Chapter 146
Lalu, begitu dia menghentak dan membalik, tahu-tahu tombak telah berganti mengemplang dua pengawal itu dengan gagang menimpa kepala.
"Plak! Plak!" Dua pengawal itu menjerit.
Mereka terpelanting roboh, dan ketika melompat bangun untuk berteriak memanggil bala bantuan, leher mereka sudah ditempel mata tombak yang runcing dan siap menusuk.
"Berteriak berarti mati!" Dua pengawal itu tertegun.
Mereka pucat, menggigil memandang Kun Houw yang membentak dingin.
Ketika Kun Houw menekan lagi sedikit mata tombaknya ke leher mereka, tiba-tiba dua pengawal itu mengeluh dan menjatuhkan diri berlutut. "Ampun, kami... kami tak akan melawan, siauw-hiap. Siapa kau dan apa perlumu kemari?"
Kun Houw mendengus. "Aku mencari penghuni gedung ini, pengawal. Mana mereka dan di mana pula So Beng?"
"Ah..." pengawal di sebelah kiri terbelalak. "Penghuni gedung ini tak ada di tempat, siauw-hiap. Mereka ke Wu-kian atas perintah Sri Baginda!"
"Untuk apa?"
Pengawal itu menggigil. "Kami... kami tidak tahu, siauw-hiap..."
"Bohong! Kalian baru saja bicara tentang Wu-kian, pengawal. Apakah ada hubungannya dengan para tawanan?" Kun Houw memberontak. "Hayo bicara terus terang, kalau tidak, kalian akan kubunuh!"
Dua pengawal itu akhirnya membenturkan jidat. "Ampun, kami benar-benar tidak tahu, siauw-hiap. Tapi mungkin ada hubungannya dengan itu...!"
"Dan di mana So Beng?"
"Tak ada di sini, siauw-hiap. Dia bersama Ok Socia pergi ke Beng-san untuk menangkap pemberontak!"
"Siapa?"
"Orang-orang Ho-han Hwe. Kabarnya mereka..." Pengawal itu tiba-tiba menghentikan kata-katanya.
Kun Houw mendengar desir angin menyambar di belakangnya, lembut mirip sebatang jarum. Hampir tak terdengar oleh telinga, tetapi Kun Houw yang melempar tubuh ke kanan tiba-tiba mendengar dua pengawal yang ada di depannya itu menjerit ngeri, roboh terjengkang ditembus dua sinar putih yang entah apa, amblas di dahi mereka setelah luput menyambar Kun Houw.
Ketika Kun Houw melompat bangun, dilihatnya seorang laki-laki gagah berdiri dengan sikap penuh wibawa, mengebutkan lengan, dan memandangnya dengan dingin.
"Kun Houw, ada apa kau kemari?"
Kun Houw terkejut. Dia belum mengenal laki-laki gagah yang usianya sekitar empat puluh tahun dan tampan itu, yang berpakaian sederhana namun rapi. Namun, Kun Houw yang tertegun melihat orang sudah mengenalnya justru tersirap, membelalakkan mata, dan tergetar melihat perbawa laki-laki itu yang terasa kuat dan menekannya.
Ketika Kun Houw melompat bangun menghadapi laki-laki ini, tiba-tiba dia melihat ratusan bayangan muncul di balik kegelapan—bayangan pasukan pengawal yang tiba-tiba bergerak dan mengepung dirinya, muncul tanpa berisik bagaikan hantu dari balik kubur. Lebih dari dua ratus orang!
Kun Houw yang tertegun oleh kepungan ini tiba-tiba melihat seorang perwira melompat maju, menundukkan kepalanya di depan laki-laki gagah itu. "Ciangkun, apa yang harus kami lakukan?"
"Hm, seret mayat dua tikus kecil itu, ciang-hu. Dan kalian tinggallah di tempat masing-masing!"
"Baik!" Perwira itu mengambil mayat dua pengawal yang roboh binasa, lalu kembali ke tempatnya semula tanpa banyak bicara lagi, membersihkan tempat itu, dan berdiri di barisan pengepung dengan sikap tegak, memandang Kun Houw yang menjadi sasaran semua orang.
Namun, Kun Houw yang tak gentar sedikit pun bahkan melompat maju menghadap laki-laki itu. "Maaf, kau siapakah, Ciangkun? Kenapa melakukan kecurangan dengan membokong orang lain?" Kun Houw bertanya, menyebut "Ciangkun" pula seperti yang dilakukan perwira tadi.
Laki-laki gagah yang bersikap dingin itu tiba-tiba tersenyum mengejek. "Kun Houw, seharusnya aku yang bertanya kepadamu, kenapa kau masuk ke tempat ini secara gelap? Apa maksudmu dan atas suruhan siapa kau datang kemari?"
"Hm, aku datang atas suruhan hatiku sendiri, Ciangkun. Aku kemari untuk mencari Mayat Hidup!"
"Dan juga So Beng?"
"Ya," Kun Houw terkejut. "Dari mana kau tahu? Siapa kau?"
Laki-laki itu tertawa dingin. "Aku ayah Ok Kui Hoa, Kun Houw. Kabarnya kau telah berkenalan dengan putriku itu."
"Oh, kau... kau Ok-ciangkun?"
"Ya."
"Ah!" Kun Houw mundur selangkah, tertegun, dan memandang laki-laki gagah itu dengan mata tak berkedip. Baru tahu inilah Panglima Ok yang lihai itu, yang konon katanya memiliki kepandaian tinggi dan kebal racun. Amat hebat!
Kun Houw yang tergetar memandang laki-laki berpakaian sederhana ini tiba-tiba melongo dan sedetik tak mampu mengeluarkan suara.
"Kenapa, Kun Houw?"
Kun Houw terkejut. Buru-buru dia menekan guncangan hatinya, merasa merah padam teringat bahwa inilah ayah Kui Hoa, gadis yang membuatnya berperasaan tak keruan dan gugup. Namun, Kun Houw yang ingat bahwa kabarnya panglima ini adalah juga suheng (kakak seperguruan) Iblis Penagih Jiwa, tiba-tiba mengeraskan sikap dan memandang marah.
"Ok-ciangkun, aku kemari memang benar mencari Mayat Hidup dan So Beng. Benarkah mereka tak ada di sini seperti yang dikatakan dua orang pengawal yang kau bunuh itu?"
"Hm, mereka terbunuh karena kau berkelit, Kun Houw. Kalau tidak, tentu aku tak akan kehilangan mereka. Kau dapat kutangkap untuk kesalahan ini!"
Kun Houw tertawa mengejek. "Ciangkun, aku tak biasa menerima gertakan. Siapa sudi kau tangkap? Dan mungkinkah kau dapat menangkapku?"
"Hm, tak perlu sombong, anak muda. Aku tentu dapat menangkapmu kalau aku mau!"
"Mengandalkan pula pasukanmu itu?"
"Tidak, mereka hanya menjaga agar kau tidak melarikan diri, Kun Houw. Kalau kau tidak percaya, cobalah."
Kun Houw panas. Dia melihat panglima ini mengebutkan lengannya, memberi jalan pada Kun Houw, menyuruh Kun Houw membuktikan omongannya untuk melarikan diri. Namun, Kun Houw yang entah kenapa malu melarikan diri dengan sikap pengecut, tiba-tiba menjengkelkan hidung dan berkata, "Ok-ciangkun, aku tak biasa melarikan diri sebelum bertanding. Sekarang buktikan saja kalau kau dapat menangkap aku, tanpa pengawal!"
"Kau mau bertaruh?"
"Bertaruh macam apa?"
"Yang kalah tunduk pada yang menang, Kun Houw. Kau berani menerima taruhan ini?"
Kun Houw tertegun. Dia berdebar juga melihat ketenangan lawannya itu yang mau tak mau membuat dia terpengaruh, tergetar, dan merasakan bahwa laki-laki ini memiliki perbawa yang tinggi, kuat, dan meyakinkan. Sikap yang hanya dipunyai orang-orang hebat, orang-orang yang percaya pada diri sendiri.
Kun Houw yang sejenak terguncang oleh tantangan ini tiba-tiba menarik napas menenangkan hatinya. "Bagaimana, Kun Houw? Kau berani menerimanya?"
Akhirnya Kun Houw mengangguk. "Boleh. Tapi syaratmu terlalu umum, Ciangkun. Aku tak mau menerima taruhan itu bila tidak dibatasi."
"Hm, kau takut?"
Wajah Kun Houw merah padam. "Bukan begitu, Ciangkun. Tapi taruhan ini harus memberi kebebasan pula pada yang kalah. Kalau tidak, tentu yang menang akan menjadi sewenang-wenang."
Lelaki itu tertawa dingin. "Agaknya kau merasa kalah, Kun Houw. Kenapa harus ditambah-tambahi segala macam omongan kosong? Yang kalah tetap kalah. Dia harus tunduk pada yang menang. Tapi kalau kau ada syarat khusus, bolehlah kau ajukan! Apa permintaanmu?"
Kun Houw tersinggung. "Aku tidak minta macam-macam, Ciangkun. Tapi yang menang boleh minta tiga macam pada yang kalah. Artinya, kalau aku yang menang, maka kau harus memenuhi tiga macam permintaanku. Sedang kalau..."
"Kalau kau yang kalah, biar kuminta dua macam saja permintaan padamu, Kun Houw. Aku sebagai yang tua harus mengalah padamu!" lelaki itu memotong, membuat Kun Houw terbelalak dan marah.
Namun, belum dia menjawab, tiba-tiba panglima ini telah mengulurkan lengannya dan berseru, "Nah, cabut pedangmu, Kun Houw. Biar aku melihat Butong Kiamsut yang kau warisi dari gurumu itu!"
Kun Houw tertegun. Dia melihat orang itu bersiap-siap, memandangnya tenang dan penuh kepercayaan diri, menyuruh dia mencabut senjata padahal lawan bertangan kosong. Kun Houw yang bangkit harga dirinya oleh sikap panglima itu tiba-tiba berseru, "Ok-ciangkun, aku tak biasa menyerang lawan yang bertangan kosong. Kalau kau ingin aku mencabut pedang, maka cabutlah pula senjatamu. Kita boleh mulai!"
Panglima itu tertawa mengejek. "Aku tak biasa menarik kata-kataku, Kun Houw. Sebaiknya keluarkan pedangmu dan seranglah. Aku sudah memperhitungkan kepandaianmu!"
Kun Houw marah. Dia benar-benar tersinggung oleh ucapan ini. Kalimat terakhir yang menyatakan lawannya itu sudah memperhitungkan kepandaiannya dianggap merendahkan dan menganggap dia masih berada di bawah lawan.
Namun, Kun Houw yang tetap tak mencabut pedang saat lawan bertangan kosong tiba-tiba membentak dan mulai menyerang, mempergunakan Kiam-ciang (Tangan Pedang) sebagai gantinya senjata.
"Ok-ciangkun, jaga dirimu baik-baik. Awas, aku mulai serang!"
Lengan Kun Houw yang mendesir bagai sebatang pedang tiba-tiba menyambar ke depan, membacok muka lawan tanpa banyak bicara lagi, didorong oleh kemendongkolan dan kemarahan karena sikap lawan yang memandang rendah.
Namun, Ok-ciangkun yang tertawa dari hidung tiba-tiba menggerakkan pula tangan kanannya dari atas ke bawah, menangkis perlahan.
"Kun Houw, sebaiknya tak perlu sungkan-sungkan. Kerahkan semua kepandaianmu... Plak!"
Kun Houw yang membentur tangan dingin lawannya itu tiba-tiba berseru kaget ketika lengannya menempel, disedot oleh tenaga luar biasa kuat yang meluluhkan Tangan Pedangnya, menembus gumpalan hawa semacam kapas. Kun Houw yang kaget oleh pertemuan tenaga yang membuat Tangan Pedangnya terhisap itu sekonyong-konyong membentak, menendangkan kakinya sekaligus menarik balik tangannya.
Begitu lawan melepas tangan dan melompat mundur, Kun Houw sudah berdiri dengan muka berubah.
"Im-bian-kun (Tenaga Kapas Dingin)...!"
Panglima itu tersenyum. "Kau mengenalinya, Kun Houw? Bagus, kau cukup berharga!"
Namun, Kun Houw yang sudah membentak dan menyerang lagi tiba-tiba berseru menggerakkan Tangan Pedangnya.