Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 119

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 119

Ketika Ciok-thouw Taihiap mengajak Ceng Liong ke taman, Ceng Liong tertegun melihat sepasang suami istri, Ceng Han dan Cui Ang, sudah berada di sana.

"Ha-ha, mereka menjaga keselamatan kita, Liong Ceng. Paman dan bibimu itu mengkhawatirkan kita jika ada musuh yang datang mengganggu!" Ceng Liong menjatuhkan diri berlutut.

Ia memberi hormat dan menyadari bahwa Ceng Han dan istrinya memang menjaganya, bukan menjaga orang lain seperti yang dikatakan gurunya. Namun, dengan senyum tenang dan tanpa menunjukkan ketegangan, Ceng Liong mengangguk dan menyatakan terima kasih.

"Bibi, jika begini, Siauw-te benar-benar merasa tenang. Suhu tentu tidak terganggu dan Siauw-te dapat mengonsentrasikan diri."

"Ya, dan tak perlu kau khawatir, Liong Ceng. Han Ki dan Han Bu juga kusuruh menjaga di luar taman. Tentu lebih aman lagi!" jawab Ceng Han, mewakili istrinya, sengaja memperingatkan Ceng Liong secara halus agar tidak main gila.

Ceng Liong yang tersenyum dengan wajah tidak berubah diam-diam tertawa dalam hatinya. "Paman, terima kasih kalau begitu. Perhatian kalian benar-benar besar sekali!" Ceng Liong menjura.

Ciok-thouw Taihiap yang sudah duduk di bangku batu segera berseru, "Liong Ceng, cepat ke mari. Tak perlu banyak bicara lagi!"

Ceng Liong menghampiri dan duduk di depan gurunya. Ketika lengan Ciok-thouw Taihiap menepuk bahunya, tiba-tiba getaran tenaga sakti muncul dan mengguncangkan tubuh pemuda itu.

"Liong Ceng, kendorkan semua sarafmu. Tarik napas dalam-dalam dan pusatkan perhatian pada tengah kening. Awas, kita mulai...!"

Liong Ceng mengangguk. Ia merasa tegang dan berdebar, lalu bersila di depan gurunya dengan mata terpejam. "Kau siap, bocah?" Ceng Liong mengangguk.

"Nah, awas kalau begitu!" Ciok-thouw Taihiap yang sudah duduk bersila dengan kedua lengan menumpang di atas kepala muridnya tiba-tiba menahan napas dan mendorong. Ia menggeram dan membentak pendek; seketika seleret sinar putih meletup dan menimpa ubun-ubun kepala Ceng Liong.

"Plak!" Ceng Liong merasa kepalanya pening. Ia terkejut dan tergetar sejenak. Namun, ketika rasa peningnya hilang, semacam hawa aneh merayap masuk dari ubun-ubun bagaikan seekor ular yang terus melorot turun menuju pusar. Ceng Liong menjadi gembira bukan main. Itulah *sinkang* (tenaga sakti) Ciok-thouw Taihiap yang mulai bekerja, menembus ubun-ubun dan siap bersatu dengan *sinkang*-nya sendiri yang ada di *tantian* (pusat).

Ceng Liong segera menyambut gerakan hawa yang berasal dari telapak gurunya dan memusatkan seluruh perhatian untuk menuntun hawa sakti yang mirip ular merayap itu. Ia berhasil. Dengan mudah ia mengatur arus hawa yang kian cepat, mengalir dan menyusup naik-turun bagaikan gelombang elektro menuju tengah pusar.

Beberapa menit kemudian, ketika arus hawa itu berhasil ditarik dan lebur dengan tenaga saktinya di daerah *tantian*, sang Pendekar Kepala Batu membuka mata dan berseru kagum, "Liong Ceng, kau berhasil. *Sinkang*-ku mulai bersatu dengan hawa yang bergolak di dalam pusarmu!"

Ceng Liong tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dan tidak melepas getaran hawa yang dialirkan gurunya, tidak mau melepaskan konsentrasi agar *sinkang* gurunya terus mengalir membanjir hingga tubuhnya tiba-tiba terasa ditiup, melembung bagaikan balon.

Dua jam kemudian, wajah Ceng Liong menjadi merah dan tubuhnya mengeluarkan uap putih yang semakin tebal. Mendadak, sang Pendekar Kepala Batu menghentikan alirannya dan berseru terengah-engah, "Cukup, tenagaku sudah habis setengah bagian, Liong Ceng...!"

Pendekar Kepala Batu mundur dengan wajah penuh kagum, namun ia terkejut ketika melihat Ceng Liong berteriak dan menubruk dirinya.

"Suhu, aku tak dapat mengendalikan tenaga."

Ciok-thouw Taihiap terbelalak. Ia kaget saat Ceng Liong tiba-tiba menghantamnya dengan dahsyat dan suara melengking menyeramkan. Mengira Ceng Liong mengalami gangguan di tengah jalan, ketua Beng-san-pai ini menangkis dan menerima tubrukan itu dengan lengan terbuka, bermaksud menolong.

Namun, begitu kedua telapak tangan bertemu dan Ciok-thouw Taihiap mengerahkan *sinkang*-nya untuk mendorong, mendadak Ceng Liong melemahkan tubuh dan menerima dorongan itu dengan gaya "menyedot".

"Plak!" Ciok-thouw Taihiap terkejut. Secara tidak sengaja ia telah menyerahkan *sinkang*-nya. Ia kaget karena Ceng Liong "menghisap" dan menarik tenaga saktinya ke dalam *tantian*. Pemuda itu rupanya menghendaki ia mengulang pekerjaan semula, yakni memberikan *sinkang*.

Terkejut karena Ceng Liong memaksa menambah pemberian tenaga sakti, ketua Beng-san-pai ini meronta dan membentak, "Liong Ceng, kau gila?"

Ceng Liong tidak melepas lawannya. Ia menempel dan mengikuti gerakan ketua Beng-san-pai itu, terus menghisap tenaga *sinkang* sang Pendekar Kepala Batu, yang tiba-tiba telah kehilangan seperempat bagian dari sisa tenaga yang ada!

Ciok-thouw Taihiap gusar dan marah. Ia menyadari pemuda ini mengancam keselamatannya. Tepat saat ia meraung untuk berkutat melepaskan diri, terdengar suara tawa bergelak disusul berkelebatnya tiga bayangan musuh yang tidak disangka-sangka!

"Ha-ha, bagus Liong-ji, tempel dan sedot terus tenaga tua bangka itu. Bunuh dia dan habiskan nyawanya!"

Ciok-thouw Taihiap tertegun. Ia melihat tiga orang muncul tiba-tiba; dua laki-laki dan satu perempuan. Ia kaget mendapat musuh di saat yang tidak terduga dan segera berseru kepada anak serta menantunya, "Han-ji, Ang-ji, cegat mereka! Panggil anak-anakmu...!"

Cui Ang membentak. Ia melompat ke belakang Ceng Liong dan melepaskan pukulan, bermaksud membebaskan ayah mertuanya dari hisapan Ceng Liong yang menempel ketat. Namun, begitu nyonya itu menyerang, justru Ciok-thouw Taihiap mengeluh dan berteriak kaget, "Ang-ji, jangan...!"

Terlambat. Cui Ang sudah melepaskan pukulan dari belakang. Begitu pukulannya mengenai sasaran, ia berteriak kaget dan terlempar mundur karena pukulannya membalik setelah membentur sosok hawa sakti yang melindungi Ceng Liong.

"Aih... bress!" Cui Ang terguling-guling. Saat ia melompat bangun dengan kaki terhuyung, wanita ini memuntahkan darah segar akibat luka dalam.

"Ang-moi...!" Ceng Han gemetar. Ia segera memburu dan memeluk istrinya yang roboh setelah membentur dinding hawa yang luar biasa kuat. Saat Ceng Han membawa istrinya melompat ke dekat ayahnya, salah satu dari tiga pendatang itu batuk-batuk dan mengejek mereka.

"Ciok-thouw Taihiap, hari ini kami datang untuk mengambil nyawa. Bersiaplah...!"

Ceng Han mencabut pedang. Ia bersuit memanggil anak-anaknya, namun ketika Han Ki dan Han Bu tidak muncul, pendekar ini berdiri pucat dan membentak, "Jahanam keji, kalian siapakah dan untuk apa mengganggu kami? Di mana anak-anak kami?"

"Heh-heh," yang batuk-batuk itu terkekeh. "Kami sahabat mendiang Cheng-gan Sian-jin, anak muda. Perlukah kuberi tahu nama kami dan berkenalan?"

Ceng Han terkejut. "Kalau begitu, siapa nama kalian?"

Wanita di antara mereka tiba-tiba melompat maju. "Souw Ceng Han, kau tentu belum melupakan aku jika matamu tidak lamur. Kau masih mengenal aku, bukan?"

Ceng Han terbelalak. Ia teringat wanita yang masih cantik namun ganas ini. Dengan marah, ia menudingkan ujung pedang ke arah wanita itu. "Kau rupanya, Tok-sim Sian-li! Ada apa kau datang dengan cara pengecut begini?"

"Hik-hik, aku ingin mengambil putraku, orang she Souw. Dan sungguh aku gembira kalian mendapat balasan setimpal atas kematian guruku!"

Ceng Han terkejut. Ia memutar tubuh, memandang Ceng Liong yang masih menyedot *sinkang* ayahnya yang terus bertahan. Tok-sim Sian-li mengebutkan Bendera Iblisnya dan mendengus dingin, "Benar sekali, Souw Ceng Han. Anak yang kau bilang putramu itu adalah dia!"

"LIONG CENG?"

Tok-sim Sian-li tertawa. "Bukan Liong Ceng, orang she Souw. Tapi Ceng Liong, Yap Ceng Liong...!"

Wanita iblis itu berkelebat ke depan dengan bendera di tangan, melecut dan menyerang Ceng Han saat putra Pendekar Kepala Batu itu masih tertegun.

"Brett!" Ceng Han hampir celaka. Ia cepat mengelak dan melompat ke belakang. Sementara ia bersiap menghadapi murid Cheng-gan Sian-jin ini, mendadak istrinya menjerit. Cui Ang diserang laki-laki yang batuk-batuk—si Mayat Hidup.

Marah karena musuh datang dengan cara licik, Ceng Han melemparkan pedangnya kepada sang istri. "Ang-moi, tangkap...!"

Cui Ang jungkir balik menyambar pedang tersebut, tetapi Mayat Hidup yang mengejarnya dengan suara terkekeh melepaskan pukulan. "Souw-hujin, nanti dulu..."

"Plak!" Cui Ang terpaksa berbalik untuk mengelak, tetapi ia berteriak marah ketika pedangnya terpental. Dengan seruan nyaring, nyonya itu kembali mengejar pedangnya. Namun, ketika Mayat Hidup menghalangi di tengah jalan, Ceng Han berkelebat ke depan menangkis pukulan iblis itu agar istrinya dapat meraih pedang tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment