Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 120

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 120

"Iblis keparat, jangan bermain curang!" Mayat Hidup terkejut.

Dia melihat putra Pendekar Kepala Batu itu telah menghadangnya di depan, menangkis dengan telapak terbuka.

Namun, Mayat Hidup yang tertawa mengejek oleh tangkisan ini tiba-tiba mengganti pukulannya dengan tusukan jari.

"Plak!" Ceng Han tergetar.

Dia melihat musuhnya terdorong setindak dan kaget melihat dua jari lawan yang keras dan mengeluarkan sinar putih yang membuat telapak tangannya bergetar seketika. Ceng Han tertegun dan membelalakkan matanya.

"Coan-kut-ci (Jari Penusuk Tulang)!" Mayat Hidup terkekeh. "Kau tahu, anak muda? Heh-heh, itu memang Coan-kut-ci!"

Ceng Han yang melangkah mundur dengan muka berubah tiba-tiba mengenal siapa lawannya ini. "Kalau begitu, kau Mayat Hidup!"

Seruan ini disambut sikap sombong si Mayat Hidup. "Ya, aku Mayat Hidup, bocah she Souw. Sekarang kau tahu siapa kami? Dan dia itu adalah Sin-thouw-liong Mu Ba, raksasa yang siap menghancurkan keluarga Souw Ki Beng, heh-heh!"

Mayat Hidup yang terkekeh sambil batuk-batuk itu lalu memberi isyarat pada teman-temannya. "Bagaimana, Mu Ba? Siapa yang kaupilih untuk menjadi lawan?"

Mu Ba melompat maju. Dia bersinar memandang putra Pendekar Kepala Batu ini, sikapnya buas dan menyeramkan sekali. Ceng Han yang tergetar melihat raksasa tinggi besar ini seketika menyiapkan diri dengan pukulan Pek-hong-ciang.

Mu Ba tertawa-tawa. "Kau berani melawan aku, anak muda?"

Ceng Han merah mukanya. "Tak perlu banyak cakap, iblis tua. Kalau kalian ingin bertempur, majulah, aku siap menghadapi kalian bertiga!"

Tapi Mayat Hidup melompat mundur. Dia mendekati Cui Ang yang menggigil dengan pedang di tangan dan terkekeh sambil batuk-batuk. Dia melahap menantu Ciok-thouw Taihiap ini dengan mata nyalang. "Souw Ceng Han, tak perlu kau menghadapi kami bertiga. Biar isterimu ini saja yang melayani aku!"

Cui Ang menjerit. Dia tak tahan oleh sikap Mayat Hidup ini. Melihat lawan sudah mendekat dan mengancamnya, tiba-tiba ia sudah berkelebat dengan pedang menusuk ke dada musuhnya itu. "Han-ko, bunuh mereka. Tak perlu banyak cakap!"

Mayat Hidup tak mengelak. Dengan berani dan terkekeh lebar, ia membusungkan dadanya. Ketika pedang menusuk dan Cui Ang menjerit kaget karena pedangnya mental, sekonyong-konyong iblis ini menggerakkan dua jarinya menusuk leher wanita itu.

"Tak-crit!" Cui Ang mengeluh. Ia cepat membanting tubuh mengelak tusukan dua jari Mayat Hidup, bergulingan, dan melompat bangun dengan kaget. Ketika dia melihat lawan mengejarnya sambil terkekeh, wanita inipun membentak dan memainkan ilmu pedang Cuimo Kiam-hoat dengan pekik marah. "Mayat Hidup, aku akan membunuhmu!"

Mayat Hidup tertawa. Dia sudah diserang bertubi-tubi oleh menantu Ciok-thouw Taihiap ini, tapi bergerak cepat mengimbangi serangan lawan dan mulai menangkis serta membalas. Ketika Cui Ang mempergencar serangannya dengan pedang menyambar naik turun mirip naga kehilangan ekornya, maka Mayat Hidup pun tak berani main-main menghadapi serangan lawannya ini. Apalagi ketika Cui Ang sering menusuk mata dan ulu hatinya, dua tempat yang tak dapat dilindungi kekebalan.

Mayat Hidup yang terpaksa menghentikan tawanya untuk menghadapi kemarahan nyonya ini segera memusatkan perhatiannya dan balas menyerang. "Mu Ba, cepat bereskan lawanmu!"

Mu Ba sadar. Mereka sejenak mendelong oleh pertandingan itu, tapi sadar dan tertawa bergelak. Tiba-tiba raksasa tinggi besar ini menerjang Ceng Han. "Bocah, mampuslah!"

Ceng Han menggeram. Dia menyambut terjangan lawannya itu dengan Pek-hong-ciang. Begitu melepas sinkang menyambut hantaman lawan, tiba-tiba dua lengan bertemu dan saling tumbuk di udara.

"Dess!" Mu Ba tergetar. Dia terbelalak melihat putra Pendekar Kepala Batu itu sanggup menerima pukulannya, tidak terdorong kecuali bergoyang sedikit. Maka, dia berteriak keras melancarkan pukulan kembali. Tiba-tiba raksasa ini menubruk dan mengulurkan kedua lengannya. Dengan cepat dan bertubi-tubi dia menampar dan mendorong, mendesak Ceng Han agar mundur menjauhi taman.

Tapi Ceng Han yang menangkis serta balas menyerang dengan muka geram segera melayani iblis tinggi besar ini. Begitu kedua lengannya bergerak-gerak dengan pukulan Pek-hong-ciang, maka terlibatlah dua orang itu dalam pertandingan seru dan sungguh-sungguh.

Sementara di tempat lain, Ciok-thouw Tai-hiap yang berkutat mempertahankan diri dari sedotan Ceng Liong menggeram dan membentak berkali-kali. Ketua Beng-san-pai itu marah bukan main; tak mengira bahwa Ceng Liong yang selama ini dianggapnya baik adalah musuh dalam selimut. Putra Tok-sim Sian-li. Cucu Cenggan Sian-jin! Gusar karena terkecoh oleh anak ingusan macam Ceng Liong ini, Ciok-thouw Tai-hiap meraung dan mati-matian melepaskan diri.

Tapi Ceng Liong terlanjur menghisap tenaganya. Pemuda itu telah memperoleh setengah lebih dari tenaga saktinya, yakni ketika pertama dia memberikan dengan sukarela pada pemuda itu dan kedua ketika dia kelepasan memberikan sinkang tanpa sengaja, karena mengira Ceng Liong mengalami bahaya dan dia ingin membantu.

Maka, sadar bahwa kiranya dia terjebak dan kini mengalami bahaya kematian di tangan bekas muridnya itu yang ternyata adalah iblis yang amat berbahaya, tiba-tiba Ciok-thouw Tai-hiap menghentakkan kakinya dan berteriak, "Bocah, lepas!"

Tapi Ceng Liong masih mencengkeram telapak tangannya. Dia ikut menghentakkan kaki ketika Ciok-thouw Tai-hiap berteriak menarik dan berusaha melepaskan diri dari sedotannya. Ketika sekuat tenaga Ciok-thouw Tai-hiap membanting tubuh dan mereka berdua jatuh terguling-guling, Ceng Liong tetap menempel dan lekat seperti lintah di cengkeraman ketua Beng-san-pai itu.

"Ciok-thouw Tai-hiap, kau tak dapat melepaskan diri!"

Ciok-thouw Tai-hiap meraung. Dia benar-benar gusar dan pucat bukan main, meronta tapi maklum lawannya itu akan mempertahankan diri mati-matian. Ketika dia semakin gemetar dan Ceng Liong semakin kuat menghisap karena sinkangnya sedikit demi sedikit terus disedot, akhirnya Ciok-thouw Tai-hiap tak dapat mempertahankan diri lagi.

Ketua Beng-san-pai ini menggigil; untuk pertama kalinya selama hidup merasa ngeri. Maklum bahwa dia akan tewas di tangan Ceng Liong yang menyentak tubuhnya ke depan.

"Beng-san-paicu, serahkan nyawamu!"

Ciok-thouw Tai-hiap mendelik. Dia benar-benar tak berdaya sekarang, sinkangnya sudah lebih tiga perempat bagian masuk ke dalam tubuh Ceng Liong. Maka ketika Ceng Liong kembali membentak dan tenaga yang luar biasa menyedot sinkangnya yang tinggal sedikit, tiba-tiba Ciok-thouw Tai-hiap melontarkan darah segar dan roboh dengan lutut menyentuh bumi!

Ciok-thouw Tai-hiap lumpuh, berlutut di depan Ceng Liong seakan meminta ampun. Dan Tok-sim Sian-li yang terkekeh melihat pemandangan itu tiba-tiba mengebutkan benderanya ke belakang kepala ketua Beng-san-pai ini dengan pekik girang. "Ciok-thouw Tai-hiap, sekarang kau mampus!"

Ciok-thouw Tai-hiap terkejut. Dia terang tak mungkin menghindar, lengannya masih lengket di telapak Ceng Liong. Maka ketika bendera menyambar dan dia tak dapat mengelak, dengan telak sekali senjata di tangan Tok-sim Sian-li itu mengenai belakang kepalanya.

"Prak!" Ciok-thouw Tai-hiap roboh. Untuk pertama kalinya ketua Beng-san ini mengaduh, ambruk tapi lengan masih tetap "disedot" Ceng Liong yang tak mau melepas sedikit pun juga tenaga lawannya itu, yang tinggal tak ada sepersepuluh bagian. Ketika untuk kedua kalinya Tok-sim Sian-li kembali melengking dan menusukkan gagang benderanya ke belakang tubuh jago tua itu, maka Ciok-thouw Tai-hiap menjerit dan terjengkang roboh, tembus punggungnya!

"Crep-augh!" Ceng Liong sekarang melepas korbannya. Dia melihat Ciok-thouw Tai-hiap terguling-guling, mandi darah, berhenti membentur pohon. Ketika melihat ketua Beng-san-pai itu menggeram tak dapat bangun berdiri karena lukanya yang parah, tiba-tiba Ceng Liong tertawa dan menggigil mendorongkan lengannya. "Ciok-thouw Tai-hiap, sekarang susul arwah kakek guruku!"

Ciok-thouw Tai-hiap mendelik. Dia tak dapat mengelak, luka-lukanya terlampau parah, marah bukan main. Tapi karena dia tak berdaya dan pukulan itu sudah menyambar, maka pendekar ini hanya mengeluh dan mencelat sepuluh tombak lebih menghantam tembok.

"Bress!" Ciok-thouw Tai-hiap tak bergerak lagi. Ketua Beng-san-pai itu membujur di depan pintu, rupanya tewas.

Ceng Han yang melihat ayahnya roboh dicurangi Ceng Liong tiba-tiba melengking dan meninggalkan lawannya. "Ceng Liong, kau iblis keji!"

Ceng Liong terbelalak. Dia melihat Ceng Han menubruknya, melancarkan pukulan Pek-hong-ciang. Tapi Ceng Liong yang tertawa aneh dengan tubuh bergoyang itu tiba-tiba menyambut. Begitu lengannya diangkat menerima terjangan ini, mendadak Ceng Han berteriak ketika tubuhnya terangkat dan terbanting roboh.

"Bress!" Ceng Han terkejut bukan main. Dia merasa pukulan yang luar biasa kuat menerima pukulannya, menahan dan tiba-tiba menolak dengan demikian dahsyat. Kaget bahwa dia terguling-guling oleh tangkisan lawan, tiba-tiba Ceng Han berjungkir balik dan berteriak mencabut pedangnya. "Bocah, mampuslah!"

Ceng Liong terkejut. Dia melihat pedang Ceng Han melingkar, menusuk dan berputar menikam lehernya. Tapi Ceng Liong yang menyeringai keji tiba-tiba melembungkan lehernya dengan sinkang yang baru dia peroleh dari Ciok-thouw Tai-hiap.

"Tak!" Pedang Ceng Han yang mental bertemu kekebalan pemuda itu sudah disambut seruan panjang Ceng Han yang kaget setengah mati. "Ceng Liong, kau manusia busuk!"

Tapi Ceng Liong tertawa aneh. Dia melihat Ceng Han kembali menyerangnya gencar, menusuk dan menikam, bahkan membacok. Namun, semua serangan pedang yang bertubi-tubi mental bertemu tubuh pemuda itu, membuat Ceng Han terkejut dan membelalakkan matanya. Saat itulah Mu Ba datang menyerang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment