Chapter 139
"Aku memang wanita hina, Liong-ji. Tetapi perbuatan di kamar itu bukan aku yang menghendakinya. Bocah iblis itulah yang memaksaku. Kepandaiannya sekarang hebat, dia mendapatkan warisan sinkang Ciok-thouw Taihiap!"
"Aku tahu, Ibu! Tetapi kenapa kau tak melawan?" Tok-sim Sian-li tiba-tiba menangis.
"Aku tak berdaya menghadapinya, Liong-ji... bocah itu memaksaku... dan karena masih kuanggap bahwa dia darah dagingku sendiri, maka aku bingung dan melayaninya bagai boneka...."
"Dan kau benar-benar tak tahu bahwa dia bukan anakmu, Ibu?"
"Benar, aku tak tahu, Liong-ji... tetapi... tetapi... aduh, napasku sesak, Liong-ji... aku tak tahan!" Tok-sim Sian-li tiba-tiba menggeliat, mengaduh, dan memuntahkan darah.
Kun Houw yang pucat melihat keadaan ibunya ini tiba-tiba menotoknya dengan perasaan tak karuan.
"Ibu, luka-lukamu parah. Sebaiknya kucari tabib untukmu!" Tok-sim Sian-li menggoyangkan lengan.
"Tidak... tidak, Liong-ji... jangan tinggalkan aku. Ibumu tak akan lama lagi menghirup dunia... aku tahu!" Tok-sim Sian-li yang batuk-batuk dan kembali melontarkan darah segar membuat perasaan Kun Houw diremas dan bercucuran air mata. Ia mengangkat dan meletakkan kepala ibunya itu di atas pangkuannya.
Lalu, menggigil dan gemetar memandang ibunya, Kun Houw bertanya lirih, "Ibu, apa yang harus kulakukan?" Tok-sim Sian-li mengeluh, menekan dadanya.
"Aku ingin kau membalaskan sakit hati ini, Liong-ji. Aku..."
"Ya," Kun Houw memotong. "Aku akan mencari anak iblis itu, Ibu. Aku akan membunuh Hun Kiat untuk membalas sakit hatimu!"
"Ah, tidak... bukan itu, Liong-ji. Tetapi aku ingin kau membalaskan sakit hati ini pada Pendekar Gurun Neraka!" Kun Houw terkejut.
"Apa maksudmu, Ibu?"
"Dia... dialah penyebab segala-galanya, Liong-ji... Hun Kiat tak perlu kau cari sebelum kau bunuh ayahmu itu! Ayahmu itu biang keladi semua penderitaanku... carilah dia dan balaskan sakit hati ini!" Kun Houw tertegun.
"Tetapi, Ibu. Bagaimana bisa terjadi semuanya ini? Kenapa kau dan Ayah..."
"Hmm, kau mau tanya kenapa aku dan Pendekar Gurun Neraka tak hidup bersama, Liong-ji?" Wanita itu menukas, terengah, dan tiba-tiba matanya berapi, batuk, dan diurut Kun Houw yang menganggukkan kepalanya.
Tok-sim Sian-li yang menggigit bibir sambil mengepal tinjunya tiba-tiba mendesis, "Karena dia tergila-gila pada dua istrinya yang sekarang itu, Liong-ji. Karena ayahmu itu tak tahu dicinta orang dan mata keranjang!"
"Tetapi siapa yang bersalah lebih dulu, Ibu? Bukankah kau...."
"Ya, aku tahu, Liong-ji. Kau hendak mengatakan bahwa aku seorang wanita iblis, sedang ayahmu seorang pendekar, bukan?" Tok-sim Sian-li memotong. "Itu benar, Liong-ji. Itu tidak salah! Tetapi tahukah kau siapa yang menjadi penyebab hingga aku menjadi begini? Ayahmu itulah, Liong-ji. Pendekar Gurun Neraka itulah! Dia menyia-nyiakan cintaku dan meninggalkan aku seorang diri!" Tok-sim Sian-li yang tiba-tiba menangis dengan pundak berguncang-guncang akhirnya membuat Kun Houw mengerutkan kening, teringat pada kesimpulannya sendiri.
"Ibu, bisakah kau ceritakan padaku asal mula kisahmu ini? Siapakah yang lebih dulu mulai?" Tok-sim Sian-li masih menangis.
"Tak ada gunanya kuceritakan padamu, Liong-ji. Kau akan mengorek-ngorek lukaku dengan mendengarkan cerita itu."
"Tetapi aku perlu mengetahuinya, Ibu. Aku ingin tahu siapa sebenarnya yang lebih dulu bersalah!" Tok-sim Sian-li terkejut.
Dia melihat Kun Houw bangkit berdiri, melihat kekerasan sikap dan kegagahan anaknya ini, kegagahan yang memancar seperti yang dimiliki Pendekar Gurun Neraka! Tok-sim Sian-li yang tiba-tiba kagum pada anaknya ini menjadi semakin yakin dan percaya bahwa anak itu adalah anaknya, pemuda yang patut menjadi keturunan Pendekar Gurun Neraka. Tidak seperti Hun Kiat yang mirip manusia iblis itu! Tok-sim Sian-li yang terkekeh bangga tiba-tiba melupakan sakitnya.
"Liong-ji, kau persis ayahmu!" Kun Houw mengerutkan kening.
"Aku tak perlu pujian itu, Ibu. Aku memerlukan ceritamu untuk melihat siapa yang lebih dulu mulai!"
"Maksudmu?" Kun Houw ragu-ragu.
"Kau tak mau membalaskan sakit hatiku kalau ayahmu yang benar, Liong-ji? Kau ragu-ragu untuk membela ibumu ini...?" Tok-sim Sian-li dapat menebak, tahu bahwa lagi-lagi darah kegagahan muncul di dalam diri putranya itu, watak yang benar-benar mirip Pendekar Gurun Neraka!
Tok-sim Sian-li yang tiba-tiba terkekeh mendadak terguling roboh ketika kembali batuk-batuk.
"Liong-ji, aku tak akan menceritakannya kalau begitu... kau tentu tak percaya!" Kun Houw melompat. Dia melihat ibunya merintih, kejang-kejang, dan sukar bicara.
Kun Houw yang kembali menotok ibunya untuk melegakan pernapasan tiba-tiba didorong ibunya itu.
"Liong-ji, tak usah... biarkan ibumu mampus dengan membawa dendam ini... kau pergilah!" Kun Houw menggigit bibir.
"Aku tak akan meninggalkanmu di sini, Ibu. Aku akan menolong dan menjagamu di sini."
"Tetapi kau tak menyanggupi permintaanku, Liong-ji. Untuk apa menolong ibumu? Pertanyaanmu mengandung kesangsian. Kau tak percaya kepadaku!" Kun Houw gugup.
"Bukan begitu, Ibu. Tetapi..."
"Tidak... tidak... kau pergilah, Liong-ji. Biar ibumu mampus membawa bekal sakit hati ini. Kau tak dapat kuandalkan!" Tok-sim Sian-li yang kembali mengerang sudah menggeliat-geliat dengan muka pucat. Wanita ini terlalu banyak bicara, napasnya putus-putus.
Kun Houw yang menggigil melihat keadaan ibunya itu tiba-tiba menangis dan bercucuran air matanya.
"Ibu, kau akan kucarikan seorang tabib."
"Ah, tidak... aku tak akan mati terpejam biarpun dewa yang mengobatinya, Liong-ji... aku hanya kecewa pada nasibku yang jelek... tak dapat, aduh... tak dapat membalaskan sakit hatiku ini!" Tok-sim Sian-li yang kembali kejang-kejang dengan mata terbelalak tiba-tiba merintih dan mengaduh ketika rasa sakit yang sangat menusuk dirinya, membuat wanita itu menggelepar dan meronta dalam sakratul maut.
Ketika napasnya tiba-tiba putus dan tubuh yang menggelepar itu berhenti bergerak, wanita itu telah terkulai lemah di pangkuan putranya. Mati!
"Ibu...!" Namun Tok-sim Sian-li telah tewas.
Wanita itu putus napasnya dengan mata terbelalak, masih membayangkan kekecewaan dan dendamnya yang besar. Kun Houw yang tersedu-sedu di dekat mayat ibunya itu tak tahan akan mata ibunya yang melotot, menutup kelopaknya dengan air mata bercucuran. Tetapi ketika kelopak itu tak dapat ditutup dan masih mendelik hingga Kun Houw tertegun, tiba-tiba terdengarlah suara dari arwah wanita itu, "Liong-ji, kau tak dapat menutup kelopak mataku bila tidak berjanji membalas sakit hati ini. Aku akan menjadi setan penasaran yang mati dengan mata tak terpejam!" Kun Houw mengguguk.
Dia memang telah mencoba menutup kelopak jenazah ibunya itu, yang tak dapat digerakkan sebelum dia berjanji. Kun Houw yang mau tidak mau harus berjanji agar ibunya dapat mati terpejam akhirnya berlutut di samping jenazah ibunya itu dengan suara menggigil, "Baiklah, aku akan memenuhi keinginanmu, Ibu. Aku akan mencari dan membalas sakit hatimu pada Pendekar Gurun Neraka!" Begitu Kun Houw selesai mengucapkan janjinya, tiba-tiba kelopak mayat itu menutup tanpa disentuh!
Kun Houw menangis. Dia dilanda kedukaan dan kemasygulan besar. Ketika dia mulai menggali lubang untuk mengubur mayat ibunya itu, Kun Houw masih terus mencucurkan air mata kesedihan. Sampai akhirnya, ketika dia selesai mengurus jenazah ibunya itu dan siap keluar gua, tiba-tiba tiga bayangan telah berkelebat menghadangnya di pintu depan!
"Haha, kau telah menguburkan ibumu, Ceng Liong?" Kun Houw merasa canggung. Dia melihat Hun Kiat dan dua orang gurunya muncul di situ, Mu Ba si tinggi besar dan Mayat Hidup yang kurus dan batuk-batuk. Hun Kiat yang menegurnya dengan panggilan Ceng Liong membuat Kun Houw risi dan marah. Ia marah bahwa nama "Ceng Liong" telah membuat citra yang tidak baik. Maka Kun Houw yang melompat ke depan dengan mata berapi-api tiba-tiba membentak dan merasa cocok.
"Orang bermarga Pouw, apa maksudmu datang ke mari? Kau siap menebus dosa?" Ceng Liong, atau yang kini kita sebut Hun Kiat, itu tertawa mengejek. Dia telah memberi tahu dua orang gurunya tentang "perubahan status" itu. Bahwa dia bukanlah Ceng Liong melainkan Hun Kiat, karena Ceng Liong yang sesungguhnya adalah Kun Houw, atau si Bu-beng Siauw-cut itu. Hun Kiat yang tertawa memandang belakang punggung Kun Houw tiba-tiba menjentik-jentikkan jarinya seperti iblis.
"Ceng Liong, janggal juga menyebut nama ini yang bertahun-tahun telah melekat sebagai namaku. Bagaimana kalau kita tidak perlu bermusuhan lagi?"
"Hmm, kau telah membunuh ibuku, Hun Kiat. Tak mungkin kita tidak bermusuhan! Apa maksudmu dengan pernyataan persahabatan itu?" Hun Kiat tertawa.
"Pernyataan yang simpatik, Ceng Liong. Kami..." Kun Houw memotong, membentak marah, "Aku tak sudi memakai nama Ceng Liong, orang bermarga Pouw. Kau telah merusak nama ini dengan perbuatan-perbuatanmu yang hina. Aku adalah Kun Houw!" Hun Kiat tersenyum.
"Baiklah... baiklah, Kun Houw. Aku juga merasa canggung menyebut namamu sebagai Ceng Liong. Kami datang untuk, heh-heh... untuk meminjam Pedang Medali Naga, Kun Houw. Dan kalau kau mau menerima permintaan ini, maka sebagai gantinya kami akan bersahabat dan menjadi teman-temanmu yang paling baik!"
"Keparat!" Kun Houw marah. "Kau tak malu untuk menyembunyikan maksudmu merampas dengan istilah meminjam, Hun Kiat? Dan siapa ingin menjadi sahabat kalian manusia-manusia iblis ini? Dua gurumu berutang jiwa pada mendiang guruku. Dan kau berutang jiwa pula pada ibuku!" Hun Kiat tertawa.
"Itu urusan sepele, Kun Houw, dapat dipikir untung ruginya di belakang saja! Sekarang, bagaimana dengan permintaan tadi, dapatkah kau meminjamkan Pedang Medali Naga kepada kami?" Kun Houw melompat mundur, langsung mencabut pedangnya.
"Kau dapat memilikinya kalau aku menjadi mayat, orang bermarga Pouw. Sekarang majulah dan tak perlu banyak cakap lagi." Hun Kiat juga melompat mundur.