Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 134

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 134

Begitu semuanya menyatakan kehendak untuk maju membantu, akhirnya Pendekar Gurun Neraka merasa kewalahan sekaligus semakin terharu.

"Cuwi sekalian, tahan dulu. Jangan ribut!" Pendekar Gurun Neraka terpaksa mengangkat lengannya. "Karena kalian semua ingin membantu, biarlah sekarang aku pilih saja. Maaf, yang lain tidak perlu kecewa. Aku ingin bantuan dari orang yang benar-benar dapat kuandalkan!"

Pendekar Gurun Neraka mulai menyebut nama mereka satu per satu dan mulai memilih. Dia membawa si Golok Kilat Kwee Cin, juga Kam Ek, laki-laki gagah yang pertama kali menyatakan maksudnya. Setelah memilih delapan orang lagi yang cukup dia kenal, akhirnya Pendekar Gurun Neraka mengumpulkan sepuluh orang pembantu yang dapat dipercaya.

"Nah, ini cukup bagiku, Cuwi sekalian. Sebaiknya yang lain tidak perlu penasaran dan kupersilakan kembali ke tempatnya masing-masing. Cuwi dapat melihat perkembangan berikutnya!"

Para tamu tidak menolak. Mereka menyadari keadaan dan maklum bahwa yang dipilih Pendekar Gurun Neraka adalah orang-orang yang dapat diandalkan, yang memiliki kepandaian paling tinggi di antara mereka. Maka, sambil mengangguk dan memberi hormat, akhirnya mereka turun gunung tanpa membantah lagi.

Demikianlah, hari itu Pendekar Gurun Neraka mendapat masalah baru. Namun, pendekar besar yang gagah dan selalu berpikiran dingin itu tidak menonjolkan kecemasan atau kegelisahannya seperti kedua istrinya. Dia dapat bersikap lebih tenang. Ketika semua orang benar-benar telah meninggalkan tempat itu, Kam Ek serta kawan-kawannya pun menuju ke puncak. Mereka perlu berunding sejenak.

Ketika keputusan diambil bahwa dia akan berangkat bersama sepuluh orang itu, tiba-tiba Ceng Bi dan Pek Hong melompat bangun.

"Kenapa kami tidak kau ajak, Yap-koko?"

"Hm, kalian perlu menjaga di sini, Bi-moi. Bukankah kakakmu sakit dan rumah dalam keadaan kosong? Lagipula, aku yang bertanggung jawab atas keselamatan orang-orang itu. Tidak perlu kalian ikut!"

"Tidak! Aku ingin bersamamu, Yap-koko. Han Ki atau Han Bu dapat merawat ayah mereka di sini!"

"Benar. Dan aku juga tidak akan membiarkan Bi-moi sendirian, Yap-koko. Aku ikut dan kami berdua harus mendampingimu!" Pek Hong menyusul, bangkit berdiri dan berdiri gagah berdampingan dengan madunya itu.

Ceng Han yang melihat adik serta iparnya "menyerang" Pendekar Gurun Neraka akhirnya tertawa pahit dan berdiri pula. "Yap-twako, apa yang dikatakan adikku memang benar. Sebaiknya mereka ikut dan meringankan bebanmu!"

"Tapi kau masih lemah, Han-te. Mana bisa mereka dibiarkan meninggalkan tempat ini? Han Ki berdua tidak cukup kuat. Sebaiknya mereka mendampingimu dan tidak perlu ikut!"

Ceng Bi marah. "Kalau begitu kami akan bertindak sendiri, Yap-koko. Kami akan jalan sendiri dan melakukan tindakan-tindakan kami sesuai rencana kami sendiri!"

"Ah, tidak boleh, Bi-moi!" sang suami terkejut. "Kalian tidak boleh meninggalkan tempat ini dan harus mendampingi kakakmu!"

Namun Ceng Han batuk-batuk. "Yap-twako, betapapun pundakku sudah hampir sembuh. Tidak perlu kau mencegah mereka bila sudah diputuskan. Adikku tentu akan melawan, dia tidak dapat dilarang."

Pendekar Gurun Neraka mengerutkan kening. Dia memang tahu kekerasan hati istrinya itu, watak yang hampir sama dengan mendiang Ciok-thouw Taihiap. Melihat Pek Hong serta Ceng Bi memandangnya dengan dada membusung dan tidak mau mengalah, terpaksa dia pun mengangguk dan mengeluh.

"Baiklah, sebenarnya aku mencegah demi keselamatan kalian sendiri, Bi-moi. Tapi kalau kalian nekat dan ingin ikut bersama kami, aku tidak dapat menolaknya. Hanya saja, kalian tidak boleh sembrono dan harus tunduk kepadaku!"

Ceng Bi lega. Dia tersenyum memandang madunya, sebuah senyum kemenangan. Senyum itu hanya sekilas dan tiba-tiba dia kembali cemberut ketika suaminya melotot, masih merasa tidak senang dan khawatir terhadap kedua istrinya yang saling pandang dan setengah mengejek memandang Pendekar Gurun Neraka.

Akhirnya, Pendekar Gurun Neraka yang mengalah pada protes kedua istrinya itu memutar tubuh dan melayang keluar. "Baiklah, kita berangkat sekarang, Bi-moi. Dan Cuwi Eng-hiong, mari kita pergi!"

Pendekar Gurun Neraka meluncur ke bawah gunung dengan mengebutkan lengan bajunya, lalu mengajak semua orang untuk memulai pengejaran guna mencari rombongan Kui Hoa yang menawan Sin Hong berlima.

Begitu semua orang bergerak meninggalkan Beng-san, tinggallah Ceng Han serta kedua anak laki-lakinya yang menjaga tempat itu. Han Ki tampak kecewa. "Kenapa kami tidak boleh ikut, Ayah?"

"Sst, tidak perlu kecewa, Ki-ji. Aku juga mempunyai rencana untuk melihat sepak terjang mereka."

"Maksudmu?"

"Kita juga turun gunung, Ki-ji. Tapi harus diam-diam dan tidak boleh diketahui oleh mereka!"

"Ah, maksudmu...?"

"Benar, kita membantu dari belakang, Ki-ji. Aku tidak mau berpangku tangan di atas gunung ini. Hayo, siapkan senjata dan buntalan kalian!"

Ceng Han tertawa memandang kedua anaknya, lalu segera meloncat meski pundaknya masih kaku. Han Ki memandangnya dengan gugup. "Tapi lukamu..."

"Ah, dua tiga hari lagi sembuh, Ki-ji. Kenapa khawatir? Hayo berangkat, tidak perlu cemas."

Han Ki girang melihat semangat ayahnya yang semula disangka telah "melempem" dan hanyut dalam kedukaan. Dia segera melompat ke dalam untuk mengajak adiknya menyiapkan senjata dan bekal seperlunya.

Begitu ketiganya berlari cepat, tiba-tiba saja Beng-san-pai menjadi sunyi. Han Ki dan ayahnya meluncur turun, lalu lenyaplah bayangan ketiganya saat mengejar rombongan Pendekar Gurun Neraka.

***

Malam itu, mendahului rombongan Kui Hoa yang menuju ke kota raja, Ceng Liong merasa gelisah di depan kamar ibunya. Dia mondar-mandir selama setengah jam lebih. Setelah mengeraskan hati, dia mendekati pintu dan akhirnya berhenti di depan kamar ibunya.

"Siapa?"

Ceng Liong batuk-batuk. Dia membuka pintu dan melihat ibunya berdiri dengan rambut kusut, rupanya baru saja berbaring sambil melamun. Ceng Liong menyeringai dengan senyum aneh, melompat ke dalam, lalu menutup pintu sambil memandang ibunya dengan muka merah.

"Ibu, di mana Kui Lin? Benarkah dia pergi ke Beng-san untuk menangkap para pemberontak?"

Tok-sim Sian-li terkejut. Sudah dua kali ini putranya mengetuk pintu dan datang dengan sikap mencurigakan. Sambil mengangguk dan mengerutkan kening, dia menjawab, "Ya, apa maumu, Liong-ji?"

"Hm, aku..." Ceng Liong tertawa. "Aku tidak dapat tidur malam ini, Ibu. Aku ingin minta tolong padamu untuk mendekatkan putri Ok-ciangkun itu kepadaku!" Sambil menyeringai aneh memandang ibunya, tiba-tiba Ceng Liong berbisik, "Ibu, bisakah kau menolong anakmu ini? Aku rindu, Ibu. Aku tergila-gila pada adik Kui Lin!"

Tok-sim Sian-li mendengus. "Liong-ji, kau harus bersikap baik-baik pada putri Ok-ciangkun itu. Dia terlanjur melihat sepak terjangmu yang kasar, mana mungkin membujuknya mau mendekatimu?"

"Ah, tidak perlu dia mendekatiku, Ibu. Tapi aku yang ingin mendekapnya! Kau bisa menolong, bukan?"

Tok-sim Sian-li mengibaskan lengannya. "Bagaimana aku harus menolongmu, Liong-ji? Apa yang kau minta?"

"Cekoki dia dengan arak perangsangmu itu, Ibu. Ajak dia duduk-duduk di taman dan sekadar bercengkerama!"

"Hm, aku tidak memiliki bahan pembicaraan dengannya. Mana bisa melakukan itu, Liong-ji? Sebaiknya kau rebut saja hati gadis itu dengan kelakuan yang manis!"

"Tapi gadis itu tidak mau kudekati, Ibu. Mana bisa menunjukkan sikap manis padanya? Kui Lin dan kakaknya acuh kepadaku. Mereka tidak mau diajak bicara!"

Tok-sim Sian-li jengkel. "Itu karena salahmu dulu, Liong-ji. Kalau dulu kau tidak membuat onar di kaputren, tentu gadis itu dapat kau bujuk! Sekarang kenapa merengek?"

"Jadi kau tidak dapat membantuku, Ibu?"

"Tidak. Dan kuberi tahu padamu, Liong-ji, sebaiknya tidak perlu memaksa gadis itu untuk menjadi kekasihmu. Kui Lin maupun Kui Hoa dilindungi ayah mereka, juga So-beng ada di sana. Siapa berani main-main dengan orang-orang itu?"

"Dan kau takut kepadanya, Ibu?"

"Bukan takut, Liong-ji. Tapi kedudukan kita sebagai pengawal rahasia bisa terancam. Kita bisa diusir, dan sekali kita bentrok dengan mereka, tentu kesenangan dan kemewahan ini bisa hilang!"

"Hm, kalau begitu kita bunuh saja kedua orang itu, Ibu. Kui Lin dan kakaknya tentu tidak akan mempunyai pelindung lagi!"

"Gila! Kaukira gampang, Liong-ji? Ok-ciangkun adalah orang kepercayaan Sri Baginda. Kita malah celaka bila main-main dengan mereka!"

"Tapi aku kini memiliki sin-kang Ciok-thouw Taihiap, Ibu. Berempat menghabisi dua orang itu tentu mampu kita lakukan!"

Tok-sim Sian-li terbelalak. "Liong-ji, kau nekat? Kau ingin membuat kedua gurumu gusar?"

"Hm, Twa-suhu selalu membantuku, Ibu. Tidak mungkin marah kalau aku yang meminta."

"Tapi Ji-suhumu?"

Ceng Liong tertawa mengejek. "Kalau Ji-suhu melawan, tentu dia kubunuh, Ibu. Aku sekarang bukan Ceng Liong yang beberapa minggu lalu."

"Liong-ji...!"

Namun Ceng Liong hanya tersenyum. Dia tidak menghiraukan seruan ibunya, bahkan mendekati dan mengagumi mata ibunya yang indah, yang terbelalak seperti mata kelinci yang jernih dan bundar. Lalu, sambil duduk di pembaringan ibunya dengan sikap aneh, tiba-tiba Ceng Liong menyambar lengan ibunya.

"Ibu, kau cantik!"

Tok-sim Sian-li meronta. Dia merenggut lengannya lepas dari sambaran putranya, gemetar dengan tinju terkepal. Dia mulai melihat Ceng Liong bertindak kurang ajar. Dengan muka merah, wanita ini menghardik, "Liong-ji, apa maumu?!"

Ceng Liong tersenyum. "Aku mau kau membantuku untuk mendapatkan putri Ok-ciangkun itu, Ibu. Atau kalau tidak, biarlah kuulangi permintaanku dulu agar kau memberikan cinta kasihmu luar dalam kepadaku!"

Plak! Tok-sim Sian-li menamparnya, merasa ngeri dan marah memandang putranya itu. Sambil membanting kaki dengan suara menggigil, wanita ini menudingkan telunjuknya. "Liong-ji, keluar kau! Keluar cepat sebelum kubunuh...!"

Ceng Liong mengusap pipinya. "Hm, semakin marah semakin cantik kau, Ibu. Tapi aku tidak mau keluar bila permintaanku belum terpenuhi."

"Keparat!" Tok-sim Sian-li memekik sambil melompat maju, lalu melepaskan pukulan Tok-hiat-jiu ke arah kepala Ceng Liong.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment