Chapter 117
"Apa yang ingin kautanyakan, Suhu?"
"Hm, tentang pertandinganmu dengan Sin Hong, Liong Ceng. Benarkah kau bertempur dengan pemuda itu dan bukan dengan gurunya?"
Ceng Liong terbelalak. "Apa maksudmu, Suhu?"
"Kau tidak percaya?"
"Ya, aku sangsi, Liong Ceng. Aku melihat lukamu itu mustahil dilakukan Sin Hong. Pukulannya berat. Aku tidak percaya bahwa Sin Hong mampu melakukan itu!"
"Maksudmu kau tidak percaya bahwa teecu bertanding dengan Sin Hong, Suhu?"
"Tidak, bukan itu, Liong Ceng. Tapi aku sangsi bahwa Sin Hong memiliki sinkang demikian hebat seperti gurunya. Pukulan itu luar biasa sekali. Hanya Naga Bongkok yang dapat melukaimu seperti itu!"
Ceng Liong tersenyum. "Suhu, kau rupanya tak percaya bahwa Sin Hong benar-benar memiliki sinkang mukjizat. Teecu sendiri juga heran bagaimana pemuda itu dapat memiliki tenaga sakti demikian hebat. Tapi dengan sungguh-sungguh dan berani bersumpah, teecu menyatakan bahwa itu memang benar, Suhu. Bahwa teecu benar-benar bertanding melawan Sin Hong dan kalah oleh murid Naga Bongkok itu."
"Dan gurunya tak membantu di belakang?"
"Sama sekali tidak, Suhu. Sin Hong bertanding dengan jujur dan tanpa bantuan gurunya!"
"Hm, kalau begitu berbahaya. Sinkang pemuda itu mencapai tingkat yang sejajar dengan gurunya atau setingkat pula denganku!"
"Ya, Naga Bongkok juga bilang begitu, Suhu. Waktu kami bertempur, setan bongkok itu justru tertawa. Dia bilang bahwa sebaiknya teecu mundur, biar Suhu saja yang maju!"
"Keparat, setan bongkok itu berani berkata seperti itu?"
"Ya, dia terlampau menghina, Suhu. Tapi teecu memang kalah dan Sin Hong memang betul-betul hebat!"
Ciok-thouw Taihiap mengepalkan tinju. Dia menggeram, lalu bangkit berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan dahi dikerutkan.
"Liong Ceng, di mana sekarang guru dan murid itu?"
"Kau akan mencarinya, Suhu?"
"Ya."
"Ah, tak perlu, Suhu. Naga Bongkok dan Sin Hong akan kemari lima hari lagi!"
Ciok-thouw Taihiap memutar tubuh. "Dari mana kau tahu?"
"Mereka sendiri yang bilang, Suhu. Naga Bongkok katanya akan menemuimu dan menjagokan Sin Hong untuk diadu."
Ciok-thouw Taihiap tertegun. Ceng Liong yang cepat-cepat menjatuhkan diri berlutut segera berkata pada gurunya itu, "Suhu, terus terang saja teecu nyatakan di sini bahwa teecu bukan tandingan Sin Hong. Sebaiknya Han Ki atau Han Bu saja Suhu suruh maju ke depan. Dengan keroyokan mungkin Sin Hong akan kalah!"
Ciok-thouw Taihiap menggeram, "Kau kira keluarga Ciok-thouw Taihiap akan bersikap pengecut, Liong Ceng? Tidak, biar mati pun kami tak mau bertempur dengan cara yang curang. Naga Bongkok itu boleh datang dan aku akan menghadapinya dengan gagah!"
"Tapi masa Sin Hong akan menghadapi kau, Suhu? Bukankah pamormu bakal merosot dan jatuh di bawah mereka?"
"Aku tak akan menghadapi bocah itu, Liong Ceng. Tapi aku akan menghadapi tantangannya untuk mengadu murid dengan murid!"
"Tapi siapa yang akan kauajukan, Suhu? Teecu terang tak mungkin. Teecu akan kalah dan hanya akan membuatmu malu saja, kecuali...."
Ceng Liong menahan omongannya, mulai memasang "jebakan" dan pura-pura mengerutkan alis, berpikir keras. Lalu, dengan sikap hati-hati, Ceng Liong meneruskan, "Kecuali kalau kau memberikan tenaga saktimu, Suhu. Karena Naga Bongkok itu juga rupanya memberikan tenaga saktinya pada Sin Hong untuk mencapai kemenangan!"
