Chapter 148
"Ok-ciangkun, sekarang kita tentukan siapa yang menang di antara kita!"
"Boleh, dan jangan buru-buru tertawa dulu, Kun Houw. Pertandingan baru berjalan setengah babak. Majulah!"
Kun Houw kembali melengking dengan putaran pedangnya, tiba-tiba melompat dan kembali menyerang. Sekarang dia merasa lebih mantap setelah lawan mengeluarkan senjatanya, jadi jika dia menang, tidak akan dianggap curang. Kun Houw kembali memainkan jurus Bu-tiong Kiam-sut miliknya, menerjang lawan dengan serangan cepat. Kini Kun Houw tidak ragu-ragu lagi, mengeluarkan semua jurus terlihai dari ilmu pedangnya.
Ketika Ok-ciangkun menangkis dan mereka mulai saling serang dalam tusukan serta tikaman cepat, tiba-tiba saja kedua orang ini bergerak dan sama-sama membentak. Baik Kun Houw maupun lawannya mulai mengenal kehebatan masing-masing. Mereka sama-sama maklum bahwa mereka menghadapi lawan yang tangguh.
Ketika Kun Houw melihat panglima itu memainkan pedang dengan gerakan yang membentuk pelangi hijau dan berkali-kali mengeluarkan suara berdenting saat beradu dengan pedangnya, dia tiba-tiba harus mengakui bahwa ilmu pedang yang dimiliki lawannya cukup hebat. Bahkan mungkin lebih ganas, karena ada unsur keculasan di balik setiap balasannya. Namun, Kun Houw yang memainkan Bu-tiong Kiam-sut dengan segenap kemampuannya sudah membungkus diri dan rapat memutar pedangnya. Kun Houw tidak dapat ditembus, tetapi lawan yang juga mulai menutup diri dengan putaran pedangnya membuat pertandingan berjalan seru.
Baik Kun Houw maupun Panglima Ok ternyata sama-sama hebat dan mahir memainkan ilmu pedang mereka. Karena satu sama lain sama-sama "membungkus" diri dengan bayangan pedang yang bergulung-gulung, akhirnya pertandingan menjadi berimbang. Kun Houw tidak dapat mendesak lawan, namun lawan juga tidak mampu mendesaknya, yang membuat pertandingan menjadi seru bukan main.
Akhirnya, ketika masing-masing pihak merasa penasaran, Kun Houw melancarkan serangan dengan jurus Bu-tiong-ci tiam (Kabut Mengeluarkan Kilat). Sekonyong-konyong pedangnya meluncur menusuk dada lawan dengan bentakan, "Crangg!" Panglima Ok menangkis dengan hebat dan melengking tinggi. Namun, Panglima Ok lupa bahwa Cheng-liong Kiam di tangannya mulai luka-luka karena beradu dengan Pedang Medali Naga yang keampuhannya melebihi pedangnya sendiri. Dia tiba-tiba berseru kaget ketika melihat ujung pedangnya putus, terbabat disambar pedang di tangan Kun Houw.
Sementara dia terbelalak dengan muka berubah, tahu-tahu pedang di tangan Kun Houw kembali menukik dan membacok lehernya. "Singg!" Kali ini Panglima Ok melompat mundur. Dia tidak berani lagi menangkis karena ragu melihat Cheng-liong Kiam di tangannya rompal dan rusak hampir di sekujur badan akibat sering beradu dengan Pedang Medali Naga. Sadar bahwa pedangnya kalah ampuh, tiba-tiba Kun Houw mendesaknya dengan serangan bertubi-tubi, kembali menyambar dan bergulung-gulung bagai naga mengamuk, menusuk dan menikam ke seluruh tubuhnya, dari kaki sampai kepala. Karena panglima ini tidak berani lagi menangkis, dia terpaksa mundur dan melompat ke sana ke mari.
"Keparat, kau mengandalkan keampuhan pedangmu, Kun Houw! Kalau aku kalah, maka kemenanganmu adalah kemenangan curang!"
Kun Houw terbelalak. Dia melihat kebenaran dari kata-kata panglima itu bahwa sebenarnya dia unggul karena memiliki pedang pusaka. Selama ini kepandaian mereka berimbang, masing-masing sama kuat. Namun, Kun Houw yang belum mengeluarkan jurus-jurus inti dari ilmu pedang Bu-tiong Kiam-sut yang berjumlah tujuh jurus itu menjadi marah. Memang benar, dengan Pedang Medali Naga dia mulai mengutungi pedang lawan. Tapi setelah lawan memaki dan kedudukannya semakin terdesak karena Cheng-liong Kiam hanya dipakai untuk keadaan darurat, akhirnya Kun Houw menjadi malu dan gemas.
Maka, ketika lawan kembali bergulingan dan pundak panglima itu robek terbabat, tiba-tiba Kun Houw membentak dan menyimpan pedangnya. Dia menyambar pedang seorang perwira yang tadi membawa mayat dua orang pengawal. Kun Houw yang sudah memutar pedang dan mengejutkan perwira itu tiba-tiba membentak Panglima Ok, "Ok-ciangkun, aku sekarang memakai pedang biasa. Hayo lanjutkan dan ambil pula pedang seorang anak buahmu!"
Panglima ini tertegun. Dia melihat Kun Houw betul-betul menyimpan Pedang Medali Naganya dan mempergunakan pedang anak buahnya. Merasa girang, tiba-tiba panglima ini tertawa dan menyambar pula pedang seorang anak buahnya.
"Bagus, kau memiliki kegagahan yang mengagumkan hatiku, Kun Houw. Mari lanjutkan dan kita pergunakan pedang biasa sekarang!"
Ok-ciangkun yang sudah bergerak dengan pedang pinjamannya lalu membentak dan mulai serang-menyerang lagi, sama-sama menyimpan pedang sendiri untuk bertanding secara jujur. Begitu Kun Houw melengking dan menyambut, kembali mereka berdua bertempur dengan sama hebat. Ok-ciangkun berhasil memanaskan lawan, tapi Bu-tiong Kiam-sut Kun Houw yang dimainkan dengan hebat dan penuh semangat ternyata sekarang mengejutkan panglima ini. Kun Houw mulai melakukan jurus-jurus spektakuler yang luar biasa, membuat pedang berkerdip bagai bintang menari-nari di atas kabut yang menutupi tubuhnya.
Ketika suatu saat Kun Houw membentak dan meloncat tinggi dengan pekik yang menggetarkan ruangan, tiba-tiba pemuda ini melancarkan serangan dengan jurus pertama dari tujuh inti ilmu silat pedangnya, yakni Titseng (Menuding Bumi Menyembah Bintang), jurus pembukaan yang dahsyat bukan kepalang. Begitu lawan terkejut membelalakkan mata, tahu-tahu pedangnya telah menyambar tenggorokan panglima ini.
"Singg!" Panglima Ok kaget. Dia tidak sempat mengelak atau meloncat mundur. Pedang yang digerakkan untuk menangkis serangan itu tiba-tiba berdentang nyaring disusul patahnya pedang di tangan sendiri. "Pletak!"
Panglima Ok berseru tertahan. Dia terbelalak melihat hebatnya serangan ini dan tertegun melihat pedangnya patah menjadi dua. Serangan Kun Houw yang terus menyambar tidak dapat dielakkan, menusuk tenggorokannya dengan kecepatan luar biasa.
"Ciangkun, awas!"
Namun, panglima itu tertawa mengejek. Dia mendengar seorang perwiranya berseru kaget, terbelalak melihat tusukan pedang yang tak dapat dihindarkan lagi. Begitu pedang menusuk dengan kecepatan luar biasa, tiba-tiba tertegunlah semua orang ketika pedang itu mental saat bertemu leher panglima tersebut.
"Tak!"
