Chapter 125
Dia melihat pemuda yang lain, yakni Han Ki dan Han Bu, juga berlutut di samping jenazah kakeknya dengan air mata bercucuran seperti Sin Hong.
Maka, kakek ini berdehem, menepuk pundak muridnya, dan berkata, "Sin Hong, yang tewas telah tewas. Kakekmu mati dengan cara yang gagah. Bangunlah, hapus air mata itu, dan kita bawa jenazahnya ke dalam!" Lalu, menyentuh pundak Han Ki dan Han Bu, kakek bongkok ini juga bicara, "Anak-anak, kalian adalah keturunan orang-orang gagah. Kong-kong kalian tentu marah kalau kalian bersikap cengeng. Bangunlah, kita urus jenazahnya dan kita rawat pula yang lain!"
Han Ki sadar. Dia teringat bahwa ibunya juga tewas, maka bangkit berdiri dan menggigit bibir penuh kemarahan, ia mengikuti petunjuk-petunjuk kakek bongkok itu. Naga Bongkok memang merupakan orang paling tua di antara mereka, juga tokoh yang disegani. Maka, begitu membawa jenazah Ciok-thouw Taihiap ke dalam dan merawat pula ayah mereka serta mayat Cui Ang yang tewas di tangan Ceng Liong, segera dua kakak beradik itu mengepal tinju dengan penuh dendam.
Ceng Liong telah membunuh dua orang keluarga mereka sekaligus. Satu adalah kakek mereka, sedang yang lain adalah ibu mereka. Maka, Han Ki dan Han Bu yang berjanji untuk membalaskan sakit hati ini kepada Ceng Liong lalu bersumpah akan mencari pemuda itu dan tidak akan berhenti sebelum menagih jiwanya. Dan Naga Bongkok yang mengatur semua pekerjaan di puncak Gunung Beng-san itu akhirnya menyuruh Sin Hong memberi tahu ayahnya di Ta-pie-san untuk mengabarkan malapetaka ini.
Pendekar Gurun Neraka sebagai menantu Ciok-thouw Taihiap lalu menyebar undangan, menggantikan Ceng Han yang terluka, memberi tahu kematian ini kepada handai-taulan dan semua sahabat baik, serta merencanakan pada hari ketujuh jenazah tokoh tersebut akan dimakamkan dengan upacara besar-besaran. Begitu undangan dikirim dan diberi tahu pula bahwa jumlah jenazah ada dua karena menantu putri (Cui Ang) juga ikut tewas di tangan musuh, maka kegemparan dunia kang-ouw benar-benar mencapai puncaknya. Nama Ceng Liong melejit. Sebentar saja orang ingin tahu bagaimana rupa pemuda itu. Tapi karena Ceng Liong bersembunyi dan berlindung di balik pengaruh istana, pemuda ini tak dapat dijumpai dan memang tak bakal mau dijumpai.
Ceng Liong terlampau cerdik untuk ditemui sembarang orang. Ia maklum bahwa perbuatannya itu menggegerkan banyak orang, terutama kaum pendekar, tentu saja sahabat-sahabat Pendekar Kepala Batu. Maka, ketika hari ketujuh ditetapkan untuk pemakaman jenazah tokoh Beng-san-pai ini, berdatanganlah para pelayat dari delapan penjuru mata angin, berbondong-bondong untuk menyatakan belasungkawa di samping ingin menonton keramaian. Dan begitu para sahabat dan handai-taulan datang, di pihak lain golongan hitam juga ikut hadir untuk membuat huru-hara. Tentu saja dipimpin seorang tokoh yang bersembunyi di balik layar. Tokoh misterius yang bukan lain adalah So-beng!
Hari itu, hari keenam sejak tewasnya Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng, seluruh anak murid Beng-san-pai berkabung. Mereka sudah mulai menerima tamu untuk memberi penghormatan pada dua peti mati yang berjajar di ruangan besar, di mana Pendekar Gurun Neraka dan dua istrinya memimpin semua anak buahnya untuk melayani tamu.
Ceng Bi yang membengkak matanya karena kematian ayahnya ini tampak pucat dengan baju berkabungnya. Nyonya ini marah. Ia terkejut sekali ketika pertama kali mendengar berita kematian itu. Tak menyangka bahwa Ceng Liong, yang dulu pernah datang ke Ta-pie-san bersama ibunya, telah menjadi pembunuh ayahnya. Hampir Ceng Bi histeris, mengamuk, dan turun gunung mencari anak iblis itu. Tapi Pendekar Gurun Neraka dan Pek Hong (istri pertamanya) yang tentu saja tidak membiarkan Ceng Bi menubruk sana-sini, sudah mencegah dengan penuh kesabaran. Mereka meredakan kemarahan wanita ini, memberi pengertian bijaksana, sekaligus menghibur dengan kepala dingin.
Ketika Ceng Bi berhasil disadarkan bahwa mengurus jenazah ayahnya lebih penting ketimbang mencari Ceng Liong, akhirnya Ceng Bi menurut dan dapat menekan api dendamnya. Apalagi ketika dia ingat bahwa Sin Hong yang sepuluh tahun tak berjumpa dengan mereka butuh pertemuan khusus dengan ibu kandungnya. Ceng Bi yang menangis di pelukan suaminya akhirnya mengguguk dan tersedu-sedu seharian penuh. Nyonya ini menumpahkan kedukaannya, tak mau makan dan tak mau minum.
Ketika Pek Hong datang menghibur dan Ceng Bi dipeluk madunya ini, segera Ceng Bi menangis menjadi-jadi. Nyonya ini hampir tak kuat menahan diri. Tapi untunglah, Bi Lan yang datang ke kamar itu akhirnya menyadarkan nyonya ini bahwa menangis berlarut-larut tidak ada gunanya. Bi Lan memberi contoh ibu tirinya, Pek Hong, yang juga pernah kehilangan suhunya sepuluh tahun yang lalu. Ibu tirinya itu juga bersedih, menangis, dan merasa kehilangan besar. Ketika Ceng Bi teringat bahwa madunya itu juga pernah mengalami kedukaan seperti yang dialaminya ini, akhirnya ia menghentikan tangis dan menggigit bibir.
Dia harus bersikap gagah. Dia putri seorang tokoh besar yang tersohor kepandaiannya. Mengapa menangis berlarut-larut? Betapapun Bi Lan benar. Anak perempuannya itu lebih dulu dapat menahan diri untuk tidak hanyut dalam kedukaan. Maka, malu dan sadar akan kata-kata puterinya ini, Ceng Bi pun menindas semua kemarahan. Mereka langsung menuju Beng-san. Begitu bertemu dengan kakaknya yang dibalut pundaknya karena patah, Ceng Bi bertangis-tangisan sejenak. Tapi Ceng Bi bersikap tegar. Dia melihat kakaknya tak menangis seperti dia, meskipun matanya merah dan bengkak, tanda membendung kedukaan yang kelewat besar dengan kematian istrinya pula.
Ceng Han memang gagah. Laki-laki yang kini berusia empat puluhan tahun itu dapat menahan diri. Dia maklum bahwa menjadi seorang pendekar memang harus berjaga-jaga terhadap maut yang setiap saat mengintai. Maklum bahwa musuh ada di mana-mana dan mereka sendirilah yang harus pandai menjaga diri agar tidak diancam kematian. Dan karena menganggap bahwa ayahnya juga salah dengan mengabaikan semua nasihatnya tentang Ceng Liong, Ceng Han hanya dapat mengepal tinju dan menekan semua kemarahan atas peristiwa itu.
