Chapter 142
Begitu dua orang itu bergerak menyerang Kun Houw, Hun Kiat tiba-tiba membentak maju.
"Kun Houw, kau akan mampus!"
Kun Houw mengelak ke belakang. Dia tidak berani menangkis serangan tiga orang sekaligus karena bahayanya terlalu besar. Namun, lawan yang mengejar dan justru ingin dia menangkis dengan cara berbarengan membuat Kun Houw terbelalak dan menjadi marah. Ketika lawan memaksanya dari tiga penjuru, terpaksa Kun Houw menggerakkan Tangan Pedangnya membabat tiga lengan yang terjulur itu.
"Plak! Des! Dess!"
Kun Houw tidak kuat menahan gempuran tersebut. Dia terdorong mundur. Mu Ba yang tertawa bergelak melancarkan pukulannya kembali menyerang, "Bocah, kau tak dapat menahan kami!"
Kun Houw terus mendapat serangan susul-menyusul. Dia harus melompat dan mengelak ke sana kemari, menerima hujan serangan dengan Kiam-ciang-nya sambil mencoba bertahan sekaligus membalas. Namun, ketika lawan berpencar di tiga jurusan dan Kun Houw hanya dapat menghadapi yang ada di depan, serangan dari belakang membuat Kun Houw terdesak. Dia memang dapat menangkis serangan dua orang lawan di depan dengan Tangan Pedangnya, lalu balas menyerang dan mementalkan mereka. Akan tetapi, ketika lawan ketiga mengacau perhatiannya dengan serangan dari belakang, akhirnya Kun Houw menggigit bibir dan terdesak.
Kun Houw mengeluh. Ketika lawan yang ada di belakang itu berpindah tempat, Kun Houw benar-benar terdesak dan menjadi marah.
"Mayat Hidup, kalian manusia curang!"
"Ha-ha, kami memang bukan orang baik-baik, Kun Houw. Kenapa gusar? Sekarang terlambat bagimu untuk minta ampun. Kami akan merampas pedang dan jiwamu!"
Kun Houw mulai dikepung tiga orang lawannya. Bergantian, Mayat Hidup dan dua temannya berpindah tempat, melancarkan pukulan di belakang Kun Houw dengan gaya masing-masing, sementara dua orang di depan menarik perhatian Kun Houw dengan serangan mereka. Ketika Kun Houw terus menerima gebukan dari musuh di belakang hingga membuatnya mengeluh dan menggigit bibir, akhirnya ia mencabut pedang.
"Mu Ba, kalian iblis tak tahu malu! Aku akan membasmi kalian. Bersiaplah!"
Pedang Medali Naga yang sudah diputar Kun Houw menerjang lawannya. Pedang itu mendadak berputar cepat mengelilingi dirinya, membungkus dan naik-turun dengan suara bersuitan. Ia menangkis semua serangan dari depan dan belakang; hebat dan cepat, membentuk segunduk sinar yang berkeredep menyilaukan mata.
Begitu Kun Houw mencabut pedangnya dan menangkis serangan lawan, tiba-tiba saja Mu Ba berteriak kaget ketika daging pundaknya terkupas dibabat pedang.
"Hei, bret!"
Mu Ba membanting tubuh bergulingan. Dia kaget bukan main oleh keampuhan pedang itu yang dapat melukai pundaknya padahal ia sudah memasang kekebalan. Sementara itu, Mayat Hidup juga berteriak keras ketika kuku jarinya dibabat putus tiga buah!
"Crat! Crat! Crat!"
Mayat Hidup melengking. Dia terpaksa melempar tubuh seperti rekannya. Ketika mereka melompat bangun, ia melihat Hun Kiat hendak mencoba menangkis pedang dengan tangan telanjang. Sekonyong-konyong mereka berteriak, "Hun Kiat, jangan!"
Namun, Hun Kiat terlampau sembrono. Dia mengandalkan kekebalan sinkang yang diperoleh dari Ciok-thouw Taihiap, yang tadi dapat menerima Kiam-ciang lawan tanpa terluka. Padahal, tangan Kun Houw juga mirip sebatang pedang. Maka, ketika dua gurunya berteriak dan Hun Kiat terlalu percaya diri, saat itu juga Pedang Medali Naga menyambar dan membabat kelingking kanannya.
"Tes!"
Hun Kiat terbelalak. Dia hanya merasa kelingking kanannya tiba-tiba ringan. Namun, melihat darah muncrat dan sepotong jari terlempar di udara lalu jatuh di atas tanah, tiba-tiba Hun Kiat berteriak dan melempar tubuh bergulingan karena melihat senjata di tangan Kun Houw membalik menyambar lehernya dengan cepat.
Hun Kiat yang terkejut oleh ketajaman Pedang Medali Naga berjungkir balik dan berteriak pada gurunya, "Suhu, tolong!"
Mu Ba dan Mayat Hidup sudah berkelebat. Mayat Hidup melempar logam bergeriginya, senjata rahasia yang dulu membuat Bu-tiong-kiam Kun Seng celaka. Kun Houw yang beringas mendapat serangan logam bergerigi itu tiba-tiba membelokkan pedangnya untuk menangkis. Begitu pedang mengenai senjata rahasia itu, logam tersebut terbelah dua dan menyambar pemiliknya kembali.
"Mayat Hidup, terimalah! Cring-cring!"
Mayat Hidup terkejut. Dia melihat dua sinar hitam menyambarnya cepat—sinar dari logam bergerigi yang dibabat Kun Houw. Mayat Hidup mengelak sambil mengebutkan lengannya, namun menjerit ketika satu sinar masih menyambar telinganya dan merobek kupingnya!
"Cret!"
Mayat Hidup marah. Dia langsung mencabut tongkat ularnya, tongkat kering yang selama ini disimpan sebagai senjata tambahan. Ia mencelos melihat telinganya hampir saja putus, lalu berteriak keras dan menyerang.
"Mu Ba, keluarkan senjatamu! Bocah ini terlalu berbahaya dihadapi dengan tangan kosong!"
Mu Ba mengangguk. Dia telah mencabut senjatanya yang mengerikan, tengkorak anak-anak yang mendengung-dengung di putaran tangannya. Hun Kiat, yang membalut lukanya dan sudah maju ke depan, juga mencabut pedang yang selama ini jarang dipakai. Ia membentak dengan mata berapi-api memandang Kun Houw. Begitu guru dan murid ini menerjang membantu Mayat Hidup, Kun Houw diserang dari tiga jurusan.
Kun Houw melengking menyambut terjangan ini. Tiba-tiba ia mengeluarkan Ba-tong Kiam-sut (Silat Pedang Dalam Kabut) yang hebat, yang membuat tubuhnya lenyap di balik gulungan pedang yang membentuk kabut!
"Mayat Hidup, aku akan membasmi kalian!"
Mayat Hidup tidak menjawab. Dia memekik dan menyambarkan tongkatnya bertubi-tubi, dibantu tangan kirinya yang melancarkan Coan-kut-ci. Sementara itu, Mu Ba memainkan tengkorak anaknya dengan serangan dahsyat hingga membuat angin menderu, masih disusul pula oleh permainan pedang di tangan Hun Kiat. Mereka mengeroyok Kun Houw dengan hebat dan ganas.
Namun, Kun Houw yang dapat menutup diri dengan putaran pedangnya yang cepat ternyata mampu melindungi diri dengan baik. Kun Houw memainkan Bu-tiong Kiam-sut dengan sempurna; hampir tidak ada titik yang dapat ditembus. Pertandingan berjalan semakin seru. Masing-masing pihak ingin merobohkan lawan, dan pukulan-pukulan sinkang mulai dilancarkan untuk membantu serangan senjata hingga pertempuran menjadi hebat dan sengit bukan kepalang.
Kun Houw masih bertahan, memutar pedangnya membentuk gulungan kabut. Ketika Mu Ba mencoba memecah lingkaran pedangnya dengan sambaran tengkorak, tiba-tiba tengkorak di tangan raksasa tinggi besar itu justru pecah dan hancur berkeping-keping!
"Aih!" Mu Ba berteriak keras, mengambil tengkorak barunya, dan kembali menyerang.
Ketika Mayat Hidup mencoba menembus lingkaran pedang Kun Houw dengan tusukan tongkat ularnya, saat itu juga iblis tinggi kurus ini terpekik karena kepala tongkatnya putus terpenggal!
"Keparat, pedang di tangannya terlalu ampuh, Mu Ba. Kita sukar merobohkannya dengan cara begini!"
Mu Ba menggeram. Dia melihat kenyataan bahwa lawan tidak dapat didekati karena permainan pedangnya yang hebat. Sementara mereka bingung, tiba-tiba pedang mencuat dari gulungan berkabut itu menyambar mereka.
"Cecak kering, awas!"
Mu Ba membanting diri bergulingan. Dia melihat rekannya juga melempar tubuh, tidak berani menangkis karena maklum ketajaman pedang di tangan Kun Houw. Ketika mereka melompat bangun dan kembali menyerang, Kun Houw sudah menyambutnya dengan gulungan pedang yang kembali "membungkus" tubuhnya.
Sementara mereka berkaok-kaok marah, Pedang Medali Naga mencuat untuk menusuk mereka. Kun Houw sejenak membuka gulungan pedangnya dan menutupnya kembali begitu serangan gagal. Mu Ba serta Mayat Hidup yang terbelalak oleh gaya permainan ini tiba-tiba menjadi gusar dan merasa diejek!
"Bocah, kau manusia tengik! Jahanam!"
Kun Houw terus dengan caranya itu. Dia menutup diri bila diserang, dan membuka bila menyerang. Tentu saja, itu seperti mempermainkan lawan-lawannya. Ketika untuk kesekian kalinya Mu Ba membentak dan menyambarkan tengkorak anaknya dengan penuh geram, Hun Kiat yang sejak tadi mengerutkan kening melihat pertahanan Kun Houw tiba-tiba berteriak, "Suhu, lepaskan am-gi-mu! Serang bagian tengah!"
Mayat Hidup melengking. Dia tahu Hun Kiat bicara padanya, maka ia membentak dan melempar logam bergeriginya. Tiba-tiba Kun Houw diserang lima sinar hitam yang menyambar perutnya. Bersamaan dengan itu, Hun Kiat melontarkan pedang dan menghantam pusar Kun Houw dengan Pukulan Darah Beracun.
"Cring! Cring! Dess!"
Kun Houw terlempar. Dia membabat semua senjata yang menyerang bagian depan tubuhnya, termasuk senjata rahasia dan pedang Hun Kiat yang disambitkan padanya hingga mencelat entah ke mana. Namun, sementara dia memutar pedang meruntuhkan pedang dan logam bergerigi, pukulan Hun Kiat mengenai bawah perutnya. Hal itu membuat dia terlempar dan berjungkir balik dengan seruan keras.
Ketika dia melayang turun dengan kaki masih di udara, Hun Kiat tertawa bergelak dan menusukkan jari mautnya.
"Suhu, serang tengkuk kirinya! Aku yang kanan!"
Kun Houw terbelalak. Dia melihat Hun Kiat menusukkan Coan-kut-ci-nya ke tengkuk kiri, sementara Mayat Hidup yang terkekeh melancarkan serangan ke tengkuk kanan dengan tongkat ular yang sudah berkelebat di depannya dengan jarak yang amat dekat.