Ciok-thouw Taihiap tersentak. "Apa? Maksudmu setan bongkok itu memberikan sinkangnya pada Sin Hong, Liong Ceng?"
"Ya, begitu setelah teecu pikir, Suhu. Kalau tidak, mana mungkin Sin Hong dapat memiliki sinkang demikian hebat kalau tidak dibantu gurunya? Naga Bongkok tentu curang, dia memberikan sebagian sinkangnya untuk memperoleh kemenangan!"
Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba tertegun. "Keparat, dugaanmu mungkin benar, Liong Ceng. Kalau begitu tua bangka itu harus dihajar!"
"Ya, dan satu di antara kami harus kauberi sinkangmu itu, Suhu. Agar dapat menandingi dan merobohkan murid Naga Bongkok itu!"
"Betul!" Tapi terkejut melepaskan omongannya ini, tiba-tiba Pendekar Kepala Batu memandang Ceng Liong. "Liong Ceng, siapa kiranya yang pantas kuberi sinkangku ini?"
Ceng Liong menunduk, pura-pura berpikir. "Teecu kira Han Ki suheng saja, Suhu. Dia cocok dan cucu pertamamu yang baik."
"Kalau begitu bagaimana dengan Han Bu?"
"Hm, boleh saja, Suhu. Tapi semuanya itu terserah padamu."
"Baik!" Ciok-thouw Taihiap menganggukkan kepalanya. Sekarang dia mempunyai keputusan sendiri, tidak mendengar Ceng Liong mengajukan diri. Berarti pemuda itu selalu memikirkan orang lain. Maka, menyuruh pemuda itu memanggil Ceng Han, ketua Bengsan-pai ini segera mengebutkan lengannya.
"Liong Ceng, panggil pamanmu Ceng Han kemari. Sekarang pergilah!"
Ceng Liong mengangguk. Dia melirik meninggalkan ketua Bengsan-pai itu, tak tahu siapa yang dipilih. Maka, dengan berdebar dia meninggalkan tempat itu dan segera memanggil Ceng Han seperti yang diperintahkan gurunya. Tapi kembali dengan hati-hati dan memasang telinga, dia lalu bersembunyi mencuri percakapan, menyelinap di belakang rumah ketika Ceng Han datang.
"Ada apa, Ayah? Kau memanggilku?"
Ciok-thouw Taihiap mengerotokkan jarinya. "Ya, aku ingin bicara sebentar, Han-ji. Ada satu persoalan yang ingin kumintakan pertimbanganmu!"
Ceng Han sudah duduk di depan ayahnya. "Persoalan apa, Ayah? Kau tampaknya tegang?"
"Hm, aku memang agak tegang, Han-ji. Naga Bongkok katanya akan datang kemari lima hari lagi. Liong Ceng baru menceritakannya kepadaku."
"Lalu?"
"Setan bongkok itu akan mengadu muridnya, Han-ji. Dan karena Liong Ceng yang kujagoi tak mampu menahan Sin Hong, tentu aku akan kehilangan muka dan malu di depan kakek bongkok itu!"
Ceng Han menghela napas. "Ayah, kau terlalu bersikeras untuk memperoleh kemenangan. Apa sekarang yang kauinginkan? Bukankah Sin Hong sudah mengalahkan Liong Ceng yang kauagulkan itu?"
"Benar, Liong Ceng memang kalah, Han-ji. Tapi kemenangan yang diperoleh Sin Hong curang. Naga Bongkok tak jujur dalam mencetak muridnya itu!"
Ceng Han mengerutkan alis. "Tak jujur bagaimana, Ayah?"
"Naga Bongkok memberikan sinkangnya pada Sin Hong, Han-ji. Liong Ceng baru saja mengemukakan dugaannya itu kepadaku."
"Maksudmu?"
"Naga Bongkok ingin memperoleh kemenangan secara licik, Han-ji. Dia memberikan sebagian sinkangnya yang sudah dilatih puluhan tahun itu kepada Sin Hong. Maka tak heran kalau Sin Hong memiliki tenaga sinkang luar biasa dan muridku kalah!"
Ceng Han terbelalak. "Kau yakin itu, Ayah?"
"Ya, aku yakin dugaanku ini, Han-ji. Karena seperti yang kaulihat sendiri, pukulan yang melukai Liong Ceng itu memang berat dan setingkat dengan sinkang yang kumiliki. Tadinya kukira Naga Bongkok yang melukai muridku itu, tapi ternyata tidak. Sin Honglah yang melukai Liong Ceng dengan warisan tenaga sakti dari gurunya!"
Ceng Han tertegun. "Lalu apa sekarang maumu, Ayah?"
"Aku juga akan memberikan sebagian sinkangku pada seseorang yang kupilih, Han-ji. Aku akan mengimbangi perbuatan Naga Bongkok itu yang curang dan tak tahu malu!"
"Ah, dan kau sudah menetapkan siapa pilihanmu, Ayah?"
"Ya!"
Ceng Han bangkit berdiri. Sampai di sini pembicaraan yang didengar Ceng Liong membuat Ceng Liong tegang bukan main, berdebar hingga jantungnya berdetak amat cepat. Tapi Ciok-thouw Taihiap yang rupanya tak segera melanjutkan ceritanya itu membuat Ceng Liong dan Ceng Han menjadi ingin tahu.
"Siapa yang kaupilih, Ayah?" akhirnya Ceng Liong mendengar suara Ceng Han bertanya, lirih dan penuh ketegangan memandang ayahnya itu.
Dan Ciok-thouw Taihiap yang juga bangkit dari kursinya tiba-tiba menjawab, "Liong Ceng!"
Ceng Han mengeluarkan seruan kaget. Ceng Liong mendengar putra Pendekar Kepala Batu itu batuk-batuk, tersedak, dan duduk kembali di kursinya, tampak pucat. Dan Ceng Liong yang hampir melonjak kegirangan mendengar jawaban Ciok-thouw Taihiap ini tiba-tiba menjadi tegang ketika Ceng Han menegur ayahnya.
"Ayah, tidak salahkah keputusan yang kauambil ini? Liong Ceng tak ada hubungan darah dengan kita. Dia sebenarnya bukan apa-apa dengan keluarga Souw!"
"Benar, tapi dia telah menjadi muridku, Han-ji. Jadi dia sudah anggota sendiri dan sama dengan keluarga Souw!"
"Tapi masih ada Han Ki dan Han Bu, Ayah. Kenapa memilih Liong Ceng untuk menerima pemberian sinkang? Bagaimana kalau pemuda itu berbalik dan mengkhianati kita?"
"Hm, aku tak percaya itu, Han-ji. Kita sama-sama lihat tindak-tanduknya hampir dua tahun ini. Liong Ceng tak pernah melakukan kesalahan dan selalu baik kepada kita!"
"Tapi aku mendapat firasat aneh tentang pemuda itu, Ayah. Aku merasa Liong Ceng diam-diam menyembunyikan sesuatu bahaya untuk kita."
"Bahaya apa?" Ciok-thouw Taihiap mengerutkan alis. "Kau jangan mengada-ada, Han-ji. Aku tak merasa sesuatu apa pun tentang diri muridku itu. Jangan kau merasa iri karena dua orang anakmu tak dapat perhatian dariku seperti aku memperhatikan Liong Ceng!"
Ceng Han terpukul. "Ayah..." laki-laki ini gemetar. "Jangan kaukira aku merasa iri bahwa kau memperlakukan dua cucumu sendiri lain dengan Liong Ceng. Aku tak merasa iri dengan anak itu, Ayah. Tapi terus terang kukatakan padamu bahwa jangan terlampau berlebih-lebihan memberikan sesuatu kepada Liong Ceng. Tenaga sinkang adalah seperti nyawa bagi kita. Sekali anak itu membalik dan menyedot sinkangmu, tentu kau celaka. Bagaimana kalau Liong Ceng berbuat seperti itu dan kau binasa?"
Ciok-thouw Taihiap tertegun.
"Dan jangan kira aku menasehatimu ini karena aku merasa iri kepada pemuda itu, Ayah. Melainkan sungguh-sungguh kukatakan kepadamu bahwa aku mendapat firasat tidak enak tentang diri pemuda ini!"
Ciok-thouw Taihiap terpengaruh. Tapi geram bahwa lagi-lagi Ceng Han tak sejalan dengannya, tiba-tiba pendekar ini mendengus dan berkata, "Baiklah, kalau begitu biar aku kalah di depan Naga Bongkok itu, Han-ji. Biar aku menerima maluku dan tak usah keluar menyambut!"
Ceng Han terkejut. Tapi sesosok bayangan ramping yang tiba-tiba berkelebat memasuki taman itu berseru mengejutkan mereka, "Gak-hu, tak perlu kecewa."