Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 129

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 129

"Hei, bruk!" Han Ki terguling-guling. Dia hampir celaka oleh tolakan hawa dari tiga orang sakti itu.

Han Bu yang marah melihat kakaknya terbanting tiba-tiba berteriak dan menyerang Ang-kwi. "Bu-ji, jangan...!" Namun, Han Bu terlambat. Pemuda ini mengira kakaknya tak boleh menyerang Pek-kwi karena mungkin iblis itu lebih kuat daripada Ang-kwi. Maka, ia salah menafsir dan mengira Ang-kwi lebih "empuk" ketimbang Pek-kwi, sehingga pemuda ini menghantam lawannya dengan pukulan keras tanpa tahu bahwa perbuatannya itu sama saja. Begitu menghantam, tenaga yang luar biasa dahsyat menolak dan balik mengenai dirinya; tak ayal, Han Bu menjerit dan terlempar seperti kakaknya.

"Bruk!" Han Bu juga terguling-guling. Dia sekarang berteriak kaget dan sadar setelah mengalami sendiri. Persis saat Han Bu melompat bangun, Bi Lan berkelebat mendekatinya dengan pertanyaan cemas, "Kau terluka, Bu-ko?"

Namun, Han Bu menggelengkan kepalanya. Dia terbelalak dan gusar, kaget tapi juga bingung bagaimana harus membantu Pendekar Gurun Neraka. Persis saat ia mengumpat dengan jari terkepal, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat menepuk punggung Pendekar Gurun Neraka.

"Ayah, siapa mereka ini?" Ang-kwi dan Pek-kwi berseru kaget. Mereka merasa sebuah tenaga dahsyat tiba-tiba menggempur mereka bersamaan dengan tepukan pendatang baru itu di belakang punggung Pendekar Gurun Neraka. Begitu keduanya terbelalak memandang ke depan, tiba-tiba Pek-kwi dan Ang-kwi terpental mundur dan membentur dinding ruangan. Dua orang iblis itu terkejut dan terpaksa melepaskan tutup peti mati yang kini anjlok dengan suara keras.

Ang-kwi serta Pek-kwi yang terbelalak memandang seorang pemuda tinggi besar yang mirip Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba melengking dan tertawa aneh.

"Pendekar Gurun Neraka, siapa pemuda ini?" Sin Hong, pemuda yang dimaksudkan, melompat maju. "Aku Sin Hong, tua bangka. Siapa kalian yang mengganggu peti jenazah Kong-kongku?"

"Ah, kau cucu Ciok-thouw Taihiap?"

"Ya, aku Sin Hong!"

"Heh-heh," Pek-kwi mengebutkan lengannya. "Kalau begitu kau putra Pendekar Gurun Neraka, bocah. Dan kau yang menjadi murid Naga Bongkok?"

Sin Hong mengerutkan alisnya. "Benar katamu, iblis tua. Siapa kalian dan kenapa hendak mengacau di tempat ini?"

Pendekar Gurun Neraka kini mendekati anaknya. "Mereka Siang-mo Ji-bin, Hong-ji. Yang bermuka putih ini adalah Pek-kwi, sedangkan yang lain itu adalah Ang-kwi."

"Ah, iblis-iblis dari laut selatan itu?"

Ang-kwi tertawa. "Orang yang tak menyenangi kami memang menyebut kami sebagai iblis, anak muda. Tapi orang yang menyukai kami justru menyebut kami sebagai dewa!"

Sin Hong tertawa mengejek. Dia sekarang tahu siapa kiranya dua orang kakek ini: Siang-mo Ji-bin yang biasa bergerak di laut selatan. Dua orang iblis yang katanya tak pernah berkeliaran di luar wilayahnya jika tidak ada kepentingan. Sin Hong, yang maklum bahwa dua orang iblis itu hendak mengganggu mereka, tiba-tiba memandang ayahnya dan bertanya, "Ayah, apa yang harus kita lakukan untuk melayani orang-orang macam begini?"

Pendekar Gurun Neraka menarik napas. "Kita tetap menganggapnya sebagai tamu bila mereka berlaku sopan, Hong-ji. Tapi terpaksa mengusir bila mereka hendak mengacau!"

"Heh-heh," Pek-kwi menggoyang-goyangkan lengannya. "Kau berani mengusir kami kalau kami ingin tinggal di sini, Pendekar Gurun Neraka? Kau hendak maju mengeroyok?"

Sin Hong tak tahan. "Pek-kwi, tak perlu banyak cakap di tempat ini bila kau ingin berkelahi. Sekarang majulah. Lihat, aku akan mengusir kalian tanpa bantuan ayah!"

"Heh?" Pek-kwi terbelalak. "Kau berani menghinaku, bocah? Kau tak takut mampus dan berani tidak berlindung di bawah bantuan ayahmu?"

"Aku sudah mengeluarkan kata-kataku, Pek-kwi. Tak perlu ayah membantu jika kalian ingin mengerubut. Majulah!"

Pek-kwi pucat mukanya. Dia marah mendengar kata-kata ini; semakin pucat mukanya jika gusar. Tapi Ang-kwi yang tertawa di sebelah kanannya tiba-tiba meludah. "Bocah, kami tak perlu mengeroyokmu kalau ingin bertanding. Cukup adikku saja yang maju... cuh!"

Sin Hong berkelit. Dia jijik oleh ludah Ang-kwi yang kental, menyambarnya bagai peluru. Tapi Sin Hong, yang tak mau begitu saja mengelak, sudah menggerakkan ujung bajunya menampar, mendorong sekaligus memukul balik ludah Ang-kwi ke arah tuannya dengan mempergunakan sinkang. Ang-kwi yang melihat air ludahnya terpukul dan kini meluncur dengan kecepatan kilat ke mukanya sendiri, tiba-tiba meniup dan berseru keras.

"Crat!" Ang-kwi mendelik. Tiupan khikangnya tadi kalah kuat; ludah masih meluncur dan kini ambyar di udara, berpercikan ke sana ke mari. Ang-kwi yang terkena percikan ludahnya sendiri tiba-tiba membentak dan berkelebat maju menyerang Sin Hong. "Bocah, keparat kau!"

Sin Hong tak tinggal diam. Dia menggerakkan lengan menangkis, dan begitu dua lengan beradu, tiba-tiba Ang-kwi memekik dan tergetar mundur.

"Dukk!" Ang-kwi terbelalak. Dia merasa sinkang Sin Hong luar biasa kuat, menahan sekaligus membuat lengannya panas. Ang-kwi yang kaget oleh kehebatan pemuda ini tiba-tiba menggeram dan memutar lengannya dua kali, berkerotok, dan tiba-tiba merah seperti besi dibakar.

Pendekar Gurun Neraka yang mengerutkan kening melihat ini tiba-tiba berseru memperingatkan putranya, "Ang-see-ciang (Tangan Pasir Merah)...!"

Tapi Pek-kwi keburu maju. Iblis Putih ini melompat di depan saudaranya, terkekeh, dan menyuruh kakaknya mundur. "Suheng, bocah ini rupanya cukup hebat. Biarlah aku yang merobohkannya!"

Habis menyelesaikan kata-katanya, mendadak Pek-kwi sudah melejit dan menyerang Sin Hong. Gerakannya bagai katak menerkam, cepat sekali, tidak memberi peringatan. Sin Hong yang terkejut oleh bayangan iblis ini tiba-tiba melompat mundur dan membentak. Namun, Pek-kwi membalik, terkekeh, dan meliuk aneh. Sementara Sin Hong merunduk dengan mata terbelalak, tiba-tiba lengan Pek-kwi telah menjulur dan menampar lehernya.

"Plak!" Sin Hong terkejut. Dia tak menduga kecepatan lawan yang dapat bergerak dan meliuk dengan cara aneh. Ketika Pek-kwi kembali tertawa dan memutar pinggang dengan cara yang ganjil, tahu-tahu Sin Hong tertampar kembali dan roboh terpelanting.

"Plak!" Sin Hong terguling-guling. Dia kaget dan heran sekali oleh gerakan lawan. Tapi ketika lawan kembali mengejar dan Pek-kwi mengerotokkan tulang-tulang lengannya yang tiba-tiba berwarna putih bagai dibungkus salju, Sin Hong membentak dan melompat bangun. Dia mencium bau yang keras dari lengan lawan, bau pasir di atas gurun; bau yang sangit tercampur busuk.

Sin Hong, yang maklum bahwa lengan lawan tentu mengandung racun, tiba-tiba menangkis sambil melindungi dirinya.

"Dess...!" Kali ini Pek-kwi terdorong. Iblis Putih itu terbelalak, tampaknya kaget. Namun, ia melengking dan berkelebat maju, tiba-tiba menyerang Sin Hong dengan pukulan bertubi-tubi, terbahak dan terkekeh ganti-berganti!

"Bocah, kau akan mampus di tanganku...!"

Sin Hong membelalakkan mata. Dia melihat lawan berkelebatan menghujani serangan, pukulannya bertubi-tubi dan cepat bukan main. Namun, ketika Sin Hong berlompatan dan mulai mengelak serta menangkis, tiba-tiba gerakan Pek-kwi berubah. Iblis Putih mulai mengurangi kecepatan, gerakannya tampak lamban dan dapat diikuti, tapi angin pukulannya yang terjadi berat dan menekan Sin Hong dari atas ke bawah. Apalagi ketika lengan lawan yang putih pucat itu tiba-tiba mengeluarkan keringat yang dingin dan keras seperti butir-butir pasir yang dipercik-percikkan kakek iblis ini!

"Ah, Pek-see-ciang (Pukulan Pasir Putih)...!"

Pek-kwi terkekeh. Dia memang mengeluarkan ilmunya yang aneh itu, mengibas-ngibaskan keringat dari kedua lengan yang mulai membanjir bagai uap atau embun di puncak gunung, menyerang Sin Hong dengan pasir-pasir beku yang dapat menembus kulit daging melebihi senjata tajam. Sin Hong, yang kaget oleh ilmu aneh ini, segera menampar dan memukul balik hujan keringat yang sudah berubah bagai titik-titik es di padang salju itu.

Namun, Pek-kwi tak membiarkan lawan mendesaknya. Dia terus mengiprat-ngipratkan keringat pasirnya yang kini semakin berhamburan dan menyerang bagai butir-butir es ke tubuh Sin Hong. Ketika Sin Hong terdesak dan kewalahan menghadapi hujan Pek-see-ciang ini, tiba-tiba ia mengeluh ketika tubuhnya mulai terkena. Sin Hong merasa pedas dan sakit-sakit, menjaga kedua mata dan melindungi diri dengan sinkang. Tapi baju serta pakaiannya yang tak dapat dilindungi sinkang akibatnya mulai bolong-bolong dan robek.

Sin Hong gelisah. Begitu terus-menerus, tentu dia bakal telanjang karena pakaian berlubang-lubang. Sin Hong yang menjadi marah oleh perbuatan lawan tiba-tiba menekuk pinggangnya ke kiri dan ke kanan.

"Pek-kwi, aku akan membalas. Berhati-hatilah!"

Iblis Putih terkekeh. Dia menganggap Sin Hong besar bicara karena selama itu dia mendesak dan menekan pemuda ini. Tapi ketika Sin Hong mulai menggeliatkan pinggang dan kedua lengannya bergerak naik turun bagai naga menari, tiba-tiba iblis ini terkejut ketika sebuah tenaga tak tampak melindungi Sin Hong. Pukulan pasir keringatnya tertahan di udara, dua jengkal dari tubuh lawan. Ketika Sin Hong membentak serta menampar dan mendorong, tiba-tiba kipratan keringat Pek-see-ciangnya mental dan membalik menyambar tubuhnya sendiri!

"Ah, Sinkun (Silat Tangan Naga Sakti)...!"

Sin Hong tak menjawab. Dia terus menggeliat-geliatkan pinggang sambil kedua tangan melakukan pukulan dan dorongan, membentengi diri dengan Sin-liong-kang (Tenaga Naga Sakti) hingga sambaran keringat Pek-kwi tak dapat menyentuh dirinya lagi, tertahan dan tertolak balik ke arah lawan. Ketika sekejap kemudian Sin Hong mendesak lawan dan terus maju merangsek, tiba-tiba Pek-kwi mulai terdorong dan terhuyung-huyung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment