Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 122

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 122

Begitu Ceng Liong bergerak dan memainkan Pukulan Darah Beracun yang dipadukan dengan Pik-hong-ciang (Pukulan Angin Putih), tiba-tiba saja sinar merah dan putih yang kontras bertubi-tubi menyerang Sin Hong. Dengan cepat dan dahsyat, Sin Hong didepak, diteter, dan digencet terus-menerus. Namun, Sin Hong yang memainkan Khong-ji-ciang dengan penuh konsentrasi sebagai ilmu silat pertahanan diri ternyata mampu menangkis semua serangan lawan.

Keganasan Ceng Liong diimbangi dengan kecepatan dan ketepatan Sin Hong dalam bergerak, menangkis, atau bahkan mendorong dengan tolakan sinkang. Ceng Liong, yang merasakan betapa Sin Hong memantulkan semua pukulannya dengan sinkang yang amat kuat, diam-diam merasa heran dan penasaran. Timbul pertanyaan, dari manakah pemuda itu memperoleh sinkang yang demikian hebat? Betulkah dari si Naga Bongkok? Sebab, jika benar berasal dari kakek itu, tidak mungkin Naga Bongkok memberikan seluruh bagian sinkangnya. Memberikan seluruh bagian berarti menyerahkan nyawa, seperti yang dialami Ciok-thouw Taihiap. Padahal, Naga Bongkok masih hidup, bahkan segar bugar dan sehat berseri-seri.

Bagaimana Sin Hong bisa menjadi sedemikian hebat? Hal ini tidak diketahui orang luar. Naga Bongkok sendiri, yang melatih muridnya itu, mulanya pun tidak mengetahuinya. Namun, para pembaca yang mengingat pertemuan pemuda ini dengan Bubeng Sian-su tentu mengerti. Ya, itulah sebabnya. Sepuluh tahun yang lalu, ketika Sin Hong bertemu kakek dewa itu di dalam gua, ia mendapatkan latihan aneh berupa "memukul-mukul batu" yang sebenarnya adalah cara menghimpun sinkang yang dahsyat. Dengan cara tersebut, Sin Hong telah melatih tenaga sakti yang luar biasa, tidak kalah dari gurunya sendiri, bahkan mungkin sedikit di atasnya.

Ceng Liong, yang tidak mengetahui asal mula kejadian ini, mengira bahwa Naga Bongkok memberikan sinkangnya kepada muridnya. Padahal tidak. Sin Hong memiliki sinkang melalui cara yang diajarkan kakek dewa Bubeng Sian-su, sehingga ia jujur dan tidak menerima "warisan" dari mana pun. Sin Hong belajar dan menghimpunnya sendiri. Naga Bongkok, yang akhirnya tahu dari cerita muridnya tentang pertemuannya dengan Bubeng Sian-su, malah tidak berani melatih sinkang pada Sin Hong. Ia hanya menyuruh Sin Hong meneruskan latihan yang diajarkan kakek dewa itu, sementara ia sendiri hanya melatih ilmu silat.

Ketika sepuluh tahun kemudian Sin Hong menyelesaikan semua pelajarannya, Naga Bongkok tertegun melihat kemajuan muridnya. Sin Hong memiliki sinkang yang dahsyat. Saat mencoba mengukur sejauh mana sinkang muridnya, Naga Bongkok terkejut karena sinkang yang dilatih Sin Hong selama sepuluh tahun setara dengan apa yang ia pelajari selama lima puluh tahun, bahkan sedikit lebih tinggi. Naga Bongkok yang terpana segera menjadi girang luar biasa. Ia menyadari bahwa Sin Hong kini sejajar dengan tokoh-tokoh sakti kelas atas, tidak kalah dari ayahnya sendiri, Pendekar Gurun Neraka, atau Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng.

Kakek bongkok itu kagum akan kehebatan Sin Hong yang berkat sinkang dari manusia dewa Bubeng Sian-su. Ia diam-diam gentar dan tunduk dalam hati kepada kehebatan sang kakek dewa. Ia membayangkan, jika Sin Hong berlatih lima puluh tahun sama seperti dirinya, tentu kepandaian pemuda itu lima tingkat di atasnya. Hal yang luar biasa dan sulit dibayangkan. Karena kepercayaan tersebut, Naga Bongkok melepas Sin Hong dengan penuh kemantapan, termasuk membiarkannya bertanding melawan Mu Ba.

Ketika melihat muridnya mampu menahan semua serangan Ceng Liong yang melotot penuh kemarahan, kakek itu tertawa dan mengebutkan lengan bajunya, lalu memutar tubuh saat melihat tiga bayangan berkelebat mengurung dirinya. "Kalian hendak mengeroyokku, Mu Ba?"

Mu Ba dan dua temannya menggeram. Ia melihat pertempuran antara dua pemuda itu masih seimbang, di mana Ceng Liong masih mendesak namun ditahan oleh murid Naga Bongkok. Melihat Naga Bongkok juga harus segera dibereskan, iblis tinggi besar itu membentak, "Naga Bongkok, kau tidak dapat menonton begitu saja pertandingan anak-anak muda itu. Bersiaplah untuk mampus!"

"Heh heh, kau berani mengancam setelah dibantu teman-teman, Sin-thouw-liong? Bagus, majulah. Aku ingin menggebukmu lagi supaya lari terbirit-birit!"

"Keparat!" Mu Ba memekik. Ia memberi aba-aba pada dua temannya untuk menerjang. "Mayat Hidup, serang dia. Bunuh!"

Mayat Hidup mengangguk dan menggerotokkan jari-jarinya, mempersiapkan Coan-kut-ci. Begitu melihat Mu Ba menyerang, ia ikut terkekeh, menusukkan dua jarinya, dan berseru pada Tok-sim Sian-li, "Mo-li, kebutkan benderamu. Bunuh si tua bangka ini!"

Tok-sim Sian-li bergerak maju sambil menggerakkan benderanya. Ketiganya kini mengurung Naga Bongkok. "Plak! Plak! Plak!" Naga Bongkok menangkis, membuat ketiga lawannya terdorong. Tok-sim Sian-li yang terlemah bahkan terpental. Namun, saat Mu Ba dan Mayat Hidup menyerang kembali, kakek itu memaki dan terpaksa melompat mundur. Mayat Hidup menusukkan dua jari ke matanya sambil mencicit bagai tikus. Sebelum sempat menangkis, Mu Ba menghantam tengkuknya dengan dahsyat.

Terpaksa, Naga Bongkok memutar lengan untuk menangkis serangan depan dan belakang. Benturan tenaga di antara mereka bertiga mengguncangkan bumi. "Des! Des!" Naga Bongkok terdorong. Saat ia terhuyung, Tok-sim Sian-li mengebutkan bendera ke pinggangnya sembari melepas pukulan Tok-hiat-jiu dengan tangan kiri. Namun, Naga Bongkok segera melindungi diri dengan sinkang. "Piak! Des!" Tok-sim Sian-li menjerit karena membentur kekebalan aneh hingga terpelanting dan terguling-guling.

"Mo-li, serang saja dari samping. Biar kami berdua menyerangnya dari muka dan belakang!" teriak Mayat Hidup. Naga Bongkok tertawa melihat mereka kembali mengepung dari tiga arah. Ia harus melompat ke sana kemari menghindari gempuran. "Wah, kalian curang, Mayat Hidup. Tidak tahu malu!" Namun, kaum sesat itu tidak peduli. Semakin Naga Bongkok memaki, mereka justru semakin buas menyerang.

Melihat dirinya dikepung, Naga Bongkok membentak keras. Ia mengayunkan tubuh, melempar kedua lengan ke kiri dan ke kanan, lalu melenggak-lenggok bagai naga menari. Angin pukulan dahsyat menyambar, membuat lawan-lawannya berteriak kaget. "Awas, Sinkun (Pukulan Naga Sakti)!" teriak Mu Ba sambil melompat mundur.

Mayat Hidup dan Tok-sim Sian-li terdorong oleh angin pukulan itu, namun mereka segera berjungkir balik dan menyerang dari atas. "Naga Bongkok, mampuslah!" Kakek itu menggeliat, menerima serangan berbarengan dengan posisi berjongkok dan tangan mendorong ke atas. Pukulan meledak di udara hingga gagang bendera di tangan Tok-sim Sian-li patah. "Krek!"

Tok-sim Sian-li menjerit kaget, namun saat ia meluncur turun, lengan kiri kakek itu hendak menampar kepalanya. Untunglah Mayat Hidup segera menusukkan jari dari samping untuk menyelamatkannya. "Cret!" Tok-sim Sian-li selamat, sementara Mayat Hidup tergetar oleh pukulan Sin-liong-jiu dan terdorong mundur.

"Naga Bongkok, kau hebat!" puji Mayat Hidup. Namun, kakek itu tidak menjawab. Ia sudah ditubruk oleh si raksasa Mu Ba yang melancarkan pukulan bertubi-tubi bagai angin topan. Naga Bongkok bergerak ringan ke kiri, lalu menendang lawannya dari samping. "Des!" Mu Ba menggeliat hampir roboh, namun ia segera bangkit dan menyerang kembali, tepat saat Mayat Hidup melancarkan Coan-kut-ci dan Tok-sim Sian-li menerjang dengan bendera patahnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment