Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 149

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 149

Orang yang membunuh gurunya! Namun, karena janji adalah janji dan Kun Houw tak suka menjilat ludah sendiri, akhirnya murid Bu-tiong Kiam ini tinggal di sana dan membantu ayah Kui Hoa.

Aneh! Siang itu, Kun Houw menerima perintah untuk menyambut rombongan pemberontak, yakni para tawanan dari Beng-san-pai; Sin Hong dan empat temannya. Kun Houw yang menyambut di luar kota raja segera mengerutkan kening ketika penjaga pintu gerbang membawa Mu Ba menemuinya.

"Kun-siauwhiap (pendekar muda Kun), Ok-ciangkun mengirim Sin-thouw-liong locianpwe ini untuk menemuimu menyambut pemberontak. Silakan baca surat permintaannya!"

Kun Houw menerima surat itu, lalu mendelik memandang Mu Ba. Ia membaca surat Panglima Ok yang mengikat kebebasannya. Ia menggeram, melemparkan kembali surat itu kepada penjaga, dan melihat raksasa tinggi besar itu tertawa lebar.

"Kun Houw, kita sekarang sahabat. Sungguh tak kusangka kalau permusuhan kita berakhir demikian mudah berkat jasa Ok-ciangkun. Ha-ha!"

Kun Houw ingin menerjang lawannya itu. "Tapi kau masih berhutang jiwa guruku, Mu Ba. Jangan tertawa dulu dengan mulut terbuka lebar. Aku hanya setahun mengikuti Panglima Ok!"

"Ah, maaf. Aku menyesalkan kejadian sepuluh tahun itu, Kun Houw. Apakah permusuhan ini tak dapat diakhiri selamanya? Kita sekarang adalah sahabat, tak perlu mengenang lagi semua kejadian yang lampau!"

Namun, Kun Houw yang marah tak menjawab. Dia sudah keluar pintu gerbang, berkelebat menuju bukit dengan muka merah. Mu Ba yang mengikuti di belakangnya tersenyum menyeringai.

"Kun Houw, Ok-ciangkun meminta kita menyambut di pintu gerbang, bukan di tempat lain."

"Apa pedulimu?" bentak Kun Houw. "Aku ingin melihat dari atas sana, Mu Ba. Kalau kau takut, tinggalah di situ seorang diri!"

Mu Ba tertawa terbahak-bahak. Dia tak berani main gila, maklum akan kelihaian pemuda ini yang luar biasa. Dia mengikuti Kun Houw ke atas bukit lalu mengarahkan pandangannya ke delapan penjuru. Mereka melihat seorang penunggang kuda tiba-tiba berderap mendekati, seorang laki-laki berpakaian panglima yang pucat, gemetar, letih, dan tampak tergesa-gesa. Mu Ba yang rupanya mengenal penunggang kuda itu segera berseru, "Kwek-ciangkun...!"

Laki-laki berkuda itu terkejut. Dia menoleh dan melihat Mu Ba berkelebat turun, menyambar bagai seekor burung besar. Sambil mengeluh dan berteriak girang, panglima ini meloncat dari atas kudanya dan terguling roboh.

"Locianpwe, tolong...!"

Mu Ba terkejut. Dia sudah berkelebat maju menolong panglima ini yang tampaknya terluka. Kun Houw yang juga sudah menyusul melihat Panglima Kwik itu menudingkan tangannya gemetar.

"Locianpwe, tolong, para pemberontak menyerbu para tawanan. Kami kewalahan. Kui Hoa-niocu dan adiknya marah-marah...!"

Mu Ba terbelalak. "Di mana mereka sekarang, Kwik-ciangkun?"

"Di tengah perjalanan antara Wu-kian dan kota raja, locianpwe. Kami... aku, aduh...!" Panglima itu mengeluh, mendekap dadanya yang sakit. Ketika dia terbatuk-batuk, mendadak panglima ini melontarkan darah segar dan otomatis menghentikan kata-katanya. Mu Ba menotoknya dengan alis dikerutkan.

"Kwik-ciangkun, sebaiknya kau beri tahu kami apa yang diinginkan atasanmu. Apakah Kui Hoa-niocu menghendaki bantuan ayahnya?"

"Benar, aku... aduh... aku ingin menemui Ok-ciangkun, locianpwe. Keadaan para pemberontak membahayakan kedudukan kita. Mereka dipimpin Pendekar Gurun Neraka...!"

Kun Houw terkesiap. "Berapa orang mereka, ciangkun?"

Kwik-ciangkun terbelalak. "Kau siapa...?"

Mu Ba tertawa pendek. "Dia Kun Houw, Kwik-ciangkun. Pembantu Ok-ciangkun yang baru dan lihai."

"Ah, kau yang dulu mengacau di peti jenazah Ciok-thouw Taihiap?"

Kun Houw mengerutkan kening. "Tak perlu banyak tanya, Kwik-ciangkun. Sekarang katakan saja apa yang diinginkan atasanmu. Apakah sekarang kami harus juga ke sana?"

"Ya, eh... sebaiknya seorang di antara kalian pergi ke Wu-kian, kongcu. Dan seorang lagi membantu aku menemui Ok-ciangkun. Ada urusan gawat!"

Kun Houw mengangguk. "Kalau begitu kau antar panglima ini ke istana, Mu Ba. Biar aku yang melihat keadaan di Wu-kian!" Kun Houw tiba-tiba berkelebat lenyap, dipandang dua orang itu dengan mata terbelalak.

Mu Ba menyeringai aneh. Dia merasa girang bahwa Kun Houw menyuruh dia membawa panglima itu kembali. Raksasa tinggi besar itu segera membawa panglima tersebut ke kota raja. "Bagus, aku jadi tak canggung menghadapi anak itu, Kwik-ciangkun. Mari kuantar kau ke tempat Ok-ciangkun...!"

Sementara di lain tempat, Kun Houw yang mengerahkan ginkangnya menuju Wu-kian menjadi tegang dan berdebar keras. Dia telah mendengar lebih jelas tentang barisan besar yang menangkap orang-orang pemberontak di puncak Beng-san-pai itu. Betapa Kui Hoa memimpin barisan dibantu So-beng dan Siang-moji-bit, dua orang iblis yang baru kali itu dia dengar namanya.

Kun Houw mengerutkan alis, merasa tidak enak, bingung, dan gelisah. Apa yang harus dilakukan? Bagaimana nanti pertemuannya dengan Kui Hoa? Mendengar para tawanan diserbu kaum "pemberontak" dan Panglima Kwik terluka, tiba-tiba saja dia cemas. Apalagi mendengar serbuan itu dipimpin Pendekar Gurun Neraka, pendekar yang kini diketahui sebagai ayah kandungnya!

Kun Houw yang cemas menggigit bibirnya, mengepal tinju, dan teringat kata-kata Phoa-lojin. Dia tersentak bahwa apa yang dikatakan kakek itu mulai terbukti. Dia menyesal karena menyepelekan kata-kata orang tua itu. Kalau dia tak bersikap keras, tentu tak begini keadaannya. Jauh lebih baik bersahabat dengan Pendekar Gurun Neraka daripada bersahabat dengan Mu Ba, So-beng, dan teman-temannya.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Rupanya nasibnya memang harus bermusuhan dengan orang-orang yang berjiwa pendekar dan justru berteman dengan iblis-iblis bermuka manusia. Membayangkan harus bersekutu dengan orang-orang yang telah membunuh gurunya membuat Kun Houw ingin menangis. Dia menekan diri dan menggigit bibir kuat-kuat, hanya bercucuran air mata sepanjang jalan.

Ketika tiba di luar Wu-kian dan melihat ratusan kemah berdiri di tanah lapang dengan ribuan pasukan, Kun Houw tertegun dari lamunannya. Dia sudah berada di tempat Kui Hoa, tinggal beberapa ratus meter lagi. Dia ragu. Apa yang harus dilakukan? Langsung ke perkemahan dan menemui putri Ok-ciangkun itu? Kun Houw meraba surat Panglima Ok, merasa nanar, malu, dan gugup. Namun, dia mengeraskan sikap dan melangkah menuju perkemahan.

Begitu dia muncul, pasukan melihat kedatangannya. "Berhenti, siapa kau?"

Kun Houw tak banyak cakap. Dia mengeluarkan surat Ok-ciangkun dan menyerahkannya pada seorang komandan berwajah garang. Begitu membacanya, komandan itu menjatuhkan diri berlutut.

"Maaf, kau rupanya wakil Ok-ciangkun, kongcu. Mari hamba antar menemui Ok-socia!"

Kun Houw "digiring" dengan kawalan seratus lebih pasukan. Ketika mereka tiba di pusat perkemahan dan berhenti di sebuah kemah bertenda hitam, komandan itu berseru nyaring, "Ok-siocia, ada tamu khusus ingin menemui Paduka. Silakan menyambut dan mengenalnya!"

Kun Houw berdetak. Dia melihat kemah terkuak, dan dua orang kakek kembar yang terkekeh menyambutnya tiba-tiba menghantam dan langsung menyerangnya. "Heh-heh, siapa kau, orang muda? Kami tak kenal!"

Kun Houw yang mendapati serangan pukulan sin-kang yang dahsyat tiba-tiba menjadi marah, langsung menangkis dengan melempar kedua tangan ke depan. Begitu pukulan beradu, ketiganya terpental sementara tanah bergetar keras.

"Dukk!"

Kun Houw berjungkir balik. Dia mematahkan daya pukulan itu, melotot, dan matanya berapi-api memandang kakek itu. Dia kaget bahwa dua kakek kembar itu memiliki sin-kang yang kuat. Belum sempat dia membentak, bentakan merdu menghentikan ketegangan.

"Siang-mo Ji-bin, tahan...!"

Dua bayangan berkelebat keluar, membuat Kun Houw tertegun saat melihat Kui Hoa muncul bersama adiknya. Kui Hoa marah melihat keributan di depan kemah, tapi saat melihat Kun Houw, dia mengeluh dan berseru tertahan, "Houw-ko...!"

Dua orang muda itu berpandangan sekejap. Kui Hoa tersentak, tidak menyangka kehadiran pemuda ini, merasa girang, dan mukanya bersemu dadu. Namun, Kun Houw justru melengos, membungkuk kaku, dan mengeluarkan surat Ok-ciangkun.

"Ok-siocia, aku diutus ayahmu untuk menjemput tawanan."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment