Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 147

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 147

"Ok-ciangkun, jangan sombong. Kita baru mulai!" Kun Houw yang kembali menggunakan Tangan Pedangnya menyerang lawan bertubi-tubi, membabat dan menusuk.

Kun Houw teraget sejenak, tak mengira lawan memiliki ilmu yang bersifat lembut itu. Ilmu yang memang tepat digunakan menghadapi Kiam-ciang-nya yang keras. Namun, Kun Houw yang bergerak menggunakan Tangan Pedangnya kali ini tak mau ditangkis. Dia mengelilingi lawannya, berkelebatan mendahului lawan untuk membacokkan Tangan Pedangnya. Begitu Kun Houw mengerahkan ginkang dengan tangan menyambar-nyambar, tiba-tiba saja lawannya itu lenyap di balik gulungan tubuhnya yang membungkus panglima itu.

"Wah, hebat. Kau patut menjadi murid si jago pedang itu, Kun Houw. Tapi kau tak dapat merobohkan aku!"

Kun Houw mematikan pendengarannya. Dia terus bertubi-tubi menggerakkan Kiam-ciangnya yang kini mendesing dan bersiutan menyerang lawan. Ketika lawan sibuk menangkis sana-sini, tiba-tiba lawan seolah membiarkan satu serangan mengenai punggungnya.

"Crat!" Kun Houw terbelalak. Tangan Pedangnya dengan tepat membacok punggung lawannya itu, mengeluarkan suara seperti pedang membacok tulang atau segumpal daging. Namun, lawan yang sama sekali tak terluka oleh pukulannya itu bahkan membalikkan tubuh dan tertawa padanya, meski sedikit terdorong.

"Kau mengandalkan Kiam-ciangmu untuk mengalahkan aku, Kun Houw? Ha-ha, tak akan sanggup. Sebaiknya keluarkan saja pedangmu dan tak perlu sungkan!"

Kun Houw marah. Dia terkejut dan penasaran. Ketika dia kembali menyerang bertubi-tubi dan lawan kembali menunjukkan kekebalannya yang aneh hingga Tangan Pedangnya mental, sekonyong-konyong lawannya itu berseru nyaring, "Kun Houw, sekarang keluarkan pedangmu!"

Sinar putih yang berkeredep menyambar dadanya tiba-tiba membuat Kun Houw menangkis dan mendorongkan lengannya. "Dess!" Kun Houw terbelalak. Dia terdorong mundur oleh pukulan aneh itu, pukulan yang tak dikenal tapi berhawa dingin. Sementara Kun Houw tergetar kaget, tahu-tahu sebatang pedang menyambar lehernya dari tangan kiri panglima itu, yang entah kapan telah mencabut sebatang pedang yang bersinar kehijauan.

Begitu Kun Houw terkesiap oleh serangan ini, tahu-tahu pedang telah dekat di lehernya, menyentuh kancing baju. "Ah!" Kun Houw membanting tubuh. Dia kaget bukan main oleh serangan pedang itu. Ketika pedang masih mengejarnya saat bergulingan, tiba-tiba Kun Houw membentak dan mencabut Pedang Medali Naganya.

"Cringg!" Dua sinar itu berbenturan. Orang hanya melihat pedang di tangan Kun Houw yang bersinar putih bertemu dengan pedang di tangan Ok-ciangkun yang bersinar hijau. Begitu suara itu lenyap dan pedang di tangan Ok-ciangkun terpental, panglima itu tertegun melompat mundur, memeriksa pedangnya.

"Hm, hebat pedangmu, Kun Houw. Cheng-liong Kiam di tanganku luka bertemu Pedang Medali Naga!"

Kun Houw menghapus peluhnya. Dia tak menduga panglima itu juga seorang ahli pedang yang hebat, yang memiliki kecepatan dan jurus luar biasa hingga hampir saja melubangi lehernya. Kun Houw yang terbelalak memandang lawannya, tiba-tiba melihat lawan memasukkan pedang dan tertawa.

"Kun Houw, pedang telah kau cabut. Tak perlu kau masukkan lagi."

Kun Houw menggigil. Dia marah karena lawan telah memaksanya mengeluarkan senjata, tapi melihat lawan bersungguh-sungguh menantangnya, dia pun tertegun dan bingung. Haruskah dia menyerang orang yang tidak bersenjata? Jantankah itu? Jelas tidak. Kun Houw yang menggigit bibirnya tiba-tiba juga memasukkan pedang dan mengikuti jejak lawan.

"Ok-ciangkun, aku tak biasa menyerang lawan yang tidak bersenjata dengan pedang di tangan. Sebaiknya keluarkan pedangmu kalau kau ingin aku mengeluarkan senjata!"

Panglima ini terbelalak. "Kau bandel?"

"Selama kau bertangan kosong, ciangkun. Atau kalau kau dapat mendesakku dengan ilmu silatmu tanpa senjata."

"Bagus!" Panglima ini tertawa. "Kau sombong, Kun Houw. Kalau begitu biar kuturuti permintaanmu. Nah, robohlah!"

Ok-ciangkun tiba-tiba menggerakkan tangannya maju ke depan, sekonyong-konyong melancarkan pukulan sinar putihnya. Itulah Gin-kong-jiu (Pukulan Sinar Perak), ilmu pukulan yang diwarisi dari mendiang nenek iblis Mo-i Thaihouw. Kun Houw yang mendengar angin berdesir dari pukulan bersinar putih ini tiba-tiba menggerakkan Tangan Pedangnya menangkis.

"Plak!" Kun Houw terkejut. Dia tergetar dan terhuyung, merasa betapa Im-bian-kun (Tenaga Kapas Dingin) lagi-lagi mengisi pukulan lawannya itu, merembes dan masuk membobol Tangan Pedangnya. Sementara dia membelalakkan mata dengan kaget, tiba-tiba lawan kembali menyerang dengan tangan kirinya.

"Kun Houw, awas!"

Kun Houw melompat ke belakang. Dia mengelak dengan seruan keras, menggeser kaki dan cepat memutar pinggang sambil melontarkan sebuah tendangan. Ketika tangan lawan bertemu dengan ayunan kakinya, tiba-tiba Kun Houw terpeleset dan mencelat roboh.

"Dess!" Kun Houw terkejut. Dia sekalian membanting tubuh bergulingan, mendengar panglima itu tertawa dan menyerang lagi dengan pukulan beruntun. Ketika dia melompat bangun dengan bentakan marah, tahu-tahu lawannya itu telah berkelebatan mengelilingi dengan serangan bertubi-tubi, mengejek, dan ganti-berganti melancarkan pukulan. Sementara Kun Houw menangkis dengan Kiam-ciangnya yang selalu terpental, dia telah terdesak dan tak dapat balas menyerang.

"Ha-ha, bagaimana sekarang, bocah? Kau masih tak mau mengeluarkan senjatamu?"

Kun Houw menggigit bibir. Dia memang kewalahan oleh serangan lawan yang diisi Im-bian-kun itu yang membuat Tangan Pedangnya seakan lumpuh. Ketika dia bertahan dan nekat untuk tidak mengeluarkan pedangnya, tiba-tiba dia mendapat pukulan dan tamparan lawan. Kun Houw mulai menjadi bulan-bulanan, terdesak dan kian terdesak saja. Ketika bertubi-tubi serangan lawan mendarat di badannya, akhirnya Kun Houw mengeluh dan mengakui keunggulan panglima itu.

"Ok-ciangkun, kau memang hebat. Dengan tangan kosong aku tak sanggup bertahan!"

Ok-ciangkun tertawa. Dia kagum akan sportivitas lawan yang tak malu atau segan mengakui kekurangannya. Ketika Kun Houw terpental dan pemuda itu bergulingan menerima dorongannya, tiba-tiba Kun Houw mencabut Pedang Medali Naganya dan menerjang dengan jurus Bu-tiong Kiam-sut.

"Ok-ciangkun, hati-hati. Awas aku membalas!"

Begitu Kun Houw berteriak memutar pedangnya, mendadak pemuda ini lenyap dalam gulungan lebar yang tiba-tiba menerjang ke depan.

"Sing-sing!" Ok-ciangkun terbelalak. Dia melihat Kun Houw membalas dengan hebat, berkelebatan dengan pedang yang naik turun membentuk gelombang. Ketika pedang mencuat dan menyambar seperti petir dari balik gulungan cahaya pedang yang naik turun bagai asap bergulung-gulung, tiba-tiba saja mata kirinya mendapat tusukan kilat itu.

"Plak!" Ok-ciangkun menangkis, kaget tapi juga kagum akan kecepatan gerak yang dilakukan Kun Houw. Namun, Kun Houw yang menggunakan jurus beranting dari ilmu pedangnya, Bu-tiong Kiam-sut, yang tak mengenal habis, tahu-tahu membalik begitu terpental, menukik, dan meluncur ke pinggang dalam gerak tipu yang dahsyat—sebuah jurus yang disebut "Mengikuti Dorongan Memburu Bayangan", sebuah gerak tipu yang hebat luar biasa dengan kecepatan tinggi.

Ketika lawan melompat dan berseru kaget, tahu-tahu Pedang Medali Naga telah membelok dan menyambar pinggang panglima ini.

"Cringg!" Kun Houw terkejut. Dia terbelalak melihat panglima itu bergulingan, tak terluka karena secara kebetulan pedang di tangannya bertemu dengan pedang panglima itu yang tersembunyi di balik pakaian lawan, sehingga melindungi panglima itu dari babatan Pedang Medali Naga.

Baju Panglima Ok yang robek membuat panglima ini kaget dan berseru keras. Apalagi ketika Kun Houw mengejarnya dengan serangan gencar dan bertubi-tubi, balas menyerang seperti panglima itu tadi mendesaknya. Begitu Kun Houw memutar pedang tanpa memberi kesempatan, tiba-tiba saja panglima ini tak dapat melompat bangun dan harus bergulingan ke sana kemari untuk menghindari serangan Kun Houw.

"Ah, hebat. Luar biasa kau, Kun Houw... bukan main!"

Panglima Ok yang harus mengelak cepat dengan menggulingkan tubuhnya tiba-tiba berteriak keras ketika satu tusukan mengenai pundaknya, menusuk, dan tak sanggup dia hadapi dengan kekebalannya. Ketika satu saat kembali pedang di tangan Kun Houw menyambar lehernya, sekonyong-konyong panglima ini membentak dan mencabut pedangnya di pinggang, menangkis, dan berseru keras.

Begitu pedang bertemu pedang, tiba-tiba muncratlah lelatu api disusul ledakan nyaring.

"Trangg!"

Kali ini Kun Houw terdorong. Dia merasa gempuran hebat dari tangkisan panglima itu, merasakan getaran sinkang yang dahsyat, melihat panglima itu melompat bangun dengan keringat bercucuran. Kun Houw yang tertawa mengejek melihat lawan mencabut pedangnya, tiba-tiba menjengek dan merasa kedudukan mereka imbang.

"Ok-ciangkun, kita berimbang. Kekalahanku tadi telah kutebus."

Panglima itu mendesis. Dia memang kaget dan pucat melihat kehebatan Pedang Medali Naga yang tak dapat ditahan dengan Hoatciong-konya, ilmu kebal yang biasa dia gunakan dan mampu menerima senjata macam apa pun. Namun, melihat Kun Houw demikian lihai dan pemuda itu mampu mendesaknya hingga kedudukan mereka satu-satu, terpaksa panglima ini mengakui dan tersenyum pahit.

"Bagus, kau memang hebat, Kun Houw. Agaknya seluruh kepandaian gurumu telah kau warisi!"

Kun Houw tertawa mengejek. Dia merasa girang bahwa dengan Bu-tiong Kiam-sutnya dia dapat menghadapi panglima yang lihai ini, bahkan menembus kekebalannya yang tadi tak mampu dia lukai dengan Tangan Pedang. Maka, melihat lawan telah menghadapinya dengan senjata pula dan panglima itu dapat dipaksa untuk mencabut senjata seperti tadi panglima itu memaksanya, tiba-tiba Kun Houw tertawa dan pulih kepercayaan dirinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment