Chapter 121
"Souw Ceng Han, tak perlu lari. Hayo kau layani aku dulu!"
Ceng Han gugup. Dia sedang menusukkan pedangnya ketika Mu Ba datang, menghantam dengan angin pukulannya yang menderu. Namun, Ceng Liong yang rupanya "kepanasan" oleh sinkang Ciok-thouw Taihiap yang bergolak di dalam perutnya, tiba-tiba membentak dan menangkis pukulan gurunya itu.
"Suhu, minggir saja. Biar aku yang membunuhnya..."
Plak! Mu Ba terpekik. Dia tiba-tiba terpental dan terdorong beberapa tindak, kalah oleh sinkang Ceng Liong yang mendadak menjadi demikian dahsyat dan mengerikan. Sementara dia hampir terjengkang, Ceng Liong langsung mengibas lawannya dengan tangan kiri.
"Souw Ceng Han, pergilah!"
Ceng Han menangkis. Dia menggerakkan pedang menusuk, sementara tangan kirinya ikut membantu menolak kibasan Ceng Liong. Namun, begitu dua tenaga bertemu di udara, Ceng Han berteriak dan kembali terbanting roboh.
"Bress!" Ceng Han terguling-guling. Dia pucat dan ngeri bukan main oleh kehebatan Ceng Liong. Dia maklum bahwa sinkang yang dipergunakan itu adalah sinkang ayahnya yang sudah puluhan tahun dilatih—sinkang yang disedot Ceng Liong.
Sementara Ceng Han bergulingan menyelamatkan diri, Ceng Liong tertawa aneh dan mengejarnya dengan pukulan kedua. "Orang she Souw, mampuslah!"
Ceng Han berjungkir balik. Dia merasa pukulan Ceng Liong lebih dahsyat daripada yang pertama, tetapi saat melompat memutar pedang, tanpa sengaja kakinya menyerimpet akar tanaman.
"Aih...!" Ceng Han terkesiap, terbelalak, dan roboh terjengkang. Persis saat dia melotot pada lawannya, pukulan Ceng Liong tiba.
"Krekk!" Ceng Han mengaduh. Pundak kirinya patah. Sementara ia menggulingkan diri sambil menggigit bibir, Ceng Liong kembali melontarkan pukulan sambil terkekeh, kali ini mempergunakan Soan-hoan-ciang.
Cui Ang, yang menjerit melihat suaminya dalam bahaya, tiba-tiba memekik dan meninggalkan Mayat Hidup untuk menyerang Ceng Liong. "Ceng Liong, kau iblis keparat...!"
Ceng Liong menyeringai. Dia menarik pukulannya ke arah Ceng Han, membiarkan pria itu melompat bangun. Lalu, begitu menerima serangan Cui Ang, Ceng Liong mencengkeram pedang di tangan wanita itu.
"Pletak!" Cui Ang terkejut melihat pedangnya patah menjadi tiga potong. Sebelum ia sempat bereaksi, pukulan Soan-hoan-ciang yang sedianya ditujukan kepada Ceng Han mendadak dikibaskan ke arahnya.
"Ang-moi, awas...!" seru suaminya terlambat. Cui Ang tak sempat menghindar, Soan-hoan-ciang menerpa tubuhnya.
"Bress!" Cui Ang terlempar bagai layang-layang putus talinya. Ceng Liong menyambar potongan pedang dengan kakinya, lalu mengungkit dan menendangkannya ke arah Cui Ang. Pedang itu mengenai tubuh wanita yang masih melayang di udara. Cui Ang menjerit dan roboh terbanting.
"Crep!" Ceng Han terbelalak. Dia melihat istrinya terkapar dengan mata melotot, potongan pedang menancap di dada kanannya. Tewas!
Ceng Han yang terguncang hebat oleh kematian istrinya melengking dan menyerbu ke depan. "Jahanam Ceng Liong, kau manusia keji...!"
Ceng Liong tertawa mengejek. Dia tak menghindar. Ketika Ceng Han menusuk matanya, Ceng Liong membentak dan mencengkeram pedang itu. Sekali remas, pedang hancur tak kuat menerima tenaga saktinya. Ceng Liong kemudian mengebutkan potongan-potongan pedang itu ke muka Ceng Han.
"Abh...!" Ceng Han terbelalak lebar. Dia kaget oleh serangan yang amat dekat itu. Meski sempat bergulingan dengan pundak patah, Ceng Han terkesiap melihat Ceng Liong sudah berada di depannya, berkelebat mengejar seperti iblis, berdiri menanti saat dia melompat bangun.
Saat Ceng Han mengutuk dengan makian penuh kemarahan, Ceng Liong menurunkan tangannya untuk menghantam kepala pendekar itu. "Souw Ceng Han, mampuslah!"
