Chapter 114
Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak. "Bagus, kalian tinggal mengadu kecepatan, Ki-ji. Siapa cepat, dia yang menang!"
Liong Ceng mengerutkan kening. Dia melihat Han Ki memperberat tekanannya, kini menggunakan *sinkang* di samping *ginkang*. Ketika tiba saatnya menangkis tamparan Han Ki yang menghantam dada untuk pertama kali, Liong Ceng menggerakkan lengan untuk menangkis dengan pengerahan *sinkang*-nya pula.
"Duk!" Keduanya sama-sama terdorong mundur.
Han Ki terkejut bahwa *sute*-nya ini memiliki *sinkang* yang sama kuat, padahal Liong Ceng belajar belum genap dua tahun. Merasa kaget bahwa dalam hal *sinkang* pun Liong Ceng memiliki kekuatan yang berimbang, tiba-tiba Han Ki membentak dan mulai melancarkan pukulan *Soan-hoan-ciang*.
"Sute, hati-hati. Kita sekarang menggunakan *Soan-hoan-ciang*!"
Liong Ceng terkejut. Dia melihat Han Ki mengubah gerakan; tidak lagi memukul atau mendorong, melainkan mengibas. Begitu lengan pemuda itu bergerak mengibas ke kiri dan ke kanan, terdengarlah deru angin dahsyat bagai kipas raksasa yang menyapu sebuah gunung.
"Ah, jangan mainkan ilmu silat ini, Ki-heng. Aku takut kita masing-masing tak dapat mengendalikan diri!" Liong Ceng berteriak, berseru keras, dan berjungkir balik menghindari serangan Han Ki yang ganas.
Namun, Han Ki yang tertawa dan meneruskan serangannya menjawab dengan tenang, "Kita tak perlu khawatir, Liong Sute. Ada Kong-kong di sini yang akan membantu bila kita mendapat celaka!"
Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak sambil menganggukkan kepala. "Benar, tak perlu kau cemas, Liong Ceng. Ada aku di sini yang akan menyelamatkan kalian bila salah satu celaka!"
Liong Ceng tak dapat membantah lagi. Dia terus diserang dan didesak oleh Han Ki, mundur dan semakin terpojok. Menyadari bahwa dia harus melawan dengan cara yang sama, tiba-tiba dia membentak dan mengibaskan lengannya pula. Liong Ceng memainkan *Soan-hoan-ciang* untuk menangkis kibasan *suheng*-nya. Begitu dua pukulan *Soan-hoan-ciang* beradu di udara, terdengarlah ledakan dahsyat bagai petir menggelegar.
"Blarr!"
Han Ki dan Liong Ceng sama-sama terpental dan bergulingan di tanah. Namun, melihat guratan kaki Liong Ceng lebih pendek dibanding guratannya sendiri, Han Ki merasa penasaran karena merasa kalah setingkat. Dia kembali menerjang. Liong Ceng, yang merasa girang karena pukulan *Soan-hoan-ciang*-nya mampu menahan pukulan Han Ki, segera menyambut dan kembali menangkis.
"Dess!" Untuk kedua kalinya mereka terjengkang.
Han Ki harus berjungkir balik lima kali di udara untuk mematahkan daya tolak akibat benturan itu agar bisa berdiri tegak. Namun, Liong Ceng cukup melakukan dua kali jungkir balik. Hal itu memancing pekik kagum dari cucu pertama Pendekar Kepala Batu itu.
"Wah, kau hebat, Sute. Benar-benar *Soan-hoan-ciang*-mu di atas tingkatku sendiri!"
Han Ki menerjang lagi. Bertubi-tubi dia melancarkan pukulannya, berusaha mendesak lawan. Namun, ketika melihat Liong Ceng mampu menahan setiap serangan dan kini perlahan tetapi pasti dirinya yang terdesak mundur, Han Ki terbelalak kagum.
"Sute, kau hebat... kau lihai sekali!"
Liong Ceng menyeringai aneh mendengar pujian itu. Dia terus mendesak dan menekan, membuat Han Ki terpojok hingga tidak dapat membalas serangan. Ketika Han Ki terjebak di belakang pohon dan tidak dapat melompat mundur, Liong Ceng membentak dan mengibaskan kedua lengannya berbarengan.
"Hei!"
Semuanya terlambat. Liong Ceng sudah melancarkan serangan dahsyat. Han Ki yang merasa ditumbuk angin pukulan raksasa secepat kilat menangkis dan mendorongkan kedua lengannya ke depan.
"Bress!"
Han Ki pucat pasi. Dia merasa pukulan Liong Ceng menghantam dadanya bagai palu godam. Han Ki terpaksa mengerahkan *sinkang* untuk bertahan, berusaha mendorong Liong Ceng mundur. Dua pemuda itu pun terlibat adu tenaga, saling dorong dengan kekuatan penuh. Han Ki merasa penasaran karena tidak dapat melepaskan diri, sementara Liong Ceng yang belum mampu merobohkan lawannya terus menambah tenaga hingga tubuhnya menggigil penuh keringat.
Saat kedua pemuda itu saling menempelkan lengan dengan telapak terbuka, tiba-tiba keduanya tidak dapat melepaskan diri dari dorongan *sinkang* yang saling tolak-menolak.
"Ah, tolong mereka, Kong-kong!" Han Bu terkejut dan bersiap menolong kakaknya.
Namun, Ciok-thouw Taihiap sudah lebih dulu maju dan memisahkan mereka dengan bentakan menggelegar. "Liong Ceng, lepas!"
Liong Ceng terkejut. Dia melihat tubuh Ciok-thouw Taihiap menyambar, menghantam kedua lengannya yang sedang mendorong Han Ki. Begitu telapak Ciok-thouw Taihiap mengenai pergelangan tangannya, Liong Ceng tertolak dan terbanting roboh.
"Plak!"
Liong Ceng terguling-guling. Dia berseru kaget karena campur tangan Ciok-thouw Taihiap membuat pukulan *sinkang*-nya ambyar, sementara angin pukulan Han Ki menyambar dadanya. Namun, Ciok-thouw Taihiap yang tidak ingin Liong Ceng celaka segera membentak ke arah Han Ki dan menahan pukulan cucunya itu. Begitu jago tua itu menggerakkan lengannya, Han Ki pun terpelanting dan roboh.
"Dess... aih!"
Han Ki membanting tubuh dan bergulingan. Dia terlempar, kaget namun selamat dari gencetan tenaga sakti Liong Ceng. Setelah berhasil berdiri kembali, kedua pemuda itu kini berhadapan dengan jarak sepuluh tombak.
Han Ki mengusap peluh. "Sute, *Soan-hoan-ciang* yang kau miliki benar-benar hebat sekali. Hampir sempurna!"
Liong Ceng melompat maju, menjura, dan membungkukkan tubuh. Dengan suara rendah namun girang, dia menjawab, "Benar, tapi kau juga hebat, Ki-heng. Betapapun, aku tidak dapat merobohkanmu meskipun kedudukanku lebih baik. Maaf!"
Ciok-thouw Taihiap menghampiri mereka. "Ki-ji, Liong Ceng memang lebih hebat daripada dirimu. Tapi aku belum puas dengan pertandingan kalian. Hayo, sekarang kerubutlah Liong Ceng bersama adikmu!"
Han Ki terkejut. "Untuk apa, Kong-kong? Bukankah sudah terbukti bahwa Liong Ceng memiliki kemajuan pesat?"
Han Bu juga tampil ke depan. "Ya, dan Liong Sute tentu kalah kalau kami keroyok, Kong-kong. Kami jadi malu jika melakukan perbuatan itu!"
"Justru itulah. Aku ingin tahu berapa lama dia dapat bertahan dari kalian. Maju saja, tak perlu sungkan. Ini sifatnya menguji!"
"Hm..." Han Ki ragu-ragu. Namun, Liong Ceng yang sudah memandang dengan wajah berseri tiba-tiba melompat mundur.
"Ki-heng, apa yang dikatakan Suhu memang benar. Ini hanya ujian bagiku, kenapa sungkan? Majulah, Ki-heng. Biar Bu-heng ikut membantu untuk melihat seberapa jauh aku dapat bertahan!"
Han Bu mendongkol. "Baiklah, karena ini keinginan Kong-kong, Ki-ko. Untuk apa segan lagi? Mari kita maju, kita lihat seberapa jauh Liong Sute dapat melayani!"
Han Ki menarik napas. "Tapi Liong Sute harus berhati-hati, Adik Bu. Salah-salah kau celaka di tangan kami!"
"Hm, bukankah ada Kong-kong di sini? Ilmu silat memang tidak mengenal mata, tapi Kong-kong tentu waspada menjaga siapa yang mendapat bahaya."
Han Ki akhirnya mengangguk. Dia bersama adiknya maju ke depan, masih ragu namun akhirnya menetapkan diri. Liong Ceng sudah bersiap-siap.
"Liong Sute, jaga dirimu baik-baik. Kami berdua hendak menyerang."
Liong Ceng tersenyum. "Silakan, Ki-heng. Aku siap menjaga diri."
Begitu Liong Ceng bicara, Han Bu mulai menyerang mendahului kakaknya. "Liong Sute, awas!"
Liong Ceng mengelak ke samping. Dia waspada terhadap pukulan pertama Han Bu, tahu bahwa pemuda itu menggunakan jurus *Dewa Menyambar Bulan*, sebuah gerakan yang akan disusul dengan siku yang membalik untuk menyodok ulu hati. Ketika Han Bu memutar tubuh dan menyodok ulu hatinya, Liong Ceng membuka telapak dan menangkis ke depan.
"Plak!"
Han Bu tergetar dan terdorong mundur. Namun, Han Ki segera membantu adiknya dengan pukulan dari belakang, membuat Liong Ceng tidak dapat membalas serangan Han Bu dan terpaksa membalik untuk menangkis serangan Han Ki. Begitu Han Bu kembali menyerang dan saling isi-mengisi dengan kakaknya, Liong Ceng menjadi sibuk menangkis dan melompat ke sana-sini.
"Sute, jaga dirimu baik-baik. Kami akan menyerang lebih cepat!"
Liong Ceng mengangguk. Dia sudah kewalahan oleh serangan kakak beradik itu. Ketika Han Ki berseru dan mempercepat gerakannya hingga berkelebatan di sekelilingnya, Han Bu pun menyambar dengan angin pukulan serta tendangan. Liong Ceng didesak, sempat keteteran dan mundur dengan sibuk. Namun, ketika pemuda itu membentak dan mengerahkan *ginkang*-nya pula untuk mengimbangi kakak beradik itu, pertandingan tiba-tiba menjadi seru. Masing-masing lenyap dalam gulungan bayangan yang naik turun saling sambar.
"Ha-ha, bagus! Yang seru, anak-anak. Percepat gerakan kalian dan lakukan tekanan-tekanan berat!"