Chapter 13
Anak itu bernama lengkap Pouw Hun Kiat, karena dia adalah keturunan Pouw Kwi, si iblis muda yang mempermainkan wanita cantik itu di kala ia masih berada di istana Yueh. Tapi Bwee Li, yang kebetulan mendengar Tok-sim Sian-li juga melahirkan seorang anak laki-laki dari hasil hubungan gelapnya dengan Pendekar Gurun Neraka, tiba-tiba pada suatu hari dengan dibantu suaminya, suami baru yang bukan lain adalah Liok-kauwsu, telah menukar anak mereka secara silang!
Jadi terdapatlah tukar-menukar anak itu. Hun Kiat ditukar dengan bayi yang baru saja dilahirkan Tok-sim Sian-li, sedangkan anak wanita malang itu diberikan pada wanita iblis ini tanpa sepengetahuan ibunya! Dan itu terjadi berkat bantuan guru silat she Liok yang jatuh cinta pada bekas selir raja muda Yun Chang ini.
Penukaran yang dilakukan pada saat Tok-sim Sian-li pergi mandi meninggalkan bayinya! Dan karena dua orang anak laki-laki itu usianya seumur, maka Tok-sim Sian-li tak menduga sama sekali bahwa bayinya ditukar, "dicuri" ketika ia sedang mandi! Sementara Bwee Li sendiri, yang kegirangan melihat bantuan suaminya, lalu memelihara anak itu di tepi laut timur, di pantai Po-hai yang jauh dari keramaian, dan bangga bahwa dia dapat menyusui keturunan Pendekar Gurun Neraka yang dia cinta secara diam-diam!
Bwee Li serta Liok-kauwsu yang gembira mendapat anak yang sehat montok seperti anak yang baru saja dilahirkan Tok-sim Sian-li itu lalu memanggil anak ini sebagai Hua Kiat, pengganti anak mereka yang mereka berikan pada Tok-sim Sian-li! Tapi, karena wanita cantik itu akhirnya tewas di markas Gelang Berdarah, maka dia lalu meminta Pendekar Gurun Neraka mencari anak itu, meninggalkan sepucuk surat yang isinya adalah menceritakan tentang rahasia yang mereka sembunyikan itu.
Rahasia bahwa Ceng Liong adalah Hun Kiat, sedang Hun Kiat adalah Ceng Liong! Dan Pendekar Gurun Neraka, yang tentu saja tertegun oleh cerita wanita itu dalam isi suratnya, jadi terkejut dan terbelalak. Dia waktu itu tak dapat segera mencari. Maklum, saat itu ketua Gelang Berdarah sedang membuat kekacauan. Dan baru setelah lewat satu tahun, dia lalu ke pantai Po-hai, mencari anak yang ditunjuk dalam surat bekas selir raja itu.
Namun sial, si bocah ternyata sudah diambil orang lain. Seorang pelayan mengambil anak laki-laki itu sebagai keluarganya. Dan ketika dia mencari pelayan ini, ternyata sang pelayan baru saja tewas di laut ketika perahunya terbalik. Pendekar Gurun Neraka kehilangan jejak. Dia tak tahu dimana anak itu berada. Dan setelah dua bulan dia mencari tanpa hasil, akhirnya pendekar ini putus asa dan kembali ke Ta-pesan. Lemas karena tak dapat memenuhi permintaan wanita cantik itu.
Yang bagaimanapun juga harus dikasihani dan mendapat nasib buruk. Maka, ketika Cheng Bi membaca surat itu, segeralah dia tahu mengapa bocah yang datang bersama Tom Sim Sian-li itu tidak diakui suaminya. Tapi malah terhuyung dan tampak terpukul begitu melihat Bu-beng-siauw-cut itu yang mengakui siapa nama ibunya! Tak pelak, Pendekar Gurun Neraka tertegun, dan ketika bocah itu melarikan diri dari tempat mereka dan lenyap tak dapat dikejar, pendekar muda ini tiba-tiba saja lunglai.
Pendekar Gurun Neraka memang kaget sekali. Dia tak menyangka bahwa bocah yang dulu dicari-cari namun gagal itu tahu-tahu datang ke rumahnya, mengamuk, dan hendak membalas dendam atas kematian ayah-ibunya. Dan maklum bahwa bocah itu salah faham dengan apa yang terjadi, keruan pendekar ini tak nyaman. Dia melihat kekerasan hati anak itu, kemauan membaja seperti yang ada pada dirinya sendiri.
Dan maklum bahwa anak itu akan dapat mengganggu ketentraman hidupnya bila tidak cepat-cepat diatasi, segeralah pendekar ini menjadi khawatir. Dia cemas dan gelisah apabila anak itu kelak membuat onar, akibat dari salah paham yang tidak segera dijelaskan. Dan membayangkan anak yang keras hati itu mengancam ketenangan hidupnya, tiba-tiba pendekar ini menjadi kecut. Bagaimanapun, watak dalam dirinya ada pada darah anak laki-laki itu. Watak yang keras dan pemberani. Watak yang kalau tidak mendapat 'pengarahan' yang sehat dapat membabi-buta dan membahayakan keselamatan orang lain, termasuk anak itu sendiri!
Dan membayangkan bocah ini bakal mengganggu ketenteraman hidupnya kalau tidak segera diatasi, tiba-tiba pendekar itu bangkit berdiri dan melompat bangun. Dan tepat saat itu, Pek Hong tiba-tiba muncul membuka pintu, "Yap-koko, kau akan kemana?" wanita ini bertanya kaget. "Aku akan mencari anak itu, Hong-moi. Aku akan menjelaskan segala kesalahpahaman ini dan menunjukkan surat ibunya!" "Ah, tapi dia tak ada di sini lagi, koko. Kenapa harus buru-buru begitu?" Pek Hong semakin terbelalak.
Tapi Pendekar Gurun Neraka mengerutkan kening. "Aku tak tenang, Hong-moi. Aku khawatir bocah itu kelak mencelakakan hidupku!" Pek Hong memeluk suaminya. "Tapi itu baru bayangan dirimu, koko. Bu-beng Siauw-cut kukira tak akan melangkah sejauh yang kaubayangkan!" "Hm, bagaimana kau bisa mengira begitu?" Pek Hong menarik napas. "Koko, anak itu kulihat memiliki kegagahan di samping keberanian. Kau tahu dia cukup gagah untuk menantangmu, bukan?" "Itulah. Belum memiliki kepanjangan saja anak itu telah berani menantangku, Hong-moi. Apalagi kalau dia memiliki kepandaian tinggi! Aku khawatir bocah itu jatuh ke tangan seorang sesat!"
"Tapi anak itu sudah dapat membedakan baik buruk, koko. Mana mungkin dia mau ikut orang jahat?" Sudahlah. Kautenangkan hati dan bersabarlah. Kalau dia benar-benar keturunanmu yang sejati, aku yakin anak itu tak akan mencelakakan ayah kandungnya, biar bagaimanapun juga!" Pendekar ini masih gelisah. "Tapi aku belum tenang, Hong-moi. Aku ingin mencari anak itu dan mengetahui siapa yang membawanya lari!" "Hm, kalau begitu baiklah. Aku ikut, koko. Aku akan membantumu sedapat yang bisa kulakukan!" Dan Pek Hong yang berdiri di samping suaminya sudah bersiap-siap meninggalkan kamar.
Tapi Ceng Bi tiba-tiba muncul. "Enci Hong, apa yang kalian ributkan?" Pek Hong tersenyum manis. "Yap-koko ingin mencari Bu-beng Siauw-cut, Bi-moi. Aku menyatakan ikut untuk bantu menolongnya." "Ah, kalian hendak meninggalkan rumah?" "Tidak lama, Bi-moi. Mungkin Yap-koko hanya ingin mencarinya di sekitar sini saja." "Hm, kalau begitu aku ikut, enci. Aku juga siap membantu kalian mencari bocah itu!" Pendekar Gurun Neraka terkejut. "Tapi rumah tak ada yang jaga, Bi-moi. Mana mungkin kita semua pergi bersama?" Nyonya muda itu tersenyum. "Koko, sepuluh tahun kita hidup di sini belum sekalipun seorang di antara kita meninggalkan yang lain. Bagaimana sekarang kalian hendak meninggalkan aku seorang diri di rumah?" Pendekar Gurun Neraka tertegun.
"Tapi... tapi anak-anak, Bi-moi... masa harus meninggalkan mereka sendirian di sini?" "Kita dapat membawa mereka serta, kalau kau cemas, koko. Aku akan menyuruh Bi Lan dan Sin Hong ikut sekalian." "Celaka!" sang suami jadi bingung. "Kenapa harus begitu, Bi-moi?" Tidak, kau harus tinggal di sini. Aku tak lama mencari anak itu!" Ceng Bi tiba-tiba terbelalak, pucat mukanya. Dan mengeluh lirih, nyonya muda ini tiba-tiba menutupi mukanya dan terisak. "Baiklah, aku akan menjaga anak-anak, koko... kau pergilah bersama enci Hong...!" Nyonya muda itu kecewa sekali, menangis, dan melompat pergi.
Namun Pek Hong yang terharu oleh kesedihan madunya ini tiba-tiba sudah menyambar lengan Ceng Bi. "Bi-moi, tak perlu kecewa. Kau boleh gantikan aku ikut suami kita!" Ceng Bi terkejut. "Tapi Yap-koko, enci, mana mungkin dia memperbolehkan begitu?" "Aku yang akan membujuknya, Bi-moi. Biarlah kau yang ikut Yap-koko dan aku menjaga anak-anak di rumah!" Dan belum Ceng Bi menolak atau membantah, Pek Hong sudah menghadapi suaminya itu. "Yap-koko, kau ajaklah Ceng Bi pergi bersama. Aku akan tinggal di sini menjaga Sin Hong dan Bi Lan!" Sang suami tertegun.
Dan Ceng Bi yang melihat suami mereka tak segera menjawab, sudal menarik lengannya dari pegangan Pek Hong. "Enci, Yap-koko tampaknya keberatan. Sudah lah, kau saja yang pergi, dan aku yang tinggal di rumah!" Tapi Pek Hong menolak. "Tidak, Bi-moi. Biar aku saja yang di rumah, dan kau bantulah Yap-koko mencari Bu-beng Siauw-cut!" Pendekar Gurun Neraka terjepit. Dia terang tak mau membuat dua orang isterinya kecewa. Maka melihat Pek Hong memberi kedipan padanya, tiba-tiba pendekar itu menarik napas dan mengangguk. "Baiklah, kau boleh ikut aku, Bi-moi. Tapi Sin Hong dan Bi Lan sebaiknya tak perlu tahu. Aku hanya sehari saja mencari anak itu, dan segera pulang kalau tidak berhasil!" Ceng Bi berseri mukanya. Ia kelihatan girang sekali, tapi melihat Pek Hong yang tersenyum, nyonya muda ini merangkul madunya dan menggeleng. "Ah, tidak. Aku akan menemani enci Hong, kalau begitu, Yap-koko. Kau pergilah sendiri, asal tidak lama!" "Lho, apa apaan ini, Bi-moi? Kenapa begitu?" "Aku tak sampai hati padamu, enci. Aku tak enak membiarkanmu sendirian melindungi Sin Hong dan Bi Lan." Pek Hong tertawa. "Bi-moi, kau lucu sekali. Kenapa berpikir seperti itu?" Sudahlah, aku menjaga di rumah, dan kau yang menemani suami kita. Kalian hanya sehari saja, bukan?"
Ceng Bi masih menolak. Tapi ketika Pek Hong mulai memandangnya marah, tiba-tiba nyonya muda itu memeluk madunya dan bicara terharu. "Enci, kau selalu baik padaku. Bagaimana harus membalas kebaikanmu ini?" "Baiklah, enci. Kau jaga baik-baik Sin Hong dan Bi Lan, ya?" "Aku akan menemani Yap-koko mencari anak itu." "Pergilah, Bi-moi. Aku akan menunggu kalian di sini sampai esok!" Pek Hong tersenyum. Maka Pendekar Gurun Neraka yang tak dapat membantah kehendak dua orang isterinya itu lalu menarik lengan Ceng Bi dan mengajaknya pergi.