Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 115

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 115

"Robohkan Liong Ceng sebelum lima puluh jurus!" Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak, berteriak gembira melihat Han Ki dan adiknya mendesak Liong Ceng hingga kewalahan menghadapi dua orang lawannya itu.

Namun, Liong Ceng yang menggigit bibir di bawah tekanan kakak beradik itu menjawab, "Teecu akan bertahan seratus jurus, Suhu. Ki-heng dan Bu-heng tidak dapat mengalahkan teecu sebelum seratus jurus!"

Ciok-thouw Taihiap tertawa. "Boleh, tapi kau akan roboh sebelum lima puluh jurus, Liong Ceng. Aku berani bertaruh kalau omonganku salah!"

Liong Ceng menjadi semangat. Dia berkelebatan menghadapi kakak beradik itu, tetapi Han Bu dan Han Ki yang merasa penasaran oleh tantangan Liong Ceng segera menyerang dengan lebih hebat. Mereka ingin membuktikan siapa yang menang di antara mereka: Liong Ceng dengan tantangannya seratus jurus, atau kakek mereka yang meramal lima puluh jurus.

Maka, begitu membentak dan bertubi-tubi melancarkan pukulan, akhirnya Han Ki menyuruh adiknya memainkan Pek-hong-ciang. "Bu-te, desak dia dengan Pek-hong-ciang. Kau tetap di muka!"

Han Bu menurut. Dia melancarkan pukulan-pukulan Pek-hong-ciang seperti perintah kakaknya, mendesak Liong Ceng di depan. Han Ki yang sudah menyerang Liong Ceng di belakang dengan tamparan serta pukulan Pek-hong-ciangnya segera membentak dan bertubi-tubi menekan lawan. Akibatnya, Liong Ceng kewalahan. Ketika satu saat dia kurang cepat mengelak, untuk pertama kalinya dia menerima pukulan Han Ki yang menyambar tulang belikatnya.

"Plak!" Liong Ceng tidak mengeluh. Dia hanya terdorong dan hampir terjelungkup, disambut Han Bu yang mengirim tepukan ke pundak kirinya. Tapi Liong Ceng berkelit dan ganti membalas mengirim tendangan, tahu-tahu berhasil mendupak Han Ki yang kurang cepat mengelak.

"Dess!" Han Ki terkejut. Dia tidak menyangka Liong Ceng dapat memutar tubuh dengan cepat. Namun, dia membentak dan bertubi-tubi melancarkan serangan kembali, menerjang lawan dengan pukulan Pek-hong-ciangnya. "Bu-te, serang dia bagian bawah. Aku yang atas!"

Han Bu kembali menurut. Dia sekarang melakukan pukulan dan tamparan ke bagian bawah tubuh Liong Ceng, membuat Liong Ceng berseru keras dan harus berlompatan menghindari pukulan Han Bu. Namun, Han Ki yang ada di belakang dan menyerang bagian atas tubuh lawannya membuat Liong Ceng terbelalak dan mengumpat di dalam hatinya. Akibatnya, Liong Ceng terdesak hebat.

Ketika dia kebingungan dan kewalahan menghadapi gempuran kakak beradik ini, tubuhnya mulai mendapat "hadiah". Berkali-kali suara "bak-bik-buk" menimpa dirinya, dan Liong Ceng yang menggigit bibir dengan mata terbelalak itu mulai jatuh bangun.

Ciok-thouw Taihiap tertawa. "Bagaimana, Liong Ceng? Kau dapat bertahan seratus jurus? Ini baru dua puluh tujuh jurus, bocah. Dan belum lima puluh jurus kau pasti roboh, ha-ha!"

Liong Ceng marah. Dia berteriak ketika kembali Han Ki menamparnya hingga roboh. Karena tidak ada jalan lain kecuali mempergunakan Soan-hoan-ciang yang tingkatannya lebih tinggi untuk mempertahankan diri, tiba-tiba Liong Ceng berjungkir balik dan mengibas ke bawah ketika Han Bu menyerang kakinya.

"Bu-heng, awas... dess!" Han Bu terlempar. Dia jatuh bangun ketika Liong Ceng mempergunakan Soan-hoan-ciang. Dan ketika Han Ki datang menyambar pada saat dia melayang turun, Liong Ceng pun mempergunakan ilmunya ini untuk menangkis.

"Plak!" Han Ki terpental. Dua orang kakak beradik itu terkejut melihat Liong Ceng mempergunakan Soan-hoan-ciang. Tapi maklum mereka berdua juga harus merobohkan sute-nya ini sebelum lima puluh jurus, maka Han Ki pun berteriak dan mengubah gerakannya. "Bu-te, pergunakan Soan-hoan-ciang untuk mengimbanginya. Kita harus merobohkannya sebelum lima puluh jurus!"

Han Bu mengangguk. Sekarang mereka mengubah gerakan; tidak lagi mempergunakan Pek-hong-ciang, melainkan Soan-hoan-ciang. Begitu kakak beradik ini menerjang dengan pukulan yang sama, Liong Ceng pun menangkis dengan sama cepat dan kuatnya.

"Des-dess!" Han Ki dan Han Bu dapat bertahan. Mereka tidak bergeming, tenaga mereka bersatu. Liong Ceng yang baru kali ini menerima gempuran langsung dari kakak beradik itu tiba-tiba mengeluh dan terbanting roboh. Liong Ceng menggulingkan dirinya, dan ketika dua kakak beradik itu kembali menyerangnya dengan Soan-hoan-ciang, dia pun melompat bangun dan menyambut.

"Bress!" Liong Ceng lagi-lagi terlempar. Dia kalah kuat membentur tenaga kakak beradik itu yang bersatu. Kaget bahwa sinkang-nya kalah kuat berhadapan dengan kakak beradik itu, tiba-tiba muka Liong Ceng menjadi pucat. Dia sekarang mengakui bahwa kalau bergabung, Han Ki dan adiknya memang masih di atas. Lain halnya kalau kakak beradik itu maju satu-persatu.

Maka, menyadari bahwa Soan-hoan-ciang-nya di bawah angin jika menghadapi Soan-hoan-ciang di tangan dua orang lawannya, Liong Ceng menjadi gusar dan mundur-mundur. Dia terdesak, semakin tertekan, dan keteteran. Ketika Ciok-thouw Taihiap tiba pada hitungan keempat puluh lima dan Han Ki serta adiknya menyerang dari muka dan belakang, akhirnya Liong Ceng terbanting dan tidak dapat melawan lagi!

"Dess!" Liong Ceng terguling-guling. Dia merasa napasnya sesak, dadanya ampeg dan sakit bukan main. Ketika Liong Ceng melontarkan darah segar dan pemuda itu tidak dapat melompat bangun, maka berakhirlah pertandingan ini dengan kecemasan di wajah Han Ki dan adiknya yang sudah memburu maju, membungkukkan tubuhnya.

"Kau terluka, Liong-te?"

Liong Ceng batuk-batuk. Dia hanya mengangguk dan tidak dapat menjawab dengan muka pucat, ditotok oleh Han Ki untuk melegakan pernapasannya. Tapi ketika Ciok-thouw Taihiap berkelebat maju dan mengurut dada pemuda ini, maka pulihlah Liong Ceng yang bangkit dengan tubuh gemetar.

"Ki-heng, kalian berdua memang hebat. Aku mengaku kalah!"

Han Ki tersenyum pahit. "Tapi kami mengeroyok, Sute. Kalau tidak, tentu kami yang akan roboh!"

Ciok-thouw Taihiap tertawa. "Ya, dan kalian lihat betapa hebatnya Soan-hoan-ciang bila dilatih sungguh-sungguh, Han Ki. Dan Liong Ceng tentu akan jauh lebih hebat lagi kalau tenaga sinkang-nya sudah mahir seperti apa yang kumiliki. Lihat, aku akan memberi contoh pada kalian!"

Ciok-thouw Taihiap yang mengibaskan lengannya pada sebatang pohon yang berdiri belasan meter di samping kanan mereka tiba-tiba membuat suara meledak ketika pohon itu tumbang dan roboh!

"Braak!"

Liong Ceng terbelalak. Belum dia menutup mulutnya karena kagum, tiba-tiba Pendekar Kepala Batu mengibaskan lengannya lagi ke kiri dan berseru pada mereka, "Dan lihat yang ini, Ki-ji. Batu itu pun akan hancur terkena kibasan Soan-hoan-ciang... bress!"

Namun, batu sebesar kerbau yang tidak bergeming oleh pukulan ketua Beng-san-pai itu disambut seruan heran Liong Ceng yang tertegun. "Batu itu tak apa-apa, Suhu. Dia..."

Liong Ceng menghentikan seruannya. Dia hampir melanjutkan dengan kata-kata bahwa batu itu tidak hancur. Tapi baru sampai pada kata "dia", mendadak Liong Ceng terkejut dan terkesiap kaget ketika batu itu ditiup angin dan... pyur, hancur seperti bubuk!

"Ah!" Liong Ceng baru sadar. "Batu itu sudah hancur di dalam, Suhu. Tubuhnya remuk secara tidak kentara!"

"Ya, dan itulah kehebatan Soan-hoan-ciang, Liong Ceng. Dan ilmu ini sejajar dengan pukulan petir yang dimiliki Pendekar Gurun Neraka!" Ciok-thouw Taihiap tertawa bergelak, geli melihat muridnya bengong dengan mata tak berkedip. Dia menepuk pundak muridnya dengan bangga.

"Ki-ji, Liong Ceng, ujian kepandaian sudah selesai. Ayo beristirahat dan kalian masuk!"

Liong Ceng dan Han Ki mengangguk. Mereka kagum akan kepandaian guru dan engkong mereka itu. Han Ki yang teringat bahwa Liong Ceng baru mengalami luka segera memberikan obat penawarnya agar sute-nya itu cepat sembuh. Lalu, mereka masuk dan kembali ke tempat masing-masing untuk bersemadi mengembalikan tenaga.

Malam itu, Liong Ceng tidak dapat tidur. Dia mendapat kamar di belakang, jauh di sudut dan sunyi di balik taman. Sengaja dia memilih tempat itu dengan alasan agar tidak mengganggu keluarga suhunya. Ketika kentong kedua belum juga membuatnya mengantuk, tiba-tiba Liong Ceng mendengar suara langkah kaki di atas genteng kamarnya.

Liong Ceng terkesiap. Siapa berani mengganggu tempat tinggal Ciok-thouw Taihiap di atas gunung ini? Tapi sebelum dia memasang tali sepatunya, mendadak jendela kamarnya terbuka dan sesosok bayangan tinggi besar melompat masuk.

"Keparat, siapa itu?" Liong Ceng membentak, langsung berjungkir balik dan melancarkan pukulan Soan-hoan-ciang-nya dari atas pembaringan.

Namun, bayangan yang rupanya terkejut dengan bentakan ini sudah menyambut dan mendesis, "Ceng Liong, perlahan sedikit kau. Ini aku... Mu Ba."

Dess! Liong Ceng atau yang sebenarnya Ceng Liong—dengan membalik nama untuk menyamar—segera berteriak perlahan ketika mendengar seruan ini. Dia tertolak, tapi lawannya juga terdorong dan menabrak dinding ruangan dengan suara keras hingga hampir merobohkan meja kursi!

Ceng Liong yang kini menyalakan lilin untuk melihat bayangan itu segera tertegun ketika melihat bahwa yang datang adalah Mu Ba, gurunya nomor satu itu!

"Ah, kau Suhu? Kau..."

Mu Ba melompat ke depan. Dia langsung mencengkeram pundak muridnya itu, lalu tertawa girang dengan mulut mendesis. Dia memotong, bertanya kagum, "Itu pukulan Soan-hoan-ciang, Liong-ji? Kau berhasil mengelabui Ciok-thouw Taihiap hingga memberikan ilmunya?"

Ceng Liong sadar. "Ya, tapi..." pemuda ini menoleh ke kiri dan ke kanan, cemas dan gugup, "bagaimana kau tiba di sini, Suhu? Dan sendiriankah?"

"Ah, kau yang keenakan, Liong-ji. Aku datang bersama ji-suhu-mu. Juga ibumu, tapi mereka menjaga di bawah gunung!"

Ceng Liong terkejut. "Ada apa, Suhu? Dan apa maksudmu datang kemari?"

"Membawamu ke kota raja, Liong-ji. Urusan di istana semakin gawat dengan adanya pemberontakan kaum pendekar!"

"Ah, tapi Ciok-thouw Taihiap belum mengetahui siapa aku, Suhu."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment