Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 135

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 135

Dia rupanya kalap dan ngeri sendiri, gentar tapi juga gusar oleh sikap putranya.

Dengan melancarkan pukulan yang amat dahsyat, Tok-sim Sian-li menyerang dengan maksud membunuh. Namun, Ceng Liong tertawa mengejek. Dia tahu keganasan *Tok-hiat-jiu* dan sampai di mana kemampuan *sinkang* ibunya itu. Maka, saat menjatuhkan diri ke pembaringan, Ceng Liong tiba-tiba menangkap dan menarik ibunya untuk berguling bersama, hingga roboh terbanting ketika lengannya disambar.

"Bluk!" Tok-sim Sian-li mengumpat.

Ceng Liong telah memeluk dan mendekapnya erat. Sebelum ibunya sempat meronta atau melepaskan diri, Ceng Liong mencium pipinya dan berseru, "Ibu, kau hebat!"

Tok-sim Sian-li melengking. Dia benar-benar marah dan gusar bukan main. Ia menyodok dan menendang, lalu melepaskan diri dengan berjungkir balik turun dari pembaringan. Ia menggigil memandang putranya itu.

"Liong-ji, kau... kau berani menghinaku?"

Ceng Liong tersenyum. "Aku tidak menghinamu, Ibu. Siapa yang menghina?" pemuda itu tidak takut.

"Tapi kau menciumku, anak setan! Apakah ini bukan penghinaan?"

"Ah, itu karena aku suka padamu, Ibu. Aku cinta dan tertarik padamu. Kenapa mesti marah-marah?" Ceng Liong tertawa. "Kau tak boleh berat sebelah kepadaku, Ibu. Kalau kau tak mau membantuku mendapatkan putri Ok-ciangkun itu, maka sebaiknya gantikan dirimu untuk menghiburku!"

"Jahanam!" Tok-sim Sian-li membentak. Lalu melengking dengan penuh kemarahan, ia kembali menerjang. "Kau anak iblis, Liong-ji. Kau bocah tak tahu malu!"

Ceng Liong yang terus-menerus diserang ibunya hanya berlompatan ke sana kemari untuk mengelak. "Ibu, kenapa marah-marah begitu? Aku tidak memaksamu, hanya meminta padamu untuk memberikan cinta kasihmu luar dalam. Kenapa menyerang?"

"Keparat, siapa tak marah kalau anak mengajak ibunya untuk menjadi kekasih, Ceng Liong? Kau tak tahu malu. Kau bocah iblis!" Tok-sim Sian-li yang semakin gusar oleh kata-kata putranya itu lalu menampar dan memukul dengan gencar. Bertubi-tubi ia menyerang, tapi Ceng Liong yang kini memiliki kepandaian jauh di atas ibunya itu dengan mudah menghindar. Ia belum menangkis, apalagi membalas. Namun, ketika ibunya kian beringas dan menyerangnya dengan kalap, Ceng Liong mulai mengerutkan kening.

"Ibu, kau kini bukan lawanku. Sebaiknya hentikan seranganmu dan kita bicara baik-baik."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Ceng Liong. Kau keluarlah atau kubunuh!"

Wajah Ceng Liong menjadi gelap. Ia marah. Ketika ibunya menampar dan menghantam lehernya dengan pukulan *Tok-hiat-jiu*, pemuda ini menangkis dan menggerakkan ujung bajunya.

"Ibu, maaf... plak!"

Tok-sim Sian-li terpental. Ia terdorong dan menjerit oleh tangkisan putranya, melotot, dan membanting kaki. Namun, ia tetap nekat dan kembali menerjang, menyerang membabi buta dengan makian. Ketika Ceng Liong kembali menangkis hingga tubuhnya terjengkang roboh, wanita itu memekik dan mencabut bendera iblisnya.

"Ceng Liong, aku akan membunuhmu!"

Ceng Liong menggeram. Ia naik pitam. Begitu ibunya mengebut dan bendera menyambar muka, Ceng Liong mengulurkan lengan, menangkap bendera itu, lalu menarik sekaligus merobeknya menjadi dua. Ketika sang ibu terkejut dan melempar tangan kiri untuk mencengkeram kepalanya, Ceng Liong menyambut dan menangkap lengan ibunya.

"Bret-brett!"

Ceng Liong mendongkol. Ia melihat ibunya berhasil melepaskan diri, bendera dan lengan baju robek hampir bersamaan. Sementara itu, ibunya memekik dan berjungkir balik dengan penuh kemarahan. Ketika Tok-sim Sian-li melompat berdiri dan terbelalak memandang putranya, Ceng Liong melihat lengan ibunya yang putih halus. Ia merasa terangsang dan tiba-tiba terkekeh.

"Bagus, aku akan memaksamu kalau begitu, Ibu. Mari kita main-main sebentar sebelum aku memperoleh cinta kasihmu!"

Ceng Liong berkelebat. Kali ini ia yang menyerang ibunya, menyeringai dengan tawa mengerikan. Ketika ibunya menangkis sambil membentak, baju Tok-sim Sian-li kembali robek direnggut jari pemuda itu.

"Bret!"

"Ha-ha, lengan dan tubuhmu benar-benar mulus sekali, Ibu. Aku benar-benar bergairah dan tertarik!"

Ceng Liong berkelebatan, mengitari tubuh ibunya dengan lengan yang menyambar-nyambar, naik turun membuat Tok-sim Sian-li melengking. Ketika Ceng Liong tak dapat ditahan lagi dan pemuda itu terkekeh dengan muka beringas, baju Tok-sim Sian-li robek-robek hingga setengah telanjang dalam waktu sekejap.

"Liong-ji, kau manusia jahanam. Terkutuk kau!"

Namun, Ceng Liong terus menyerang. Ia tertawa dan mempermainkan ibunya dengan sikap gembira, mulai mendengus-dengus dengan mata merah. Ketika baju ibunya sudah robek-robek dan Tok-sim Sian-li bingung mendekap bagian atas tubuhnya, Ceng Liong tiba-tiba terkekeh dan menotok ibunya.

"Ibu, robohlah!"

Tok-sim Sian-li memekik. Ia tahu kelihaian putranya yang sekarang sudah jauh di atas tingkatnya. Maka, ketika Ceng Liong menotoknya di saat ia sedang repot menutupi bagian atas tubuhnya yang telanjang, wanita ini roboh terjengkang dan lumpuh di tepi pembaringan.

"Bluk!" Tok-sim Sian-li mengeluh.

Ia melihat Ceng Liong tertawa lebar, melotot memandang buah dadanya yang tak dapat dilindungi lagi. Ceng Liong yang terkekeh dan berubah seperti iblis itu sudah meremas dada ibunya dengan napas mendengus-dengus.

"Ibu, kau menggairahkan sekali!"

Tok-sim Sian-li pucat pasi. Ia melihat Ceng Liong membelai dan mempermainkan tubuhnya, tertawa tanpa memedulikan sopan santun lagi. Tok-sim Sian-li yang untuk pertama kalinya dicekam ketakutan yang hebat tiba-tiba menjerit, "Ceng Liong, jangan! Kau... kau anakku sendiri...!"

"Heh-heh, anak ketika aku masih kecil, Ibu. Tapi setelah aku dewasa, hubungan itu dapat kurobah sesuka hati. Kau kekasihku, bukan ibu!"

Tok-sim Sian-li melotot. Ia melihat Ceng Liong tiba-tiba mengangkat tubuhnya, menaikkannya ke atas pembaringan. Sambil mendengus dan menciumi tubuh ibunya, Ceng Liong melepas pakaiannya sendiri dan telanjang di tepi pembaringan.

"Kau ingin kupaksa atau melayaniku baik-baik, Ibu?" Ceng Liong tertawa, beringas dikuasai nafsu yang memuncak.

Tok-sim Sian-li melihat putranya telah berubah seperti orang gila. Ia hampir pingsan ketika Ceng Liong merenggut sisa pakaian bagian bawahnya.

"Ceng Liong, jangan...!"

Namun, Ceng Liong seperti orang kesetanan. Pemuda ini merenggut lepas satu-satunya pakaian ibunya, membuat sang ibu telanjang bulat dan hampir pingsan oleh mata Ceng Liong yang seperti iblis, nyalang, dan mendengus bagai kerbau gila. Ketika Ceng Liong mulai mendekap dan menciumi ibunya, Tok-sim Sian-li berteriak dengan penuh kengerian, "Ceng Liong, jangan. Jahanam kau...!"

Namun, Ceng Liong tertawa tak peduli. Ia sudah lama diamuk nafsu birahinya, memendam hasrat untuk bercinta dengan ibunya sendiri. Pikiran seorang pemuda yang sudah bejat dan tak tahu malu. Ketika Tok-sim Sian-li meronta dan mulai menggeliat-geliat melepaskan diri, Ceng Liong menindih ibunya dan menjadi buas.

"Ibu, kau boleh meronta. Dipaksa atau tidak, kau harus melayaniku!"

"Ah, tidak, Liong-ji... tidak! Aku tak mau melayani anak sendiri. Kau anak terkutuk! Kau anak jahanam. Aku akan menggigit putus lidahku bila kau berani memaksaku...!"

Ceng Liong terkejut. Ia cepat menotok urat gagu ibunya, sadar dan kaget oleh ancaman itu. Ketika Tok-sim Sian-li mengeluh dan tidak dapat bicara, Ceng Liong melompat turun mengambil sebotol arak.

"Ibu, kau tak melayaniku baik-baik? Kau ingin mengecewakan aku? Hm..." Ceng Liong menyeringai. "Kalau begitu kau harus menikmati arak ini, Ibu. Aku ingin kau tunduk dan tidak cerewet lagi!"

Ceng Liong menuangkan isi botol itu ke mulut ibunya. Tok-sim Sian-li menyambutnya dengan cacian tak jelas, meronta, dan menyemburkan arak itu. Itu adalah Arak Sorga, arak yang sangat dahsyat untuk menundukkan seseorang dalam nafsu birahi. Ceng Liong yang marah melihat ibunya menyemburkan arak, tiba-tiba membuka mulut ibunya itu dan menjepitnya kasar.

"Ibu, minumlah!"

Tok-sim Sian-li tak berdaya. Untuk pertama kalinya ia menangis, menerima cegukan arak yang dituangkan Ceng Liong ke mulutnya. Ia menggigil dan pucat pasi oleh sikap putranya yang benar-benar seperti iblis; memaksa ia untuk bercinta dengan anak sendiri. Perbuatan biadab!

Namun, Tok-sim Sian-li yang ngeri akhirnya pasrah menerima nasib. Wanita iblis ini ketakutan. Ketika Ceng Liong membebaskan totokannya dan ia terhuyung dengan kepala pening, nafsu birahi mulai mengganggu dirinya. Tok-sim Sian-li sadar bahwa ia akan hanyut dalam peristiwa mengerikan yang seumur hidup belum pernah ia lakukan.

Namun, karena arak perangsang memiliki kekuatan luar biasa, kepalanya kian pening, dan ia kehilangan kesadaran hingga malam itu ia menyerah. Ceng Liong tak menemui perlawanan lagi. Begitu Ceng Liong membawa ibunya ke pembaringan, Tok-sim Sian-li melayani putranya. Hanyut dan dibakar nafsu birahi dari arak Sorga, terjadilah perbuatan terkutuk di kamar itu, diiringi tawa Ceng Liong dan keluhan ibunya yang mendengus-dengus.

Keesokan harinya, dengan muka pucat dan rambut kusut, Tok-sim Sian-li membuka matanya. Ia masih merasa nanar, pusing, dan tak dapat berdiri tegak. Namun, melihat Ceng Liong tidur di sampingnya dengan tubuh telanjang bulat dan ia sendiri juga tanpa sehelai benang pun, tiba-tiba wanita ini menjerit.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment