Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 14

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 14

Tapi Ceng Bi merenggut lepas tangannya, dan cemberut memandang sang suami, ia menegur, "Yap Koko, begitukah caramu meninggalkan Enci Hong di rumah?" Pendekar ini tertegun.

"Apa maksudmu, Bi Moi?" "Hm, kau harus memberi ciuman dulu, Koko. Kau tak boleh membuat Enci Hong kecewa dengan pergi meninggalkannya begitu saja. Walau hanya sehari!" Pendekar Gurun Neraka pun semburat merah.

Dia tergesa-gesa oleh kecemasannya memikirkan si Bu Beng Siauw Cut. Maka, mendapat teguran dari istrinya yang kedua ini, tiba-tiba dia tertawa masam dan memeluk pinggang istrinya yang pertama itu dengan senyum kikuk.

"Hong Moi, maafkan. Aku hampir lupa kalau tidak ditegur Bi Moi...!" Dan Pendekar Gurun Neraka yang sudah mencium istrinya ini segera disambut kecupan lembut oleh Pek Hong yang pipinya memerah.

"Tak apa, Koko. Kau jaga baik-baik Bi Moi, ya." "Aku menunggu kalian sehari ini." Pendekar Gurun Neraka melepaskan pinggang istrinya. Dia mengangguk, menarik lengan Ceng Bi. Dan Ceng Bi yang segera mencium pipi madunya itu tertawa kecil dengan mata bersinar-sinar.

"Enci Hong, kutinggal dulu, ya." "Kau awasi Bi Lan dan kakaknya. Sampai besok...!" Dan Ceng Bi yang sudah mengikuti suaminya tiba-tiba berkelebat keluar rumah, melambaikan tangan, dan segera lenyap ketika bayangan keduanya telah meluncur di balik gunung.

Tak tahu, betapa bahaya sedang mengintai Pek Hong yang menjaga rumah. Bahaya yang datang dari So Beng (Penagih Nyawa)!

Malam itu, Pek Hong merebahkan diri di kamar tidur. Nyonya muda ini mengurai rambutnya, sedikit tidak tenang karena sesungguhnya baru kali itulah selama bertahun-tahun dia hidup sendiri, tanpa suami tercinta di samping dirinya. Tapi membayangkan bahwa esok suaminya akan pulang, ia terhibur juga. Bagaimanapun, di rumah itu ada Sin Hong dan Bi Lan, di samping tiga orang pelayan yang mengurus keperluan mereka sehari-hari.

Dan Pek Hong yang merebahkan diri dengan sikap santai ini tiba-tiba terkejut ketika mendengar suara anjing menggonggong. Di rumah mereka memang ada dua ekor anjing, Hek Kauw (si Hitam) dan Pek Kauw (si Putih). Maka, mendengar dua ekor anjing ini tiba-tiba menggonggong saling bersahut-sahutan, mendadak nyonya muda itu tercekat. Dan belum dia bangkit berdiri, sekonyong-konyong pintu kamarnya didobrak orang dan hancur berantakan!

"Ah, apa ini?" Pek Hong membentak, langsung menyambar pedangnya dan melompat bangun. Dan begitu dia memandang, tahu-tahu Lay-lay si tukang kebun tergeletak di atas lantai, terbanting dan rupanya dilempar seseorang sambil berteriak-teriak!

"Hujin, di luar ada setan... di luar ada setan...!" Pek Hong menendang pelayannya keluar. Dia kaget melihat Lay-lay menjerit seperti itu, ketakutan benar seperti orang melihat hantu. Dan baru dia membentak pelayan ini agar tenang, tiba-tiba Hu Hun si perawat binatang juga jatuh berdebuk di bawah kakinya.

"Hujin, celaka. Di luar ada setan...!" Pek Hong terbelalak. Ia jelas tidak percaya pada teriakan dua orang pembantunya itu. Tapi baru dia melompat keluar, sekonyong-konyong Kam Sui, pelayannya yang ketiga, jatuh dari atas pohon, tepat di bawah kakinya pula. Dan begitu pelayan ini berdebuk jatuh, mulutnya pun menjerit.

"Hujin, hamba digantung setan...!" Pek Hong benar-benar terkesiap kaget. Dia terkejut melihat tiga orang pelayannya itu berturut-turut terlempar dan terbanting, semuanya memekik diganggu setan. Dan kaget serta heran oleh jerit tiga orang pelayannya, segera nyonya muda ini menghardik.

"Hu Hun, apa yang terjadi?" "Kam Sui, apa yang menimpamu?" Dua orang ini susul-menyusul menjawab, "Hamba ditendang makhluk berkepala merah, Hujin! Hamba digantung ketika melihat Hek Kauw menggonggong di luar pintu hamba...!" "Dan hamba dicekik, Hujin. Hamba juga ditendang makhluk berkepala merah itu...!" "Dia setan, Hujin. Hamba tak tahu bagaimana terjadinya ketika hamba tahu-tahu terbanting di pintu kamar Hujin...!" Lay-lay menyambung.

Dan tiga orang pelayan yang gemetaran dengan muka pucat itu sama-sama terbelalak ngeri memandang keluar dan berteriak-teriak, penuh ketakutan. Maka, Pek Hong yang terkejut oleh cerita tidak keruan dari tiga orang pelayan ini tiba-tiba membentak mereka.

"Lay-lay, diam. Di sini tidak ada setan!" Dan baru saja bentakan itu dikeluarkan, mendadak dua bayangan berkelebat. Mereka berpakaian merah, dan Lay-lay serta dua orang temannya yang kaget melihat bayangan ini tiba-tiba saling menubruk dan merapatkan diri, berteriak penuh rasa gentar.

"Hujin, setan itu datang...!" Pek Hong terkesiap. Ia hampir menggerakkan pedangnya, menyerang. Tapi ketika dua bayangan itu melompat di depan mereka, ternyata itu adalah Sin Hong dan Bi Lan.

"Ibu, Hek Kauw mati terbunuh...!" "Dan Pek Kauw juga terkapar di depan, Ibu. Dia mati terbunuh...!" Pek Hong tertegun. Ia mendengar teriakan dua orang anak ini, Bi Lan dan Sin Hong. Dan nyonya cantik yang membelalakkan matanya ini tahu-tahu melompat keluar. Ia tidak mendengar lagi gonggongan dua ekor anjing itu, dan ketika ia membuktikan sendiri, ternyata benar dua ekor anjing itu telah mati terbunuh di luar rumah, kepalanya pecah!

"Ah, siapa yang melakukan ini?" Sin Hong dan Bi Lan mengikuti sang ibu.

"Aku tidak tahu, Ibu. Aku melihat Hek Kauw tahu-tahu roboh binasa di sini!" Bi Lan menjawab.

"Tapi aku melihat bayangan berkepala merah, Ibu. Dia berkelebat lenyap ketika baru saja membunuh Pek Kauw!" Sin Hong menyambung, memberi keterangan lebih jelas.

Dan Pek Hong yang marah serta kaget ini tiba-tiba terkejut bukan main ketika mendengar jeritan susul-menyusul tiga kali di dalam rumah. "Ah, Lay-lay dan dua orang temannya terancam, Hong Ji...!" Pek Hong berkelebat masuk. Ia terkejut sekali mendengar jeritan itu, dan begitu melompat ke dalam, tiba-tiba nyonya muda ini tertegun dan pucat mukanya. Ternyata benar dugaannya tadi. Lay-lay dan dua orang temannya sudah roboh di atas lantai, leher mereka terputus. Dan nyonya muda yang kaget serta marah ini membanting kakinya.

"Iblis terkutuk, siapa kau yang membunuhi orang dan anjing di rumah ini?" Tapi tidak ada jawaban. Sin Hong dan Bi Lan saat itu juga sudah mengikuti ibunya, melihat pemandangan mengerikan ini. Dan Bi Lan yang terbelalak pucat tiba-tiba menuding.

"Ibu, itu ada tanda di atas tembok, tapak jari si pembunuh...!" Pek Hong melompat mendekati. Ia melihat empat jari berdarah terlukis di tembok yang putih bersih itu, tapak jari yang dibuat dari darah tiga orang pembantunya! Dan Pek Hong yang gusar serta marah bukan main ini masih mendapat "titipan" sebuah surat yang ditulis dengan jari-jari berdarah!

Tidak ayal, nyonya muda ini mencabut surat yang menancap di atas tembok itu. Dan begitu ia membaca, tiba-tiba kakinya menggigil. Ternyata itu pesan singkat dari si pembunuh, isinya pendek saja: "Aku So Beng. Datang menagih empat jiwa di sini. Bersiaplah!"

Pek Hong gemetar. Ia tidak tahu siapa So Beng itu. Tapi melihat orang telah bertindak kejam di dalam rumahnya, tiba-tiba nyonya muda ini membentak, diarahkan keluar, "So Beng, aku tidak takut ancamanmu! Keluarlah dan mari kita bertanding!" Namun, rumah sunyi senyap saja. Pembunuh bernama So Beng tidak muncul. Dan ketika Pek Hong mengulangi bentakannya tiga kali, mendadak di luar rumah terdengar tawa menyeramkan dari seseorang tidak dikenal.

"Kwan Pek Hong, jangan sombong kau. Aku akan datang nanti pada pukul dua malam!" Nyonya muda ini terkejut. Ia berkelebat ke depan mencari asal suara, tapi ketika ia berada di luar, tahu-tahu Bi Lan dan Sin Hong yang ada di dalam menjerit kaget. Secepat kilat nyonya muda ini melompat balik, dan baru ia menginjakkan kakinya di dalam, tiba-tiba sesosok tubuh berkepala merah melompat keluar melalui jendela!

"Ha ha, anak-anakmu cantik dan tampan, Pek Hong. Lain kali aku ingin membawa mereka pula...!" Pek Hong mencelos hebat. Ia melihat Sin Hong dan Bi Lan roboh terpelanting, masing-masing berteriak kaget. Dan Pek Hong yang hendak mengejar si bayangan merah terpaksa menunda keinginannya dengan menolong anak-anaknya dulu.

"Hong Ji, Bi Lan... kalian tidak apa-apa?" Dua orang anak itu melompat bangun.

"Aku tidak apa-apa, Ibu. Tapi setan itu menowel pipiku dan merobohkan aku ketika kuserang!" Bi Lan melengking marah, pucat mukanya tapi sama sekali tidak kelihatan takut. Dan Sin Hong yang juga masih tertegun dengan mata terbelalak ikut mendesis.

"Dan dia menanyakan siapa di antara kami berdua yang menjadi putra Ibu Ceng Bi, Ibu. Dia tampaknya lihai dan berbahaya sekali!" Pek Hong berdesir. Ia merasa lega bukan main bahwa dua orang anak itu selamat, tidak kurang suatu apa. Tapi bahwa So Beng tiba-tiba bertanya tentang siapa di antara dua orang anak itu yang menjadi putra Ceng Bi, mendadak dia berdebar.

"Dan kau menjawab bagaimana, Hong Ji?" "Kami belum sempat menjawab, Ibu," Bi Lan menyahut.

"Dia segera pergi ketika Ibu datang!" Sin Hong mengangguk.

"Ya, kami belum sempat menjawabnya, Ibu. Iblis itu pergi ketika Ibu datang." Pek Hong mengepal tinju. Ia memasukkan pedangnya, dan teringat janji So Beng bahwa musuh akan datang pukul dua nanti, segera ia memberi pesan pada dua orang anak itu.

"Hong Ji, Bi Lan, mulai sekarang kalian tidak boleh jauh dariku. Ikuti Ibu dan kita urus dulu mayat Lay-lay dan dua orang pembantu yang lain!" Sin Hong dan Bi Lan mengangguk. Mereka membantu Pek Hong mengurus mayat Lay-lay dan yang lain, ngeri melihat kepala mereka putus dari tubuh. Dan Bi Lan yang marah oleh kekejaman ini mendesis, "Iblis itu benar-benar jahat, Ibu. Entah siapa dia dan kenapa datang memusuhi kita!" Pek Hong mengepal tinju.

"Aku juga tidak tahu siapa setan itu, Lan Ji. Tapi sangat kusayangkan kenapa dia datang pada saat ayah kalian sedang pergi."

"Ya, kalau Ayah ada, tentu iblis itu tidak mampu berkutik, Ibu. So Beng benar-benar jahat dan rupanya tahu Ayah sedang pergi!" Nyonya muda ini tersentak. Dia tertegun juga oleh kata-kata putranya itu, Sin Hong yang bicara dengan alis berkerut. Dan kaget bahwa kata-kata putranya ini beralasan juga, maka nyonya muda itu mengangguk.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment