Chapter 140
Dia memandang takjub Pedang Medali Naga yang berkeredep menyilaukan itu, sebuah senjata keramat yang konon mampu memotong baja bagai mengiris tahu.
Namun, Sin Thouwliong Mu Ba tertawa tergelak dan tiba-tiba melompat ke depan.
"Kun Houw, lebih baik kau serahkan saja pedang di tanganmu itu baik-baik. Kami akan mengampunimu," seru Mu Ba.
"Hm, siapa yang harus tahu diri, Mu Ba? Kaulah yang tak tahu malu. Kau telah membunuh guruku dan kini ingin merampas pedang ini!"
"Ha-ha, itu karena kebodohan gurumu sendiri, Kun Houw. Kalau dulu dia menyerahkan Pedang Medali Naga dengan baik-baik, tentu dia tak akan mampus dengan sia-sia!"
Mu Ba memberi isyarat kepada temannya, dan tiba-tiba muncul kekeh si Mayat Hidup yang mengepung Kun Houw.
"Benar, gurumu sombong pada waktu itu, bocah. Tapi kalau kau tidak mengulang kebodohan gurumu, tentu kau tak perlu celaka di tangan kami. Sebentar, perlihatkan pedangmu itu kepada kami!"
Mayat Hidup menjentikkan kuku jarinya dan tiba-tiba menyambar pedang di tangan Kun Houw tanpa banyak bicara lagi. Namun, Kun Houw sudah siap. Dia menaruh kewaspadaan tinggi, dan saat melihat lawan menggerakkan lengan untuk mencengkeram pedangnya, Kun Houw membentak dan memutar tubuhnya. Ia menendangkan kaki dengan seruan keras dan membabat kuku jari lawannya itu.
"Mayat Hidup, awas!"
Namun terlambat. Mayat Hidup meremehkan lawannya karena belum pernah bertanding seperti halnya Mu Ba. Maka, ketika Kun Houw mengelak dan membabat kuku jarinya dengan kecepatan kilat, dua jari iblis tinggi kurus itu tersambar hingga kukunya yang panjang putus.
"Crat...!" Mayat Hidup berteriak kaget. Dia melompat mundur dengan muka berubah. Melihat pedang masih mengejarnya dengan putaran melingkar, kakek ini melengking dan berjungkir balik menjauhkan diri. Ia terkejut bukan main karena Kun Houw memiliki ilmu yang hebat, benar-benar seperti gurunya.
Robekan kain yang memberebet panjang disusul terkuaknya lengan baju iblis ini membuat Mayat Hidup terbelalak. Ia turun dengan muka pucat dan berseru, "Hebat, omonganmu tidak keliru, Mu Ba. Bocah ini benar-benar seperti gurunya dan cukup berbahaya...!"
Mu Ba tertawa mengejek. "Karena itu jangan remehkan dia, cecak kering. Akupun tak tahan kalau meringkusnya seorang diri!"
Mayat Hidup kembali maju dengan mata melotot. Dia siap menyerang lagi, tapi Hun Kiat melompat ke tengah dan mengibaskan lengannya. "Ji-suhu, Twa-suhu, sebaiknya kalian menonton dulu di pinggir. Kalau aku dapat mengalahkannya, tak perlu kalian maju!"
Kun Houw mendengus, "Bagus, dan kau akan menguji sinkang curianmu itu kepadaku, Hun Kiat? Kau menganggap kepandaianmu dapat mengatasi kepandaianku?"
"Ha-ha, kau rupanya tahu apa yang terjadi di Beng-san, Kun Houw. Memang tidak salah, aku ingin menguji sinkangku kepadamu. Bersiaplah!"
Hun Kiat yang sudah membengkokkan kakinya itu tiba-tiba membentak, melepas pukulan Tok Hiat Jiu ke arah lawan.