Chapter 136
"Ceng Liong, kau jahanam, binatang...!"
Ceng Liong membuka mata. Dia terkejut oleh teriakan ibunya itu, namun ketika melihat ibunya menyambar gunting dan menikamkannya ke dada kirinya, pemuda ini mendadak mencelat dan melempar tubuh bergulingan; sebuah gerakan refleks dari seorang ahli silat. Begitu melompat bangun dengan kesadaran penuh, dia melihat gunting itu menyambar. "Crat!" Ceng Liong mengguncang tubuh.
Dia tertawa mengejek melihat ibunya melompat turun dengan telanjang, mendelik, dan berapi-api memandangnya dengan perasaan marah serta kecewa karena pemuda itu berhasil menyelamatkan diri. Persis saat mereka berhadapan dengan sikap bermusuhan, tiba-tiba sesosok bayangan muncul dan menendang pintu kamar.
"Tok-sim Sian-li, apa yang terjadi?" Keduanya terkejut. Mereka melihat Mayat Hidup datang, terbelalak memandang mereka yang sama-sama tidak berpakaian.
Tok-sim Sian-li yang beringas memandang Ceng Liong, lalu tiba-tiba menudingkan jarinya dengan gemetar. "Anak itu, dia... dia memperkosaku, Mayat Hidup. Ceng Liong menggagahiku semalam dan melolohiku dengan arak perangsang...!"
Mayat Hidup tertegun. Dia tak menyangka perbuatan Ceng Liong itu; sejenak ia melotot dengan muka heran. Namun, mendengar Tok-sim Sian-li berseru menuding anaknya sementara Ceng Liong tersenyum-senyum memandang ibunya, mendadak iblis ini menjadi gusar.
"Liong-ji, kau menggagahi ibumu sendiri?"
Ceng Liong bersikap tenang. "Dia terlampau menarik bagiku, Ji-suhu. Tapi karena dia menolak, terpaksa aku mengambil jalan kekerasan. Dan benar, ibuku hebat. Pantas kau tergila-gila padanya pula!"
"Keparat!" Mayat Hidup membentak. "Tidak tahukah kau bahwa ibumu adalah kekasihku, Ceng Liong? Kau berani merebut kekasih gurumu?"
"Ah, kau harus bersikap adil, Suhu. Kalau kerap kali aku melihatmu bermain cinta dengan Ibu, mana aku tahan?" Ceng Liong tertawa. "Kau tak perlu marah, Suhu. Ibu boleh untuk kita bersama!"
Tok-sim Sian-li melengking. Dia telah menyambar pakaiannya, menyerang, dan memukul Ceng Liong dengan dahsyat. Begitu bertubi-tubi dia memukul dan menyerang, Ceng Liong harus berlompatan ke sana kemari menghindari serangannya. Ceng Liong masih telanjang bulat, namun tidak rikuh sama sekali mengelak serangan ibunya itu meskipun ditonton Mayat Hidup. Tapi, ketika Ceng Liong harus melompat keluar karena ruangan itu sempit, matanya menyambar pakaiannya lalu berkelebat melewati jendela, tertawa pada ibunya.
"Ibu, kamar itu sempit. Sebaiknya kita main-main di luar saja!"
Tok-sim Sian-li membentak. Ia menjejakkan kakinya dan mengejar Ceng Liong, kembali menyerang dengan pukulan-pukulan dahsyat. Karena Ceng Liong memiliki kepandaian lebih tinggi dan gampang mengelak ke sana-sini, akhirnya wanita ini membanting kakinya dan berteriak pada Mayat Hidup, "Kerempeng penyakitan, kau melotot saja tak mau membantu! Hayo, bunuh anak durhaka ini. Jangan biarkan dia lolos...!"
Mayat Hidup menggeram. Dia marah dan sakit hati bahwa Ceng Liong mengganggu Tok-sim Sian-li, wanita yang selama ini menjadi kekasihnya dan galang-gulung dalam permainan cinta. Maka, mendengar makian wanita ini dan melihat Tok-sim Sian-li tak dapat merobohkan lawan, tiba-tiba iblis ini berkelebat dan membentak ke depan.
"Liong-ji, kau benar-benar anak setan!"
Ceng Liong terkejut. Dia melihat gurunya menyerang, mempergunakan jari Coan-kut-ci yang amat berbahaya, yang mengeluarkan sinar putih dan berkeredep menyambar lehernya. Maka, sambil berteriak dan melempar tubuh bergulingan, Ceng Liong ganti membentak gurunya itu, "Ji-suhu, kau mau membunuhku?"
Tapi Mayat Hidup yang tak mau menjawab hanya mendengus saja. Dia kembali menyerang muridnya itu, membantu Tok-sim Sian-li yang mengejar Ceng Liong. Ceng Liong melompat bangun dan mendapat serangan ibunya yang menampar dengan Tok-hiat-jiu. Ceng Liong terbelalak, cepat menangkis, lalu tahu-tahu merendahkan tubuhnya dan mengebut ke depan.
"Plak-crit!" Tok-sim Sian-li memekik. Ia terdorong oleh kebutan Ceng Liong, membentak, dan kembali menerjang dengan marah. Mayat Hidup yang juga tergetar oleh tangkisan muridnya itu ikut menggereng dan menjadi penasaran. Begitu dia melompat dan kembali menyerang, Ceng Liong dikerubut oleh guru dan ibunya itu.
Terpaksa, Ceng Liong mengerahkan ginkang. Ketika dua orang lawannya melancarkan serangan-serangan berat yang bermaksud membunuhnya, tiba-tiba Ceng Liong berseru keras dan memainkan ilmu silat yang dia warisi dari ibu dan ji-suhunya itu. Ceng Liong menghadapi Tok-hiat-jiu dengan Tok-hiat-jiu pula, dan tangan kirinya bergerak menusuk dengan tusukan Coan-kut-ci, menandingi pula Coan-kut-ci gurunya yang tentu saja menjadi marah dan mencak-mencak oleh perbuatan muridnya ini.
"Ceng Liong, kau manusia hina. Kau terkutuk!"
Tapi Ceng Liong tak menggubris. Dia tersenyum dan tertawa saja mendengar makian gurunya yang mendapat "senjata makan tuan". Akhirnya ketiganya bertempur dengan seru. Ceng Liong "mengisi" semua pukulan ataupun tusukan jarinya dengan sinkang Ciok-thouw Taihiap, yang perlahan-lahan namun pasti menolak semua pukulan ibu dan ji-suhunya, mendorong mereka, dan bahkan mulai mendesak.
Mayat Hidup merasa betapa Ceng Liong menahan Coan-kut-ci-nya dengan sinkang yang kuat dan penuh tenaga luar biasa. Dia tiba-tiba mendelik dan cemas sendiri. Mayat Hidup khawatir; dia mulai melihat bahwa Ceng Liong merupakan "benalu" yang berbahaya yang mungkin dapat mengancam keselamatan jiwanya sendiri. Maka, ketika untuk kesekian kalinya Ceng Liong menangkis dan mereka sama-sama tergetar, mendadak iblis tinggi kurus ini menyelinap ke samping dan menusuk punggung Ceng Liong dengan dua jari lurus ke depan.
"Crit...!" Ceng Liong mendengar suara itu. Dia tahu gurunya membokong dengan mempergunakan Coan-kut-ci di saat dia menghadapi serangan ibunya. Tapi Ceng Liong yang tertawa mengejek dan memutar kakinya, tahu-tahu membalik dan mengayun kedua lengannya berbareng.
"Plak dess!" Mayat Hidup terhuyung dua langkah!
Iblis tinggi kurus itu mendesis, marah melihat Ceng Liong mementalkan tusukannya. Tapi ketika dia hendak menyerang kembali dan Tok-sim Sian-li juga membentak marah, tiba-tiba Sin-thouw-liong Mu Ba muncul, menyambar mereka yang sedang bertempur.
"Mayat Hidup, apa yang kau lakukan?"
Ketiganya terkejut melihat raksasa tinggi besar itu menangkis pukulan mereka dan membantu Ceng Liong. Ketika mereka berdua terdorong mundur, Tok-sim Sian-li memekik dengan seruan gusar, "Mu Ba, jangan ikut campur! Anak itu akan kita bunuh!"
Tapi Mu Ba menggereng. Dia melindungi Ceng Liong di depan, menerima pukulan Tok-sim Sian-li dengan dada terbuka. Ketika wanita itu menjerit dan terjengkang ke belakang, raksasa ini membentak, "Sian-li, jangan mata gelap! Ceng Liong adalah juga muridku!"
Tok-sim Sian-li mendelik sambil melompat bangun, membanting-banting kakinya. "Mu Ba, minggir! Tak perlu kau cerewet melindungi anak itu...!"
Tapi Mu Ba yang tak mau minggir malah berdiri gagah. "Tidak, aku harus tahu kenapa kalian menyerang anak ini, Sian-li. Dan coba jelaskan apa kesalahan anak itu hingga kalian mau membunuhnya!"
Tok-sim Sian-li tak menjawab. Dia menggigil dan gemetar mengepal tinjunya, mendelik pada raksasa tinggi besar itu. Mu Ba yang mengerutkan kening melihat sikap wanita ini lalu menoleh pada rekannya, "Apa yang terjadi, Mayat Hidup? Kenapa kau ikut-ikut hendak mencelakai Ceng Liong?"
Mayat Hidup terkekeh, serak suaranya. "Sebaiknya kau tanya sendiri bocah itu, Mu Ba. Kami tak mau menjawab karena dia melakukan perbuatan yang memalukan!"
"Hm, apa yang kau lakukan, Ceng Liong?" Akhirnya raksasa ini memandang muridnya dengan heran dan curiga. "Apa yang kau lakukan hingga guru dan ibumu marah-marah?"
Ceng Liong menyeringai. "Aku tidak melakukan apa-apa, Suhu. Hanya semalam aku mengajak Ibuku bersenang-senang."
"Bersenang-senang apa maksudmu?"
"Bermain cinta, Suhu. Tapi Ji-suhu rupanya cemburu dan marah kepadaku!"
"Apa?" Mu Ba terbelalak. "Kau mengajak ibumu sebagai kekasih, Ceng Liong? Kau...?"
"Ya," Ceng Liong memotong. "Aku tak tahan melepas rinduku, Suhu. Dan karena Ibu tak mau membantuku mendapatkan putri Ok-ciang-kun, maka kupaksa dia minum Arak Sorga dan mau kuajak bermain cinta!"
Mu Ba tiba-tiba tertawa bergelak. Dia tertawa sampai tubuhnya berguncang-guncang, tidak marah melainkan geli. Sambil memandang rekannya dia berseru, "Nah, apa kataku, Mayat Hidup? Bukankah sudah kukatakan bahwa murid kita yang satu ini istimewa? Dia tidak bersalah, yang bersalah adalah kalian berdua!"
Mayat Hidup melotot. "Apa maksudmu, Mu Ba? Kau justru menyalahkan kami?"
"Ya, bukankah sudah kubilang janganlah kalian merangsang anak itu dengan permainan cinta di depan mata, Mayat Hidup? Dulu sudah kuberi tahu pada kalian agar tidak menyolok melakukan hubungan kekasih di depan anak ini. Dan kalau Ceng Liong sekarang ingin mencontoh perbuatan gurunya dan coba-coba bermain cinta dengan ibunya, hal itu pantas. Ceng Liong tidak bersalah. Anak itu hanya melakukan apa yang menjadi dorongan hatinya belaka!"
"Keparat!" Tok-sim Sian-li membentak. "Kau membela muridmu yang durhaka itu, Mu Ba? Kau tidak melihatnya sebagai perbuatan yang jahat?"
"Ha-ha, perbuatan jahat yang bagaimana, Hujin? Bukankah kita orang-orang sesat ini justru semakin kagum dan menghargai perbuatan yang dikata jahat? Semakin busuk orang itu melakukan perbuatannya, berarti semakin hebat dia. Itu tanda keberanian dan kepandaiannya. Eh, Mayat Hidup...." Raksasa ini menoleh pada rekannya, tertawa. "Bukankah sudah menjadi ciri kita untuk mengagumi perbuatan-perbuatan jahat? Ceng Liong menunjukkan keunggulannya. Kita kalah setingkat dibanding murid kita itu!"
Mayat Hidup terbelalak. Dia mengangguk-angguk dan menyetujui kata-kata itu, mulai tersenyum, dan akhirnya tertawa.