Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 127

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 127

Laki-laki berpakaian biru yang tidak lain adalah Fan-ciangkun membungkuk hormat, berseri memandang Kun Houw. Lalu, dengan tersenyum dan memberi penjelasan, ia berkata, "Kongcu, Pedang Medali Naga adalah pedang keramat kerajaan kami. Itu milik Pangeran Kou Cien yang hilang sepuluh tahun yang lalu. Karena pedang itu hilang secara aneh dan Pangeran membiarkan pedang ini berkelana untuk mencari pemegangnya, maka kau adalah orang yang dipilih oleh pedang keramat ini untuk memimpin kami. Kami dari Yueh tidak menyangka bahwa Kongcu adalah pewaris yang ditunjuk oleh Pedang Medali Naga!"

Kun Houw tertegun. Dia sekarang mengerti kenapa dirinya dihormati banyak orang. Bahkan Pendekar Gurun Neraka dan dua istrinya juga berlutut memberi hormat, meskipun bukan terhadap dirinya pribadi, melainkan terhadap Pedang Medali Naga yang dianggap sebagai wakil, atau bahkan Pangeran Kou Cien sendiri dari Kerajaan Yueh. Kun Houw, yang tertegun oleh kejadian tak disangka ini, tiba-tiba menarik napas dan tertawa tak acuh.

"Lo-enghiong, aku tidak tahu pedang ini benar milik pangeranmu atau bukan. Yang jelas, aku mewarisi pedang ini dari mendiang guruku. Apakah kini kalian hendak merampasnya dariku?"

Fan Li terkejut. "Tak terpikir oleh kami maksud hati seperti itu, Kongcu. Bahkan dengan pedang itu di tangan, berarti kau pemimpin kami, orang-orang Ho-han-hwe (Perkumpulan Orang-orang Gagah)!"

"Apa?" Kun Houw terbelalak. "Kalian orang-orang Ho-han-hwe, Lo-enghiong? Dan aku kau pilih menjadi pemimpin?"

"Bukan kami yang memilih, Kongcu. Melainkan pedang yang ada di tanganmu itu yang menentukan. Junjungan kami telah mendapat ilham bahwa pemegang pedang adalah orang yang akan memimpin kami!"

Kun Houw mundur selangkah. "Kalian gila, Lo-enghiong! Aku tidak tahu apa-apa tentang Ho-han-hwe. Bagaimana mungkin memimpin kalian? Tidak, aku tidak suka terikat. Aku datang ke sini karena ada urusan pribadi dengan Pendekar Gurun Neraka!"

Lalu, memandang Pendekar Gurun Neraka dengan mata berapi-api, pemuda itu membentak, "Pendekar Gurun Neraka, besok aku akan datang lagi setelah upacara pemakaman ini selesai. Aku ingin menagih jiwa ibuku!"

Pendekar Gurun Neraka tersenyum pahit. Dia melangkah maju dan menarik napas berat, lalu berhenti di depan pemuda itu. Dengan suara serak, pendekar ini berkata, "Ceng Liong, kau adalah anak yang selama ini kucari-cari. Siapa ibu yang kau maksudkan itu? Mendiang Bwee Li-kah?"

Kun Houw mendengus. "Kau sudah tahu sebelum kuberi tahu, Pendekar Gurun Neraka? Berarti kau mengakui dosamu dan siap menerima pembalasan! Kau tidak akan lari dari tanggung jawab, bukan?"

"Hm, aku selamanya mempertanggungjawabkan perbuatanku, Ceng Liong. Tapi kau salah paham. Aku tidak..."

Kun Houw keburu membanting kaki, memotong, dan membentak marah, "Pendekar Gurun Neraka, namaku Kun Houw. Bukan Ceng Liong!"

Namun, Pendekar Gurun Neraka merogoh sakunya, mengeluarkan sepucuk surat, dan langsung melemparkannya kepada pemuda itu. Dengan suara getir, pendekar ini memandang Kun Houw, "Anak muda, sebaiknya kau baca saja surat itu. Itu adalah peninggalan Bwee Li yang kau anggap ibu kandung!"

