Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 145

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 145

Kun Houw tiba-tiba muram.

"Suhu tewas, Locianpwe. Kami menyelamatkan diri di lubang bawah tanah."

"Ah, dan kau telah mewarisi kepandaian jago pedang itu, Siauw-cut. Kau..."

"Maaf, aku telah diberi nama baru oleh mendiang guruku, Locianpwe. Aku kini bernama Kun Houw dan tidak mempergunakan nama lama itu," potong Kun Houw, membuat Phoa-lojin dan Hok Lian terbelalak.

Kakek itu tiba-tiba tersenyum lebar sambil memainkan papan caturnya. "Hm, kau mempergunakan she gurumu itu, anak baik. Kau kini bernama Kun Houw?"

"Ya, begitu yang dikehendaki mendiang suhuku, Locianpwe. Aku sekaligus diangkat anak di samping menjadi muridnya!"

"Ah, pantas kong-kong terkejut oleh silat pedangmu tadi, Kun Houw. Kong-kong bilang bahwa itulah Bu-tiong Kiam-sut!" seru Hok Lian.

"Dan bagaimana kalian bisa mengenalku, Locianpwe?"

"Karena kong-kong teringat bahwa kaulah satu-satunya orang yang terakhir dekat dengan jago pedang itu, Kun Houw," Hok Lian kembali berseru. "Dan kami ternyata benar setelah melihat Pedang Medali Naga di tanganmu!"

"Hm," Kun Houw mengerutkan alis. "Apa maksud kata-katamu terakhir itu, Hok Lian?"

"Heh-heh," kakek Phoa kali ini bicara. "Kami orang-orang Ho-han-hwe telah mendengar bahwa kau yang mendapatkan warisan pedang keramat itu, Kun Houw. Dan karena konon kabarnya kau dianggap sebagai wakil Pangeran Kou Cien, maka semua anggota Ho-han-hwe akan tunduk kepadamu!"

"Ah," Kun Houw terkejut. "Tapi aku tak memiliki hubungan dengan perkumpulan kaum patriot itu, Locianpwe. Dan juga tak mungkin aku bersahabat dengan mereka!"

"Eh," kakek Phoa membelalakkan mata. "Kenapa begitu, Kun Houw? Apa yang menjadi alasanmu?"

"Karena ketua Ho-han-hwe adalah Pendekar Gurun Neraka, Locianpwe. Dan aku memusuhi pendekar ini!"

"Hm, urusan pribadi?"

"Ya."

"Kalau begitu, apa urusan itu kalau aku boleh tahu, Kun Houw? Apa persoalan ibumu?"

Kun Houw menggeleng gelap. "Aku segan menceritakannya pada orang lain, Locianpwe. Cukup bila kukatakan bahwa Pendekar Gurun Neraka adalah musuhku!"

Hok Lian tiba-tiba melompat maju. "Kun Houw, kalau urusan pribadi mengganjal hatimu, sebaiknya selesaikan pula urusan itu secara pribadi. Sekarang kepentingan umum harus didahulukan. Maukah kau membantu kami?"

"Apa yang kau minta, Hok Lian?"

"Membantu orang-orang Ho-han-hwe menyelamatkan para tokohnya!"

"Hm..." Kun Houw tertawa mengejek. "Sudah kubilang aku tak mungkin bersahabat dengan Ho-han-hwe, Hok Lian. Kenapa kau meminta yang aku tak dapat melakukannya?"

"Tapi ini demi kepentingan umum, Kun Houw. Bu Wi Hosiang dan Thian Kong Cinjin ditangkap orang-orangnya Fu Chai bersama tiga orang temannya yang lain!"

"Siapa mereka?"

"Fan-ciangkun dan..." Hok Lian tiba-tiba berhenti, tertegun untuk menyebut nama Sin Hong dan Bi Lan, dua orang putra-putri Pendekar Gurun Neraka.

Kun Houw yang melihat orang itu berhenti bicara tiba-tiba melihat kakek Phoa tersenyum padanya sambil memasukkan papan caturnya. "Kun Houw, peristiwa besar telah menggegerkan Beng-san. Tidak dengarkah kau berita itu?"

"Tentang apa, Locianpwe?"

"Tentang penangkapan tokoh-tokoh Ho-han-hwe, Kun Houw. Bahwa dua orang putra-putri Pendekar Gurun Neraka ditangkap bersama tiga orang lain: Bu Wi Hosiang, Thian Kong Cin-jin, serta Fan-ciangkun itu! Tidak dengarkah kau?"

Kun Houw menggeleng. "Aku tidak tahu, Locianpwe. Tapi kukira aku juga tidak akan peduli. Apalagi mendengar keluarga Pendekar Gurun Neraka ditangkap!"

"Salah, justru kau harus peduli mendengar penangkapan ini, Kun Houw. Bukankah gurumu termasuk kelompok kaum pendekar yang selalu menentang kejahatan? Dan kau sebagai muridnya harus membantu kaum pendekar, Kun Houw. Karena penangkapan itu diprakarsai So-beng yang membunuh gurumu. Juga muncul dua iblis baru yang bernama Siang-mo Ji-bin!"

Kun Houw tidak tergerak. "Aku tak suka melibatkan diri dalam percakapan ini, Locianpwe. Sangkut paut nama Pendekar Gurun Neraka membuat aku enggan bicara. Sudahlah, sekarang apa yang hendak kalian lakukan dan ke mana Locianpwe mau pergi? Bagaimana muncul tiba-tiba di tempat ini?"

"Aku mendapat perintah Naga Bongkok untuk mencarimu, Kun Houw. Katanya kau baru dari Beng-san ketika menghormat peti jenazah Ciok-thouw Taihiap."

"Apa perlunya?" Kun Houw heran. "Dan kau juga ada di sana waktu itu, Locianpwe?"

"Tidak. Aku terlambat mengetahui tewasnya Ciok-thouw Taihiap, Kun Houw. Aku datang secara kebetulan saja ketika bertemu Naga Bongkok itu. Katanya kau pernah berjumpa dengan muridnya itu dan berkenalan dengan baik."

"Sin Hong?"

"Ya."

Kun Houw tiba-tiba tertawa mengejek. "Locianpwe, sebaiknya tak perlu kembali mengulang-ulang menyebut nama keluarga musuhku itu. Memang betul aku pernah bertemu muridnya itu, tapi sepuluh tahun yang lalu. Ada apa Naga Bongkok menyuruhmu untuk mencariku?"

"Kau diminta datang malam ini ke kota Wu-kian, Kun Houw. Ada sesuatu yang ingin dimintakan pertolongannya darimu."

"Untuk apa?"

"Urusannya tak kuketahui, Kun Houw. Tapi penting!"

"Hm," Kun Houw mengejek. "Aku masih ada urusan pribadi, Locianpwe. Aku masih akan mengejar seseorang malam ini!"

"Siapa?"

Kun Houw tak menjawab.

"Boleh kubantu, Kun Houw?"

Kun Houw menggeleng. "Terima kasih. Tak perlu, Locianpwe. Aku dapat melakukannya seorang diri."

"Dan kau benar-benar tak dapat membantu kami menyelamatkan lima orang tawanan itu, Kun Houw?" Hok Lian memandang Kun Houw dengan tajam.

Tapi Kun Houw yang tersenyum mengejek tetap menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku belum tergerak membantu orang-orang itu, Hok Lian. Apalagi ada dua orang keluarga Pendekar Gurun Neraka di sana! Bukankah ayah ibunya akan maju menyelamatkan putra-puterinya?"

"Betul, tapi tawanan dikawal pasukan besar berjumlah tiga ribu orang, Kun Houw. Mana mungkin membebaskannya kalau tidak dibantu orang-orang pandai? Pendekar Gurun Neraka dan dua istrinya tak cukup bila bekerja seorang diri. Tapi yang penting, kau tujukan saja pertolonganmu pada tiga orang yang lain itu, Fan-ciangkun, Bu Wi Hosiang, serta Thian Kong Cin-jin. Tentu kami orang-orang Ho-han-hwe akan berterima kasih sekali!"

"Hm," Kun Houw tetap menggeleng. "Aku tak dapat melakukannya, Hok Lian. Nama Pendekar Gurun Neraka masih ada di situ!"

"Tapi ini bukan urusan pribadi, Kun Houw. Ini urusan kaum pendekar yang banyak bergabung di Ho-han-hwe itu!"

"Tak peduli. Aku enggan melakukannya selama musuhku ada di sana, Hok Lian. Tak perlu memaksa atau membujukku lagi!"

Hok Lian marah. Ia mau memaki, tapi kakek Phoa yang tertawa lebar tiba-tiba menepuk pundak cucunya. "Baiklah, kami tak bermaksud memaksamu, Kun Houw. Kalau kau tak dapat membantu kami, sudahlah, kami tak akan kecewa. Hanya kami menyesal kau tak melakukan satu pekerjaan mulia. Hal yang tentu akan dilaksanakan gurumu kalau dia masih hidup!"

Lalu, memandang cucunya, kakek ini berkata, "Hok Lian, urusan kita selesai. Rupanya Kun Houw masih ada satu pekerjaan sendiri. Mari kita pergi!"

Hok Lian cemberut. "Baiklah, kau benar, Kek. Kalau Kun Houw tak mau membantu kita, memang tak perlu kita memaksa. Mari kita pergi!"

Hok Lian yang memutar tubuhnya berkelebat pergi dan meninggalkan Kun Houw tanpa banyak cakap lagi. Kakek Phoa juga menyusul cucunya, dan begitu dua orang itu bergerak memasuki hutan, lenyaplah mereka meninggalkan Kun Houw yang termangu-mangu sendirian.

"Kun Houw, kau akan menemui sebuah kesulitan besar dalam hidupmu. Berhati-hatilah!"

Kun Houw tertegun. Dia mendengar seruan kakek Phoa yang lenyap di kejauhan sana, tapi sambil tersenyum sinis, dia mengangkat pundaknya dan berkelebat pula meninggalkan tempat itu menuju ke barat, berlawanan arah dengan jalan yang diambil Hok Lian dan kakeknya. Kun Houw yang tak menggubris kata-kata Phoa-lojin tentang peringatan dirinya sudah melupakannya begitu saja tanpa menyadari bahwa dia benar-benar akan terjebak dalam sebuah kesulitan besar.

Malam itu, Kun Houw sudah memasuki istana. Dia menyelinap dengan gampang melalui penjagaan para pengawal yang tak banyak berarti baginya. Ketika dia mengintai ke gedung tempat Mu Ba dan teman-temannya tinggal, Kun Houw tertegun. Dia tak melihat siapa pun di situ. Suasana gedung sunyi. Tiba-tiba, dia melihat dua orang pengawal muncul memasuki lorong di tengah gedung.

"Liao Ti, benarkah para tawanan ditangkap Ok-sincia dan kini sedang dalam perjalanan?"

Pengawal kedua mengangguk. "Memang benar, Ma-twako. Dan kabarnya Kui Hoa-niocu berhasil memimpin tugas itu membawa lima orang tawanan. Mereka sudah tiba di Wu-kian, kabarnya besok akan memasuki kota raja dan menghadap Sri Baginda."

"Dan benarkah putra-putri Pendekar Gurun Neraka tertangkap?"

Pengawal kedua tertawa. "Betul, Ma-twako. Dan kabarnya Sri Baginda akan mengambil gadis yang cantik ini untuk menjadi selirnya. Memaksa agar Pendekar Gurun Neraka tunduk dan tidak memusuhi kerajaan!"

"Tapi tahukah Baginda kecantikan gadis itu?"

"Ha-ha, putri Pendekar Gurun Neraka tentu cantik, Twako. Juga lihai dan gagah perkasa! Tidakkah kau dengar kehebohan yang ditimbulkan gadis ini di kota Ye-kiang? Dia mengakibatkan Lao-ciangkun bunuh diri karena malu diarak sekeliling kota!"

"Ya, dan Sri Baginda kabarnya marah, Liao Ti. Sepak terjang gadis itu katanya menarik simpati rakyat kepada Ho-han-hwe!"

Kun Houw melayang turun. Dia tersentak mendengar disebutnya nama Kui Hoa, gadis yang mengobati lukanya dengan menyedot hawa beracun itu—kenangan yang sesungguhnya tak dapat ia lupakan semenjak mulutnya dicium gadis itu. Ketika dua pengawal ini sudah tiba di bawahnya dan dia tak mau kehilangan mereka untuk mendengarkan percakapan, tiba-tiba dia muncul di depan mereka bagai seekor burung yang hinggap dengan kaki ringan, membuat dua pengawal itu terkejut.

"Hei, siapa kau?"

Namun, Kun Houw bergerak cepat. Dia langsung menyambut tusukan tombak yang digerakkan dua pengawal itu, yang kaget dan marah bahwa seorang musuh datang mengganggu. Tapi Kun Houw yang menyelinapkan tangannya di bawah batang tombak tahu-tahu telah menangkap dan membetot senjata dua orang lawannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment