Chapter 116
"Haruskah membongkar rahasia sebelum waktunya?"
"Itulah."
"Dan kami telah melihat pertandinganmu dengan dua cucu Pendekar Kepala Batu itu, Liong-ji. Kami kagum bahwa kau mendapat kemajuan hebat dengan Soan-hoan-ciang yang kaumiliki itu."
"Benar, tapi aku belum puas, Suhu. Aku belum dapat mengalahkan dua orang cucu Pendekar Kepala Batu itu dengan ilmu silat yang kudapat."
"Betul, dan karena itulah aku datang ke mari, Liong-ji. Aku dan Ji-suhu serta ibumu menyusun rencana untuk keberhasilan cita-citamu secara lengkap. Ciok-thouw Taihiap harus kita bunuh, dan satu-satunya orang yang mampu melakukan itu adalah kau!"
Ceng Liong terkejut. "Kau gila, Suhu! Ciok-thouw Taihiap memiliki kesaktian di atas tenagaku, mana mungkin aku mengalahkannya?"
"Sst!" Mu Ba mendesis. "Kami ada akal, Liong-ji. Ji-suhumu menyusun rencana bagus untukmu. Kau satu-satunya orang yang dapat membunuh Pendekar Kepala Batu!"
Raksasa tinggi besar itu menarik kursi, duduk dengan muka tegang, lalu bercerita, "Liong-ji, seminggu lagi Naga Bongkok dan muridnya akan kemari. Sin Hong akan mengenalimu sebagai Ceng Liong dan akan membuka rahasiamu. Mumpung guru dan murid itu belum sempat kemari, sebaiknya kau mendahului menyingkirkan lawan dengan cepat. Kau besok harus turun gunung, Liong-ji. Minta izin kepada Pendekar Kepala Batu untuk mencari musuh besarmu. Kau mengaku So-beng yang membunuh ayah ibumu, bukan?"
"Ya."
"Nah, karena itu mintalah izin besok pagi pada Ciok-thouw Taihiap untuk turun gunung, Liong-ji. Kau bisa mengatakan bahwa maksud kepergianmu untuk mencari So-beng. Masukilah kota Ki-bun, temui Sin Hong dan gurunya yang ada di sana. Tantang pemuda itu dan bertandinglah. Lalu..."
"Nanti dulu," Ceng Liong memotong, "bagaimana kalau aku kalah, Suhu? Bukankah celaka dan bakal terungkap?"
"Aku dan Ji-suhumu akan menolongmu, Liong-ji. Dan ibumu juga tentu tak akan tinggal diam."
"Hm, tapi apa maksudnya menantang Sin Hong, Suhu?"
"Bodoh, untuk menjebak Ciok-thouw Taihiap, Liong-ji. Kami mempunyai siasat bagus untuk dirimu ini!"
"Bagaimana itu?" Ceng Liong bingung. "Aku tak mengerti maksudmu, Suhu. Dan kenapa buru-buru mencari murid Naga Bongkok itu?"
"Hm, aku mendengar bahwa Soan-hoan-ciang yang kaumiliki hampir sempurna, Liong-ji. Dan bukankah benar bahwa kekuranganmu hanya tenaga sinkang saja?"
"Ya."
"Karena itu Ciok-thouw Taihiap harus dibuat marah, Liong-ji. Menang atau tidak menang menghadapi murid Naga Bongkok itu, kau harus kalah. Artinya, kau harus menerima pukulan dan kalau perlu menderita luka-luka dulu, untuk kemudian menyampaikannya kepada Ciok-thouw Taihiap. Ceritakan bahwa kau bertemu di tengah jalan dan kemudian bertempur dengan Sin Hong!"
Ceng Liong terbelalak. "Lalu?"
"Goblok! Ciok-thouw Taihiap tentu marah, Liong-ji. Dan kau harus membakar hati ketua Beng-san-pai itu agar dia memberikan tenaga saktinya kepadamu! Bayangkan, kalau kau berhasil membujuk dan membakar pendekar ini hingga mendapatkan tenaga sinkangnya, tentu kau akan menjadi hebat luar biasa, Liong-ji. Kau akan menjadi sama dengan Ciok-thouw Taihiap yang sudah lima puluh tahun melatih tenaga saktinya!"
Ceng Liong terkejut, tapi tiba-tiba menjadi girang bukan main. "Suhu, siapa yang mencetuskan ide ini?"
"Ibumu. Dia ingin kau membalaskan kematian gurunya pada ketua Beng-san-pai itu!"
"Ah!" Ceng Liong hampir tertawa bergelak. "Kalau begitu sampaikan salamku kepada Ibu, Suhu. Ia benar-benar cerdik dan luar biasa sekali."
"Ya, tapi sekalian kuberi tahu padamu, Liong-ji, bahwa murid Naga Bongkok yang bernama Sin Hong itu betul-betul hebat dan memiliki tenaga siluman. Dia memiliki kepandaian iblis, tenaga saktinya luar biasa dan mampu menghadapi kami berdua!"
Ceng Liong terbelalak. "Kami berdua? Maksudmu kau dan Ji-suhu, Suhu?"
"Ya."
"Ah," Ceng Liong terkejut. "Kalau begitu bagaimana kira-kira dengan kepandaianku sekarang?"
"Dalam soal kepandaian kukira sama, Liong-ji. Tapi dalam soal tenaga sakti kau masih kalah. Kalah jauh. Karena itu bakarlah Ciok-thouw Taihiap dan bujuk sedemikian rupa agar ketua Beng-san-pai itu memberikan tenaga saktinya. Dan begitu sudah setengah lebih dia memberikan sinkangnya, cepat saja kau sedot seluruh kekuatannya agar pendekar itu mampus!"
Ceng Liong girang. Dia hampir melonjak oleh keterangan gurunya ini. Begitu menyatakan mengerti dan setelah sejenak bercakap-cakap mengenai pergerakan kaum pendekar yang memberontak di kota raja, Mu Ba berkelebat meninggalkan muridnya.
"Liong-ji, jangan lupa. Kau besok minta izin keluar!"
Liong Ceng—atau yang sebenarnya Ceng Liong—mengangguk. Dia menutup jendela dan tak sabar menanti datangnya pagi. Ketika keesokan harinya matahari muncul dengan sinarnya yang indah berkilau, Ceng Liong sudah menghadap Pendekar Kepala Batu menyatakan maksud hatinya. Dia meminta izin turun gunung, tidak sampai seminggu.
Karena Ceng Liong menyatakan niatnya untuk mencari Iblis Penagih Jiwa yang membunuh ayah ibunya, Ciok-thouw Taihiap tidak keberatan. Apalagi ketika itu datang utusan Pendekar Gurun Neraka yang tidak diketahui maksudnya oleh Ceng Liong. Ia menduga bahwa agaknya urusan yang dibawa tentu urusan kaum pendekar yang katanya sudah berada di luar pintu kota raja untuk memberontak.
Ceng Liong yang mendapat perkenan gurunya turun gunung selambat-lambatnya tujuh hari, akhirnya tidak mendapat kesukaran apa-apa di tengah perjalanan. Tapi, baru dua hari pemuda itu melaksanakan maksudnya, mendadak pada hari ketiga Ceng Liong kembali.
Pagi-pagi dia sudah kembali ke atas gunung. Tubuhnya yang luka parah dan ambruk di depan pintu kamar Ciok-thouw Taihiap membuat semua orang gempar.
"Liong Ceng, kau terluka parah?"
Tapi Ceng Liong tak mampu menjawab. Dia hanya mengangguk lemah sekali. Begitu Ciok-thouw Taihiap muncul bersama seluruh keluarganya, Liong Ceng sudah roboh dan pingsan tak sadarkan diri!
Semua orang gugup, tapi Ciok-thouw Taihiap yang bergerak mendahului yang lain sudah menyadarkan muridnya ini. Dengan totokan dan obat penawar luka, ketua Beng-san-pai itu membantu muridnya. Namun, melihat bekas pukulan yang mengenai diri pemuda ini, mendadak Ciok-thouw Taihiap tertegun dan membelalakkan matanya.
"Sin-liong-jiu (Tangan Naga Sakti)...!"
Ceng Han dan istrinya terkejut. "Sin-liong-jiu, Ayah? Kalau begitu...."
"Ya, dia terluka oleh bekas pukulan Naga Bongkok, Han-ji. Tapi aku tidak tahu bagaimana Liong Ceng bisa bertemu kakek itu. Keparat, kita harus cepat sadarkan dia!"
Ciok-thouw Taihiap yang mulai menggeram bagai seekor singa itu segera menolong muridnya di ruang dalam. Pendekar ini mengulurkan telapak tangannya, menyalurkan sinkang untuk membantu proses penyembuhan yang lebih cepat. Dua jam kemudian, ketua Beng-san-pai itu bekerja keras hingga akhirnya Ceng Liong sadar.
Begitu sadar, langsung saja Ceng Liong mengguguk dan menangis di depan kaki gurunya. "Suhu, ampun. Teecu tak dapat menjunjung tinggi nama baikmu...!"
Ciok-thouw Taihiap mencengkeram pundak muridnya. "Diam! Jangan menangis, Liong Ceng. Aku tak suka laki-laki cengeng!"
Namun, Ceng Liong masih tersedu-sedu. Dengan pura-pura menggigit bibir dan membenturkan jidatnya, dia berkali-kali mohon ampun pada gurunya itu, mengeluh bahwa ia "tak dapat menjunjung nama baik." Baru setelah gurunya menjambak rambutnya dan Ceng Liong tersentak kaget, pemuda ini menghentikan tangisnya dan melihat wajah gurunya yang gelap menyeramkan.
"Liong Ceng, aku tak suka laki-laki gagah menangis! Hayo ceritakan apa yang terjadi dan hentikan tangismu itu!"
Ceng Liong terbelalak. "Teecu... teecu bertemu Naga Bongkok, Suhu. Teecu mendapat pukulan Sin-liong-jiu!"
"Ya, aku tahu itu! Tapi bagaimana kau bisa ketemu setan bongkok itu dan bertempur?"
"Teecu tidak bertempur dengan kakek itu, Suhu. Tapi dengan muridnya!"
"Hah? Maksudmu..."
"Ya, Sin Hong, Suhu!" Ceng Liong memotong. "Teecu bertempur melawan Sin Hong dan kalah! Teecu melarikan diri, terluka parah dan.... dan...."
Ceng Liong menangis lagi. Dengan cerdik dan pandai, dia sengaja memotong-motong ceritanya, membuat Ciok-thouw Taihiap tak sabar dan marah. Ketika gurunya itu kembali membentaknya untuk bercerita lebih lanjut, Ceng Liong segera menghentikan tangisnya dan menceritakan apa yang terjadi.
"Teecu bertemu Sin Hong secara kebetulan saja, Suhu. Teecu bertemu dengannya di kota Rabun. Dan karena teringat pesan Suhu tentang murid Naga Bongkok ini, maka Teecu lalu menantangnya. Kami bertempur, kepandaian berimbang. Tapi ketika Sin Hong mengeluarkan Sin-liong-jiunya maka Teecu terdesak, Suhu. Teecu kalah kuat dalam hal sinkang dan akhirnya kalah!"
"Hm!" Ciok-thouw Taihiap mengerutkan keningnya. "Dan Naga Bongkok memberi petunjuk-petunjuk pada muridnya, Liong Ceng?"
"Tidak, Naga Bongkok hanya mengawasi saja, Suhu. Dia cukup sportif dan sama sekali tidak membantu Sin Hong!"
Ciok-thouw Taihiap menggerotkan gigi. Dia menggigil penuh kemarahan, tampak gusar dan terpukul. Sambil berkelebat keluar, dia berkata pada muridnya itu, "Baik. Sore nanti kau datang ke taman, Liong Ceng. Sekarang beristirahat dan pulihkan dulu tenagamu!"
Ceng Liong mengangguk. Dia ditinggal sendirian sekarang karena Ceng Han dan yang lain-lain juga menyuruh dia beristirahat, lalu keluar mengikuti ketua Beng-san-pai itu.
Ketika sore harinya dia merasa cukup tenaga dan lebih sehat daripada pagi tadi, Ceng Liong sudah memenuhi permintaan gurunya untuk datang ke taman. Dilihatnya Ciok-thouw Taihiap duduk termenung, tiba-tiba bangkit berdiri dan langsung menggapainya begitu melihat dia datang.
"Bagaimana, Liong Ceng? Kau sudah sembuh?"
Ceng Liong menjatuhkan diri berlutut. "Teecu sudah baikan, Suhu. Tapi mungkin masih dua-tiga hari untuk betul-betul pulih."
"Baik, duduklah di situ," Ciok-thouw Taihiap menunjuk bangku taman. "Aku ingin bertanya sesuatu, Liong Ceng. Dan harap kau bicara dengan jujur dan benar!"
Ceng Liong berdebar. Dia tak tahu apa maksud kata-kata pendekar itu, tapi sambil duduk menenangkan diri, dia sudah berhadapan dengan pendekar tersebut.