Chapter 141
Kun Houw yang melihat lengan pemuda itu berwarna merah dan mengeluarkan bau amis tiba-tiba melompat ke kiri dan menggerakkan lengan kirinya, menangkis sambil mengerahkan sinkangnya, tidak takut akan pukulan Darah Beracun lawan yang berbahaya itu.
Dan begitu dua lengan bertemu dan saling berbenturan dengan kuat, tiba-tiba keduanya tergetar dan terdorong mundur.
"Dukk!" Hun Kiat terkejut.
Dia merasa tenaga yang aneh menahan pukulannya, lunak namun kuat, tenaga yang mirip dengan tenaga yang dimiliki Sin Hong!
Dan Hun Kiat yang terbelalak memandang lawannya tiba-tiba tertegun dan mendesis.
"Kau memiliki sinkang yang sama seperti yang dipunyai Sin Hong, Kun Houw?" Kun Houw terkejut.
Dia tadi memang mengerahkan Jinghong Sinkangnya itu, sinkang Menghimpun Seribu Naga.
Sinkang yang dia peroleh dari manusia dewa Bu Beng Sian-su bersama Sin Hong ketika mereka berada di Gua Malaikat, sebuah hal kebetulan saja karena mereka memiliki keberuntungan yang sama.
Maka mendengar Hun Kiat bertanya tentang hal itu dan Kun Houw ikut tertegun, tiba-tiba Kun Houw tertawa mengejek dan tidak menjawab pertanyaan tersebut.
"Hun Kiat, rupanya kau gentar menghadapi kepandaianku. Apakah ini pernyataan takut?" Hun Kiat tertawa.
"Jangan kau sombong, Kun Houw. Aku tidak pernah takut dan menyerah sebelum roboh binasa. Awas…!” Dan Hun Kiat yang sudah menyerang lagi dengan bentakan nyaring tahu-tahu melancarkan pukulannya kedua dengan lebih berbahaya lagi.
Hun Kiat melompat dan memutar kedua lengannya, berkerotok dan semakin merah bagai besi dibakar.
Dan begitu melompat dan menerjang lawannya, tahu-tahu Kun Houw sudah dikelilingi pukulan dan tamparan Hun Kiat, gencar dan bertubi-tubi tanpa ampun!
"Kun Houw, hati-hati menjaga pedangmu…!” Tapi Kun Houw mendengus sinis.
Dia memasukkan pedangnya karena melihat lawan menyerangnya dengan tangan kosong, tidak mau bersikap curang mengandalkan senjata.
Dan melompat serta bergerak ke sana kemari menghindari serangan lawan, tiba-tiba Kun Houw membalas dengan Tangan Pedangnya (Kiamciang), ilmu yang dulu dia pakai menghadapi Mu Ba.
Dan begitu berderak serta membalas serangan Hun Kiat, tiba-tiba kedua lengan Kun Houw sudah berubah seolah batang pedang yang keras dan tajam, menusuk dan membacok tubuh lawan seolah pedang sendiri, yang tidak kalah ampuh dan berbahaya dengan sebatang pedang!
Dan Hun Kiat yang mendengar suara berdesingan menyambar-nyambar dari lengan lawannya tiba-tiba terkejut dan menjadi kagum juga.
"Bagus, Kiamciang yang hebat, Kun Houw… luar biasa…!” Namun Kun Houw tidak menghiraukan pujian lawan.
Dia terus membalas dan menangkis lawan, mempergunakan Kiamciang atau Tangan Pedang untuk mewakili senjatanya, menahan sekaligus mendesak lawan yang mempergunakan Tokhiat Jiu yang berbau amis itu, pukulan beracun yang uapnya dapat membuat orang roboh dengan menghirupnya, yang memang berbahaya dan amat jahat.
Tapi Kun Houw yang telah melindungi diri dan pernapasannya dengan sinkang yang diwarisi dari Bu Beng Sian-su, akhirnya sedikit demi sedikit berhasil menghalau uap merah itu dan mendesak lawan!
"Keparat, kau hebat, Kun Houw. Tapi aku tidak akan kalah!" Hun Kiat penasaran, terbelalak, dan membentak lawannya itu dengan kaget ketika melihat kenyataan betapa pukulan Tokhiat Jiunya terdesak, uapnya ambyar, dan percuma menyerang Kun Houw.
Dan Hun Kiat yang menjadi marah serta penasaran tiba-tiba memekik dan mengerahkan Cuibeng Ginkangnya, mengganti Tokhiat Jiu dengan Jari Penusuk Tulang!
"Kun Houw, aku akan membalasmu…!” Kun Houw sedikit terkejut.
Dia melihat tangan kiri Hun Kiat tiba-tiba berganti putih, hilang uap merahnya karena Hun Kiat telah mengerahkan Coan Kut-Cinnya di tangan kiri itu, mengubah Tokhiat Jiu dengan Jari Penusuk Tulang.
Dan ketika Hun Kiat mengerahkan Cuibeng Ginkangnya untuk berkelebatan menyerangnya, tiba-tiba lawannya itu lenyap dalam gulungan hitam yang menyambar-nyambar!
"Bagus, kau juga hebat, Hun Kiat. Tapi aku akan bertahan!" Kun Houw membentak keras, mengerahkan ginkangnya pula, dan mengimbangi lawan dengan kecepatan yang sama.
Dan begitu keduanya saling serang-menyerang, tiba-tiba keduanya pun lenyap dalam dua gulungan bayangan yang satu sama lain tidak mau mengalah.
Hun Kiat melancarkan Jari Penusuk Tulangnya dengan tangan kiri, sementara tangan kanan yang masih bergerak dengan pukulan Tokhiat Jiu masih terus menyambar-nyambar dengan hebat.
Dan ketika dia menggabungkan dua ilmunya itu dengan tangan kiri dan kanan, tiba-tiba desakan Kun Houw dapat ditahan!
"Ha-ha, sekarang kau tidak dapat sombong, Kun Houw. Aku dapat menahan Tangan Pedangmu!" Kun Houw tidak menjawab.
Dia melihat lawannya itu memang hebat, berhasil memainkan gabungan Coan Kut-Cin dan Tokhiat Jiu dengan amat baik menahan Tangan Pedangnya.
Tapi Kun Houw yang mendengus tidak menghiraukan ejekan lawan sudah menambah sinkangnya dan kembali menekan, menggerakkan Kiamciangnya dengan lebih cepat dan hebat.
Dan ketika Kun Houw membentak dan menambah sinkangnya itu, tiba-tiba kembali lawan dapat didesak!
Hun Kiat terkejut.
Dia kini mundur terus didesak lawan, perlahan namun pasti terdorong oleh Tangan Pedang lawan yang hebat, mendesing dan menyambar-nyambar tubuhnya bagai sebatang pedang yang tajam.
Dan ketika sesekali dia lambat berkelit, maka untuk pertama kalinya itu dia mulai "dicium" Tangan Pedang Kun Houw.
Dan Hun Kiat mendesis, merasa kulit tubuhnya seakan dibacok atau diiris sebatang pedang.
Dan ketika dia mundur-mundur dengan mata terbelalak dan bingung oleh serangan lawan yang ganas dan berbahaya, maka untuk saat itu pula dia mulai banyak menerima tamparan Tangan Pedang.
Hun Kiat mulai terdesak hebat.
Tapi perlawanannya yang gigih dengan dua gabungan ilmunya yang cukup kuat itu masih dapat melindungi dirinya.
Sampai akhirnya, ketika Hun Kiat marah dan meraung karena tidak dapat membalas serangan Tangan Pedang, tiba-tiba pemuda ini membentak dan melompat mundur, sejauh dua tombak sambil menghentakkan kakinya, "Kun Houw, berhenti. Aku adalah raksasa naga…!” Kun Houw terkejut.
Dia tergetar oleh bentakan lawan yang mengguncang bumi itu, bentakan dahsyat yang penuh pengaruh.
Dan ketika dia terbelalak menghentikan serangannya, mendadak lawan sudah berubah menjadi naga raksasa yang mengerikan di depannya, tertawa tergelak dan tiba-tiba menerkamnya.
"Hargh…!” Kun Houw terperangah.
Dia bengong oleh kejadian ini, tidak sempat berkelit.
Dan ketika dua tangan naga itu mencengkeram tubuhnya, tahu-tahu Kun Houw sudah dibanting di atas tanah.
"Bruukk!" Kun Houw terguling-guling.
Dia terkejut bukan main oleh serangan cepat itu, mengeluh dan melompat bangun.
Dan ketika dia mendengar kembali naga itu tertawa dan menubruknya ganas, tiba-tiba Kun Houw teringat akan ilmu lawannya dan mendiang Chengan Sianjin itu, sihir berkekuatan hitam yang bukan lain adalah Sinhun To.
Maka sadar dan maklum bahwa Hun Kiat mempergunakan sihirnya itu untuk memengaruhinya, mendadak Kun Houw melenting jauh berjungkir balik, menggoyang kepala dan mengusir pengaruh sihir setan itu, yang membuat matanya melihat lawan sebagai seekor naga.
Dan begitu kembali pulih dan melihat Hun Kiat kembali sebagai wujud aslinya, maka Kun Houw membentak keras dan menyambut cengkeraman lawan dengan Tangan Pedangnya.
"Plak!" Hun Kiat kali ini menjerit.
Dia mendapat tangkisan kuat yang membuat lengannya seakan patah, melihat Kun Houw berhasil membuyarkan pengaruh Sinhun Tonya dan memandangnya dengan marah.
Dan Hun Kiat yang terguling-guling sambil mendesis kesakitan itu segera berteriak ketika Kun Houw mengejarnya.
Tapi terlambat.
Kun Houw telah tiba di dekatnya, berkelebat melanjutkan serangannya tanpa memberi kesempatan lawan bangun.
Dan begitu Tangan Pedang bertubi-tubi menghajar Hun Kiat, maka Hun Kiat berkaok-kaok sambil menggulingkan tubuh ke sana kemari.
"Aduh, keparat kau, Kun Houw… jahanam kau!" Namun Kun Houw terus menyerang tanpa memberi ampun.
Pemuda ini membacok dan menusuk tubuh lawan dengan Tangan Pedangnya, membuat lawan menjerit-jerit.
Tapi melihat tidak sedikit pun Hun Kiat terluka oleh Tangan Pedangnya, diam-diam Kun Houw terbelalak dan kaget juga.
Teringat bahwa itu tentu berkat kekebalan yang dimiliki Hun Kiat, kekebalan dari sinkang Ciokthouw Taihiap yang dicuri dan telah meresap di tubuh pemuda ini.
Dan Kun Houw yang geram oleh peristiwa itu tiba-tiba menghajar lawan dengan lebih gencar, membuat Hun Kiat jatuh bangun dan mengaduh berkali-kali.
Dan ketika Kun Houw siap mengakhiri pertandingan itu dengan menusuk mata lawan karena hanya inilah satu-satunya tempat yang tidak dapat dilindungi kekebalan, mendadak Mu Ba dan Mayat Hidup menyerangnya dari belakang.
"Kun Houw, lepaskan murid kami…!” Kun Houw terkejut.
Dia terpaksa memutar tubuh menghadapi sambaran dua musuh barunya itu, menggerakkan jari yang sedianya menusuk mata Hun Kiat untuk menangkis hantaman lawan.
Dan begitu tiga tangan mereka bertemu, tiba-tiba Kun Houw terdorong dan terpelanting roboh.
"Plas-Dess!" Kun Houw melompat bangun.
Dia melihat Hun Kiat sudah berdiri di samping dua orang gurunya, menahan sakit dan melotot padanya.
Kulit tubuhnya bilur-bilur bekas menerima tusukan atau tamparan Tangan Pedang.
Dan Kun Houw yang marah oleh bantuan Mu Ba dan Mayat Hidup kepada muridnya, tahu-tahu melihat tiga orang itu berkelebat dan telah mengepungnya.
"Kun Houw, kau tidak dapat kami ampuni sekarang. Serahkan Pedang Medali Naga!" Kun Houw menyadari bahaya.
Dia maklum Hun Kiat akan maju kembali, dibantu dua orang gurunya yang memandangnya dengan sikap penuh ancaman.
Tapi Kun Houw yang tersenyum mengejek tiba-tiba berdiri gagah dan tidak atau belum mencabut pedangnya, mau coba-coba menghadapi mereka dengan Kiamciang.
"Mu Ba, kau dan muridmu ternyata sama saja. Aku tidak akan menyerahkan pedang bila belum menjadi mayat!" "Bagus, kalau begitu tidak perlu banyak bicara lagi, bocah. Kami akan merampasnya dengan cara kekerasan. Mayat Hidup, bunuh dia…!” Dan Mu Ba yang menggeram serta melompat ke depan tahu-tahu menubruk dan menghantam Kun Houw dengan pukulan sinkangnya, disusul Mayat Hidup yang terkekeh dan melepas Coan Tonya.