Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 132

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 132

"Plak!" Bi Lan terdorong. Ia hampir terjengkang oleh kibasan So-beng yang kuat, yang menahan sekaligus mendorong balik pukulan *Tong-tee-kun*-nya. Sambil berjungkir balik dan berteriak marah, tiba-tiba Bi Lan melontarkan tendangan dan memainkan *Cap-jiu-kun* (Silat Sepuluh Kepalan), bertubi-tubi menyerang dan menggempur lawan dengan dahsyat.

Namun, ketika pukulannya lagi-lagi membentur hawa tak tampak yang selalu mementalkan serangannya ke arah diri sendiri, mendadak Bi Lan melengking dan memainkan *Tee-san-ciang* (Silat Menggempur Gunung).

"So-beng, aku akan merobohkanmu!"

Iblis Penagih Jiwa itu tersenyum. Ia melihat lawannya berkelebat lenyap, lalu mengganti pukulan dan serangan dengan penuh nafsu dan beringas untuk merobohkannya. Sambil tertawa dan mulai mendorong-dorongkan kedua lengannya, mendadak iblis ini berkata sekali lagi, "Nona, aku yang akan merobohkanmu!"

Ketika tangannya mulai menangkis dan membalas, tiba-tiba Bi Lan terdesak dan mundur, terhalang oleh tembok hawa yang luar biasa kuat.

"Ah!" Bi Lan marah. Ia mencoba mendobrak sambil memekik, masih menerjang dengan bermacam-macam pukulan. Namun, ketika nyata-nyata *sinkang*-nya kalah kuat dari *sinkang* lawan dan ia mulai terdesak hebat, tiba-tiba sebuah totokan mengenai pundaknya dan Bi Lan pun roboh.

"Bluk!" Bi Lan terbanting. Ia tak dapat bergerak lagi, lemas di atas tanah. Kwik-ciangkun melompat maju untuk menangkap gadis itu. Ia mengeluarkan tali dan mengikat Bi Lan sambil tertawa.

"Nona, kau tak dapat melawan kami, orang-orang istana!"

Tiba-tiba sebatang pedang berkelebat menyambar. Ceng Bi membentak dan menyerang panglima itu untuk menolong putrinya. Begitu pedang menyambar dua kali ke arah tangan panglima itu, tali tersebut tiba-tiba putus dibabat.

"Tas-tas!"

Panglima Kwik terkejut. Ia menyelamatkan tangannya dengan menggulingkan tubuh sambil berteriak kaget. Ketika melompat bangun dengan mata terbelalak, ia melihat wanita berusia empat puluhan itu berdiri dengan penuh amarah di depan putrinya. Ceng Bi telah membebaskan totokan Bi Lan sambil membentak marah, "Siapa berani mengganggu putriku?"

Kwik-ciangkun mengkeret. Ia jelas tidak berani banyak bicara karena yang diandalkannya hanyalah Kui Hoa, So-beng, serta Kui Lin. Semua orang yang sejenak tertegun oleh bentakan wanita gagah ini tiba-tiba melihat Kui Hoa mengibaskan bendera.

"Paman, apakah daftar pemberontak akan ditambah seorang lagi?" tanya Kui Hoa.

So-beng tampak gugup. Ia rupanya terkejut oleh sorot mata Ceng Bi yang berapi-api, memandangnya dan menantangnya dengan gagah. Wanita itu tidak gentar sedikit pun dan rupanya siap bertempur mati-matian membela anaknya. So-beng yang mundur karena tatapan mata istri Pendekar Gurun Neraka itu tiba-tiba mengeluh, "Hujin, jangan membantu orang bersalah. Kami tidak bermaksud menumpahkan darah di tempat ini!"

"Keparat! Siapa yang membantu orang bersalah, So-beng? Bi Lan adalah putriku. Aku akan melawan siapa saja yang mengganggunya!"

Pendekar Gurun Neraka mendekati istrinya. "Bi-moi, mundurlah. Biarkan aku yang menyelesaikan ini!"

Namun, Sin Hong berseru mencegah, "Tidak, biar aku yang maju, Ayah. So-beng juga sudah pernah berkenalan denganku!"

Han Ki dan Han Bu yang melompat maju pun turut berseru, "Benar, sebaiknya kami yang muda-muda yang mengusir orang-orang jahat ini, Paman. Biar kalian berdua menonton dari pinggir saja!"

So-beng, yang tahu-tahu sudah dikepung di kiri dan kanan oleh ketiga pemuda itu, tertawa bergelak dan memandang Kui Hoa. "Bagaimana, Kui Hoa? Perlukah kalian menonton aku dikeroyok? Lihat, keturunan Pendekar Gurun Neraka ini demikian gagah. Mereka siap mengeroyok, tiga lawan satu!"

Sin Hong membentak, "Aku tidak akan mengeroyokmu, Iblis Penagih Jiwa. Kami hanya menjagamu agar tidak melarikan diri!" Lalu, sambil memberi isyarat kepada Han Ki dan adiknya, Sin Hong berkata, "Han Ki, sebaiknya kalian minggir dulu. Biarkan So-beng menjadi lawanku!"

Han Ki mengangguk. Bersama adiknya, ia melompat mundur. Mereka tetap berada tidak jauh, mengelilingi Iblis Penagih Jiwa itu untuk berjaga-jaga agar ia tidak melarikan diri. Namun, Kui Hoa yang rupanya memimpin rombongan itu mengernyitkan kening. Ia tiba-tiba melompat ke depan dan mengambil sebuah panah api.

"Pendekar Gurun Neraka, kau sebagai pemimpin di tempat ini sebaiknya tidak perlu melawan. Kami hanya pelaksana tugas, pengemban perintah, dan mohon kebijaksanaanmu untuk menyerahkan orang-orang yang masuk dalam daftar pemberontak. Tidak bisakah kau mengatur orang-orangmu? Kami hanya ingin membawa mereka, tidak membunuh atau melukai orang-orang yang dikehendaki Sri Baginda. Bila kau dapat mengambil kebijaksanaan dengan cerdik, kami akan berterima kasih sekali. Tapi kalau tidak, maaf, tiga ribu pasukan khusus yang bersembunyi terpaksa akan datang ke mari dan menangkap dengan jalan kekerasan. Lihat!"

Kui Hoa meluncurkan panah apinya ke udara yang kemudian meledak memercikkan kembang api warna-warni. Tiba-tiba, letusan itu disambut suara gemuruh di kaki gunung. Ribuan orang muncul bagaikan hantu dari balik kubur, disusul ringkikan kuda yang gaduh. Semua mata terbelalak melihat kejadian itu. Mereka memaki So-beng yang dianggap sebagai biang keladinya, terutama tokoh-tokoh tingkat atas yang maklum bahwa ini semua tentu hasil kecerdikan Iblis Penagih Jiwa tersebut—yang memang sudah diketahui sebagai antek Pangeran Fu Chai. Pantas saja ia berani datang!

Pendekar Gurun Neraka yang tertegun melihat musuh telah mengepung kaki gunung pun mengepalkan tinjunya dengan marah.

"Bagaimana, Pendekar Gurun Neraka? Masihkah kami harus menunggu keputusanmu?"

Pendekar Gurun Neraka menggeram. Ia sekarang berada dalam posisi yang sulit. Membantu musuh berarti mengkhianati keluarga dan sahabat sendiri, sedangkan melawan berarti dianggap sebagai pemberontak—hal yang belum ia sukai saat itu karena gerakan bawah tanah mereka masih harus dilakukan secara diam-diam. Apalagi, melawan berarti melibatkan ratusan tamu yang mungkin akan menjadi korban.

Di tengah kebingungan menghadapi dua pilihan yang sama-sama tidak menguntungkan ini, mendadak Fan-ciangkun, sebagai orang tertuduh pertama, melompat maju dan berseru dengan gagah, "Yap Twako, ini adalah urusan pribadi. Jika Sri Baginda mengira aku adalah pemberontak, biarlah bukti-buktinya kutuntut di istana. Aku menyerah!"

Semua orang terkejut. Mereka terbelalak kagum akan kegagahan panglima yang berpakaian biasa itu, yang tidak takut akan ancaman lawan. Sebelum Pendekar Gurun Neraka sempat menjawab atau menolak, tiba-tiba Bu Wi Hosiang, yang sejak tadi terdiam di rombongan tamu, menyeruak maju sambil mengebutkan jubahnya.

"Omitohud, Pinceng juga menyerah mengikuti jejak Fan-ciangkun. Pendekar Gurun Neraka, agaknya ada sesuatu yang tidak beres di istana. Pinceng pun akan menuntut bukti-buktinya!"

Sedetik setelah seruan ketua Bu-tong itu, mendadak Thian Kong Cinjin yang berada di rombongan para tosu juga berkelebat ke depan sambil menghentakkan tongkatnya. "Bagus, Pinto juga menyerah. Pendekar Gurun Neraka, Pinto juga siap menuntut bukti-bukti di istana jika Pinto dituduh sebagai pemberontak!"

Dengan mengerahkan ilmunya, *Coan-im jip-bit* (ilmu mengirim suara jarak jauh), ketua Kong-thong-pai ini berbisik, "Pendekar Gurun Neraka, kami bertiga telah saling memberi isyarat untuk menyerah. Ini kami lakukan untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di antara tamu-tamumu!"

Sementara Pendekar Gurun Neraka tertegun oleh bisikan Thian Kong Cinjin, Bu Wi Hosiang juga mengirimkan pesan melalui ilmu yang sama, "Yap Sicu, kami sepakat mengikuti orang-orang ini ke kota raja. Selain untuk menyelamatkan orang-orang tidak berdosa di tempat ini, hal ini juga dilakukan agar tidak mengganggu upacara pemakaman Ciok-thouw Taihiap. Lakukanlah tugasmu dan jangan khawatir tentang nasib kami bertiga!"

Pendekar Gurun Neraka tak dapat berkata-kata. Ia memandang ketiga sahabatnya itu—tamu sekaligus tokoh-tokoh Ho-han-hwe yang ia pimpin. Di saat ia masih mengerutkan kening, mendadak Sin Hong dan Bi Lan yang tadi menentang keras tiba-tiba tampil ke depan.

"Ayah, kami menghargai keputusan yang diambil Bu Wi Losuhu dan teman-temannya. Memang benar, jika kami tidak bersalah, untuk apa harus takut? Aku dan Bi Lan siap menyertai orang-orang ini, asal tidak diperlakukan secara hina atau diborgol!"

Sin Hong kemudian membisikkan *Coan-im jip-bit* kepada ayahnya, "Kami mendapat isyarat untuk pura-pura menyerah, Ayah. Bu Wi Losuhu telah memintaku untuk mengikuti mereka. Namun, kami akan memberontak dan meloloskan diri di tengah jalan!"

Pendekar Gurun Neraka menarik napas panjang. Sekarang ia mengerti apa yang direncanakan teman-temannya, terutama Fan-ciangkun yang memahami kesulitannya. Mereka tidak ingin upacara pemakaman hancur dan ingin menghormati arwah Ciok-thouw Taihiap. Sadar bahwa telah terjalin "komunikasi" rahasia di antara mereka, pendekar ini akhirnya tertawa pahit dan melangkah maju dua tindak.

"Nona, kiranya orang-orang yang kau kehendaki semuanya telah siap. Karena mereka menyerahkan diri dengan sukarela, silakan ambil tindakan sebagaimana mestinya. Namun, mereka tidak mau diborgol!"

"Hm, kami memang tidak akan memborgol mereka, Pendekar Gurun Neraka. Tapi kami juga tidak mau kehilangan mereka. Mereka harus tunduk dan tidak boleh melarikan diri!"

Sambil mengibaskan benderanya dan berkelebat maju, Kui Hoa tiba-tiba menotok Sin Hong dan teman-temannya.

"Tuk-tuk-tuk...!"

Sin Hong terbelalak. Ia tidak mengelak dari totokan itu karena ingin menguji sampai di mana kekuatan Kui Hoa, seraya tertawa di dalam hati karena yakin bisa membebaskan diri. Namun, tepat saat Kui Hoa melakukan totokannya dan tak ada seorang pun yang mengelak karena berpikiran sama dengan Sin Hong, mendadak lima sinar hitam menyambar jalan darah mereka, persis di titik di mana Kui Hoa baru saja mendaratkan totokannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment