Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 130

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 130

"Keparat, kau hebat, bocah! Tapi kau tak dapat merobohkan aku!" Pek-kwi mulai memekik.

Dia marah dan terbelalak melihat pukulan Pek-see-ciangnya tak berdaya menghadapi Sin Hong. Pukulan itu selalu membalik dan runtuh ke tanah saat bertemu hawa yang melindungi Sin Hong. Ketika Sin Hong semakin mendesak dan ganti menekan, tahu-tahu Pek-kwi sudah membelakangi tembok dan tak dapat mundur lagi.

Pek-kwi terkejut. Dia melotot, dan ketika Sin Hong membentak serta memutar lengan mendorong dadanya, tiba-tiba Pek-kwi berteriak dan menangkis.

"Plak!" dua lengan mereka bertemu.

Seketika itu juga Pek-kwi mengerahkan sinkangnya, Tok-see-kang (Tenaga Racun Putih). Sin Hong yang terbelalak memandang lawan tiba-tiba merasa hawa yang lembut panas merayap bagai semut di permukaan lengannya.

"Hong-ji, awas racun!" Sin Hong mengerutkan alis.

Dia memang merasa lengannya gatal, sementara lawan terkekeh dan menyeringai kepadanya. Namun, Sin Hong yang tahu bahwa lawan cukup berbahaya lalu membentak dan mengerahkan Jing-long-sinkang-nya, tenaga sakti yang dia dapat dari Bu-beng Siansu. Begitu Sin Hong menggetarkan lengan seraya mengibas, tiba-tiba Pek-kwi menjerit ketika terangkat naik dan terdorong menjebol tembok.

"Broll...!" Semua orang terbelalak.

Mereka melihat Pek-kwi berteriak dan terguling-guling, menggaruk lengan seperti kera yang kebingungan. Ketika iblis itu melompat bangun sambil memaki-maki, tampaklah lengannya yang putih itu sudah terkupas kulitnya dan mengeluarkan darah yang berwarna putih pula, kental, dan berbau busuk. Itu adalah darah dari pukulan Tok-see-kang yang membalik dan mengenai iblis itu sendiri.

Ang-kwi yang terkejut melihat saudaranya terluka oleh pukulan Racun Putih tiba-tiba berkelebat ke depan menyambar adiknya itu.

"Sute, telan obat ini. Kita pergi dulu...!" Ang-kwi menotok sutenya serta melempar sebutir obat untuk ditelan, lalu tiba-tiba melompat keluar dan lenyap sambil berseru pada tuan rumah, "Pendekar Gurun Neraka, besok kita bertemu lagi. Awas penghinaan kalian!"

Pendekar Gurun Neraka tak mencegah. Dia hanya menarik napas melihat kepergian dua kakek iblis itu. Namun, Sin Hong yang marah tiba-tiba mengejar, "Siang-mo ji-bin, kalian tak boleh pergi sebelum minta maaf. Hayo kembali!"

Akan tetapi, Ang-kwi dan Pek-kwi telah lenyap. Sin Hong hendak mengejar ke luar, namun ibunya yang berkelebat di belakangnya berseru, "Hong-ji, ayahmu tak membolehkan kau turun sendirian. Kembalilah!"

Sin Hong terpaksa kembali dengan mengepal tinju dan muka merah. Naga Bongkok yang tiba-tiba muncul di tempat itu juga menyuruh muridnya menghentikan pengejaran. Sin Hong terpaksa menekan kemarahan, dan mereka bertiga masuk kembali ke ruangan duka, disambut Pendekar Gurun Neraka yang mengerutkan kening.

"Hong-ji, kita berjaga-jaga saja. Sebaiknya kau kembali ke posmu dan biarkan kami di depan." Kiranya Sin Hong menjaga di belakang ketika tadi keributan dimulai.

Pendekar Gurun Neraka yang juga memandang Naga Bongkok lalu bertanya lirih, "Ada sesuatu yang mencurigakan di samping rumah, locianpwe?"

Naga Bongkok mengangguk. "Aku melihat bayangan merah di tempat yang kujaga, Pendekar Gurun Neraka. Kukira Iblis Penagih Jiwa itu!"

Pendekar Gurun Neraka tertegun. "So-beng?"

"Agaknya begitu." Naga Bongkok mengibaskan lengannya lalu berbisik, "Pendekar Gurun Neraka, tampaknya besok orang-orang jahat akan mengacau. Mungkin dalangnya Ang-kwi dan Pek-kwi itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengganggu kita!"

"Hm, kalau begitu bagaimana pendapatmu, locianpwe?"

"Sebaiknya malam ini kita tak usah beristirahat, Pendekar Gurun Neraka. Biar kita perketat kewaspadaan hingga pemakaman besok!"

Pendekar Gurun Neraka mengangguk. Lalu melihat puteranya belum juga mundur, dia menjadi heran. "Kau menyimpan pertanyaan, Hong-ji?"

Sin Hong ragu-ragu. "Ya. Kudengar Bu-beng Siauw-cut ke mari, Ayah. Betulkah itu?"

Pendekar Gurun Neraka tiba-tiba gelap mukanya. "Memang betul, Hong-ji. Tapi dia telah pergi. Pedang Medali Naga ada di tangannya!"

"Hm, dan dia membawa kemarahannya, Ayah?"

"Begitu yang kulihat. Kau pernah bertemu dengannya?"

"Ya, beberapa waktu yang lalu di luar Kota Raja."

Pendekar Gurun Neraka tertegun. "Dan kau belum menceritakannya kepadaku, Hong-ji?"

"Waktu kita sempit, Ayah. Biar besok saja setelah urusan pemakaman Kong-kong selesai."

Pendekar Gurun Neraka menarik napas. Dia jadi berdebar teringat akan anak itu, Bu-beng Siauw-cut atau Kun Houw atau Ceng Liong yang asli. Namun, karena maklum bahwa Sin Hong memang belum ada waktu untuk bicara banyak akibat kematian Ciok-thouw Taihiap yang tiba-tiba, pendekar ini pun mengangguk dan menggerakkan tangannya.

"Baiklah, kita bicara setelah semuanya selesai, Hong-ji. Sekarang mari kita kembali dan menjaga di tempatnya masing-masing. Awas, hati-hati terhadap musuh yang menyelinap!"

Pendekar Gurun Neraka masuk ke dalam menjaga peti mati, disusul Sin Hong yang melompat ke belakang, sementara Naga Bongkok menjaga di samping rumah. Begitu semua orang kembali pada tempatnya, ketenangan suasana pulih kembali.

Malam itu tak terjadi sesuatu. Dua peti tetap berjajar dengan tenang, menerima tamu-tamu yang semakin membanjir memenuhi ruangan di mana jenazah Ciok-thouw Taihiap dan Cui Ang terbaring.

Keesokan harinya, ketika upacara akan dimulai dan markas besar Beng-san-pai penuh sesak oleh ratusan orang yang siap mengantar dua peti jenazah, tiba-tiba serombongan orang muncul. Rombongan itu terdiri dari sepasukan kerajaan yang datang berkuda, dipimpin dua orang gadis cantik yang berpakaian biru dan hijau. Sepasang gadis kembar yang tiba-tiba menarik perhatian semua mata karena kecantikan dan kemiripannya.

Begitu mereka tiba di luar markas, seorang di antara mereka yang berpakaian panglima mengibarkan bendera dan membungkuk hormat menghadap Pendekar Gurun Neraka dan keluarganya.

"Pendekar Gurun Neraka, kami dari istana diutus oleh Sri Baginda untuk menyampaikan bela sungkawa atas kematian Ciok-thouw Taihiap Souw Ki Beng. Semoga kedatangan kami tidak mengejutkan keluargamu karena memang kami tidak diundang!"

Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia melihat mereka mengeluarkan bunga yang dihias membentuk hati, besar dan warna-warni setinggi dua meter. Pendekar Gurun Neraka tertegun dan tak segera melangkah, merasa heran dan kaget oleh utusan Sri Baginda itu.

Sementara dia bengong, sepasang gadis kembar yang berdiri di sebelah kiri panglima itu bertanya nyaring, "Pendekar Gurun Neraka, apakah kami tak dapat kau terima hingga harus kembali melaporkannya kepada Sri Baginda?"

Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia mendengar nada yang menyembunyikan ancaman di balik seruan nyaring itu—kata-kata yang membawa nama Kaisar! Dia segera maju dan membalas hormat panglima itu, memberi isyarat agar Bi Lan menerima bunga.

"Ciangkun, maafkan kami. Kami memang terkejut atas kedatangan kalian. Tak menyangka sama sekali bahwa Sri Baginda menaruh perhatian demikian besar kepada kami yang jauh dari Kota Raja! Maaf... maaf...!"

Pendekar Gurun Neraka terpaksa menyambut tamu dengan sikap sebaik mungkin, lalu mengharap panglima itu menyerahkan bunga pada puterinya. Namun, panglima ini mengerutkan kening dan tidak puas memandang tuan rumah.

"Pendekar Gurun Neraka, Sri Baginda menghendaki persembahan ini kau terima dengan tangan sendiri. Tidak pantaskah persembahan kami hingga orang lain yang harus kau suruh untuk menerimanya?"

Pendekar Gurun Neraka terbelalak. "Dia puteriku sendiri, Ciangkun. Bukan orang lain."

"Benar, tapi betapa pun Sri Baginda kurang hormat bila bukan tanganmu sendiri yang menerima, Pendekar Gurun Neraka. Ataukah kedudukan Sri Baginda kurang tinggi bagimu?"

Pendekar Gurun Neraka tertegun. Dia merasa enggan menerima karangan bunga itu, ucapan bela sungkawa dari Pangeran Fu Chai, musuh dari Kerajaan Yueh yang memimpin orang-orang Hohan-hwe!

Tiba-tiba Bi Lan melompat maju. "Orang-orang tengik, kenapa kalian banyak tingkah di tempat ini? Bukankah tak perlu Ayah menerima sendiri bila mempunyai wakil? Aku, Bi Lan, juga cukup berharga untuk menerima persembahan Kaisar. Tak perlu cerewet!"

Bi Lan menyambar karangan bunga itu dengan kasar. Namun, gadis berbaju biru tiba-tiba membentak. Dia berkelebat dan langsung menyambar bunga di tangan Bi Lan. Bi Lan yang terbelalak oleh gerakan cepat itu segera menangkis dan memiringkan tubuhnya untuk melindungi bunga.

"Plak!"

Bi Lan tergelar dan terdorong mundur, merasa sinkang lawan kuat sekali dan agaknya seimbang. Namun, belum sempat dia membalas, kaki gadis berbaju biru itu telah menendang lengan kirinya yang membawa bunga hingga terlepas kembali ke tangan si panglima.

"Kwik-ciangkun, terima...!"

Panglima itu menyambar kembali karangan bunganya sambil tertawa lebar. Bi Lan yang marah melengking dan menggerakkan tangannya menampar. "Siluman betina, kau tak tahu malu...!"

Gadis berbaju biru menangkis. Dia menjengekkan hidung melihat balasan Bi Lan, lalu mengerahkan sinkang dan mengadu lengan dengan Bi Lan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment