Chapter 15
"Ya, tampaknya ia tahu bahwa ayahmu sedang pergi, Hong Ji. Dia rupanya sengaja datang pada saat kosong begini!"
"Atau mungkin dia sahabat Bu Beng Siauw-cu, Ibu. Siapa tahu anak itu diam-diam kemari dibantu seseorang?"
"Hm, boleh jadi. Tapi siapa pun iblis itu, dia harus kita lawan dan bunuh!" Pek Hong mengertakkan giginya.
"Dan kalian jangan jauh-jauh dariku, anak-anak. Kita tak boleh berpisah semalam ini!" Sin Hong dan Bi Lan tak membantah.
Mereka memang harus berkumpul pada saat-saat seperti itu, menentang dan menghadapi bahaya bersama ibu mereka.
Dan Pek Hong yang selesai mengurus mayat tiga orang pembantunya ini segera mengajak mereka menunggu di ruang tamu. Tapi Bi Lan menjawab, "Tidakkah sebaiknya kita di kamar saja, Ibu? Kita dapat menjebak iblis itu dalam ruangan yang lebih sempit!"
"Hm, bagi seorang ahli silat tidak ada masalah untuk bergerak di ruang sempit atau luas, Bi Lan. Justru di ruang tamu ini kita akan menghadapinya secara gagah. Sembunyi di kamar bisa dikira penakut!"
Maka, dua orang anak yang setuju dengan alasan ibunya ini tak banyak bicara lagi. Mereka sudah duduk di ruang tamu. Bi Lan membawa pedang pendek, menyelipkannya di pinggang. Dan Sin Hong yang juga memegang sebatang pedang di tangan kanannya bersiap-siap menanti dengan perasaan tegang.
Bagaimanapun, menanti adalah pekerjaan tak menyenangkan. Apalagi menanti datangnya seorang penjahat. Dan tiga orang ibu dan anak yang selalu memasang mata dan telinga ke segala penjuru itu tiba-tiba tersentak ketika lonceng berdentang dua kali. Jam dua malam!
"Bi Lan, kau takut?" Gadis itu memandang ibunya, bangkit berdiri.
"Aku tak takut, Ibu. Tapi aku tegang juga menunggu datangnya iblis itu!"
"Dan kau, Hong Ji?"
"Hm, aku juga tak takut, Ibu. Bukankah Ayah mengajarkan kepada kita agar tak takut menghadapi segala bahaya?"
"Bagus, kalian gagah, anak-anak!" Pek Hong bangga pada dua orang anaknya ini.
"Tapi tahukah kalian bahwa keseraman dan kenekatan tidak sama?" Bi Lan dan kakaknya memandang.
"Apa maksudmu, Ibu?"
"Begini, anak-anak," Pek Hong menjelaskan. "Apabila nanti musuh datang dan Ibu sanggup merobohkannya, maka kalian berdua tak usah membantu. Kalian berdiri saja di sini, tak usah maju. Tapi bila Ibu terdesak dan keadaan darurat, kalian kuperbolehkan membantu, tapi harus tahu keadaan!"
"Hm, keadaan bagaimana, Ibu?" Sin Hong mengerutkan kening.
"Artinya, kalian tak boleh nekat kalau musuh terlalu kuat, Hong Ji. Kalian berdua harus segera meninggalkan tempat ini begitu Ibu terdesak!"
"Ah, jadi membiarkanmu seorang diri menghadapi iblis itu, Ibu?"
"Kalau kita bertiga masih tak dapat menandinginya, Hong Ji. Artinya, bila dikeroyok, ternyata musuh tak dapat kita robohkan dan dia terlalu berbahaya untuk kalian berdua!" Sin Hong tiba-tiba menggeleng, dan Bi Lan juga memotong, "Tidak, kita sehidup semati, Ibu. Aku tak akan membiarkanmu seperti itu...!"
"Ya, kami tak akan meninggalkanmu, Ibu. Apa yang dikatakan Bi Lan itu benar sekali!"
"Tapi kalian harus menyelamatkan diri, anak-anak. Kalian tak boleh celaka di tangan pembunuh itu!"
"Tapi kami juga tak mau membiarkanmu celaka, Ibu. Aku tak mau pergi kalau kau menghadapi musuh sendirian!" Bi Lan menjawab, keras sekali.
Dan Pek Hong yang melihat anak perempuan ini mengedikkan kepalanya dengan penuh kegagahan, jadi marah tapi juga terharu.
"Tapi kau harus mengerti, Bi Lan. Aku bertanggung jawab penuh atas keselamatan dirimu kepada ibumu!"
"Ya, tapi kau juga ibuku, Ibu. Kau tak boleh memisah-misah begini untuk menghalangi niatku. Aku tetap tak mau pergi biar kau paksa bagaimanapun juga!"
Pek Hong tertegun. Ia melihat anak ini keras sekali, mirip ibunya. Dan maklum ia gagal membujuk anak-anaknya, tiba-tiba nyonya muda itu menghela napas dan mengertakkan giginya.
"Baiklah, kau mengecewakan permintaan Ibu, Bi Lan. Tapi Ibu terharu atas kesetiaanmu ini. Terima kasih...!" Pek Hong yang sudah menyambar lengan anak itu segera mencium pipinya dengan penuh keharuan.
Tapi Bi Lan tiba-tiba menuding, "Ibu, dia datang...!" Secepat kilat Pek Hong membalikkan tubuh. Ia mendengar desir angin di luar jendela, dan begitu ia membalik, tahu-tahu sesosok bayangan telah berdiri di ruangan itu sambil tertawa bergelak.
"Ha-ha, aku datang, Pek Hong. So Beng siap menagih nyawamu sesuai janji...!" Pek Hong tertegun. Ia melihat seorang laki-laki telah berada di depannya, bertubuh sedang, tapi sinar matanya berkilat kemerahan, mengenakan pakaian merah dan kedok kulit tipis yang juga berwarna kemerahan. Dan melihat pembunuh ini datang dengan sikapnya yang begitu menyeramkan, mau tak mau nyonya muda ini tergetar juga.
"So Beng, kau siapakah dan kenapa datang membunuhi tiga orang pelayanku dan anjing di luar?"
"Ha-ha, aku So Beng! Dan kenapa aku datang membunuh? Karena kau punya utang jiwa kepadaku! Kau sudah mengerti?" Pek Hong mencabut pedang.
"Keparat, aku tak merasa punya utang padamu, So Beng. Omongan apa yang kaulontarkan ini? Kau gila."
Tapi iblis menyeramkan itu tertawa. "Gila tidak gila itu urusanku, nyonya muda. Yang jelas aku ingin membunuhmu setelah belasan tahun memendam sakit hati ini!"
"Dan kau demikian jantan hingga datang pada saat suamiku pergi?"
"Ha-ha, itu keberuntunganku, Nyonya. Tapi cepat atau lambat aku juga kelak akan membunuh suamimu itu."
"Keparat...!" Pek Hong membentak nyaring.
Dan marah serta gusar oleh kata-kata itu, mendadak nyonya muda itu mencelat ke depan menyambar dada si iblis Penagih Jiwa.
"So Beng, kau bermulut besar. Terimalah hukumanmu... Swing!" Dan pedang Pek Hong yang menusuk ke depan, tahu-tahu mengancam dada lawan dengan kecepatan kilat.
Tapi iblis berkepala merah ini tertawa mengejek. Dia tenang-tenang saja, dan begitu pedang hampir menikam dadanya, mendadak jarinya menampar dari bawah.
"Plak...!" Pek Hong berseru kaget. Nyonya muda itu merasa lengannya tergetar hebat, pedang hampir terlepas dari cekalannya. Dan kaget serta terkesiap oleh benturan pertama ini, mendadak nyonya muda itu memekik nyaring dan bertubi-tubi menyerang.
Ia mengerahkan pula ginkangnya, maka begitu kaki bergerak naik turun dengan pedang menyambar-nyambar, segeralah isteri Pendekar Gurun Neraka ini lenyap dalam gulungan sinar pedangnya. Ia memainkan Cui-mo Kiam-sut (Ilmu Pedang Pengejar Iblis), ilmu pedang yang sebetulnya dimiliki Ceng Bi. Tapi karena mereka berdua seperti kakak beradik dan tukar-menukar kepandaian, maka ilmu pedang yang dimainkan Pek Hong ini hebat juga. Pedang yang menyambar naik turun benar-benar bagai naga mengejar setan, bergerak tak mengenal putus. Dan Pek Hong yang menyerang dengan bantuan ginkangnya, sebentar saja membuat lawan kewalahan.
Untuk sejenak iblis Penagih Jiwa itu terdesak, mundur-mundur dan keteter. Tapi ketika dia terus dijepit dan Pek Hong bertubi-tubi menyerangnya dengan putaran pedang yang ganas, disusul tendangan kakinya yang mencuat ke sana sini, tiba-tiba So Beng membentak marah. Iblis ini menggeram, dan ketika suatu saat pedang Pek Hong menusuk ulu hatinya, sekonyong-konyong dia melompat ke kiri dan memukul badan pedang lawan dari samping.
"Kwan Pek Hong, lepaskan pedangmu!" Pek Hong tentu saja memutar pergelangan tangannya, ia tak mau melepaskan pedang. Meluncur terus mengikuti kelitan lawan. Tapi begitu tangan kanan lawan bergerak dari samping, mendadak pedangnya terpukul.
"Plak!" Pek Hong menjerit kaget. Ia melihat asap dari tamparan lawannya, asap panas yang membuat ia terkejut. Dan sementara dia terpekik dengan mata terbelalak, tahu-tahu pedangnya sudah mencelat terlepas dari tangannya!
"Ah...!" Pek Hong melengking tinggi. Ia berjungkir balik di udara, menyambar pedangnya yang terlempar. Tapi So Beng yang tertawa mengejek, tahu-tahu menendang pinggangnya sambil memburu pula.
Dess! Nyonya muda ini terguling-guling. Pek Hong kaget bukan main, mencelos dan pucat mukanya. Tapi ketika ia terpental oleh tendangan tadi, ternyata pedang sempat ia sambar dan cekal kembali, turun dengan kaki menggigil.
"So Beng, kau hebat...!" Iblis berkepala merah itu tertawa.
"Ha-ha, tentu saja, nyonya muda. Kalau tidak, mana berani aku memasuki tempat Pendekar Gurun Neraka yang terkenal?" Pek Hong menggigit bibir. Ia marah oleh jawaban lawan yang tampak sombong dan pongah. Maka, begitu membentak dan mempererat cekalannya, ia pun sudah menerjang kembali dengan pedang di tangan.
"So Beng, jangan kau sombong!" Si iblis menyeringai. Ia menyambut terjangan isteri Pendekar Gurun Neraka itu. Tapi tidak seperti tadi di mana ia masih mengalah dan mundur keteter, sekarang iblis berkepala merah ini membalas serangan lawan, mendorongkan kedua tangannya susul-menyusul. Dan begitu dia mulai membalas, tiba-tiba saja Pek Hong terkejut ketika semua serangan pedangnya mental bertemu tenaga tak tampak yang meluncur keluar dari dorongan tangannya.
"Ah!" Pek Hong berseru kaget. Ujung pedangnya selalu membalik, tertolak sinkang lawan yang mengeluarkan uap merah, panas, dan kian lama kian dahsyat. Dan ketika suatu saat pedangnya tertahan ketika menusuk ke depan, tahu-tahu tangan So Beng bergerak maju mencengkeram badan pedangnya.
"Nyonya, tak guna kau melawanku...!" Pek Hong tercekat, ia menarik pedangnya sekuat tenaga membetot sambil menyentak, bermaksud melukai telapak lawan yang mencengkeram pedangnya. Tapi ketika pedang tak dapat dicabut dan si iblis tertawa bergelak dengan tawa mengerikan, mendadak nyonya muda ini terkejut. Pedangnya patah tiga bagian, hancur dicengkeram lawan yang mengerahkan kekuatannya!
"Pletak...! Ha-ha, kau tak bersenjata lagi, Nyonya!" Pek Hong kaget bukan main. Ia berseru keras ketika pedangnya patah, dan sementara ia terhuyung, tiba-tiba tangan kiri lawan meluncur maju mendorong dadanya. Tak ayal, pukulan panas menghantam tubuh wanita ini, dan begitu Pek Hong menjerit, tahu-tahu tubuhnya sudah terpental roboh bergulingan di atas lantai.
Dess! Nyonya muda ini berteriak.