Kun Houw terkejut. Dia merasa kekebalan aneh melindungi diri lawannya itu, kekebalan Hoat-lek-kim ceng-ko yang mampu menahan senjata biasa, bukan Pedang Medali Naga! Kun Houw yang tersentak oleh kejadian ini tiba-tiba sadar dan meneruskan serangannya dengan jurus kedua dan ketiga, yakni Heng-hun po-uh (Awan Berarak Hujan Mencurah) dan Butiong-boan-seng (Bintang Bertaburan di Dalam Kabut) yang membuat pedangnya berkerdip bagai bintang yang berhamburan dari langit, jatuh menyerang tubuh panglima itu dengan kecepatan luar biasa. Tapi ketika lagi-lagi pedangnya mental saat bertemu kekebalan Hoat-ciong-ko, Kun Houw terbelalak dan pedangnya patah hancur berkeping-keping.
"Kres-pletak!"
Kun Houw melompat mundur. Dia terkejut bukan main melihat kehebatan lawannya, bengong dengan mata berkedip dan bersimbah peluh. Ok-ciangkun yang masih memegang kutungan pedangnya tiba-tiba tertawa dan berseru nyaring, "Kun Houw, kau kalah!"
Kun Houw pucat. Dia menggigil dan penasaran, mau membantah. Namun, melihat keadaannya yang memang lebih lemah, akhirnya Kun Houw mengeluh dan mengangguk pada panglima itu.
"Benar, kau menang, Ok-ciangkun. Tapi aku masih punya Pedang Medali Naga."
"Ha-ha, kau mau curang dengan kelebihan pedangmu, Kun Houw? Kau tidak mau jujur bahwa pibu ini dilakukan dengan adil? Lihat, pedangmu hancur berkeping-keping sedangkan pedangku tidak. Kita sama-sama memakai pedang biasa sekarang dan sama-sama murni mengadu kepandaian, bukan senjata!"
Kun Houw kalah. Dia melihat kenyataan itu. Bahwa tanpa Pedang Medali Naga, dia tidak dapat mengalahkan panglima ini. Maka, tak mau disebut curang dan sportif menghadapi kekalahannya, akhirnya Kun Houw menggeram dan menggigit bibirnya.
"Ok-ciangkun, kau memang benar. Pibu ini kau yang menangkan!"
"Ha-ha, dan kau mau menepati janji pertaruhan, Kun Houw?" panglima itu tertawa.
Kun Houw mengangguk dengan muka gemas, lalu menginjak pedang rampasannya yang sudah hancur. "Ya, aku bukan manusia pengecut, Ok-ciangkun. Dan kau boleh mengajukan permintaanmu itu."
"Bagus!" Panglima Ok girang menuntut kemenangannya. Kagum memandang pemuda itu, ia mulai bicara, "Satu, kuminta kau mengikutiku selama setahun, Kun Houw. Dan karena aku berjanji untuk meminta dua macam permintaan saja padamu, maka yang kedua adalah kau tidak boleh memusuhi siapa pun yang menjadi pembantu-pembantuku, termasuk Mayat Hidup yang kau cari-cari itu!"
Kun Houw terkejut, mengerutkan kening. "Kau tentu tak menjilat ludahmu sendiri, bukan?"
Kun Houw akhirnya mengangguk, menahan kemarahannya. "Baik, aku memenuhi permintaanmu, Ok-ciangkun. Tapi setelah itu aku bebas menjalankan keinginanku!"
"Tentu saja. Setelah itu kau bebas kembali, Kun Houw. Tapi kalau ingin mengulang penasaranmu, boleh saja setahun lagi kita bertaruh!" Panglima itu tertawa, mengejek Kun Houw yang marah tapi juga mendongkol.
Karena pertandingan telah selesai dan Kun Houw memenuhi janjinya, maka malam itu juga Kun Houw mulai terlibat dalam urusan-urusan panglima tersebut, menjadi pembantunya dan justru bersahabat dengan Mayat Hidup.