Kun Houw menangkapnya. Dia terbelalak dan mengerutkan alis menerima surat itu, memandang Pendekar Gurun Neraka dengan sikap curiga. Namun, melihat lawan menanti dan tidak berbuat apa-apa, akhirnya Kun Houw membuka surat itu dan membaca. Begitu membaca, tiba-tiba Kun Houw menggigil dan terhuyung mundur dengan muka berubah pucat.

"Kau... kau tidak menipuku, Pendekar Gurun Neraka? Kau tidak membuat surat palsu?"

Pendekar Gurun Neraka tersenyum. "Kau boleh cari ibu kandungmu, Ceng Liong. Tanya dan buktikan pada ibumu tentang kebenaran isi surat itu!"

"Ooh!" Kun Houw gemetar, menggigil, dan tiba-tiba berteriak keras. Lalu, ia membalikkan tubuh dan melengking tinggi. Tiba-tiba pemuda itu melompat dan meninggalkan semua orang dengan muka merah padam. "Pendekar Gurun Neraka, aku akan membuktikan kebenaran isi surat ini. Kalau kau bohong, awaslah!"

Pendekar Gurun Neraka tidak menjawab. Dia sendiri muram, tidak menyangka bahwa di saat kematian Ciok-thouw Taihiap, anak dari hasil hubungan gelapnya itu muncul, menggegerkan, dan hampir saja membuat keributan. Tapi, ingat bahwa Kun Houw atau yang sebenarnya Ceng Liong itu membawa Pedang Medali Naga, sekonyong-konyong pendekar ini mengebutkan lengan bajunya, berseru pada istri pertamanya, "Hong-moi, ikut aku!"

Pendekar itu berkelebat keluar. Dia mengejar Kun Houw yang turun gunung, lari cepat seperti terbang mencari Kun Houw yang mendahului ke bawah. Namun, persis dia menemukan pemuda itu di kaki gunung, tiba-tiba dua bayangan berkelebat menghadang.

"Pendekar Gurun Neraka, nanti dulu. Tunggu!"

Pendekar ini terpaksa menghentikan larinya. Dia terkejut melihat dua kakek muncul seperti iblis, menghadang, dan terkekeh di depan. Melihat gerak-gerik mereka yang tidak bermaksud baik, tiba-tiba pendekar ini mengerutkan alisnya dan membentak perlahan, "Kalian siapa? Ada apa menghadang lariku?"

Dua orang itu tertawa. Mereka melompat maju, dan setelah berdekatan, tergetarlah hati Pendekar Gurun Neraka ketika melihat bahwa dua orang kakek itu memiliki rupa yang mirip satu sama lain, kecuali dibedakan dengan warna kulitnya yang kontras. Yang di sebelah kanan merah bagai api menyala, adapun yang di sebelah kiri putih dan pucat bagai salju di gunung yang dingin.

"Heh-heh, kau tidak mengenalku, Pendekar Gurun Neraka? Aku Ang-kwi (Setan Merah), datang jauh-jauh untuk melayat mertuamu. Benarkah Ciok-thouw Taihiap sudah mampus?"

"Dan aku Pek-kwi (Setan Putih), Pendekar Gurun Neraka. Jauh dari laut selatan kami datang untuk membuktikan kabar kematian mertuamu. Benarkah Ciok-thouw Taihiap mampus?" orang di sebelah kiri menyusul, menyambung sambil terkekeh mirip kuda meringkik.

Pendekar Gurun Neraka yang terkejut seketika tertegun dan berubah mukanya. "Hm, kalian yang terkenal dengan nama Siang-mo-ji-bin (Sepasang Iblis Dua Muka) itu. Ang-kwi? Dan ini saudaramu?"

"Heh-heh, benar, Pendekar Gurun Neraka. Dan kami menyayangkan sekali kalau Ciok-thouw Taihiap benar-benar mampus. Tapi apakah benar dia mati seperti kabar burung itu? Bolehkah kami melayat?"

Pendekar ini terpaksa menekan kemarahannya. Dia melihat Ceng Liong atau Kun Houw tidak tampak bayangannya lagi, lenyap di kejauhan sana. Pendekar Gurun Neraka mendongkol, tapi terpaksa bersabar karena dua kakek iblis ini menyatakan maksudnya melayat. Dia tidak dapat melanjutkan perjalanannya dan terpaksa melayani tamunya, yang bagaimanapun hendak menyatakan belasungkawa terhadap mendiang mertuanya.

Namun, berhati-hati dan waspada akan gerak-gerik mereka yang mencurigakan, Pendekar Gurun Neraka bersikap dingin. Maklum, Siang-bin itu bukanlah orang baik-baik dan amat aneh jika datang pada saat yang tiba-tiba ini. Maka, memandang mereka dan menjawab datar, pendekar ini berkata setengah tak acuh, "Ang-kwi, mertuaku benar-benar telah meninggal dunia. Siapa bilang itu sebagai kabar burung? Kalian boleh menghormat peti jenazahnya jika tidak berniat buruk!"

"Heh-heh, kenapa kau khawatir kami berniat buruk, Pendekar Gurun Neraka? Takutkah kau? Kami datang untuk membuktikan kematian mertuamu itu. Tidak mempunyai maksud apa-apa!"

"Hm, kalau begitu silakan," Pendekar Gurun Neraka memutar tubuhnya, mengajak tamunya ke atas meskipun hati mendongkol dikatai takut. Persis pada saat yang bersamaan, istri pertamanya muncul, datang beberapa kejap setelah sang suami terhenti di tempat itu.

Pek Hong yang melihat suaminya membawa dua kakek aneh yang memiliki mata bagai mata iblis tiba-tiba terhenyak dan berseru nyaring, "Yap-koko, siapa mereka?"

Ang-kwi sudah terkekeh, mendahului menjawab, "Kami Siang-mo-ji-bin, Hujin. Kau istri pertama Pendekar Gurun Neraka, bukan?"

Pek Hong terkejut, "Benar, dan kalian ini yang bernama Siang-mo-ji-bin?"

"Ya, aku Ang-kwi, Hujin. Dan dia itu saudaraku, Pek-kwi, heh-heh!"

Pek Hong tercekat. "Dan maksud kalian..."

"Mereka mau melayat, Hong-moi. Tamu kita ini datang untuk menyatakan belasungkawa!" Pendekar Gurun Neraka menjawab, memberi isyarat istrinya agar berhati-hati.

Siang-bin yang terkekeh tiba-tiba menjejakkan kakinya, berkelebat ke atas gunung. "Benar sekali. Kami mau membuktikan kematian Ciok-thouw Taihiap, Hujin. Dan karena suamimu telah memberi izin, biarlah kami melihatnya dulu!"

Dua kakek iblis yang tertawa dengan suara tinggi itu tahu-tahu telah mendaki ke puncak dengan kecepatan luar biasa. Mereka seolah mempunyai sayap, terbang, dan sebentar saja menuju ke atas. Pendekar Gurun Neraka yang menyambar tangan istrinya segera berseru, "Hong-moi, mari kita ikuti!"

Begitu pendekar ini menarik lengan istrinya, tiba-tiba keduanya pun "terbang" mengejar Siang-mo-ji-bin. Sebentar saja mereka sampai ke puncak, dan ketika berada di pusat keramaian, ternyata dua kakek itu telah tertawa-tawa di depan dua jenazah yang berjajar di tengah ruangan.

"Wah, mana peti Ciok-thouw Taihiap?"

Semua tamu terkejut. Mereka tidak melihat datangnya dua pendatang ini, karena Ang-kwi dan Pek-kwi tahu-tahu telah berada di situ, muncul begitu saja seperti keluar dari dalam tanah. Pendekar Gurun Neraka yang telah melompat maju segera menunjuk dan mendorong mundur Bi Lan dan Han Ki yang terbelalak memandang dua kakek iblis itu.

"Peti mertuaku yang di sebelah kanan, Ang-kwi. Silakan memberi hormat pada arwahnya!"

Tapi Ang-kwi dan Pek-kwi tertawa-tawa. Mereka mengelilingi peti Ciok-thouw Taihiap, berputar, dan sejenak saling lirik. Lalu, menepuk tutup peti. Mendadak, Pek-kwi yang ada di tengah berseru keras, "Pendekar Gurun Neraka, kami ingin melihat mayat Ciok-thouw Taihiap. Permisi!"

Begitu lengannya menepuk perlahan, tahu-tahu tutup peti terbuka dan mayat Ciok-thouw Taihiap terlihat dibungkus kain putih.

"Aah!" semua orang terkejut. Mereka berseru kaget oleh perbuatan Iblis Putih ini yang luar biasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment