Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 12

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 12

"Bu-beng Siauw, siapa ibumu?" Anak ini melotot. "Kau ingin tahu, Pendekar Gurun Neraka? Kalau kau cukup jantan menyebutkannya!" Maka Bu-beng Siauw-cut yang marah mendengar kata-kata ini tiba-tiba membanting kaki.

"Pendekar Gurun Neraka, dengarlah! Ibuku adalah Bwee Li yang sepuluh tahun yang lalu tewas gara-gara perbuatanmu!" "Aaa-..?" Pendekar Gurun Neraka kaget bukan main. "Kau... kau anak Bwee Li... Kau... ah, ingat aku sekarang. Kau adalah...." Tapi belum pendekar ini selesai mengucapkan kata-katanya, tiba-tiba anak itu sudah memutar tubuh dan lari keluar.

Dia memaki pendekar itu, yang dikala laki-laki tak bertanggung jawab. Dan Bu-beng Siauw-cut yang sudah melompat pergi meninggalkan ancamannya, desis nyaring ditahan, "Pendekar Gurun Neraka, ingatlah kau. Sepuluh tahun lagi aku akan datang untuk coba membunuhmu...!" dan anak laki-laki yang sudah lenyap di luar itu mendadak membuat pendekar ini mengeluh.

Ceng Bi dan Pek Hong melibat suami mereka tiba-tiba pucat sekali, terhuyung dan menggapai ke depan. Seakan memanggil bocah bernama Bu-beng Siauw-cut itu. Tapi ketika si anak lenyap dari tak tampak bayangannya lagi, mendadak pendekar ini berseru, "Hong-moi, Bi-moi... tolong bawa anak itu ke mari. Dia adalah Ceng Liong yang sejati...!" Dua orang wanita cantik ini terkejut. Mereka tentu saja terbelalak dan tertegun di tempat, tapi begitu sang suami berseru parau menyuruh mereka mengejar, agak laki-laki itu segera keduanya berkelebat mengejar.

"Bu-beng Siauw-cut, tunggu...!" Namun dua nyonya muda ini tercekat. Mereka melihat Bu-beng Siauw-cut lari turun gunung. Langkah kakinya kecil dan pendek-pendek. Tapi begitu mereka berteriak memanggil, sekonyong-konyong sebuah bayangan muncul di tikungan. Bayangan ini langsung menyambar Bu-beng Siauw-cut, dan begitu terdengar suara ber-gelak nyaring, tahu-tahu anak itu sudah "terbang" digondol si bayangan putih!

"Ah, kita kehilangan dia, enci Hong...!" Dua orang wanita itu berhenti. Mereka terbelalak memandang ke sana, tempat di mana bayangan putih lenyap. Dan Pek Hong yang mengangguk penuh sesal segera menarik napas panjang. "Ya, kita kehilangan jejak, Bi-moi. Kita gagal mencari Bu-beng Siauw-cut!" "Lalu bagaimana sekarang, enci?" "Kita kembali saja." "Tidak mencari di sekitar sini, enci?" "Hm, percuma Bi-moi. Bayangan itu memiliki ginkang yang hebat sekali, kita jelas kalah. Dan kalau Bu-beng Siauw-cut tidak meronta dibawa bayangan itu, berarti anak itu sudah mengenal bayangan ini. Setidak-tidaknya, mereka tentu sahabat!"

Ceng Bi tertegun. Memang dia melihat bocah itu tidak memberontak dibawa bayangan ini, tanda si bocah sudah mengenal bayangan itu. Tapi bahwa bayangan ini tiba-tiba muncul dan mendemonstrasikan kepandaiannya yang tinggi, diam-diam nyonya muda ini penasaran dan ingin mengetahui. Siapakah bayangan yang main gila itu! Tapi Ceng Bi akhirnya menekan penasarannya. Dia maklum orang yang membawa Bu-beng Siauw-cut jelas orang yang lihai sekali. Dan kalau mereka berdua tak mampu mengejar bayangan ini, maka agaknya yang sanggup menghadapi bayangan itu adalah suami mereka sendiri!

Tapi celakanya suami mereka sedang ada di dalam. Tak keluar waktu bayangan itu muncul! Maka Ceng Bi yang akhirnya kembali dengan mendongkol ini sudah naik ke atas dengan madunya. Mereka menceritakan kegagalan mereka. Menceritakan pula tentang munculnya si bayangan misterius. Dan Pendekar Gurun Neraka yang tertegun oleh cerita isterinya ini tiba-tiba terhenyak dengan mata jauh ke depan.

"Yap-koko, sebenarnya siapakah bocah kuring ajar itu? Betulkah dia Ceng Liong seperti yang kau bilang?" Pendekar ini menarik napas. Dia memandang isterinya yang nomor dua, yang bertanya dengan sikap penuh kemendongkolan itu. Dia menganggukkan kepala dengan lemas, dia menjawab, "Ya, dia bocah itu, Bi-moi. Dia adalah putera Tok-sim Sian-li yang dulu menjebakku dalam perbuatan terkutuk itu!" "Dan kau yakin?" "Tentu saja, Bi-moi. Aku mempunyai bukti, lihatlah .." dan Pendekar Gurun Neraka yang mengeluarkan sebuah surat tiba-tiba memberikan benda itu pada dua orang isterinya.

Dia membiarkan masing-masing isterinya terbelalak, tertegun dan terkejut oleh surat ini. Dan Ceng Bi yang lebih dulu selesai membaca tiba-tiba mengeluh. "Yap-koko, anak itu ..?" "Benar, Bi-moi. Dia memang darah dagingku sendiri. Dan ini dapat dibuktikan pula dengan sikapnya yang penuh keberanian serta gagah itu!" maka Ceng Bi yang pucat mukanya dengan mata terbelalak ini gemetar dan memandang madunya.

"Enci Hong, bagaimana menurut pendapamu?" "Hm, ini adalah sebuah kenyataan, Bi-moi. Bu-beng Siauw-cut ternyata benar anak iblis wanita itu, dan benih suami kita! Lalu apalagi yang harus kita perbuat?" "Tapi aku benci pada wanita iblis itu, enci. Dan aku juga benci pada bocah bernama Bu-beng Siauw-cut itu! Jangan-jangan dia seperti ibunya, kelak menjadi orang sesat seperti iblis!" Pek Hong tak menjawab. Ia juga mulai gelisah, ada kekhawatiran tak beralasan yang mengganggu.

Tapi isteri pertama Pendekar Gurun Neraka yang bijaksana ini mengembalikan persoalannya pada sang suami. "Yap-koko, bagaimana pendapatmu?" Pendekar ini masih masygul. "Aku tak tahu apa yang harus kulakukan, Hong-moi. Tapi yang jelas aku telah gagal melaksanakan permintaan dari isi surat itu!" dan Pendekar Gurun Neraka yang telah menerima kembali surat dari Pek Hong sudah memasukkan kembali surat itu ke dalam bajunya.

Mereka bertiga sejenak tak bersuara. Tapi Pek Hong yang melangkah maju memeluk leher suaminya ini, penuh kasih dan lembut. "Yap-koko, sudahlah. Kau telah berterus terang kepada kami sepuluh tahun yang lalu. Bahkan aku telah mengetahuinya terlebih dulu daripada kau. Untuk apa masygul?" Pendekar ini menghela napas. "Kau betul, Hong-moi. Tapi bagaimana sikapmu menghadapi anak itu?" "Hm, kalau dia tidak jahat seperti ibunya, aku akan menerima anak itu sebagaimana adanya, koko. Karena bagaimanapun juga dia keturunanmu. Suami yang kucintai" "Tapi bagaimana dengan kau, Bi-moi?" Ceng Bi menggigit bibir. "Aku tak dapat menentukan sikapku, koko. Aku masih dipengaruhi sepak terjang iblis wanita itu. Dan lagi, bukankah kita masih harus menyelidiki benarkah bocah itu anak si iblis wanita? Kita belum tahu bekas luka di lengan kiri anak itu, koko. Kita belum membuktikan apakah benar bocah itu keturunanmu atau bukan!"

Pendekar Gurun Neraka mengangguk. Dia meraba surat yang tersimpan di balik bajunya itu. Surat dari Bwee Li, ibu si bocah! Dan Pendekar Gurun Neraka yang nanar pandangannya ini tiba-tiba bangkit berdiri, masuk ke dalam kamarnya. "Bi-moi, tolong kau beri obat penolak racun pada Sin Hong dan Bi Lan. Aku ingin beristirahat dulu." Ceng Bi mengiyakan. Sin Hong dan Bi Lan memang masih ada di situ, terbelalak memandang ayah ibu mereka yang tampak murung.

Maka melihat sang ayah masuk ke dalam kamar dan Ceng Bi memberi obat pada mereka, tiba-tiba Bi Lan yang didekati ibunya ini berbisik, "Ibu, siapakah Bu-beng Siauw-cut itu? Bagaimana bisa dikata sebagai anak ayah?" "Hm, kau tak perlu tanya. Bi Lan. Kau belum cukup dewasa untuk mendengar masalah orang tua ini?" "Tapi betulkah dia kakakku, ibu?" Ceng Bi bersinar marah. "Dia anak jahat, putera si iblis Tok-sim Sian-li itu. Tak perlu kau mengakuinya sebagai kakak, Bi Lan!" Bi Lan tak bicara lagi. Dia bersama Sin Hong disuruh ke belakang, dan dua orang anak yang sudah sembuh dari bekas pukulan Tok-hiat-jiu itu tak berani banyak bertanya lagi dan terheran-heran memandang ibu mereka, yang tampak cemberut dan penuh ketidaksenangan!

Sebetulnya, apa yang terjadi di balik semuanya ini? Dan apa isi surat yang disimpan Pendekar Gurun Neraka itu? Jawabnya tidak terlalu luar biasa. Bagi para pembaca yang telah membaca kisah "Pendekar Kepala Batu" tentu ingat bahwa sepuluh tahun yang lalu ketika pendekar ini mendatangi adu pibu di markas Gelang Berdarah mendapat titipan sebuah surat dari ayah mertuanya. Surat itu berasal dari Bwee Li, bekas selir raja muda Yun Chang yang "disepak" gara-gara perbuatannya dengan Pouw Kwi, laki-laki yang dikira Pendekar Gurun Neraka yang memang secara diam-diam dicintai wanita ini.

Terjebak dalam pengaruh sihir. Dan Bwee Li yang hamil akibat perbuatannya itu melahirkan seorang anak laki-laki. Sementara di lain pihak, Lie Lan atau yang terkenal dengan julukan Tok-sim Sian-li (Dewi Berhati Racun) itu juga melahirkan seorang anak dan hasil hubungannya dengan Pendekar Gurun Neraka, yang waktu itu lebih dikenal dengan sebutan Yap Goanswe (Jenderal Yap). Karena pendekar ini memang bekas seorang jenderal yang gagah perkasa di kerajaan Yueh.

Dan Bwee Li yang akhirnya mengetahui bahwa anak yang dia kandung ternyata bukan dari keturunan bekas jenderal muda ini lalu membalas dendam dan tewas di markas Gelang Berdarah. Tewas di tangan Pouw Kwi yang telah menodainya dengan menyamar sebagai Pendekar Gurun Neraka! Dan Bwee Li yang menemui ajal di markas Gelang Berdarah itu ternyata sempat menitipkan sebuah surat kepada Pendekar Kepala Batu untuk disampaikan kepada Pendekar Gurun Neraka.

Dan surat itulah yang kini membuat Pendekar Gurun Neraka dan isteri-isterinya menjadi tidak nyaman setelah kemunculan Tok-sim Sian-li dan Bu-beng Siauw-cut! Sebenarnya, apa isi surat itu? Singkat saja, sebuah surat yang sebenarnya membuka sebuah rahasia dari mendiang wanita ini. Betapa Bwee Li menceritakan bahwa dia telah melahirkan seorang anak laki-lakinya bernama Hun Kiat dan tidak memberi she (nama keturunan) saking bencinya dia kepada bapak anak laki-laki itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment