Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 137

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 137

Sembari terbatuk-batuk memandang raksasa tinggi besar itu, tiba-tiba Mayat Hidup terkekeh dan berkata, "Benar, aku hampir lupa akan pandangan hidup kita ini, Mu Ba. Murid kita memang hebat dan patut kita puji. Kau benar. Ceng Liong setingkat di atas kita dalam segalanya!"

Ia berkelebat meninggalkan tempat itu. Iblis ini berseru, "Tok-sim Sian-li, omongan raksasa itu tidak salah. Sebaiknya biarkan dia melakukan apa saja yang dia suka!"

Tok-sim Sian-li menjerit, "Kau berbalik haluan, iblis tua! Kau tak mau membantuku?"

Namun, Mayat Hidup telah lenyap di luar tembok. Dia tertawa meninggalkan suaranya yang sayup-sayup sampai. Ketika menyadari dirinya menghadapi Ceng Liong tanpa kawan, tiba-tiba wanita ini terisak dan melompat jauh. "Ceng Liong, kau anak terkutuk! Semoga iblis melahapmu kelak di pintu neraka!"

Ceng Liong mengangkat bahu. Dia tertawa dan bersikap tenang, acuh tak acuh menghadapi kemarahan ibunya itu. Melihat gurunya yang pertama memandangnya dengan mata bersinar-sinar, pemuda ini mengangguk dan melompat pergi. "Twasuhu, terima kasih!"

Mu Ba tersenyum lebar. Dia melihat Ceng Liong mengejar ibunya ke arah yang sama dengan wanita iblis itu. Mu Ba yang tertawa terbahak-bahak dengan muka gembira tiba-tiba juga melompat pergi dengan seruan parau, "Liong-ji, hati-hati! Ibumu cukup ganas!"

Tapi Ceng Liong tersenyum mengejek. Dia tahu tanpa diberi peringatan lagi. Ceng Liong yang hari itu menguntit ibunya secara diam-diam mulai mengganggu wanita ini tanpa segan-segan lagi. Tok-sim Sian-li terus dibayangi, dan ketika hari demi hari berlalu dengan perasaan cemas serta ketakutan, akhirnya Ceng Liong menundukkan ibunya itu habis-habisan.

Tok-sim Sian-li menyerah. Jiwanya terguncang dan seminggu kemudian mulai linglung; suka terkekeh dan tertawa sendiri bila Ceng Liong mempermainkan tubuhnya, membiarkan diri "digerumuti" puteranya yang sudah tidak seperti manusia lagi itu.

Ketika siang itu kembali Ceng Liong mempermainkan ibunya di dalam kamar, mendadak sebuah bayangan mendobrak jendela. "Tok-sim Sian-li, keluarlah!"

Ceng Liong terkejut. Dia menyambar pakaiannya di atas lantai dan melihat seorang pemuda membentak masuk melalui jendela. Ceng Liong yang kaget oleh tamu tak diundang ini tiba-tiba membelalakkan matanya. "Bu-beng Siauw-cut!"

Tok-sim Sian-li melompat turun. Dia juga terkejut dan tersentak mendengar nama itu disebut. Kun Houw atau Bu-beng Siauw-cut yang tertegun melihat wanita itu telanjang bersama Ceng Liong tiba-tiba menggigil. "Tok-sim Sian-li, kenalkah kau dengan wanita bernama Bwee Li?"

Tok-sim Sian-li bengong. Ia mengejap-ngejapkan mata, merasa getaran kuat tiba-tiba menghubungkannya dengan pemuda di tengah kamar itu. Namun, Tok-sim Sian-li yang terkekeh dengan muka linglung tiba-tiba menyambar pakaiannya dan menjawab acuh tak acuh, "Siapa itu Bwee Li, Bu-beng Siauw-cut? Apakah kau juga hendak memperkosaku seperti yang dilakukan anakku ini? Hi-hik. Ceng Liong benar-benar gagah. Keturunan Pendekar Gurun Neraka telah menggagahi ibunya sendiri dan tak tahu malu!"

Kun Houw menggigil. "Aku tak tahu menahu tentang anakmu yang biadab, Tok-sim Sian-li. Tapi aku menanyaimu tentang Bwee Li! Kenalkah kau dengan wanita itu?"

"Hm. Bwee Li yang mana, Siauw-cut?"

"Lihat ini!" Kun Houw melempar surat yang diterimanya dari Pendekar Gurun Neraka dengan wajah pucat dan gemetar.

Tok-sim Sian-li menangkap surat itu, membukanya dengan tak acuh, lalu membacanya dengan sikap ogah-ogahan. Mula-mula senyumnya mengejek, sinis, dan kelihatan geli. Tapi ketika baris demi baris dilaluinya dengan cepat, mendadak wanita ini berseru tertahan dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia seakan tak percaya dan mengulang isi surat itu. Ketika mendapati isi surat itu tetap sama dan tidak ada yang berubah, tiba-tiba wanita ini menjerit melengking histeris dan berkelebat menyambar lengan kiri Ceng Liong.

"Ceng Liong, perlihatkan lenganmu!"

Ceng Liong terkesiap. Dia tak mengerti maksud ibunya itu, tapi lengan kirinya yang sudah ditangkap dan dibolak-balik diamati dengan penuh perhatian. Melihat ibunya menggigil dan pucat bukan main, lalu tidak menemukan sesuatu di lengan kirinya, wanita ini berkelebat ke arah Kun Houw. "Bocah, perlihatkan lenganmu!"

Kun Houw pun ditangkap. Tok-sim Sian-li memeriksa lengan kiri Kun Houw. Begitu melihat ada sesuatu di lengan kiri pemuda ini, tiba-tiba Tok-sim Sian-li mengeluh dan bercucuran air mata, terhuyung memandang Kun Houw. "Ceng Liong, kau... kau anakku!"

Ceng Liong terheran. Dia melihat ibunya menubruk Kun Houw, menangis tersedu-sedu, dan memeluk pemuda ini dengan erat sekali. Ceng Liong yang heran serta cemburu tiba-tiba menyambar ibunya dan membentak, "Ibu, apa yang terjadi? Kenapa kau memeluk musuh?"

Namun, sungguh mengejutkan. Tok-sim Sian-li tiba-tiba melengking. Sambil terkekeh dan masih menangis, ia tiba-tiba menghantam kepala Ceng Liong. "Hun Kiat, kau manusia binatang!"

Ceng Liong terkejut. Dia mengelak dan melompat mundur; baju pundaknya robek tersambar pukulan ibunya yang meleset. Tok-sim Sian-li yang memekik sambil meraung tinggi tiba-tiba kembali menyambarnya dengan pukulan dahsyat. "Hun Kiat, kau manusia binatang!"

Ceng Liong mengerutkan kening. Dua kali ibunya itu memanggilnya dengan nama lain—nama yang membuat dia tidak mengerti dan menjadi marah. Maka, ketika ibunya menyerang kembali dan dia harus mengelak mundur, tiba-tiba Ceng Liong menggerakkan kakinya menendang ibunya itu. Begitu Tok-sim Sian-li menjerit dan terpelanting roboh, Ceng Liong telah mencengkeram pundak ibunya. "Ibu, tahan! Jangan membuat aku marah!"

Tok-sim Sian-li memekik. Ia meronta dan melepaskan diri, lalu berguling menjauh sambil memaki pemuda itu, "Hun Kiat, aku bukan ibumu! Kau anak siluman Bwee Li!"

Ceng Liong tertegun. Dia masih tidak mengerti akan sikap ibunya. Tapi melihat ibunya memandang dengan mata berapi-api dan menggigil di samping Kun Houw, akhirnya Ceng Liong menjadi penasaran, "Ibu, apa yang terjadi? Apa maksudmu?"

"Hi-hik, kau baca surat ibumu ini, Hun Kiat. Kau bukan Ceng Liong dan bukan pula anakku. Aku bukan ibumu!"

Ceng Liong terkejut. Dia menangkap surat yang dilontarkan ibunya itu, membaca dengan alis berkerut-kerut. Saat membelalak dan meremas surat itu, tiba-tiba Ceng Liong tertawa terbahak-bahak. "Ha-ha! Kalau begitu kau benar, Tok-sim Sian-li. Jadi, aku adalah Pouw Hun Kiat? Dan kau kenal pula pada ayah ibuku itu?"

Tok-sim Sian-li membentak, "Aku bukan hanya kenal pada ayah ibumu, Hun Kiat. Tapi juga kebusukan-kebusukan mereka. Terutama ayahmu yang mempermainkan ibumu itu, setan licik Pouw Kwi yang persis dirimu!"

"Ya, dan aku juga telah mempermainkan dirimu, Tok-sim Sian-li. Kau wanita hebat yang memiliki tubuh menggairahkan!"

"Keparat!" Tok-sim Sian-li yang marah oleh kata-kata itu tiba-tiba menerjang ke depan dengan pekik ganas. Ia melancarkan serangannya bertubi-tubi, menampar dan menendang Ceng Liong—atau yang kini diketahui sebagai Pouw Hun Kiat—dengan serangan mematikan, ganas, dan buas, tampak bernafsu untuk membunuh lawan.

Tapi Hun Kiat yang melompat ke sana kemari dengan mudah tiba-tiba mengejeknya, memanaskan perut. "Tok-sim Sian-li, kau masih kuanggap ibuku. Sebaiknya hentikan seranganmu dan kita bersenang-senang saja."

Tok-sim Sian-li melengking. Dia semakin marah oleh kata-kata itu, mencabut Bendera Iblisnya, dan menyerang semakin gusar. Ketika belum juga bisa merobohkan lawannya dan Ceng Liong mulai menangkis serta membalas hingga tubuhnya terpental, tiba-tiba wanita ini menjerit dan melontarkan bendera iblisnya. "Hun Kiat, mampuslah!"

Ceng Liong atau Hun Kiat mendengus. Dia melihat lawan menyambit benderanya, melompat, dan menyusul di belakang sambil berlindung di balik kain bendera yang berkibar menutupi mata, melancarkan *Tok-hiat-jiu* ke ulu hatinya. Serangan itu ganas dan benar-benar berbahaya.

Hun Kiat yang marah tiba-tiba mengerahkan *sinkang*-nya, menyambar sekaligus menerima *Tok-hiat-jiu* dengan kekebalannya. Begitu bendera tertangkap dan pukulan lawan mengenai ulu hatinya, tiba-tiba Hun Kiat membentak dan ganti menyambitkan benderanya ke dada Tok-sim Sian-li.

"Tok-sim Sian-li, terimalah!"

Tok-sim Sian-li terbelalak. Ia melihat benderanya tertangkap lawan dan dilontarkan kembali kepadanya, sementara pukulannya mendarat di lambung Hun Kiat. Pukulannya terpental dan tertolak balik bertemu kekebalan Hun Kiat yang melindungi diri dengan *sinkang*, membuat Tok-sim Sian-li terpelanting roboh dan terguling-guling. Sementara ia menjerit, tiba-tiba bendera itu mengejarnya dengan kecepatan luar biasa, dengan gagang lebih dulu menyambar dada kanannya!

"Ibu, awas!"

Teriakan Kun Houw—atau yang sebenarnya Ceng Liong asli itu—terlambat. Hun Kiat telah melontarkan gagang bendera dengan kekuatannya yang luar biasa, tertawa mengejek mendengar Kun Houw menyebut "ibu" pada Tok-sim Sian-li, sebuah seruan yang meluncur tanpa disadari karena keadaan yang amat mendadak.

Begitu Tok-sim Sian-li menjerit dan mengeluh panjang, Bendera Iblis telah menancap di dada kanannya, menembus paru-paru.

"Crep!"

Tok-sim Sian-li menggeliat. Ia roboh tak dapat bangun lagi, mendelik memandang lawan. Kun Houw yang terbelalak melihat luka wanita itu tiba-tiba berkelebat maju membungkukkan tubuhnya, bermaksud menolong wanita ini. Tapi Hun Kiat yang melepaskan pukulan di belakang tiba-tiba menghantam lawan dengan serangan curang.

"Dess!"

Kun Houw terlempar. Dia membentak dan melompat bangun, berkilat-kilat memandang lawan yang saat itu tertawa terbahak-bahak dan siap menyerangnya lagi. Tapi Tok-sim Sian-li yang batuk-batuk dan memuntahkan darah berseru padanya, "Liong-ji, bawa aku keluar."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment