Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 123

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 123

Begitu tiga orang itu mengeroyok secara teratur dan saling mengisi dalam melancarkan serangan, Naga Bongkok mulai kewalahan dan mengeluh. Betapapun, Mu Ba dan Mayat Hidup adalah tokoh-tokoh dengan kepandaian tinggi. Jika mereka maju satu per satu, tentu dengan mudah ia dapat menundukkan mereka. Namun, setelah mereka maju berbarengan dan ditambah Tok-sim Sian-li yang cukup mengganggu dengan kibaran benderanya, mau tak mau kakek ini kerepotan juga.

Ketika pertandingan berjalan semakin seru dan berkali-kali pandangan Naga Bongkok terhalang kain bendera di tangan Tok-sim Sian-li, akhirnya tusukan *Coan-kut-ci* dan gebukan *Sinthouw-liong* milik Mu Ba mulai mengenainya. Naga Bongkok terdesak. Ketika ia kembali tertusuk dua jari Mayat Hidup yang menyengat tubuhnya, kakek ini membentak dan menyambar kain bendera yang selalu menghalangi pandangannya.

Begitu menangkap dan merenggutnya, kakek ini menyentak kuat tanpa memedulikan pukulan Mu Ba yang menghantam punggungnya. Sementara Tok-sim Sian-li berteriak mempertahankan benderanya, saat itulah Naga Bongkok "memindahkan" pukulan Mu Ba dari punggungnya ke tubuh Tok-sim Sian-li lewat bendera tersebut.

"Dess!" Tok-sim Sian-li menjerit. Ia tak menyangka Naga Bongkok menggunakan ilmu aneh yang menyalurkan pukulan di belakang tubuh untuk diteruskan ke depan melalui kain bendera. Begitu pukulan Mu Ba meluncur melalui punggung kakek itu dan menghantam lawannya, seketika Tok-sim Sian-li muntah darah dan terjengkang roboh.

"Ah, *Paisan* (Dorong Hawa Menggempur Gunung)!" Mu Ba kaget dan berteriak keras saat melihat rekannya menjadi korban. Ia terkejut melihat betapa lihainya kakek bongkok itu memindahkan pukulan ke arah lawan dengan tepat dan telak. Raksasa itu menghambur dengan penuh kemarahan, "Naga Bongkok, kau manusia siluman!"

Kakek itu tertawa. Ia bukannya tidak mengambil risiko dengan perbuatan tersebut, karena jika tidak memiliki *sinkang* di atas lawannya, tentu jantungnya sudah rontok oleh gempuran Mu Ba yang dahsyat. Maklum, raksasa tinggi besar itu memiliki tenaga sebesar gajah. Melihat Mu Ba meraung dan kembali menyerang dengan pukulan ke arah belakang kepala, tiba-tiba kakek ini menubruk ke depan dan menangkap lengan Mayat Hidup yang saat itu menusuknya dengan *Coan-kut-ci*.

"Hei...!" Namun semuanya terlambat. Jari Mayat Hidup sudah tertangkap oleh Naga Bongkok, yang pada saat bersamaan menerima pukulan Mu Ba di belakang kepalanya. Begitu Naga Bongkok mengulang kembali ilmunya untuk memindahkan pukulan lawan ke arah musuh di depan, seketika Mayat Hidup terpekik dan melengking tinggi.

"Bress!" Keduanya seperti diadu. Mayat Hidup terlempar, sementara Mu Ba yang menerima sengatan *Coan-kut-ci* melalui tubuh kakek bongkok itu seketika mencelat dan terguling-guling. Mereka saling memaki dengan kalang-kabut. Namun, keduanya yang memiliki kepandaian setingkat dan *sinkang* sama kuat akhirnya melompat bangun dengan mata melotot, tidak terluka separah Tok-sim Sian-li yang harus bersamadhi memulihkan lukanya.

Mu Ba yang menggeram membentak marah, "Naga Bongkok, jangan kaupergunakan ilmu silumanmu itu!"

Naga Bongkok tertawa, "Kau takut, Mu Ba? Kalau begitu menyerahlah, berlutut meminta ampun!"

Mu Ba membanting kakinya dan berteriak pada temannya, "Mayat Hidup, jangan sentuh dirinya. Jangan sampai tertangkap!" Mayat Hidup mengangguk. Ia sudah mendengar tentang kelihaian Naga Bongkok dan ilmunya yang disebut *Pai-khong-twi-san* (Dorong Hawa Menggempur Gunung). Menyadari kakek itu berbahaya, Mayat Hidup mengubah cara bertempur; ia tidak berani mendekat lagi dan selalu melompat menghindar. Karena Mu Ba juga menjaga jarak, pertandingan akhirnya menjadi timpang.

Naga Bongkok kini melancarkan serangan. Ia tidak lagi sekadar bertahan atau menangkis. Karena lawannya tidak berani berada dalam jarak terlalu dekat, Mu Ba dan Mayat Hidup terdesak dan mulai memaki-maki. Mereka bingung dan gentar. Sementara mereka gugup menghadapi *Pai-khong-twi-san*, tiba-tiba Ceng Liong yang sedang bertempur melawan Sin Hong berteriak.

Mereka melihat Ceng Liong terpental, roboh, dan terguling-guling setelah mendengar ledakan keras di udara akibat benturan dua tenaga sakti. Saat Ceng Liong masih terguling-guling, Han Bu dan Han Ki yang sejak tadi menonton berkelebat maju, menghunus pedang, dan langsung membacok Ceng Liong.

"Ceng Liong, bayar hutang jiwa kongkong!"

Ceng Liong terkejut. Ia belum sempat melompat bangun ketika kakak beradik itu menikamnya, satu ke arah leher dan yang lain membacok punggung. Namun, Ceng Liong yang tertawa mengejek menggelembungkan tubuhnya.

"Tak-takk!" Han Bu dan kakaknya terkejut. Mereka merasa membacok sepotong baja; pedang mereka mental ke atas. Ceng Liong melompat bangun dengan menyeringai keji, lalu membentak dan menampar pelipis kakak beradik itu dengan pukulan *sinkang*-nya. "Han Ki, kaulah yang mampus!"

Pemuda itu kaget dan secara otomatis mengangkat pedang untuk menangkis. Namun, begitu pedang bertemu telapak tangan Ceng Liong, pedang itu patah dan tamparan Ceng Liong terus meluncur, menghantam pelipisnya. Sin Hong yang sejak tadi sigap segera berkelebat dari samping untuk menangkis serangan tersebut.

"Ceng Liong, jangan menumpahkan darah lagi di sini!"

"Dess!" Ceng Liong mencelat. Ia kembali tak tahan oleh *sinkang* Sin Hong yang dahsyat, yang berkali-kali membuatnya terdesak. Sambil membanting diri dan melompat bangun, Ceng Liong berteriak ke arah gurunya seraya menyambar ibunya yang bersila di atas tanah, "Suhu, kita pergi saja! Musuh terlalu kuat!"

Ceng Liong melihat keadaan mulai tidak menguntungkan. Ia mendongkol karena dengan *sinkang* Ciok-thouw Taihiap yang diperolehnya, ia tetap tidak mampu mengalahkan Sin Hong. Maka, melihat ibunya terluka dan dua gurunya terdesak oleh Naga Bongkok, Ceng Liong mengambil keputusan licik untuk melarikan diri.

Han Ki dan Han Bu yang sudah kembali bersiap membentak dan mengejar, "Ceng Liong, jangan lari kau!"

Sin Hong pun ikut mengejar. Ia marah melihat kelicikan Ceng Liong, lalu mengerahkan *Jouw-sang-haiteng* untuk mendekati Ceng Liong yang memanggul Tok-sim Sian-li. Namun, persis saat jarak mereka tinggal beberapa jangkauan, Ceng Liong melemparkan granat beracunnya.

"Hei, dar-darr!"

Sin Hong berjungkir balik. Asap hitam membubung tebal. Sin Hong memaki kelicikan Ceng Liong, lalu mendorong Han Ki dan adiknya untuk menjauh. "Han Ki, jangan diterobos. Beracun!" Han Ki dan adiknya terdorong, mencium bau amis dari granat tersebut.

Ketika mereka melompat bangun, Naga Bongkok sudah berkelebat di depan mereka. "Anak-anak, tak perlu dikejar. Asap itu memang beracun!"

Han Ki pucat pasi dan mengepalkan tinju dengan marah. Han Bu membentak penasaran, "Tapi Ceng Liong telah membunuh ibu dan kakekku, Locianpwe. Masa harus dilepas begitu saja?"

Naga Bongkok mengangguk, "Benar, tapi mengejar dengan menerobos asap hitam itu berbahaya. Kita harus menahan diri, masih banyak waktu untuk mencari mereka di lain hari."

Han Bu tidak puas, namun Sin Hong tiba-tiba berseru, "Hei, Kong-kong masih hidup!"

Semua orang terkejut. Sin Hong sudah melompat dan berlutut di dekat jago tua itu yang semula dikira sudah tewas. Han Bu segera menyusul dan menjadi girang melihat kakeknya masih bernapas, meskipun luka-lukanya sangat parah. Melihat harapan hidup kakeknya tipis, Han Bu menangis tanpa suara, "Kong-kong!"

Ciok-thouw Taihiap membuka mata. Ia tertawa serak sambil menyeringai menahan sakit, namun saat Sin Hong menempelkan lengannya di punggung, kakek ini batuk-batuk. "Sin Hong, kau hebat. *Sinkang*-mu luar biasa sekali... Uh-uh, di mana gurumu?"

Naga Bongkok melompat ke depan, "Aku di sini, Ciok-thouw Taihiap. Apa yang kauinginkan?"

"Ah..." Ciok-thouw Taihiap mencoba duduk. "Kau hebat, setan bongkok, tapi kau curang... kau licik!" Ciok-thouw Taihiap kembali batuk-batuk. Ia harus dibantu Sin Hong yang menyangga punggungnya. Sambil menudingkan jari gemetar ke arah ketua Beng-san pai itu, ia melanjutkan, "Naga Bongkok, bagaimana kau memberikan *sinkang* pada muridmu itu? Kenapa kau ingin memperoleh kemenangan dengan mewariskan tenaga sakti?"

Naga Bongkok terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment