Chapter 118
"Aku ada jalan tengah untuk kalian berdua...!" Cui Ang, yang muncul di tengah-tengah ayah dan anak itu, sudah memegang lengan suaminya dan memberi isyarat.
"Han-ko, Ayah jangan selalu dikecewakan.
Kalau kau tidak setuju akan sesuatu, seharusnya kau memberikan jalan keluar." Lalu menghadapi ayah mertuanya, nyonya ini berkata,
"Gak-hu, aku telah mendengar apa yang kalian bicarakan.
Dan aku mempunyai jalan keluar." Ciok-thouw Taihiap girang.
Menantunya ini memang sering membantu. Maka, berbinar memandang menantunya itu, Ketua Beng-san-pai ini bertanya, "Apa yang akan kau ajukan itu, Ang-ji? Benar-benar sebuah jalan keluar?" Cui Ang mengangguk.
"Jalan tengah, Ayah.
Satu tindakan yang akan memuaskan hatimu sekaligus juga tidak membuat Han-koko khawatir." "Apa itu?" Cui Ang memandang sungguh-sungguh.
"Satu jalan yang gampang, Gak-bu.
Yakni, kau teruskan saja niatmu itu untuk memberikan sinkang pada Liong Ceng.
Kami tahu bahwa Liong Ceng satu-satunya orang yang dapat kauandalkan.
Dia setingkat lebih tinggi dibanding Han Ki maupun Han Bu.
Dan karena Liong Ceng hanya kalah dalam hal sinkang, memang dialah yang paling tepat diberi tambahan untuk mengimbangi Sin Hong!" "Tapi bagaimana dengan keselamatan Ayah, Ang-moi?" Ceng Han memotong.
"Bagaimana kalau anak itu membalik dan melakukan sesuatu yang membahayakan Ayah?" "Kita menjaga di sekitarnya, suamiku.
Kita buat anak itu tak sampai melakukan tindakan yang mengancam keselamatan jiwa Ayah!" Ceng Han tertegun.
Dan Ciok-thouw Taihiap yang merasa kata-kata menantunya itu benar, tiba-tiba tertawa tergelak dan menganggukkan kepalanya. "Bagus, benar sekali.
Jalan tengah ini tentu memang tepat.
Han-ji.
Dan kau tak perlu khawatir lagi bila anak itu mencelakakan aku!" Ceng Han tak dapat membantah lagi.
Dia tak mau banyak-banyak bicara, takut ayahnya mengira dia iri kepada Liong Ceng, pemuda yang disayang ayahnya dengan luar biasa itu.
Karena Liong Ceng amat tekun berlatih dan merupakan murid ayahnya yang mempelajari kesaktian ayahnya dengan lengkap.
Maka, melihat bahwa omongan istrinya memang benar dan dia tak dapat menghalangi lagi, tiba-tiba Ceng Han menarik napas dan menekan kecemasannya yang agaknya tanpa alasan kuat.
"Ayah, Ang-moi memang benar.
Tapi, betapapun, hati-hatilah. Memberikannya padamu sama dengan memberikan nyawa.
Kau tahu ini, bukan?" Ciok-thouw Taihiap tertawa lebar.
"Aku tahu, Han-ji, tak perlu khawatir.
Dan kuperkirakan Liong Ceng tak akan melakukan sesuatu yang demikian keji terhadap diriku!" Ceng Liong menyelinap masuk.
Sekarang dia tahu apa yang dipercakapkan itu.
Tahu bahwa Ciok-thouw Taihiap memilih dirinya untuk menerima warisan sinkang.
Persis seperti yang direncanakan!
Tapi, berhati-hati terhadap Ceng Han yang rupanya curiga kepadanya, Ceng Liong tak berani main-main.
Diam-diam, dia mencaci putra Pendekar Kepala Batu yang memiliki firasat tajam itu.
Dan berjanji bahwa dia akan "menghabisi" pendekar ini. Ceng Liong memasuki kamarnya dan beristirahat.
Malam itu Ceng Liong dipanggil ke ruang dalam.
Dia melihat Ciok-thouw Taihiap, Ceng Han, serta istrinya duduk dengan sikap angker, penuh wibawa.
Dan Ceng Han, yang memandang dengan tatapan mata berkilat penuh selidik ke arah Ceng Liong, tak melepaskan sedetik pun perhatiannya kepada pemuda ini.
"Liong Ceng, tahukah kau apa keperluan kami memanggilmu?" Ceng Han mulai bertanya, memandang Ceng Liong dengan tajam dan kepala terangkat.
Dan Ceng Liong yang cepat menjatuhkan diri berlutut segera menjawab, "Siauw-te tidak tahu, Paman.
Tapi tentu sesuatu yang amat penting untuk didengarkan!" "Benar, Ayah hendak memberikan sesuatu kepadamu, Liong Ceng.
Dan bersyukur serta berterima kasihlah kepada gurumu!" Ceng Liong terbelalak.
"Suhu, apalagi yang hendak kauberikan kepada teecu?" Ceng Liong memandang Ciok-thouw Taihiap, pura-pura tak tahu apa yang akan diberikan.
Dan Ciok-thouw Taihiap yang berseri memandang muridnya ini, mengetukkan lengan.
"Aku hendak memberikan sinkang padamu, Liong Ceng, seperti yang sore tadi telah kita bicarakan!" Ceng Liong pura-pura terkejut.
"Apa? Kau... kau hendak memberikan sinkang kepada teecu, Suhu? Kau tidak memilih Han Ki Suheng atau Han Bu Suheng saja?" "Tidak, kami sepakat bahwa kaulah yang mendapatkannya, Liong Ceng.
Dan anak serta menantuku ini telah setuju!" "Ah...!" Ceng Liong tiba-tiba menjatuhkan diri berlutut, membenturkan jidatnya.
"Suhu, ampun.
Untuk ini, teecu terpaksa menolak dan tidak berani menerima!
Harap Suhu pikirkan baik-baik maksud hatimu itu dan ingatlah akan Han Ki Suheng dan Han Bu Suheng!" Ciok-thouw Taihiap terkejut.
"Kenapa, Liong Ceng?" "Karena teecu tidak pantas menerimanya, Suhu.
Masih ada Han Ki Suheng atau Han Bu Suheng yang lebih patut menerima warisan itu!" "Hm..." Ciok-thouw Taihiap mengerutkan alisnya. "Mereka tidak cukup kuat, Liong Ceng.
Dan lagi, Han Bu maupun kakaknya belum tentu mau menerima sinkangku ini.
Mereka tak mau bertempur melawan Sin Hong!" "Tapi mereka dapat dibujuk, Suhu.
Memberikan sinkang sama dengan memberikan nyawa sendiri.
Bagaimana teecu berani menerimanya?" "Tidak... tidak, Suhu.
Bukan begitu.
Tapi berilah kesempatan kepada teecu untuk meminta pertimbangan pada Han Ki Suheng atau Han Bu Suheng!" "Hm, untuk apa, Liong Ceng?" "Untuk mendapat kepastian, Suhu.
Kalau mereka tidak senang, tentu teecu akan menyerahkannya kepada mereka!" "Ah, kau kira Han Ki maupun adiknya iri kepadamu?" "Teecu tidak berani mengatakan begitu, Suhu.
Tapi, betapapun, teecu harus tahu diri.
Teecu harus meminta izin mereka pula karena teecu bukan darah keluarga Souw!" Ciok-thouw Taihiap tertegun.
Dia merasa puas dan tak menyangka akan jawaban muridnya itu, jawaban yang menunjukkan bahwa muridnya itu memang pemuda yang baik, tahu diri, dan "berkualitas" tinggi.
Maka, sambil tersenyum, ia berkata, "Baiklah, Liong Ceng. Dua hari saja kuperkirakan cukup bagimu untuk menjajaki perasaan dua orang cucuku!" Ceng Liong mengundurkan diri.
Dia berhasil memantapkan kepercayaan keluarga itu lebih besar lagi, menunjukkan sifatnya yang baik dan selalu tahu diri.
Hal yang tentu saja menggembirakan Ciok-thouw Taihiap yang semakin percaya dan sayang pada muridnya itu.
Dan Ceng Han yang juga mulai terkikis kecurigaannya kepada Ceng Liong, akhirnya mengangguk-angguk dengan napas lega.
Ceng Liong memang selalu baik.
Tindak-tanduk dan kelakuannya tidak pernah menyimpang.
Dan Ceng Han yang mulai ragu-ragu akan firasatnya sendiri akhirnya tak percaya pada indra keenamnya itu.
Dan saat itulah bahaya semakin mendekat!
Ceng Liong telah mengadakan hubungan dengan gurunya.
Dan ketika isyarat yang diberikan pada hari kedua ditangkap Mu Ba yang selalu "memantau" gerak-gerik muridnya, akhirnya malam itu Mu Ba datang, berkelebat, dan telah memasuki jendela Ceng Liong seperti iblis!
"Ada berita baru, Liong-ji?" Ceng Liong menyambut hati-hati.
"Ya, besok Ciok-thouw Taihiap akan mendengarkan persetujuanku, Suhu.
Aku siap menerima sinkangnya, dan besok kita bergerak!" "Bagus, dan aku juga mendapat berita baru, Liong-ji.
Naga Bongkok dan muridnya mempercepat rencana semula untuk mendatangi Ketua Beng-san-pai itu!" "Maksudmu?" "Besok, dua orang guru dan murid itu akan datang, Liong-ji.
Ada gejala bahwa mereka mencium jejak kita!" Ceng Liong terkejut.
Dia tersentak mendengar kata-kata Suhu-nya ini, wajahnya pucat.
Tapi Mu Ba yang bersikap tenang menyuruh muridnya ini agar tak usah takut.
"Liong-ji, ibumu menghendaki kau secepatnya menyedot sinkang Pendekar Kepala Batu itu.
Kalau kebetulan besok kau bisa menerimanya, itu bagus sekali.
Aku, jisuhu, serta ibumu akan datang mengacau besok.
Usahakan pagi-pagi Ciok-thouw Taihiap sudah mewariskan sinkangnya yang hebat itu kepadamu!" Ceng Liong tertegun.
"Kalau begitu, akan kuusahakan, Suhu.
Dan sekarang pergilah, lindungi aku besok!" Mu Ba melompat keluar.
Percakapan singkat yang mereka lakukan malam itu sudah cukup.
Maka, ketika keesokan harinya Ceng Liong buru-buru menghadap gurunya dan menyatakan kesediaannya, giranglah Ketua Beng-san-pai ini yang sama sekali tidak menduga seujung rambut pun bahwa "muridnya" akan berkhianat!