Chapter 133
Semacam totokan ulang yang membuat mereka tiba-tiba roboh dan kaget oleh sinar hitam yang hebat bukan main. Lima butir batu yang baru ditendangkan So-beng lewat ujung jari kakinya! Sin Hong yang terbelalak marah oleh serangan gelap itu mendengar So-beng tertawa.
"Heh heh, kalian benar-benar harus dibuat tak berkutik, anak muda. Kami tak mau dibuat repot kalau kalian lolos!" Sin Hong sadar. Sekarang dia dan teman-temannya tahu siapa kiranya yang bermain gila melempar batu-batu hitam itu, batu kecil yang menotok jalan darah kelumpuhan di lutut mereka, yang membuat mereka roboh dan tak berdaya di atas tanah.
Karena mereka telah berjanji untuk menyerah dan lawan tidak menyakiti mereka selain melumpuhkan, maka Sin Hong dan teman-temannya tak memberontak. Mereka hanya melotot. Namun, Ceng Bi serta Pek Hong yang melihat anak-anak mereka ditangkap tiba-tiba melompat ke depan dengan senjata terhunus.
"So-beng, aku tak akan membiarkan kalian menangkap putra-putriku. Mereka harus dibebaskan!" Pek Hong juga mendentingkan rantai peraknya. "Benar, aku tak akan membiarkan kalian membawa mereka, Kui Hoa-niocu. Sin Hong dan Bi Lan bukan anak yang boleh kalian bawa selama orang tuanya masih hidup!" Pek Hong yang beringas memandang Iblis Penagih Jiwa itu, siap mempertaruhkan nyawa dengan berdiri tegak di depan anaknya.
Pendekar Gurun Neraka terkejut. Semua orang kaget, dan keadaan yang tiba-tiba menjadi tegang oleh majunya dua wanita gagah ini seketika menjadi ribut dan gaduh. Namun, Pendekar Gurun Neraka melompat maju, menyambar dua lengan istrinya, dan berseru, "Hong-moi, Bi-moi, mereka menyerahkan diri karena merasa tak bersalah. Sebaiknya kita biarkan dan tak perlu khawatir akan nasib mereka!"
Ceng Bi membanting kaki. "Aku tak mau melepas anak-anakku, Yap-koko. Sin Hong dan Bi Lan harus dibebaskan!"
"Benar, dan aku heran atas sikapmu, Yap-koko. Kenapa membiarkan anak sendiri ditangkap musuh sementara kau sebagai ayahnya mendelong saja?" Pek Hong membentak, marah pada suaminya dan menghadapi pendekar itu dengan mata berapi-api.
Pendekar Gurun Neraka yang bingung oleh kemarahan dua istrinya lalu memberi isyarat. "Hong-moi, mereka menyerah karena ada sesuatu yang mereka rencanakan. Aku tidak bodoh untuk melepaskan anak-anakku di sarang harimau!"
Pek Hong tak mau mendengar bisikan itu. Ia terus meradang dan melepaskan diri, memutar rantai, dan siap menerjang maju dengan muka merah. Namun, persis saat dia berteriak untuk menyerang lawan, Sin Hong melepas ilmunya jarak jauh, "Ibu, apa yang dikata Ayah benar. Kami hanya memasang sikap pura-pura saja. Kami ingin menyelamatkan orang-orang lain yang ada di sini...!"
Bu Wi Hosiang yang juga berseru mempergunakan *coan-im-jip-bit*-nya menyambung lirih, "Tak perlu kau penasaran, Hujin. Kami memang pura-pura saja dan sedang memasang sikap. Dua anakmu tak mungkin celaka. Kami akan melindunginya!"
Sementara Pek Hong tertegun oleh dua seruan ini, Ceng Bi juga mendapat peringatan dari Thian Kong Cinjin, "Hujin, tak perlu marah-marah. Kami hanya ingin menyelamatkan tamu-tamu lain di sini dari keganasan So-beng. Mundurlah...!"
Ceng Bi terbelalak. Dia ragu, tapi ketika mendapat isyarat tosu itu dan melihat Pek Hong melompat mundur, akhirnya wanita ini membanting kakinya dan melompat pula, terisak menjauhi Sin Hong.
"So-beng, aku berharap kau tak mengganggu anak-anakku. Kalau tidak, bersumpah demi langit dan bumi aku akan mencari dan membunuhmu!"
So-beng tertawa serak, "Yang memperlakukan mereka baik atau buruk bukan aku, Hujin, melainkan Sri Baginda di istana."
"Tapi kau yang bertanggung jawab, So-beng. Aku hanya tahu padamu dan tidak kepada orang lain!"
"Boleh," jawab So-beng dengan sikap tenang dan acuh tak acuh. Kui Hoa yang memberi isyarat kepada adiknya untuk membawa lima orang tawanan itu sudah menghadap Pendekar Gurun Neraka. "Pendekar Gurun Neraka, urusan kami telah selesai. Maaf, kami tak dapat mengantar peti jenazah ke liang kuburnya!"
Pendekar Gurun Neraka mengangguk. Dia bersikap dingin, menindas kegelisahannya, diam-diam marah tapi merasa tak berdaya. Ketika Kui Hoa memutar tubuhnya untuk membawa lima orang tawanan itu, mendadak Siangbin muncul.
"Ha-ha, sebaiknya mereka kita bawa seorang demi seorang, Niocu. Aku dan adikku ini ingin membantu meringankan beban kalian. Sebaiknya putra-putri Pendekar Gurun Neraka itu kami yang membawa!"
Pendekar Gurun Neraka terkejut. Dia melihat Ang-kwi sudah menyambar Sin Hong, mendahului Kui Lin yang membawa lima orang tawanan itu. Belum sempat Kui Lin menolak atau menerima, tiba-tiba Pek-kwi menyambar Bi Lan!
"Heh-heh, biar yang ini kubawa, Niocu. Aku dapat menundukkannya kalau melawan!"
Namun, Kui Hoa sudah melompat maju. "Pek-kwi, gadis itu tak perlu kau bawa. Serahkan dia pada adikku!"
Pek-kwi terbelalak, "Tapi yang lain masih ada, Niocu. Masa..."
"Cerewet!" Kui Hoa membentak. "Aku yang memimpin di sini, Pek-kwi. Kau masih mau membantah dan tidak segera menyerahkannya?"
So-beng tertawa kecil. "Pek-kwi, keponakanku bicara betul. Dia wakil Sri Baginda, sebaiknya serahkan gadis itu dan kau bawa yang lain. Aku membawa keledai gundul ini!" So-beng berkelebat ke depan, menyambar tubuh Bu Wi Hosiang, dan memberi kedipan kepada Iblis Putih itu agar mengalah.
Pek-kwi yang melotot namun terkekeh kecewa akhirnya melepas Bi Lan dan menyambar Thian Kong Cinjin. "Baik, aku membawa tosu bau ini saja, So-beng. Kalau bukan kau yang membujukku, tentu Pek-kwi akan ngotot!" Iblis Putih itu melepas kecewanya, menggaplok pipi Thian Kong Cinjin dua kali hingga muka si tosu bengap dan mendelik padanya.
Kui Hoa yang melihat tinggal seorang tawanan yang masih belum diurus lalu menuding Kwik-ciangkun. "Ciangkun, kau bawa dia. Sekarang kita masing-masing mempertanggungjawabkan tawanan kita!" Kwik-ciangkun yang sudah menyambar Fan Li lalu memutar tubuhnya dan mengangguk, siap turun gunung.
Kui Hoa sekali lagi memberi hormat, tapi Pendekar Gurun Neraka yang tidak menggubris gadis ini membuat Kui Hoa tersenyum mengejek dan memberi aba-aba. Begitu berkelebat mendahului rombongannya, So-beng dan teman-temannya pergi.
"Pendekar Gurun Neraka, tak perlu cemas akan nasib anak-anakmu. Kalau terbukti mereka tak bersalah tentu akan dibebaskan!"
Pendekar Gurun Neraka terbelalak. Dia tak menjawab seruan itu, menggigil dan berkerotok buku-buku jarinya. Marah bukan main, kemarahan yang tak dapat dilampiaskan!
Ceng Bi serta Pek Hong yang menangis dengan air mata bercucuran tiba-tiba mendesis kepadanya, "Yap-koko, kau bertanggung jawab atas keselamatan mereka. Kalau Bi Lan atau Sin Hong sampai celaka di tangan mereka, aku bersumpah tak mau kau jamah lagi!"
"Ya, dan aku akan melabrak istana, Yap-koko. Aku akan mengamuk di sana sampai titik darah terakhir!" Pek Hong menyambung, penuh kecewa dan marah pada suaminya itu, yang tentu saja semakin gelap dan keruh mukanya.
Ceng Han yang tiba-tiba muncul dengan pundak masih dibalut, segera menegur adiknya itu. "Bi-moi, Yap Twako telah berusaha sedemikian rupa untuk tidak membuat saat berkabung ini menjadi berantakan. Kenapa mengancam suamimu dan menyudutkannya dalam keadaan serba salah? Naga Bongkok telah mengikuti rombongan orang-orang itu, tak perlu khawatir. Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan kita di sini dan menyusul segera!"
Ceng Bi masih menangis. Dia cemas oleh nasib Bi Lan dan Sin Hong, terutama Sin Hong yang dibawa Ang-kwi, iblis yang amat berbahaya itu!
Ketika upacara perkabungan dilanjutkan sampai pemakaman tiba, akhirnya seluruh keluarga Ciok-thouw Taihiap tak ada yang tenang. Mereka semua gelisah, teringat pada lima orang tawanan yang dibawa ke kota raja, terutama Sin Hong dan Bi Lan. Setelah upacara pemakaman selesai dan dua peti jenazah dimakamkan di belakang gunung, akhirnya Pendekar Gurun Neraka dan keluarganya kembali ke atas, mengira tamu-tamu akan bubar dan pulang ke tempatnya masing-masing.
Namun, ketika para tamu itu tak ada yang turun dan justru mengikuti Pendekar Gurun Neraka, barulah pendekar ini tertegun. Apalagi ketika seorang laki-laki gagah menjura di depannya.
"Pendekar Gurun Neraka, maafkan kami. Kami telah bersepakat untuk menolongmu dari kesulitan ini. Kami tahu bahwa kau sebenarnya menyelamatkan kami dengan mengorbankan anak-anakmu sendiri. Kami ingin membantu!"
"Hm, apa maksudmu, Kam-sicu?"
"Kami ingin menolongmu membebaskan putra-putrimu, Pendekar Gurun Neraka. Juga tiga orang lain yang ditangkap orang-orang jahat itu!"
"Ya, dan kami bersedia mengorbankan diri, Pendekar Gurun Neraka. Kami merasa malu kalau tak dapat membantumu!" Seorang laki-laki lain yang kurus dengan kumis panjang maju, si Golok Kilat bernama Kwee Cin, yang segera disambut dengan seruan lain yang ribut ingin membantu Pendekar Gurun Neraka.
Pendekar Gurun Neraka yang terharu oleh seruan-seruan itu tiba-tiba menarik napas dan mengerutkan keningnya. "Kam-sicu, ini pekerjaan berbahaya. Mungkinkah kita melawan tiga ribu pasukan dengan dua ratus lebih orang yang ada di sini? Tidak, aku berterima kasih akan maksud baik kalian, Kam-sicu, tapi tak perlu kalian mengorbankan nyawa sia-sia!"
"Kami tidak sia-sia mengorbankan nyawa, Pendekar Gurun Neraka. Kami ingin berjuang demi Ho-han-hwe! Bukankah lima orang yang ditawan itu adalah tokoh-tokoh Ho-han-hwe yang merupakan pembantu-pembantu kepercayaanmu?"
"Benar, tapi mereka terlampau kuat bagi kita, Sicu. Dan aku akan bingung jika harus menjaga keselamatan kalian semua. Sebaiknya kalau kalian benar-benar ingin membantu, maka kupilih saja beberapa di antara kalian."
"Hm, kalau begitu aku siap paling depan, Pendekar Gurun Neraka!" si Golok Kilat berseru, mencabut goloknya dan mengacungkannya dengan gagah. "Aku ingin kau bawa menghadapi manusia-manusia busuk itu!"
"Ya, dan aku juga, Pendekar Gurun Neraka...!" seorang lain berteriak, mengikuti jejak si Golok Kilat.