Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 131

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 131

"Dukk!" Kedua-duanya kini terdorong mundur. Baik Bi Lan maupun lawannya sama-sama terbelalak, masing-masing melotot dan tampaknya marah.

Namun, Pendekar Gurun Neraka yang mengibas lengannya sudah maju ke tengah memisahkan mereka.

"Lan-ji, minggir...!" Gadis baju biru mencoba bertahan.

Ia menentang arus tenaga Pendekar Gurun Neraka yang lembut tapi dahsyat mendorongnya.

Ketika ia tak mampu bertahan dan Pendekar Gurun Neraka tersenyum kepadanya, mendadak gadis ini terhuyung dan hampir terjengkang roboh!

"Pendekar Gurun Neraka, kau mau membantu putrimu?" Pendekar ini menghela napas.

"Aku tak membantu siapa-siapa, Nona. Justru menegur putriku sendiri yang kurang menghormati tamu. Maaf, siapa kau?" Gadis baju hijau berkelebat maju.

"Kami kakak-beradik Kui Hoa dan Kui Lin, Pendekar Gurun Neraka. Kami pengawal istana di bagian kaputren!" "Oh, dan guru kalian?" "Kami orang marga Ok. Ayah atau guru kami adalah Ok Kui Lun!" Pendekar Gurun Neraka terkejut.

Seketika senyumnya lenyap, tergantikan kerut yang dalam di keningnya.

Belum sempat dia mengeluarkan suara, tiba-tiba gadis baju hijau yang tak lain adalah Kui Hoa berseru nyaring, "Bagaimana, Pendekar Gurun Neraka? Tak dapatkah kau menerima permintaan Kwik Ciangkun?" Ceng Bi melompat.

"Biar aku yang menerimanya, Yap-koko!" Namun, Kui Hoa menghadang.

"Tidak. Kami hanya mengharap persembahan Sri Baginda diterima Pendekar Gurun Neraka, Hujin. Atau kami kembali dan melapor penolakan ini pada Sri Baginda!" Ceng Bi melotot.

Dia tahu kesukaran suaminya.

Namun, Pendekar Gurun Neraka yang tak mau ribut-ribut pada awal upacara tiba-tiba melangkah maju dan berkata, "Baiklah, aku menerimanya, Nona. Tapi kuharap tak ada hal-hal yang tersembunyi di balik pernyataan belasungkawa ini," dan Pendekar Gurun Neraka yang sudah menyambar bunga di tangan Kwik Ciangkun tiba-tiba melemparkannya pada Bi Lan.

"Lan-ji, terima...!" Bi Lan menangkapnya.

Sekarang tak ada persoalan lain di antara mereka, namun Kui Hoa yang mengeluarkan sebuah "hu" (surat jimat) dari istana tiba-tiba menuding seseorang.

"Pendekar Gurun Neraka, benarkah orang itu Fan Ciangkun?" Pendekar ini tertegun.

"Benar. Ada apa, Nona?" "Kami hendak menangkapnya, Pendekar Gurun Neraka. Setelah menghormati selesainya pemakaman mertuamu!" "Ah!" Pendekar Gurun Neraka terbelalak.

"Apa alasanmu menangkap Fan Ciangkun, Nona?" "Karena Sri Baginda mendengar dia memimpin kaum pemberontak, Pendekar Gurun Neraka. Dan sebagai bukti akan semuanya ini, bacalah surat Sri Baginda!" Kui Hoa melempar "hu" atau surat jimat itu, dan Pendekar Gurun Neraka yang menerimanya dengan tangan gemetar tiba-tiba merah mukanya dan marah.

"Nona, apa sebenarnya maksud kedatanganmu ini? Hendak menyatakan belasungkawa atau membuat keributan?" "Aku mewakili Sri Baginda untuk menyatakan belasungkawa, Pendekar Gurun Neraka. Tapi melihat seorang pemberontak di sini, terpaksa aku minta tolong padamu untuk menangkap orang yang kumaksudkan itu!" Pendekar ini menggigil.

Sekarang dia tahu apa kiranya yang tersembunyi di balik kedatangan orang-orang istana ini. Maklum, kesempatan itu sengaja dipergunakan musuh untuk menyulitkan keadaannya. Tentu segera disusul kemudian dengan "keinginan-keinginan" lain, yang menyudutkan dia dan semakin mendesaknya dalam posisi yang buruk!

Dan sementara dia menahan marah serta terbelalak gusar, tiba-tiba gadis baju hijau itu sudah mengangkat lengannya, memberi isyarat pada panglima di sebelah, "Kwik Ciangkun, tolong kau keluarkan pula surat-surat Sri Baginda untuk mencari pemberontak-pemberontak lain yang mungkin ada di sini. Sebutkan namanya!" Panglima Kwik mengangguk.

Dia sudah mengeluarkan sebuah daftar isian yang panjangnya dua kaki. Dan membuka gulungan kertas ini di hadapan Pendekar Gurun Neraka, dia berkata, "Pendekar Gurun Neraka, maafkan kami bila ada sesuatu yang tidak berkenan di hatimu. Sri Baginda percaya bahwa kau adalah sahabat, terbukti dari karangan bunga yang sudah kau terima baik-baik. Dan karena Ok Siocia menyuruh untuk membacakan surat ini, biarlah kita sama-sama mendengar siapa saja nama-nama pemberontak yang dikehendaki Baginda!" Lalu melirik ke sana kemari dengan pongah, panglima ini mulai membaca, "Pertama," dia berseru nyaring, "adalah Fan Ciangkun yang tidak berbakti lagi kepada negara! Kedua, Bu Wi Hosiang dari Bu Tong Pai. Ketiga, Thian Kong Cinjin dari Kong Thong Pai, dan keempat serta kelima adalah Yap Sin Hong serta Yap Bi Lan!" Semua orang kaget bukan main.

Itulah penyebutan nama-nama tokoh Ho Han Hwe, terutama Fan Ciangkun dan Bu Wi Hosiang serta Thian Kong Cinjin! Sedangkan Bi Lan dan Sin Hong yang terbelalak mendengar nama mereka disebut-sebut mendadak melompat maju dengan sikap marah.

"Orang marga Kwik, atas dasar tuduhan apa nama kami disebut-sebut dalam daftar pemberontak?" Panglima itu tersenyum mengejek.

"Untukmu karena peristiwa di kota Ye Kiang, Nona. Bahwa kau telah membunuh komandan Lao dan beberapa orang anak buahnya untuk urusan keluarga Yu! Sedangkan kau..." dia menuding Sin Hong. "Silakan tanya pada Ok Siocia untuk peristiwa di kota raja!" Sin Hong melotot.

Dia melihat gadis baju biru yang tak lain adalah Kui Lin berkelebat maju, langsung berhadapan dan membuat dia terkejut. Begitu mereka sudah beradu pandang dan masing-masing saling berhadapan, maka Sin Hong mendengar seruan nyaring gadis itu, "Yap Sin Hong, kau telah mengacau di istana beberapa waktu yang lalu. Kau membuat onar dan menculik seseorang di kaputren! Tidak mengakukah kau?" "Bohong!" Sin Hong terkejut.

"Aku tidak pernah ke istana dan menculik di kaputren, Nona. Itu fitnah dan bohong belaka!" "Tapi seseorang menjadi saksi di sini, Yap Sin Hong. Dan orang itu adalah orang yang justru kau culik!" Sin Hong marah.

"Mana dia?" "Aku!" Kui Hoa tiba-tiba berkata nyaring, melompat maju dan berdiri di sebelah kanan adiknya. Dan Sin Hong yang tertegun melihat gadis ini tiba-tiba terhenyak dan menggigil. "Nona, kau tak tahu berterima kasih dan justru sekarang hendak memfitnah aku? Bukankah kau..." "Ya, aku yang kau culik itu, Sin Hong!" Kui Hoa memotong.

"Dan sebagai saksi, masih ada seseorang yang ingin kupanggil. Lihat...!" Kui Hoa yang bersiul nyaring dengan bibir melancip, tahu-tahu membuat semua orang terkejut ketika dari bawah muncul sebuah bayangan merah yang tertawa bergelak.

"Kui Hoa, kau memanggil aku?" Semua mata terbelalak.

Mereka melihat bayangan itu mendaki dengan luar biasa cepat, kakinya tak menyentuh tanah dan seolah terbang mendekati puncak. Begitu tiba di atas dan semua orang melihat jelas, mendadak teriakan kaget terdengar di sana-sini.

"So-beng...!" Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia melihat bahwa betul Iblis Penagih Jiwa itu yang datang. Muncul dan amat berani sekali mendatangi markas Beng San-pai! Pek Hong yang teringat kematian gurunya di tangan iblis ini mendadak berseru keras menerjang ke depan, langsung membacokkan pedang ke leher lawannya itu.

"So-beng, kau pembunuh keji. Bayar utang guruku... sing!" Pedang Pek Hong yang sudah bertubi-tubi membacok dan menusuk tiba-tiba ditampar Iblis Penagih Jiwa ini.

"Pletak!" Pek Hong menjerit. Ia melihat pedangnya patah, mendengar iblis itu tertawa dan mengejeknya. Namun, Pek Hong yang kalap dan tak memedulikan semuanya lalu kembali menerjang dengan pedang yang buntung. Bertubi-tubi menusuk dan melancarkan serangan. Namun, ketika lawan menangkis dan kali ini pedang buntung di tangan Pek Hong mencelat terlempar, barulah Pendekar Gurun Neraka berkelebat maju menahan istrinya itu.

"Hong-moi, tahan..." So-beng tertawa pendek.

Dua jago itu kini berhadapan. Pendekar Gurun Neraka dengan alis terangkat, sedangkan So-beng dengan sikap acuh tak acuh sama sekali tak menghiraukan ratusan mata yang terbelalak memandangnya. Tak dapat menembus topeng merah di balik wajah iblis pembunuh ini. Pendekar Gurun Neraka yang pertama kali berhadapan langsung dengan Iblis Penagih Jiwa ini tiba-tiba tergetar dan kaget melihat sinar mata orang yang luar biasa tajam, berkilat penuh tenaga sakti. Tanda memiliki sinkang yang hebat dengan bukti patahnya pedang istrinya di tangan Iblis Penagih Jiwa itu.

Namun, Pendekar Gurun Neraka yang marah teringat kematian Ta Blok Hwesio tiba-tiba membentak dingin dengan pertanyaan tak senang, "So-beng, betulkah kau yang membunuh guru istriku?" So-beng tertawa.

"Tak kusangkal, Pendekar Gurun Neraka, dan aku juga akan membunuh orang-orang pemberontak bila mereka tak mau menyerah baik-baik." "Hm, dan kedatanganmu sekarang apakah melindungi orang-orang istana ini?" "Ha ha, aku datang karena aku dipanggil keponakanku, Pendekar Gurun Neraka. Dan karena kebetulan Sri Baginda mempercayakan aku untuk mendampingi rombongan Kwik Ciangkun ini, maka pertanyaanmu benar. Aku datang untuk membantu bila ada pemberontak-pemberontak tak mau menghadap Sri Baginda dengan cara baik-baik!" "Bagus!" Bi Lan tiba-tiba melengking, "Kalau begitu boleh kau tangkap aku, Iblis Penagih Jiwa. Aku orang pertama yang menolak keinginan Kaisar!" Lalu menyerang dengan tamparan Tong Tee Kun (Pukulan Mengguncang Bumi), tiba-tiba Bi Lan berkelebat menghantam lawannya ini.

"Dess!" So-beng tak mengelak. Dia sengaja menerima serangan itu, tak menangkis. Namun, ketika tubuhnya tergetar dan kakinya tergeser setengah langkah, dia pun mendengus dan melompat ke kiri.

"Pendekar Gurun Neraka, sebaiknya kupanggil anakmu ini. Kalau tidak, kukhawatir ia roboh dengan cara menyakitkan." Pendekar Gurun Neraka tak menjawab. Dia membiarkan Bi Lan menyerang, cukup percaya dan sekaligus ingin melihat kepandaian Iblis Penagih Jiwa itu. So-beng yang menggeram melihat lawan kembali menerjang dan rupanya dibiarkan saja oleh orang tuanya tiba-tiba menangkis ketika Bi Lan melancarkan pukulan kedua.

"Bocah, robohlah!" Bi Lan melancarkan Tong Tee Kun-nya lagi. Dia girang bahwa lawan tergetar, bagaimanapun tak dapat begitu saja menerima tanpa menangkis. Namun, ketika So-beng bergerak dan kini membentak ke arahnya, tiba-tiba Bi Lan kaget ketika merasa kesiur angin dahsyat menahan pukulannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment