
Ciok-thouw Taihiap tertawa lebar. Dia sudah puas mendengar sumpah dan janji pemuda itu. Maka, begitu Liong Ceng selesai menjalani upacara resmi ini, segera dia menepuk bahu pemuda itu. "Liong Ceng, kau boleh sebut suhu padaku sekarang. Han Ki dan Han Bu adalah suheng-suhengmu!"
Liong Ceng memberi hormat. "Ki-heng, Bu-heng, terimalah hormat siauw-te. Betapapun, siauw-te mohon bimbingan suheng berdua dalam ilmu silat. Siauw-te masih bodoh dalam banyak hal."
"Hm, tak perlu merendah, Liong-sute. Kau memiliki bakat dan kemajuan mengagumkan dalam mempelajari ilmu silat!"
"Ya, dan melihat bakatmu ini tak lama lagi kau akan dapat menyusul kami, Liong-sute. Betapapun kau cukup luar biasa dan pandai!" Han Bu menyambung, disambut anggukan semua orang yang ada di situ hingga membuat Liong Ceng tersipu, berpura-pura malu dan merah mukanya.
Dan Ciok-thouw Taihiap yang gembira bahwa Liong Ceng akan mewarisi Soan-hoan-ciangnya secara penuh, tiba-tiba berkelebat keluar dan mengajak pemuda itu untuk mulai berlatih. Hari itu, Liong Ceng benar-benar resmi menjadi murid Ciok-thouw Taihiap. Pemuda ini berhasil merebut kepercayaan orang; bahkan semua keluarga Ciok-thouw Taihiap hampir percaya penuh padanya, kecuali Ceng Han yang entah kenapa tiba-tiba merasa tidak enak, teringat kerling dan sinar mata Liong Ceng yang aneh ketika berlutut di meja altar. Tapi karena Liong Ceng tak berbuat yang lebih jauh dan pemuda itu tetap menunjukkan sikap yang jujur dan baik, akhirnya pendekar ini pun menyembunyikan saja kecurigaannya di dalam hati.
Liong Ceng mendapat perhatian besar dari Ciok-thouw Taihiap. Pendekar Kepala Batu itu semakin suka dan kagum pada muridnya ini melihat betapa sungguh-sungguh dan tekun pemuda itu melatih ilmu silat. Ketika setahun kemudian dia menurunkan Soan-hoan-ciang pada pemuda itu, kepandaian Liong Ceng benar-benar hebat dan melebihi Han Ki maupun Han Bu!
"Ha-ha, kau sekarang menjadi murid yang paling komplit mempelajari ilmu silatku, Liong Ceng. Han Ki dan Han Bu tak mungkin dapat mengalahkanmu kalau mereka bertanding satu lawan satu!"
Liong Ceng girang. "Betulkah, Suhu? Tapi bagaimana dengan mereka itu? Tidakkah mereka bakal memusuhiku kalau tahu aku memiliki kepandaian lebih tinggi dari mereka?"
"Hm, dua cucuku itu tak mungkin iri, Liong Ceng. Mereka seperti bapaknya yang sabar dan suka mengalah!"
"Kalau begitu boleh dicoba, Suhu. Benarkah ilmuku lebih tinggi dibanding mereka?"
Ciok-thouw Taihiap terkejut, tapi tak ada jeleknya dia mengadu mereka. Maka pendekar ini pun tertawa dan memanggil dua orang muda itu, ingin melihat sampai di mana kepandaian Liong Ceng dan seberapa pula Han Ki atau adiknya dapat menghadapi murid barunya ini.
Ketika dua orang muda itu datang, segera pendekar ini berkata dengan muka gembira, "Ki-ji, Bu-ji, Liong Ceng hampir sempurna menerima ilmuku. Cobalah kalian uji dan lihat sampai di mana kemajuannya!"
Han Ki tersenyum. Dia memang tak menaruh curiga, mengangguk, dan sudah melompat maju dengan mata bersinar. Namun, melihat Liong Ceng berpura-pura segan, dia menggapaikan lengannya. "Liong-sute, kemarilah. Kita coba-coba bermain sebentar untuk melihat kemajuanmu!"
"Ah," Liong Ceng tersipu malu. "Mana mungkin menguji kepandaianku, Ki-heng? Aku baru setahun belajar, tentu tak mungkin menandingi ilmu silatmu yang sudah bertahun-tahun kau pelajari!"
Tapi Ciok-thouw Taihiap menghardik, "Kau sendiri yang ingin diuji, Liong Ceng. Kenapa sekarang pura-pura menolak dan segan? Ayo maju, jangan jual omongan kosong di tempat ini!"
Liong Ceng mendesah. Dia melihat Han Ki sudah memasang kuda-kuda, tapi gembira bahwa dia akan menguji kekuatan Soan-hoan-ciangnya, dia pun melompat maju dan tertawa kecut. "Ki-heng, Suhu memang benar. Aku ingin diuji, tapi jangan kau bersikap keras. Betapapun aku masih mengharap kemurahanmu!"
"Hm, tak perlu merendah, Liong-sute. Aku tahu dari Kongkong bahwa kemajuanmu sudah hebat. Ayo majulah!"
Liong Ceng tak sungkan-sungkan lagi. Dia segera tertawa dan memasang kuda-kuda. Begitu membentak memberi peringatan, dia pun menerjang dengan pukulan pertamanya, mempergunakan lengan kiri menampar dengan jurus Rajawali Sakti Mengelepakkan Sayap—sebuah jurus dari ilmu silat tangan kosong yang mula-mula dipelajarinya dari Ciok-thouw Taihiap—pukulan ringan yang tidak berbahaya dan tentu saja sudah dikenal Han Ki.
Han Ki yang menangkis dengan mudah melihat sutenya itu mengeluarkan jurus yang tampaknya masih sungkan-sungkan, segera membentak dan menyuruh sutenya itu menyerang dengan lebih keras. "Sute, tak perlu sungkan-sungkan. Keluarkan saja pukulan-pukulan cepat dari Pek-hong-ciang atau Soan-hoan-ciang!"
Liong Ceng masih menolak. Dia berpura-pura segan, kembali menyambar dengan ilmu-ilmu silat biasa yang tentu saja dikelit mudah oleh lawannya. Melihat Liong Ceng tampaknya sungkan dan memainkan ilmu silat lunak yang gampang ditangkis dan dihindarkan dengan enteng, tiba-tiba Han Ki berseru dan balas menyerang pemuda itu.
"Liong-sute, kalau begitu hati-hati sekarang. Aku akan membalas dan melancarkan pukulan-pukulan berat!"
Liong Ceng tersenyum. Dia melihat Han Ki memutar satu kakinya, tiba-tiba membentak dan menyerang dengan lengan kiri mendorong dadanya, cepat dan kuat hingga mengeluarkan angin pukulan menderu. Ketika dia mengelak dan sambaran lawan mengenai angin kosong, mendadak lengan Han Ki membalik dan mengibas dari samping, mempergunakan pukulan Pek-hong-ciang dengan jurus Angin Menyapu Ombak.
"Plak!" Liong Ceng tersapu roboh.
Untuk pertama kalinya dia mengeluh kaget. Begitu melompat bangun dan terbelalak memandang Han Ki yang tertawa kepadanya, tiba-tiba tubuh pemuda itu berkelebat menyusul dengan pukulan-pukulan lain dari Pek-hong-ciang (Pukulan Angin Putih).
"Sute, kau harus menangkis kalau tak ingin kurobohkan. Hayo balas dan serang diriku!"
Liong Ceng terpaksa mengikuti. Dengan hati-hati namun cerdik, dia mulai mengerahkan ginkangnya, memainkan Pek-hong-ciang pula untuk menandingi lawannya. Begitu dua orang muda ini saling berseliweran dan saling pukul-memukul, tiba-tiba saja pertandingan menjadi meningkat. Han Ki mempercepat gerakannya, bertubi-tubi menyerang dan mendorong serta menampar, sedangkan Liong Ceng yang bergerak sama cepat dengan tangkisan dan balasan serangannya tiba-tiba juga melayani lawannya dengan tidak kalah sebat. Keduanya memiliki ilmu yang sama; masing-masing mengenal dan mengetahui apa yang akan dilakukan lawan. Maka begitu keduanya bergebrak dan masing-masing tiba-tiba membentak untuk mempercepat serangan, sekonyong-konyong keduanya lenyap dalam gulungan bayangan yang naik turun bagai naga menari.