Chapter 138
"Selamatkan ibumu dulu...!" Kun Houw bingung.
Dia memang ingin menyelamatkan wanita itu, yang kini diketahuinya sebagai ibu kandungnya. Namun, Hun Kiat yang mengejek dan melepaskan Coan-kut-ci tidak memberinya kesempatan untuk memberikan pertolongan.
"Bubeng Siauw-cut, sebaiknya namamu tak perlu diganti. Biarkan ibumu mampus!" Sinar putih Jari Penusuk Tulang yang terpaksa dihindari Kun Houw menyambar dan meledak di lantai, membuat pemuda itu marah.
"Orang bermarga Pouw, kau benar-benar tidak tahu budi!"
"Ha-ha, bagi kami orang-orang sesat, budi tidak ada dalam kamus. Siauw-cut, sebaiknya kau menyerah saja dan biarkan wanita itu menerima kematiannya!"
Kun Houw murka. Dia mulai membalas dan menangkis, menyerang lawan dengan wajah memerah. Namun, Tok-sim Sian-li yang merintih di atas lantai tiba-tiba berseru kembali, "Liong-ji, bawa ibumu... aku hampir tak kuat lagi...!"
Kun Houw terbelalak. Dia terpaksa menahan serangannya, melihat ibunya menangis dengan wajah pucat, menggigil penuh harap memandangnya. Kun Houw segera melompat mundur menjauhi lawannya, menyambar wanita itu, lalu melompati jendela.
"Hun Kiat, besok kita lanjutkan lagi. Tak perlu sombong!"
Namun, Hun Kiat mengejar. "Ke mana kau lari, Siauw-cut? Serahkan jiwamu dulu!"
Hun Kiat melepaskan pukulan ke arah punggung lawan, namun tiba-tiba disambut kibasan lengan Kun Houw. "Dess!" Kun Houw mengeluh. Dia terjungkir balik dan terdorong hebat oleh pukulan lawannya, namun cepat berdiri dan membawa ibunya melompati tembok taman.
Hun Kiat yang menyusul di belakangnya tertawa lagi. "Siauw-cut, robohlah!"
Kun Houw marah. Dia terpaksa melayang turun saat merasakan angin pukulan lawannya menyambar berbahaya. Dia berbalik, mencabut pedang, dan menusuk lawannya dengan jurus Heng-hun-po-uh.
"Orang bermarga Pouw, kau terlalu..."
"Sratt!"
Baju lawan robek tersambar pedang. Hun Kiat berjungkir balik menjauhi lawan, berteriak kaget, dan terbelalak memandang Kun Houw yang kembali melayang melompati tembok. Begitu musuhnya lenyap, Hun Kiat memekik dan mengejar dengan penasaran.
"Siauw-cut, jangan lari...!"
Namun, Kun Houw telah jauh di depan. Dia melompat menghilang di kompleks istana. Ketika Hun Kiat mengejarnya sambil berteriak marah, pemuda itu telah keluar dari kota raja dan terus berlari cepat menuju ke utara.
"Liong-ji, jangan masuki kuil rusak di hutan itu. Sebaiknya putar ke barat dan carilah sebuah gua...!"
Kun Houw gemetar. Dia memang bermaksud mencari kuil tua di tengah hutan itu, tempat di mana dulu Ceng Liong atau Hun Kiat hendak memperkosa Kui Hoa. Mendengar seruan ibunya agar mencari sebuah gua di sebelah barat, dia pun memutar arah larinya.
Kun Houw memasuki hutan cemara yang cukup lebat. Begitu dia menemukan gua yang dicari, saat itu pula ibunya pingsan!
"Ibu...!" Tok-sim Sian-li tak menjawab. Wanita itu hampir kehabisan darah akibat luka-lukanya yang parah. Kun Houw yang pucat dengan air mata bercucuran segera mencabut gagang bendera yang masih menancap dan menotok ibunya. Begitu membaringkan sang ibu di lantai gua dan merawat lukanya, Kun Houw tersedu-sedu, tak kuasa menahan remasan hatinya.
"Ibu, kenapa kau melahirkan aku sebagai anak jadah? Kenapa tidak kau bunuh saja aku ketika masih bayi?" Kun Houw menangis. Dia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan penuh kekecewaan, menatap surat lusuh yang dibawanya. Surat dari Bwee Li yang menceritakan rahasia pertukaran bayi, surat yang didapatnya dari Pendekar Gurun Neraka ketika ia datang ke Beng-san.
Kun Houw kembali tergugu. Peristiwa dua puluh tahun lalu yang menggegerkan dunia, terutama yang bersangkutan dengan Pendekar Gurun Neraka atau yang dulu dikenal sebagai Yap-goanswe, kini menghantuinya. Kisah cinta yang membawa kepahitan.
Di dalam kisah "Pendekar Gurun Neraka", telah diketahui bahwa Pouw Kwi—murid mendiang Ang-i Lo-nio dan Cheng-gan Sian-jin—telah menggauli Bwee Li, selir raja muda Yun Chang, dengan menyamar menjadi Yap-goanswe, laki-laki yang dicintai Bwee Li. Ketika Bwee Li melahirkan anak laki-laki yang tidak lain adalah Pouw Hun Kiat, dia menukar anaknya dengan bayi yang baru dilahirkan Tok-sim Sian-li. Bayi itu adalah Ceng Liong, atau yang kini bernama Kun Houw, anak laki-laki yang dipelihara Bwee Li bersama suaminya, Liok-kauwsu, yang akhirnya tewas di tangan Pouw Kwi.
Bwee Li yang sempat meninggalkan sepucuk surat pada Ciok-thouw Taihiap akhirnya membuka rahasia itu; bahwa bayi yang dipelihara Tok-sim Sian-li adalah Hun Kiat, sedangkan bayi yang ia pelihara adalah Ceng Liong, anak dari hubungan gelap Tok-sim Sian-li dengan Pendekar Gurun Neraka!
Pendekar Gurun Neraka terkejut dengan isi surat itu dan mencari Ceng Liong yang telah merantau serta mengubah nama menjadi Bu-beng Siauw-cut. Karena pencarian sia-sia, Pendekar Gurun Neraka kembali ke Ti-pie-san dengan perasaan gelisah. Dia terpukul oleh kenyataan bahwa Tok-sim Sian-li melahirkan keturunannya melalui kelicikan wanita iblis itu, yang dulu melolohinya dengan arak perangsang hingga mabuk dalam nafsu berahi.
Pendekar Gurun Neraka khawatir anak itu akan menjadi ganas seperti ibunya. Ketika akhirnya anak itu menghilang dan menjadi murid Butiong-kiam Kun Seng, pendekar itu kehilangan jejak. Sampai akhirnya Kun Houw atau Ceng Liong datang ke Beng-san dan membuat geger saat menghormat jenazah Ciok-thouw Taihiap. Begitu membaca surat Bwee Li, Kun Houw tertegun dan segera pergi.
Kun Houw menuju kota raja mencari Tok-sim Sian-li. Dia tak menyangka Bwee Li, wanita yang disangka ibu kandungnya, ternyata bukan ibu kandungnya. Ibu kandungnya adalah Tok-sim Sian-li, wanita iblis yang ditemuinya pertama kali di kuil Dewa Bumi.
Perasaan Kun Houw hancur. Awalnya dia mengira Pendekar Gurun Neraka adalah musuh yang membunuh Bwee Li, sehingga dia menyimpan dendam. Namun setelah tahu bahwa Pendekar Gurun Neraka adalah ayah kandungnya, dia merasa bangga sekaligus kecewa. Dia tak habis pikir bagaimana ayahnya bisa berhubungan dengan Tok-sim Sian-li, wanita yang dikenal cabul. Kun Houw menyimpulkan bahwa ayahnya lah yang bersalah karena lemah terhadap wanita.
Kun Houw menangis dengan tinju terkepal, hingga renungannya terhenti oleh rintihan ibunya, "Liong-ji, di mana kau...?"
Kun Houw menghentikan tangisnya dan melihat ibunya mulai sadar. Dia segera menyambar lengan ibunya. "Ibu, aku ada di sini...!"
Tok-sim Sian-li membuka mata, menatap Ceng Liong dengan gemetar. "Liong-ji, di mana anak setan itu? Di mana Hun Kiat...?"
Kun Houw memejamkan mata. "Dia tak ada di sini, Ibu. Tapi aku bersumpah untuk mencari dan menghajarnya!"
"Dan kau... dari mana kau dapatkan surat wanita itu, Liong-ji? Bagaimana bisa tiba-tiba datang ke kamarku?"
Kun Houw menggeram. "Ibu, sebelum kujawab pertanyaanmu itu, bagaimana kau bisa berada di kamar itu bersama anak iblis itu? Kenapa kau melakukan perbuatan hina itu?"
"Ah, aku..."