Chapter 126
"Pendekar Gurun Neraka, tak perlu bertanya macam-macam siapa guruku. Kita pernah bertemu, agaknya kau lupa kepadaku!" Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis.
"Aku tak mengenalmu, anak muda. Atau mungkin aku yang pangling kepadamu." Pemuda itu mencibirkan mulutnya.
"Aku tahu kalau kau lupa kepadaku, Pendekar Gurun Neraka. Tapi untuk menghormati arwah mertuamu, biarlah besok kita bicara lagi. Aku juga ingin menagih utang padamu!" Pendekar Gurun Neraka menatap tajam. Dia tiba-tiba seolah teringat wajah pemuda ini, tetapi lupa kapan dan di mana dia pernah bertemu, maka pendekar itu pun tersenyum hambar.
"Anak muda, kau rupanya ingin mengganggu di sini. Kalau kau tahu diri dan sebagai tamu, sebaiknya minta maaf dulu baik-baik dan duduk di kursi undangan sana. Jangan pergi begitu saja!" Kun Houw menjengek.
"Kau mau menahanku, Pendekar Gurun Neraka?"
"Tidak, justru aku mengundangmu menghadiri upacara ini. Kau belum diundang, bukan?"
"Ya, aku tamu liar. Tapi aku ingin datang dan pergi sesukaku!" Lalu, setelah menancapkan hio di peti jenazah Cut Ang, pemuda ini memutar tubuh dan melompat pergi.
Namun, Pendekar Gurun Neraka memberi isyarat. Dia mengedipkan mata pada Han Ki dan Han Bu, yang seketika itu juga melompat menghadang. Begitu dua orang kakak beradik ini mengembangkan lengannya, pemuda itu pun diberhentikan dengan bentakan pelan, "Sobat, Paman telah menyuruhmu untuk duduk di sana. Sebaiknya kau tak membantah!"
Kun Houw mendengus. "Kalian siapa?"
"Aku Han Ki. Dia adikku, Han Bu!"
"Hm, apa hubunganmu dengan keluarga Souw?"
"Kami cucunya."
"Ah, cucu Ciok-thouw Taihiap?" Han Ki tak menjawab. Dia sudah mendorong pemuda ini agar kembali ke dalam, tetapi Kun Houw yang juga mengangkat lengannya menangkis, justru balik mendorong lawan.
"Plak!" Han Ki tergetar. Dia terdorong selangkah dan terbelalak kaget. Han Bu yang marah melihat kakaknya melawan, tiba-tiba membentak, "Sobat, tak perlu kau mengacau di sini. Kembalilah!" Han Bu sudah mendorongkan lengannya untuk menampar. Dia marah melihat kakaknya terdorong, maka sambil mengerahkan sinkangnya, dia langsung mempergunakan Pekhongciang untuk menampar lawannya itu.
Namun, Kun Houw yang tidak tinggal diam melompat ke kiri, lalu begitu menjengek lawan, tiba-tiba kakinya menendang Han Bu sambil berseru, "Orang she Souw, sebaiknya kau saja yang kembali ke dalam. Keperluanku sudah cukup... dess!" Han Bu yang roboh terbanting di ruangan itu seketika berteriak dan melompat bangun, kaget bahwa pukulannya luput sementara dia sendiri mendapat serangan hingga roboh. Sebelum ia membalas serangan lawan, tahu-tahu Kun Houw telah melejit dan keluar melompati kepala mereka.
"Pendekar Gurun Neraka, aku tak mau main-main saat ini. Biar besok saja kita jumpa!"
Tiba-tiba sebuah bayangan langsing mengejar Kun Houw dan menyerangnya. Kun Houw tak tahu siapa bayangan itu, tetapi ia merasa angin panas berkesiur menghantam punggungnya. Pukulan itu terasa berbahaya sehingga Kun Houw menjadi kaget. Ia membalik dan menggerakkan lengannya untuk menangkis.
"Plak!" Kun Houw terjengkang roboh. Dia berada dalam posisi tak menguntungkan ketika tadi menangkis. Namun, karena merasa pukulan itu berbahaya dan kain bajunya hangus terbakar, Kun Houw kaget bukan main dan melompat bangun.
"Lui-kong-yang sinkang (Pukulan Inti Petir)...!" Kun Houw terbelalak. Dia melihat seorang gadis berbaju merah berdiri berapi-api memandangnya, bertolak pinggang dengan cuping hidung kembang-kempis. Kun Houw yang tertegun memandang gadis ini tiba-tiba teringat dan semakin melebarkan matanya. "Bi Lan...!"
Gadis itu terkejut. Ia memang Bi Lan, yang maju setelah mendapat isyarat ayahnya. Bi Lan yang tertegun mendengar panggilan itu tiba-tiba mengerutkan kening dan mengingat-ingat. Ia serasa kenal dan mencoba memeras otak untuk mengetahui siapa pemuda yang mengenalnya ini. Begitu membelalakkan mata, tiba-tiba Bi Lan ganti berseru, "Kau... Bu-beng Siauw-cut...!"
Pendekar Gurun Neraka bersama seluruh keluarganya terkejut. Mereka tersentak oleh seruan ini, kaget bahwa pemuda itu bukan lain adalah Bu-beng Siauw-cut, bocah yang dulu datang ke Ta-pie-san dan dengan sebilah pisau mencoba membunuh Pendekar Gurun Neraka.
Pendekar Gurun Neraka yang tertegun oleh kenyataan ini tiba-tiba tergetar dan terguncang hatinya. Dia sekarang ingat dan tidak pangling lagi kepada bocah yang sudah menjadi pemuda tampan ini. Pemuda gagah yang memiliki keberanian besar, berani datang "mengacau" di sarang naga seorang diri!
Pendekar Gurun Neraka yang tiba-tiba menggigil mendadak memejamkan mata dengan jantung seolah tertusuk-tusuk. Itulah puteranya, hasil hubungan gelapnya dengan Tok-sim Sian-li! Pendekar Gurun Neraka yang memejamkan mata dengan perasaan diremas-remas itu tiba-tiba mengeluh dan membuka matanya yang basah. Dua titik air mata menetes, membasahi pipinya yang kering dan jatuh di atas lantai. Lalu, dengan suara gemetar dan tubuh menggigil, pendekar ini mendesis, "Benar. Dia Bu-beng Siauw-cut itu... anak yang hilang itu... Ceng Liong yang asli!"
Namun, Ceng Bi melompat ke depan. "Belum tentu, Yap-koko. Dia memang benar Bu-beng Siauw-cut, tapi belum tentu bocah yang kau cari-cari itu!" Sambil berkelebat ke depan dengan muka merah, nyonya ini membentak Kun Houw, "Bocah, kenapa sekarang kau bernama Kun Houw? Apa maksudmu mengganggu keluarga Souw?"
Kun Houw yang bersikap tenang menegakkan kepalanya. "Aku bernama Kun Houw karena ini memang namaku, Hujin. Bukankah kau Yap-Hujin yang menjadi istri kedua Pendekar Gurun Neraka?"
"Benar! Dan apa maksudmu mengacau di sini?"
"Hm, aku tidak bermaksud mengacau, Hujin. Tapi sekadar menghormati peti Ciok-thouw Taihiap dengan caraku sendiri. Dia berhutang tiga buah pukulan pada suhuku almarhum!"
"Siapa gurumu?" Kun Houw mengerutkan alis.
"Perlukah diketahui, Hujin? Ciok-thouw Taihiap dan guruku telah sama-sama meninggal. Sebaiknya tidak perlu pertanyaanmu itu kujawab!"
"Keparat!" Ceng Bi membentak, marah melihat Kun Houw memutar tubuh dan siap melangkah pergi. Namun, sebelum ia menyerang, pemuda itu tiba-tiba Pendekar Gurun Neraka telah berkelebat di dekatnya, langsung menyambar pundak Kun Houw dan berseru, "Ceng Liong, berhenti!"
Kun Houw terkejut. Dia kaget dan heran oleh seruan Pendekar Gurun Neraka yang terang-terangan ditujukan kepadanya. Namun, melihat jari pendekar itu menyambar pundaknya dan serangkum angin panas menyerang, Kun Houw memutar kakinya dan menangkis.
"Dukk!" Kun Houw tertegun. Dia terbelalak melihat lawan terguncang, sementara dia sendiri tergetar dan hampir terdorong setengah langkah. Sebelum dia sempat membentak marah, Pendekar Gurun Neraka telah menotok jalan darah di atas siku lengan kirinya dengan cepat.
"Brett!" Kun Houw kali ini terhuyung. Dia kalah cepat oleh gerakan lawan, namun sempat mengelak sehingga baju di atas siku sampai pangkal lengannya robek, memperlihatkan guratan panjang dan bekas luka macam goresan golok. Kun Houw yang siap memaki lawan dengan penuh kemarahan tiba-tiba terdiam ketika melihat Pendekar Gurun Neraka justru terhuyung mundur sambil menunjuk-nunjuk bekas luka di lengan kirinya itu.
"Ceng Liong, kau betul bocah itu... kau anak yang selama ini kucari-cari!"
Kun Houw tertegun. Dia tak mengerti sikap Pendekar Gurun Neraka yang aneh, yang kini menggigil dan memandangnya dengan mata basah. Kun Houw, yang mengira pendekar itu mempermainkan dirinya, tiba-tiba membentak dan melakukan tamparan ke leher lawannya, "Pendekar Gurun Neraka, tak perlu kau bersandiwara di depanku. Aku Kun Houw, bukan Ceng Liong...!"
"Plak!" Pendekar Gurun Neraka terdorong mundur, mengeluh, dan hampir terjengkang roboh. Namun, Ceng Bi telah melompat mendekati suaminya. Nyonya ini meradang, menahan punggung suaminya, lalu mencabut pedang. Sambil membentak, wanita ini menerjang ke depan bagai singa betina yang haus darah. "Bocah, kau tak tahu hormat pada orang tua!"
Kun Houw terkejut. Dia melihat pedang di tangan istri Pendekar Gurun Neraka itu berseliweran di sekeliling tubuhnya, menusuk dan membacok. Namun, Kun Houw yang melompat ringan menghindari semua serangan itu tiba-tiba dengan kecepatan kilat mencabut Pedang Medali Naganya. Sambil melengking dan menggerakkan pedang, ia menangkis hingga pedang di tangan Ceng Bi patah menjadi dua.
"Trang-trang!" Ceng Bi terkejut. Ia melompat mundur dan berseru kaget. Namun, seorang laki-laki yang melompat ke depan dengan pekik girang sekonyong-konyong berteriak, "Pedang Medali Naga...!"
Semua orang ribut. Mereka melihat laki-laki itu sudah menjatuhkan diri berlutut di depan Kun Houw, yang tentu saja tercengang dan membelalakkan matanya. Sebelum Kun Houw sempat menegur atau bicara, laki-laki gagah berpakaian biru itu sudah berseru nyaring, "Kongcu, hamba Fan Li menghaturkan hormat. Semoga Pedang Medali Naga memberikan berkahnya kepada hamba sekalian...!"
Laki-laki itu membenturkan dahinya tiga kali di lantai. Perbuatannya diikuti oleh semua tamu yang sudah berlutut di belakangnya, seraya memandang Pedang Medali Naga dengan mata terbelalak, termasuk Pendekar Gurun Neraka dan kedua istrinya. Kun Houw yang bengong oleh kejadian ini tiba-tiba memasukkan pedangnya dan melompat mundur.
"Apa... apa artinya ini?"
Laki-laki gagah itu berseru nyaring, "Artinya kau sama dengan pangeran, Kongcu. Bahwa kehadiranmu tiada ubahnya junjungan kami sendiri dengan Pedang Medali Naga di tangan!"
"Ah...!" Kun Houw kaget bukan main. "Sama dengan pangeran yang mana, Lo-enghiong? Apa maksudmu?"
Semua orang kini bangkit berdiri.