Ceng Han tak dapat mengelak. Dalam keadaan nekat, dia menendangkan kakinya ke selangkangan pemuda itu, ingin mati berbarengan. Namun, sebuah bayangan muncul dari samping, menangkis pukulan Ceng Liong.
"Ceng Liong, kau jahanam keji... dess!"
Ceng Liong terbelalak. Dia terdorong mundur oleh tangkisan yang dahsyat dan terkejut melihat munculnya seorang pemuda tinggi besar, tampan, dan gagah yang menyelamatkan Ceng Han. Ceng Liong berseru marah saat mengenal pemuda itu.
"Sin Hong...!"
Bersamaan dengan itu, tiga bayangan lain berkelebat di depan Sin Hong: Han Ki, Han Bu, dan seorang kakek bongkok yang tak lain adalah Naga Bongkok. Melihat Ceng Liong merobohkan Ciok-thouw Taihiap dan ibu mereka tewas dengan pedang menancap di dada, Han Bu berteriak dan melompat ke depan.
"Ceng Liong, kau membunuh ibuku?"
Ceng Liong tersenyum mengejek. "Kau rupanya tahu namaku, Han Bu. Dia mampus karena kesalahannya sendiri, jangan persalahkan aku."
"Keparat!" Han Bu menghantam Ceng Liong menggunakan Soan-hoan-ciang yang diwarisinya. Namun, Ceng Liong yang juga memiliki ilmu yang sama mengibaskan lengannya sambil berseru, "Han Bu, kau bukan lawanku!"
Plak! Han Bu terlempar roboh. Dia melompat bangun, siap menyerang kembali dengan mata melotot, namun Sin Hong menekan bahunya. "Han Bu, Ceng Liong bukan lawanmu. Dia telah menyedot sinkang kong-kong!"
Han Bu gemetar merasakan betapa hebat tenaga Ceng Liong. Han Ki pun tampil dengan muka merah seraya menahan lengan adiknya. "Bute, apa yang dikatakan Sin Hong benar. Sebaiknya kita lihat keadaan ibu dan kong-kong!"
Sin Hong menimpali, "Sebaiknya kalian urus dulu Paman Ceng Han, Saudara Han Ki. Aku dan suhu akan menghadapi iblis-iblis ini!"
Han Ki teringat pada ayahnya yang pingsan. Setelah melakukan pertolongan darurat dan mendapati pundak ayahnya patah namun tidak berbahaya, Han Ki kembali maju bersama adiknya. Sementara itu, Sin Hong menatap Ceng Liong dengan kemarahan meluap.
"Ceng Liong, kau iblis keji. Tak tahu malu kau mencuri ilmu silat orang lain dengan menyamar!"
Ceng Liong tertawa mengejek. "Itu bukan salahku, Sin Hong. Kebodohan merekalah kalau bisa tertipu!"
"Dan kau telah membunuh kakekku, Ceng Liong. Kau harus membayar hutang jiwa ini!"
"Ha-ha, siapa harus membayar hutang? Ciok-thouw Taihiap juga telah membunuh kakekku. Jadi sekarang impas dan tak perlu diributkan lagi. Bersiaplah, aku akan menebus kekalahanku empat hari yang lalu!"
Ceng Liong menyerang Sin Hong dengan cengkeraman ke depan. "Dukk!" Sin Hong menangkis. Ketika Ceng Liong mengulang pukulannya dengan kibasan Soan-hoan-ciang, Sin Hong melompat mundur. "Ceng Liong, aku akan membunuhmu."
Begitu ia mendorongkan lengan menerima kibasan itu, untuk pertama kalinya dua orang muda itu mengadu tenaga. "Dess!" Ceng Liong surut selangkah. Dia tergetar dan terbelalak melihat Sin Hong hanya bergoyang.
Ceng Liong yang penasaran membentak dan menerjang maju. "Sin Hong, sekarang hati-hatilah. Aku bukan Ceng Liong yang empat hari lalu!"
Sin Hong tak menggubris dan meladeni serangan Ceng Liong yang bertubi-tubi. Ketika Ceng Liong mulai menggunakan tendangan, Sin Hong memainkan Khong-ji-ciang (Silat Hawa Kosong), ilmu yang menitikberatkan pada pertahanan. Saat serangan Ceng Liong mental ke atas, Ceng Liong marah dan mengerahkan Cui-beng Ginkang, berkelebat menyerang Sin Hong dengan kecepatan tinggi.
Sin Hong mengerahkan Jouw-sang hui-teng (Terbang di Atas Rumput) untuk menandingi Cui-beng Ginkang lawan. Pertandingan menjadi seru dan menegangkan. Ceng Liong memainkan variasi pukulan, mulai dari Pek-hong-ciang hingga Tok-hiat-jiu (Pukulan Darah Beracun) yang diwarisinya dari sang ibu. Dengan sinkang milik Ciok-thouw Taihiap yang luar biasa hebat, setiap pukulan dan sambaran angin tamparan Ceng Liong menjadi sangat mengerikan.