Hari itu, ketika mereka siap menjaga peti jenazah karena keesokan harinya mereka harus memakamkan dua jenazah itu di belakang gunung, tiba-tiba seorang tamu muncul mengejutkan mereka. Tamu ini adalah seorang pemuda, gagah tapi pendiam sikapnya. Ketika dia mengambil tiga batang hio (dupa) untuk bersoja di depan peti jenazah, mendadak tamu yang tak dikenal ini berseru nyaring, "Ciok-thouw Taihiap, sungguh tak kukira sedemikian cepat kau meninggalkan dunia. Kematianmu mengecewakan. Tapi karena yang terjadi sudah terjadi, biarlah kuberi hormat padamu dengan tiga batang hio ini. Satu dariku pribadi, sedang yang lain dari mendiang guruku. Terimalah...!"
Pemuda ini mengecutkan lengannya. Orang hanya melihat tiga batang hio itu menyambar ke depan, lalu ketika terdengar suara "cet-cet-cet" tiga kali, tahu-tahu tiga batang hio itu tembus dan amblas di dalam peti mati Ciok-thouw Taihiap!
"Ah, kau siapa, orang muda?" Han Ki terkejut, marah, dan langsung melompat ke depan melihat perbuatan tamunya yang kurang ajar ini.
Tapi Pendekar Gurun Neraka yang ada di belakang peti jenazah Ciok-thouw Taihiap tiba-tiba berseru, "Ki-ji, mundur. Arwah kakekmu ternyata mengirim kembali dupa yang tak tahu hormat itu. Lihat...!"
Pendekar Gurun Neraka menepuk peti Ciok-thouw Taihiap, tiba-tiba membuat tiga batang hio yang amblas di dalam peti sekonyong-konyong keluar, melesat dari lubang tempat hio itu masuk, dan kembali menyambar si pemuda tak dikenal. Sementara semua orang terbelalak oleh kejadian di depan ini, mendadak pemuda yang aneh itu mengangkat lengannya. Ia kembali mengebut, dan begitu menggerakkan lengan menampar, tiba-tiba hio yang diretur Pendekar Gurun Neraka tertahan oleh tenaga tak nampak dan berhenti di udara!
"Pendekar Gurun Neraka, jangan sombong. Ciok-thouw Taihiap menerima hio-ku!"
Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia merasa tenaga dorong yang amat dahsyat menahan tiga batang hio itu, siap masuk kembali ke lubang peti mati. Maka, dengan terbelalak dan mengebutkan lengannya, dia pun terpaksa menampar sambil mengerahkan sinkangnya.
"Orang muda, mertuaku tak suka menerima dupa dengan cara berdiri. Sebaiknya kau berlutut!"
Dan pemuda itu pun berseru keras. Dia ganti merasa angin yang dahsyat mendorong hionya, perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit kembali ke arahnya seperti hio berjalan. Tapi ketika dia membentak dan menambah kekuatannya, mendadak dupa itu hancur dan remuk di udara!
"Kress!"
Semua orang terkejut. Mereka melihat hio hancur menjadi tepung, padam, dan hilang asapnya dalam sekejap mata. Tapi pemuda yang sudah melompat ke kiri dengan mata berapi-api itu tiba-tiba kembali menyambar tiga batang hio dan menyulutnya di depan peti jenazah Ciok-thouw Taihiap. Pendekar Gurun Neraka sudah maju ke depan. Dia mengerutkan kening memandang pemuda ini, dan membentak dengan sikap penuh wibawa, "Orang muda, kau siapa dan apa maksudmu datang kemari? Tidak tahukah kau hormat kepada arwah orang yang sudah meninggal dunia?"
Pemuda ini tertawa mengejek. "Aku tahu akan arti hormat itu, Pendekar Gurun Neraka. Tapi ketahuilah bahwa hormat yang harus kuberikan pada Pendekar Kepala Batu adalah yang macam itu!"
"Hm, kau siapa? Siapa namamu?"
"Aku Kun Houw!"
"Siapa gurumu?"
Pemuda itu tak menjawab.