Chapter 128
Bi Lan serta Han Ki yang berada paling dekat dengan Pek-kwi tiba-tiba membentak dan langsung menghantam punggung kakek itu dengan pukulan dahsyat.
"Tua bangka, pergunakan sopan santunmu!"
Plak! Dess!
Iblis Putih terhuyung. Dia melepaskan tutup peti matinya, yang berderak keras menimpa tempatnya semula dan menggetarkan ruangan dengan suara berat. Iblis Putih terkekeh sambil memutar tubuhnya, lalu tiba-tiba melompat jauh ketika Bi Lan dan Han Ki siap menyerangnya kembali.
"Wah, siapa anak-anak muda yang hebat ini, Pendekar Gurun Neraka?"
Pendekar Gurun Neraka melompat maju. Dia marah melihat Pek-kwi membuka peti mati, sebuah sikap yang lancang. Namun, melihat iblis itu tidak mengganggu jenazah mertuanya, ia pun melindungi Bi Lan dan Han Ki sambil berkata dengan suara tidak senang, "Pek-kwi, kau adalah tamu. Harap jangan membuat kami marah!"
"Heh-heh, kenapa tidak senang, Pendekar Gurun Neraka? Kami hanya mau membuktikan saja, benarkah Ciok-thouw Taihiap mampus atau tidak. Kami sudah bilang tadi!"
Tidak menghiraukan Pendekar Gurun Neraka, Pek-kwi memandang saudaranya. "Suheng, kau sudah melihat jenazahnya?"
Ang-kwi tertawa. "Belum begitu jelas, Sute. Kau terlanjur menutup cepat peti mati itu!"
"Ah, kau ingin melihatnya kembali?"
"Ya!"
Begitu berkata demikian, iblis bermuka merah ini melangkah maju, menyentuh tutup peti, dan siap membukanya kembali. Namun, Pendekar Gurun Neraka yang berdiri di samping peti mati itu sudah meletakkan tangannya dan membentak, "Ang-kwi, apa yang mau kau lakukan?"
"Heh-heh, aku ingin melakukan seperti apa yang telah dilakukan saudaraku, Pendekar Gurun Neraka. Hanya sekadar melihat dan melongok isi peti mati itu!"
"Tidak boleh!" bentak Pendekar Gurun Neraka. "Kau jangan bersikap keterlaluan, Ang-kwi. Aku masih menghargaimu sebagai tamu!"
Akan tetapi, Ang-kwi yang tertawa mengejek dan tidak menghiraukan bentakan Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba menepuk peti dan membukanya seperti yang tadi dilakukan Pek-kwi. Begitu peti mati ditepuk, tutupnya terbuka, terangkat, dan menempel di telapak tangan iblis ini.
"Pendekar Gurun Neraka, tidak perlu sombong. Aku hanya ingin melihat saja!"
Pendekar Gurun Neraka terang tidak mengizinkan. Dia membentak pula, menekan lengannya di atas peti yang terangkat tutupnya. Begitu pendekar ini mengerahkan tenaga menindih, peti menutup kembali dan anjlok dengan suara keras.
"Brak!"
Ang-kwi terbelalak. Dia terkejut dan berseru kagum. Namun, sambil tertawa setengah memekik, iblis ini tiba-tiba membentak, "Pendekar Gurun Neraka, aku hanya ingin melihat saja. Buka...!"
Tiba-tiba peti itu kembali terangkat, terbuka tutupnya, dan "terbang" diputar oleh lengan kakek ini. Otomatis semua tamu terkesiap. Pendekar Gurun Neraka, yang maklum bahwa iblis bermuka merah ini ingin mengadu kepandaian dengan mengganggu peti mati, tiba-tiba menjadi marah. Dia mengerahkan tenaga saktinya dan begitu menggerakkan lengan untuk menampar, sekonyong-konyong peti yang terbang di telapak lawan ditarik dan disedot ke dalam.
Sementara Ang-kwi terbelalak dengan mata melotot, tahu-tahu tutup peti itu meluncur dan turun kembali ke tempatnya. Ang-kwi kaget. Dia bertahan dan menambah tenaganya. Persis saat tutup peti itu anjlok di tempatnya, mendadak serangkum angin menahan di bawah. Akibatnya, tutup peti ini berhenti di udara, hanya sejengkal saja. Ang-kwi berteriak mempertahankan diri, tiba-tiba membuat tutup peti naik dan kembali terangkat!
"Ha ha, kau tak dapat menahan kemauanku, Pendekar Gurun Neraka. Aku menghendaki Ciok-thouw Taihiap berbaring saja dengan peti terbuka!"
Pendekar Gurun Neraka berang. Dia tadi mengerahkan tenaganya setengah bagian, tidak mau bersikap keras karena khawatir tutup peti hancur digencet dua tenaga yang tidak tampak. Namun, melihat Ang-kwi melotot dan kakek iblis itu memaksa untuk membuka peti mati, tiba-tiba pendekar ini menambah sinkangnya dan menghentakkan lengan ke bawah.
"Brak!"
Ang-kwi berseru keras. Dia terkejut ketika menerima tekanan luar biasa kuat dari hentakan lengan Pendekar Gurun Neraka yang menggencet sekaligus mendorong minggir tenaganya sendiri hingga tutup peti menutup keras, menggetarkan ruangan, dan membuat Ang-kwi terhuyung hampir roboh!
Ang-kwi, yang kaget oleh sinkang Pendekar Gurun Neraka yang demikian hebat, mendengar bentakan pendekar itu, "Ang-kwi, orang yang telah meninggal dunia tak perlu kau ganggu lagi. Menyingkirlah!"
Ang-kwi terbelalak. Sekarang dia membuktikan kelihaian pendekar ini yang sudah lama didengar. Namun, Ang-kwi yang terkekeh dengan mata bersinar tiba-tiba melangkah maju dan kembali menyentuh tutup peti.
"Pendekar Gurun Neraka, aku bilang tadi bahwa sebaiknya jenazah mertuamu ini diperlihatkan saja. Kenapa marah-marah? Bukankah wajar bila pelayat ada yang ingin tahu bagaimana rupa Ciok-thouw Taihiap yang terkenal itu?"
Sambil mengerahkan kembali tenaga sinkangnya, kakek ini mencoba mengangkat. Dia penasaran karena tadi keberhasilannya kandas di tengah jalan. Ia kaget dan kagum bahwa Pendekar Gurun Neraka memiliki sinkang yang mampu menahan sinkangnya. Maka, ia mengulang dan ingin mencoba kembali. Iblis bermuka merah ini mengerahkan tenaganya untuk membuka, penasaran sekaligus tidak mau kalah karena malu ditonton banyak mata.
Namun, Pendekar Gurun Neraka tidak membiarkan iblis ini membuka peti mati. Dengan sinkang tiga perempat bagian, dia menahan tutup peti yang kini mulai bergerak maju-mundur karena Ang-kwi hendak mengangkatnya. Karena dua orang itu saling berkutat dan masing-masing tidak mau mengalah, tiba-tiba saja tutup peti itu membuka dan menutup seperti diungkit-ungkit dari dalam!
Sepintas kejadian ini lucu. Orang akan mengira arwah Ciok-thouw Taihiap hidup kembali, marah, dan hendak keluar dari dalam peti. Namun, melihat Ang-kwi menggereng dan mukanya semakin merah serta kepala kakek iblis itu mulai mengepulkan uap tipis bagai kabut, orang-orang tahu bahwa kakek ini sedang mengadu tenaga dengan tuan rumah.
Pendekar Gurun Neraka mempertahankan tutup peti agar tidak terbuka, tidak mau jenazah mertuanya dipermainkan iblis ini. Ketika dia menambah tenaganya sedikit lagi, tutup peti tiba-tiba anjlok dengan suara keras dan mendadak tidak dapat dibuka lagi, terpantek bagai dipukul paku raksasa!
"Ang-kwi, kau tak berhasil...!"
Ang-kwi mendelik. Dia benar-benar tak berhasil mengangkat peti mati itu lagi. Jangankan mengangkat, menggeser seinchi pun dia tidak mampu. Kalah kuat! Ang-kwi, yang menggeleng dengan muka merah padam, tiba-tiba berseru pada saudaranya, "Sute, kau mau coba?"
Pek-kwi terbelalak. Dia melihat pertandingan aneh ini, kagum dan diam-diam memuji kehebatan Pendekar Gurun Neraka yang dapat mengatasi kekuatan suheng-nya. Maka, sambil tertawa dan mendengar saudaranya menegur, Iblis Putih ini melompat maju dan menekan telapak tangannya pada tutup peti.
"Pendekar Gurun Neraka, kau sungguh hebat. Tapi tanganku jadi gatal untuk membantu suheng-ku. Awas...!"
Pendekar Gurun Neraka mengerutkan alis. Dia merasa sebuah tenaga tiba-tiba meluncur dari telapak tangan Pek-kwi, mendorong dan siap mengangkat tutup peti membantu kakaknya. Tenaga itu hebat dan membuat dia terkejut karena gabungan dua iblis bersaudara itu ternyata kuat bukan main, tiba-tiba mendesak sinkangnya dan menggeser peti mati!
Pendekar Gurun Neraka yang menjadi marah tiba-tiba menahan dengan tenaga sembilan persepuluh bagian—hampir seluruh tenaganya. Ketika dia membentak sambil menambah tenaganya, tiba-tiba tutup peti mulai bergerak-gerak dan maju-mundur seperti tadi!
"Ha-ha, kali ini kami akan menang, Pendekar Gurun Neraka. Tak perlu kau mempertahankan diri!"
Pendekar Gurun Neraka tak menjawab. Dia memang mulai terdesak, tutup peti mulai terangkat. Bingung serta marah oleh perbuatan dua iblis itu, Pendekar Gurun Neraka menggigit bibirnya dan mulai berkeringat. Sebenarnya, dalam keadaan seperti ini masih ada jalan baginya: yakni mundur mengalah atau terus bertahan. Namun, karena mundur berarti membuat lawan pongah dan mungkin melakukan perbuatan lain yang lebih berbahaya, mau tidak mau dia harus bertahan dengan menanggung risiko terluka dalam.
Pendekar Gurun Neraka yang terpaksa melakukan cara bertahan dengan muka merah akhirnya melotot memandang dua orang lawannya itu. "Ang-kwi, kalian iblis-iblis busuk!"
Ang-kwi tertawa. "Kami tidak busuk, Pendekar Gurun Neraka. Hanya kaulah yang sombong tak mau mengalah!"
"Ya, dan tak kukira tenagamu hanya sebegini saja, Pendekar Gurun Neraka. Mana itu Luisingkang-mu?" Pek-kwi menyambung, mengejek sambil terkekeh.
Pendekar Gurun Neraka yang geram oleh desakan lawannya ini hampir terpancing. Dia memang mempunyai tenaga sakti yang istimewa itu, Lui-kong-yang-sinkang (Tenaga Inti Petir). Namun, karena mempergunakan ilmu ini bakal merusak peti mati dan mayat Ciok-thouw Taihiap bisa hancur oleh hawa pukulan panas itu, Pendekar Gurun Neraka tak berani mengerahkan sinkang mujizatnya ini. Dia hanya mengerahkan sinkang biasa, yakni sinkang yang ia peroleh dengan jalan samadi.
Pendekar Gurun Neraka, yang tentu saja bingung dan marah oleh gencetan lawan, tiba-tiba melihat Han Ki menubruk maju, menghantam leher Pek-kwi dengan maksud membantu pamannya karena Pendekar Gurun Neraka memang kelihatan terdesak.
Pendekar Gurun Neraka yang terkejut oleh gerakan ini tiba-tiba berseru, "Ki-ji, jangan...!"
Namun, Han Ki terlanjur memukul. Dia melakukan pukulan di saat Pendekar Gurun Neraka mencegah, berteriak nyaring. Ia tidak tahu bahwa saat itu tiga macam hawa sakti sedang saling gubat dan dorong-mendorong, merupakan bola hawa yang aneh tapi luar biasa kuat dan tidak dapat ditembus. Maka, begitu Han Ki menyerang dan persis lengannya menghantam leher Pek-kwi, tiba-tiba Han Ki berteriak ketika tubuhnya terpental balik dan terbanting roboh di lantai ruangan itu.