Chapter 124
"Apa maksudmu, Ciok-thouw Taihiap?"
"Aku, ugh...!" Ciok-thouw Taihiap menahan napas. "Aku melihat Sin Hong memiliki *sinkang* tak wajar, Naga Bongkok. Kau tentu mewariskan sebagian *sinkang*-mu untuk mengalahkan aku... kau... kau curang!"
"Hm," Naga Bongkok akhirnya tahu. "Jadi itukah kiranya yang menjadi dugaanmu, Ciok-thouw Taihiap? Kau salah, Sin Hong sama sekali tidak kuwarisi *sinkang* seperti yang kausangka, melainkan hasil latihannya sendiri selama sepuluh tahun."
"Bohong! Kau tak perlu menipuku, setan tua. *Sinkang* yang dimiliki Sin Hong sejajar dan bahkan melebihi *sinkang* yang kumiliki. Kau tentu menambahinya agar dia dapat mengalahkan aku!"
Naga Bongkok menarik napas. "Ciok-thouw Taihiap, tak perlu kiranya kita memperdebatkan hal itu. Sebaiknya kau tenangkan diri dan jangan bergerak. Biar aku coba menyembuhkan luka-lukamu!"
"Ha-ha, luka-luka yang mana, setan bongkok? Kau tahu aku siap mampus, mana mungkin disembuhkan!"
"Tapi aku akan mencobanya, Beng-san pai-cu. Kau tenanglah dan jangan..."
"Tidak, tidak perlu, Naga Bongkok. Aku justru ingin memaki-makimu dulu sebelum mampus. Kau curang. Kau licik!" Ciok-thouw Taihiap memotong, mendelik dan memandang lawannya dengan penuh amarah. Lalu, sambil menuding dengan jari-jari gemetar, dia melanjutkan dengan geram, "Setan bongkok, kau benar-benar tak tahu malu sekali. Beginikah kiranya watak terselubungmu di balik baju pendekar? *Phuih*, kau manusia hina, tua bangka! Tak patut kau menjadi tokoh di Himalaya yang suci. Semoga iblis dan setan melahapmu kelak di pintu neraka!"
"Nghugh...!" Ciok-thouw Taihiap terpaksa menghentikan kata-katanya karena batuk yang hebat, ia menekan perut hingga terpingkal-pingkal. Naga Bongkok menempelkan lengannya di dada pendekar ini seraya tersenyum pahit.
"Ciok-thouw Taihiap, tenang dan tahanlah dulu semua kemarahanmu itu. Aku tidak melakukan kecurangan seperti yang kausangka!"
"Bohong...!" Ciok-thouw Taihiap menepis lengan kakek ini. "Kau tak perlu menipuku, tua bangka. Jangan sentuh dan pegang tubuhku!"
Sin Hong akhirnya tak tahan. Dia maju menengahi. Namun, ia heran bagaimana kakeknya yang sejak tadi roboh dan tak melihat pertandingan itu dapat mengetahui jalannya pertempuran antara dia dengan Ceng Liong. Dengan kening berkerut, ia bertanya, "Kong-kong, bagaimana kau tahu tentang *sinkang* yang kumiliki ini? Bukankah kau tidak melihat pertandingan?"
"Ha-ha," Ciok-thouw Taihiap tertawa serak. "Aku dapat mengetahui itu dengan telingaku, Sin Hong. Bukankah benar gurumu bermain curang dengan mewariskan *sinkang*-nya kepadamu?"
Sin Hong terkejut. "Ah, begitukah, Kong-kong? Tapi dugaanmu tentang suhu tidak benar. Aku memang memiliki kepandaian *sinkang* ini tanpa bantuan suhu!"
Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba mengerang. Dia menyambar leher baju cucunya ini dan membentak penuh kemarahan, "Sin Hong, kau juga mau coba-coba menipuku? Kau melindungi gurumu dan ikut-ikut menjadi pengecut?"
Sin Hong terbelalak. Namun, maklum dengan kekerasan dan kemarahan kakeknya, Sin Hong terpaksa memberi keterangan, "Aku dan suhu tidak bicara bohong, Kong-kong. Terus terang saja kuberitahukan padamu bahwa *sinkang* yang kuperoleh ini sebenarnya kudapat dari Bu-beng Sian-su!"
"Hah?" Ciok-thouw Taihiap melotot. "Kau dapatkan dari Bu-beng Sian-su?"
"Ya, begitu sesungguhnya, Kong-kong." Sin Hong terpaksa menceritakan penemuannya dengan kakek dewa itu sepuluh tahun yang lalu. Hal itu membuat Ciok-thouw Taihiap semakin terbelalak.
Begitu Sin Hong selesai menceritakan kejadian sebenarnya, jago tua ini tiba-tiba tertawa tergelak. "Bangsat, kalau begitu pantas saja, Setan Bongkok. Aku terang kalah kalau manusia dewa itu membimbing muridmu! Ha-ha, siapa yang kejatuhan sial ini kalau bukan Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng? Ah, kau beruntung, Naga Bongkok. Dan aku terkecoh habis-habisan oleh bocah bernama Ceng Liong itu, keparat... ugh, ugh....!"
Sin Hong membantu kakeknya. Dia melihat kakeknya itu batuk-batuk, melontarkan darah segar, dan menggigil dengan mata terbelalak. Maka, untuk meringankan penderitaan kakeknya, Sin Hong menjatuhkan diri berlutut. "Kong-kong, tak perlu kau bersedih hati. Aku akan membalas sakit hatimu ini kepada Ceng Liong!"
"Ah, tidak!" Ciok-thouw tiba-tiba berteriak menghentikan batuknya. "Kau tak perlu membalaskan sakit hatiku ini, Sin Hong. Ada Han Ki dan Han Bu yang siap membunuh bocah itu."
"Tapi aku cucumu, Kong-kong. Apakah kau masih membeda-bedakan diriku dengan yang lain?"
Ciok-thouw Taihiap tersedak. Dia mendengar suara Sin Hong yang gemetar dan terpukul. Ia kembali batuk-batuk dengan hebat, namun kemudian menyeringai dan tertawa aneh. Ketua Beng-san-pai ini memeluk Sin Hong. "Sin Hong, kau masih mau mengaku aku sebagai kakekmu seperti halnya Han Ki dan Han Bu? Kau tidak marah oleh sikapku sepuluh tahun yang lalu?"
"Ah," Sin Hong mendesah. "Tak ada pikiran untuk tidak menganggapmu sebagai kakekku, Kong-kong. Aku, Sin Hong, tetap menganggapmu sebagai cucumu dengan adanya Ibu Ceng Bi!"
"Dan ibumu, Pek Hong?"
"Tentu sejalan dengan pendapatku, Kong-kong. Bahwa meskipun tak ada aliran darah keluarga Souw di tubuhku, tapi Sin Hong adalah putra Ibu Ceng Bi. Tak ada beda di antara Ibu Ceng Bi dengan ibu kandungku sendiri! Kecuali... kecuali kalau kau tak suka padaku, Kong-kong. Kecuali kalau kau tak mau menganggapku sebagai cucu!"
Ciok-thouw Taihiap mengeluh. Dia mencengkeram dan menjambak rambut Sin Hong, lalu berbisik dengan suara gemetar, "Sin Hong, aku tua bangka tak tahu diri. Siapa tak mau menganggapmu sebagai cucu? Dulu aku dimabuk pikiran yang salah, Sin Hong, tapi kini aku sadar. Kau cucuku, kau anak dari menantuku sendiri... Ah, kenapa insyaf setelah mau mampus? Kau maafkan aku, Sin Hong... kau telah menolong keluarga Souw dari kehancuran di tangan musuh-musuh jahat.... kau benar, aku yang salah... tapi tentang Ceng Liong, biar Han Ki dan Han Bu yang membalaskannya, Sin Hong... dia... dia..."
Ciok-thouw Taihiap batuk-batuk. Jago tua ini tersengal, napasnya megap-megap, tak mampu melanjutkan kata-katanya dan mulai kejang-kejang. Sin Hong yang terharu segera menotok punggung kakeknya. "Kong-kong, tak perlu kau bicara banyak. Aku mengerti..."
"Tidak... tidak, Sin Hong... aku tak mau kau membunuh Ceng Liong karena bocah keparat itu telah bersumpah di depan altar untuk mampus di tangan keluarga Souw bila melanggar sumpahnya. Aku... ugh... mana Han Ki...?"
Han Ki maju berlutut. "Aku di sini, Kong-kong. Kau ada pesan apakah?"
"Ugh..." Ciok-thouw Taihiap mengerang. "Kau berkewajiban untuk mencari bocah keparat itu, Ki-ji. Mana adikmu?"
"Aku di sini, Kong-kong," Han Bu berlutut di samping kakaknya. "Kau ada pesan apakah?"
"Aku... aku ingin kalian berdua yang membalaskan sakit hati ini, Han Bu... kau mintalah bantuan Sin Hong untuk mencari bocah itu. Tapi ingat, Ceng Liong harus mati di tangan kalian...!" Sambil batuk-batuk dan tersengal berat, Ciok-thouw Taihiap menggapai Sin Hong. "Anak baik, kau mau membantu dua saudaramu, bukan? Tolong cari akal... ajari mereka untuk memiliki *sinkang* seperti yang kau punyai!"
Sin Hong mengucurkan air mata. "Aku akan memenuhi permintaanmu, Kong-kong. Tapi sudahlah, tak perlu kau banyak bicara!"
"Ah, tidak!" Ciok-thouw Taihiap justru mencengkeram kepala cucunya ini. "Aku tak akan tertolong lagi, Sin Hong. Kematian siap mencabut nyawaku tak lama kemudian. Aku... ugh...!" Ciok-thouw Taihiap batuk-batuk. "Aku bisa mohon dua permintaan lagi kepadamu, Sin Hong? Kau bisa meluluskannya?"
Sin Hong menangis. "Aku akan meluluskannya kalau sanggup kulakukan, Kong-kong. Apa yang kau minta?"
"Heh-heh... tidak banyak, Sin Hong... pertama, katakan dulu maukah kau memaafkan si pandir ini. Dan kedua... ooh...!" Ciok-thouw Taihiap menggeliat. "Aku... aku... ah, aku tak tahan lagi, Sin Hong... cepat katakan kesanggupanmu untuk memberi maaf itu...!"
Sin Hong cepat merangkul kakeknya ini. "Aku memaafkan semua kesalahanmu, Kong-kong. Tapi tak perlu dibesar-besarkan, itu hanya kesalahpahaman belaka!"
"Ah, kesalahpahaman apa, Sin Hong? Itu pendapat dari keluhuran budimu.... kau persis ayahmu, gagah dan..." Ciok-thouw Taihiap tersedak, kejang-kejang, dan terpaksa menghentikan kata-katanya. Lalu, setelah melontarkan darah segar, tiba-tiba ketua Beng-san-pai ini roboh di pelukan Sin Hong. "Aduh, maut telah datang menjemput, Sin Hong... sekarang cepat tundukkan kepalamu... aku ingin membisikkan sesuatu..!"
Sin Hong menundukkan kepalanya. Dia menempelkan telinga di mulut kakeknya yang gemetar. Mengira kakeknya akan memberi pesan terakhir sebelum ajal, Sin Hong mendekat. Begitu menunduk, kakeknya memeluk, lalu tiba-tiba Ciok-thouw Taihiap mengecup dahinya.
"Sin Hong, ini permintaanku nomor dua... kau terimalah cium perpisahan ini, *cup*...!"
Ciok-thouw Taihiap terguling, roboh, dan menghembuskan napas terakhir di pelukan Sin Hong!
"Kong-kong...!"
Namun Ciok-thouw Taihiap telah tewas. Jago tua ini meninggalkan senyum kepuasan di bibirnya, penuh kebahagiaan bahwa Sin Hong mau memaafkannya, bahkan sempat dikecup sebelum ajal menjemput. Sin Hong yang tiba-tiba terguguk oleh kematian kakeknya itu memeluk mayat kakeknya dengan erat. Sin Hong terharu sekaligus terpukul oleh sikap terakhir orang tua yang keras kepala itu. Namun, begitu kakeknya tewas, Sin Hong terguncang dan menangis dengan air mata deras. Naga Bongkok hanya batuk-batuk kecil.