Chapter 143
Tak dapat dia mengelak. Masih tertegun oleh dua serangan guru dan murid itu, tahu-tahu Mu Ba juga menyambarkan tengkorak bayinya ke dada Kun Houw sambil tertawa bergelak.
"Ha-ha, mampus kau, bocah!"
Kun Houw menggigit bibir. Dia benar-benar berada dalam keadaan terancam saat masih melayang turun. Namun, Kun Houw membentak nyaring, menancapkan pedangnya, dan menungging di atas tanah. Sedetik saja, ia mencabutnya kembali dan melakukan dua jurus berbarengan dari tujuh inti ilmu silat pedangnya yang bernama *Tit-te Pai-seng* (Menuding Bumi Menyembah Bintang) dan *Heng-uh* (Awan Berarak Hujan Mencurah), membabat, dan berjungkir balik menyerampang.
Begitu Kun Houw menyambut serangan lawannya, terdengar teriakan dan benturan keras di udara. "Sing-plak-brett!" Tiga orang itu terlempar. Mayat Hidup dan dua temannya berjungkir balik menahan benturan itu, berseru kaget ketika pedang di tangan Kun Houw tiba-tiba "pecah" seperti hujan, menangkis dan menyambut jari mereka dengan desing mengerikan.
Sementara Kun Houw sendiri terpental oleh tengkorak Mu Ba yang mengenai dadanya, Mu Ba juga terserempet lehernya oleh *Heng-uh* yang merupakan ilmu simpanan itu—dua dari tujuh jurus inti *Bu-tiong Kiam-sut* yang hebat luar biasa. Begitu mereka melayang turun dan berdiri berhadapan, Mu Ba dan Mayat Hidup yang pucat menyaksikan kelihaian pemuda itu, lalu berseru kagum.
"Hebat, kau benar-benar seperti gurumu, bocah. Ilmu simpananmu itu luar biasa. Belum pernah kami lihat...!"
Namun, Kun Houw tak menghiraukan seruan itu. Dia merasa dadanya sesak, ampeg oleh hantaman tengkorak Mu Ba yang dahsyat. Mu Ba, yang melihat pemuda itu terhuyung, menyeringai girang dan kembali melompat maju.
"Mayat Hidup, rupanya dia terluka. Ayo maju dan ringkus dia!"
Mayat Hidup terbelalak. Tadinya dia mulai gentar, ngeri oleh kehebatan jurus yang dilakukan pemuda ini. Dia tidak tahu masih adakah simpanan lain yang disembunyikan murid *Bu-tong Kiam* ini. Tapi, melihat Kun Houw menggigil dan menekan dadanya, iblis ini terkekeh dan melompat maju.
"Benar, dia rupanya tak kuat menerima hantaman tengkorakmu, Mu Ba. Ayo bunuh dan robohkan dia!"
Mu Ba tertawa bergelak. Dia mengepung maju, memutar-mutar tengkorak bayi di tangannya dengan buas. Mayat Hidup yang juga sudah melompat ke depan mengerotokkan jari-jarinya, disusul Hun Kiat yang menggeram marah.
"Suhu, dia tak boleh lolos. Kun Houw harus kita bunuh!"
"Heh-heh, tentu saja, Hun Kiat. Tapi mana pedangmu?"
Hun Kiat mengibas kedua lengannya. "Aku tak akan mempergunakan senjata, Suhu. Tapi mempergunakan *Pekhong-ciang* dan *Soan-hoan-ciang* yang aku pelajari dari Ciok-thouw Tai-hiap!"
Kun Houw terkejut. Dia teringat bahwa selama ini Hun Kiat memang belum mengeluarkan ilmu-ilmu yang dia dapat dari Pendekar Kepala Batu; dia masih menggunakan ilmu-ilmu dari dua iblis itu, Coan-kut-ci dan Tok-hiat-jiu, disertai beberapa ilmu lain dari guru-gurunya yang sesat. Kini, Hun Kiat mulai menggunakan kekebalan dan *sinkang* Ciok-thouw Tai-hiap.
Tertegun mendengar Hun Kiat hendak menggunakan *Pek-hong-ciang* (Pukulan Angin Putih) dan *Soan-hoan-ciang* (Kibasan Angin Taufan) yang amat diandalkan Pendekar Kepala Batu, Kun Houw melihat lawannya itu merendahkan tubuh, memutar-mutar kedua lengan yang kian lama mengeluarkan suara mendengung mirip angin berhembus di sela-sela batu karang. Ketika kedua lengan Hun Kiat berubah menjadi putih keperakan dan berkeredep menyilaukan mata, pemuda itu membenak dan melompat maju.
"Kun Houw, terimalah...!"
Kun Houw membelalakkan mata. Dia mendengar angin berkesiur dahsyat, dan lengan lawannya itu menerjang serta berhembus dengan kekuatan luar biasa, mengibarkan bajunya dalam jarak dua tombak. Sementara Kun Houw membelalakkan mata oleh serangan ini, Mayat Hidup dan *Sin-thouw-liong* Mu Ba juga menyusul, tertawa bergelak dengan suara menyeramkan, berkelebat membarengi serangan muridnya itu. Mu Ba dengan tengkorak mautnya, sementara Mayat Hidup dengan *Jari Perusuk Tulang*-nya—sama-sama ganas, sama-sama mengerikan.
Begitu tiga musuh kembali menerjangnya dengan dahsyat, Kun Houw merasa angin pukulan Hun Kiat tiba lebih dulu.
"Des!" Kun Houw menangkis. Dia mengerahkan *Jing-long Sinkang*-nya untuk menahan *Pek-hong-ciang*. Dia tergetar dan terbelalak melihat Hun Kiat terdorong dua tindak, lalu kembali merendahkan tubuh dan membentak nyaring, mendorongkan kedua lengannya sambil melompat maju.
Sementara dia tergetar oleh pukulan *Pek-hong-ciang* ini, Mu Ba dan Mayat Hidup telah tiba di depannya dengan sambaran tengkorak maut disusul tusukan jari Mayat Hidup yang menyambar tenggorokannya. Terpaksa, Kun Houw melengking tinggi. Maklum bahwa dia harus mengeluarkan kepandaiannya yang paling puncak, tiba-tiba Kun Houw berkelebat lenyap, memutar pedangnya, dan memainkan jurus ketiga yang disebut *Bu-tiong Boan-seng* (Bintang Bertaburan di Dalam Kabut).
Begitu Kun Houw menyambut terjangan lawannya, pedang di tangannya meledak tiga kali di udara dan pecah menjadi ribuan batang, kerlap-kerlip bagai bintang berhamburan, indah dan luar biasa sekali. Mu Ba dan Mayat Hidup yang tercengang oleh bintang-bintang yang berhamburan ini terkejut. Mereka kehilangan lawan, tak melihat di mana adanya Kun Houw karena pemuda itu telah dikelilingi cahaya kerlap-kerlip yang luar biasa banyaknya.
Saat mereka tercengang kebingungan mencari lawan, mendadak "bintang" yang berhamburan di udara itu menyambar mereka. Jatuh demikian cepat, tahu-tahu sudah berada di depan hidung. Mu Ba serta temannya tentu saja berteriak keras dan membanting tubuh bergulingan, menangkis sebisanya.
"Cring-dess!"
Mu Ba menjerit ngeri. Dia masih dikejar oleh bintang yang berhamburan itu; tali tengkoraknya putus dan dia terlempar roboh, bergulingan menjauh dengan kaki terkuak lebar, terluka karena goresan pedang. Sementara iblis tinggi besar ini menjerit dengan luka di kakinya, Mayat Hidup juga berteriak ketika tujuh kuku panjangnya yang masih tersisa putus dibabat pedang, buntung disambar ribuan cahaya bintang yang menyambar-nyambar itu, melukai pula ibu jarinya yang terkuak berdarah.
Ketika dua orang ini berteriak kaget dan terbelalak pucat, Kun Houw telah menendang Mayat Hidup yang tertegun itu hingga tunggang-langgang. Namun, Kun Houw juga membayar mahal. Dia memang telah melukai dua orang lawannya itu—Mu Ba terpincang-pincang dan tak mungkin bertanding lagi karena harus merawat lukanya yang mengucurkan darah.
Kun Houw yang baru menyelesaikan *Buseng* untuk merobohkan dua orang lawannya itu tiba-tiba mendengar pukulan Hun Kiat yang menyambar kakinya. Kun Houw tak sempat mengelak; dia maklum baru saja menginjakkan kakinya di atas tanah. Maka, ketika pukulan tiba dan Kun Houw melindungi dirinya dengan *sinkang*, saat itu pula ia menerima sambaran *Pek-hong-ciang*.
"Dess!" Kun Houw terlempar jauh. Dia merasa kakinya remuk, jatuh menimpa pohon di belakangnya yang seketika tumbang, tak kuat menerima hantaman *Pek-hong-ciang* itu. Sementara Kun Houw mengeluh dan bangun dengan kaki terhuyung, Hun Kiat telah berkelebat mengejarnya dengan pukulan ketiga, kali ini mengibas dengan pukulan *Soan-hoan-ciang*—pukulan yang setingkat lebih tinggi dibanding *Pek-hong-ciang*!
Hun Kiat tertawa bergelak melihat kedudukan Kun Houw yang buruk dan berseru penuh kepercayaan diri, "Kun Houw, kau mampus kali ini...!"
Kun Houw terkesiap. Dia melihat serangan Hun Kiat memang hebat, menderu lebih dahsyat dan bergulung mirip angin pusaran, tak sempat lagi ia elakkan. Sadar bahwa dia belum berdiri tegak dan pukulan sudah tiba, Kun Houw menancapkan pedang di sebelah kakinya untuk menyambut dengan telapak terbuka, membentak, dan mengerahkan *Jing-liong Sinkang*-nya dengan sedikit terburu-buru.
Begitu dua lengan bertemu dan saling bentur di udara, terdengarlah ledakan yang mengguncang bumi. "Blarr!"
Kun Houw dan Hun Kiat terbelalak. Mereka masing-masing tergetar, merasakan betapa hebatnya pertemuan *sinkang* itu. Terutama Kun Houw, yang sepenuhnya menghadapi *sinkang* lawan yang didapat dari Ciok-thouw Tai-hiap, seolah-olah menghadapi Pendekar Kepala Batu sendiri yang berpindah raga. Dia merasakan betapa hebat dan luar biasanya pukulan *Soan-hoan-ciang* itu.
Namun, Kun Houw dapat bertahan dengan *Jing-liong Sinkang*-nya. Kembali menunjukkan *sinkang* yang lunak namun penuh kemujijatan itu justru membuat lawan terkejut. Untuk kesekian kalinya pula, Hun Kiat merasa betapa *sinkang* yang dimiliki Kun Houw ini mirip dengan yang dimiliki Sin Hong, mampu menahan *Soan-hoan-ciang*-nya yang dahsyat seperti dulu Sin Hong menghadapinya di Beng-san.
Ketika perlahan-lahan namun pasti Kun Houw dapat memperbaiki diri dan dua lengan mereka yang saling tempel tiba-tiba mendoyong ke arahnya, Hun Kiat berteriak pada gurunya untuk mengacaukan konsentrasi lawan, "Suhu, ambil Pedang Medali Naga itu! Biar Kun Houw kutahan!"
Kun Houw terkejut. Dia benar-benar terpengaruh oleh teriakan Hun Kiat ini. Dia melihat Mayat Hidup melompat maju menyambar pedang, yang memecahkan perhatiannya padahal saat itu ia tidak boleh tertarik pada hal-hal lain jika ingin merobohkan Hun Kiat. Kalah oleh godaan yang dilancarkan lawan untuk memecah perhatiannya itu, Kun Houw mengeluh ketika balik terdorong mundur, kaget melihat kakinya tergeser dan doyong ke belakang!
"Keparat, kau licik, Hun Kiat. Kau tak tahu malu...!"
Hun Kiat tertawa mengejek. Dia melihat gurunya sudah membungkuk, terkekeh, dan memainkan jarinya menyentuh gagang pedang, sengaja bersikap ayal-ayalan untuk membuat konsentrasi Kun Houw semakin kacau. Namun, persis saat kakek itu meraba pedang, sebuah papan catur melayang menghantam pergelangan iblis itu.
"Mayat Hidup, tunggu. Masih ada aku di sini... plak!"
Mayat Hidup yang terpental ke belakang tiba-tiba melihat munculnya seorang kakek yang terkekeh di depannya, berkelebat bersama seorang gadis cantik.