Chapter 150
Kui Hoa terbelalak. Dia melihat sikap Kun Houw yang dingin dan terpukul. Menerima surat dari tangan pemuda itu, Kui Hoa segera membukanya dengan jari menggigil. Ketika melihat surat itu benar-benar dari ayahnya dan menyatakan bahwa Kun Houw adalah "sahabat", tiba-tiba saja Kui Hoa mengeluh dan menggigit bibirnya, entah karena girang atau sebab lain.
Kun Houw, yang menahan segala guncangan batinnya, tiba-tiba melihat Kui Hoa mempersilakannya masuk dan menghapus dua titik air mata yang menetes di pipinya.
"Saudara Kun Houw, silakan masuk!"
Kun Houw tertegun. Dia melihat Kui Hoa mengubah sebutannya, tidak lagi "Houw-ko" melainkan "Saudara". Namun, dengan mengangguk dingin, ia mengikuti gadis itu memasuki kemah, diiringi Siang-mo Ji-bin yang baru kali itu dilihatnya. Mereka tampak berbisik-bisik sebelum duduk dan berhadapan di meja besar.
Begitu mereka beradu pandang, Kui Hoa bertanya dengan sikap kaku, "Saudara Kun Houw, apa yang diinginkan Ayah dariku?"
Kun Houw menarik napas. "Menjemput para tawanan, Ok-siocia. Kami telah bertemu Kwik-ciangkun yang terluka di luar kota raja."
"Kami?"
"Ya, maksudku aku dan temanku. Tapi temanku itu kusuruh mengantar Kwik-ciangkun menemui ayahmu."
Kui Hoa tertegun. "Siapa temanmu itu, Saudara Kun Houw?"
"Sin-thouw-liong Mu Ba," jawab Kun Houw agak berat.
Namun, Kui Lin yang sejak tadi diam tiba-tiba bertanya, "Saudara Kun Houw, bagaimana kau dapat membantu Ayah? Kapan kalian bertemu?"
"Hm..." Kun Houw memerah mukanya. "Aku membantu ayahmu karena terpaksa, Nona. Kami bertemu semalam dan mengadakan taruhan. Aku kalah, dan karena itu aku mengikuti ayahmu."
"Pertaruhan apa?"
"Perlukah diketahui lebih jelas?" Kun Houw tidak senang. "Sebaiknya katakan saja apa yang harus kulakukan, Nona. Tak perlu bertanya urusan pribadi orang lain."
Kui Lin terpukul dan tersinggung. Namun, Kui Hoa mengangkat tangan memberi isyarat. "Lin-moi, memang apa yang dikatakan Saudara Kun Houw betul. Sebaiknya tidak perlu kita tanya itu dan berikan tugas padanya. Bagaimana kalau ikut mengawal para tawanan?"
"Terserah," jawab Kun Houw acuh tak acuh. "Aku hanya mengikuti perintah ayah kalian, Nona. Kalau itu tugasku di sini, aku tinggal mengikutinya saja."
"Dan kau sudah mendengar siapa saja yang menjadi tawanan kami, Saudara Kun Houw?"
"Ya."
"Dan kau ingin melihat mereka?"
"Tak perlu," jawab Kun Houw masih acuh. "Aku tidak berurusan dengan mereka, Nona. Pokoknya aku tinggal mengawal dan mengantar kalian sampai ke kota raja."
"Tapi kau sudah mendengar cerita Kwik-ciangkun, Saudara Kun Houw?"
"Tentang apa?"
"Tentang serbuan para pemberontak itu. Semalam!"
Kun Houw mengangguk. "Ya, telah kudengar. Ada apa, Nona?"
Kui Hoa memandang tajam. "Pendekar Gurun Neraka yang memimpin orang-orang itu, Saudara Kun Houw. Kau dapat menghadapinya kalau dia datang kembali?"
Kun Houw mengerutkan kening. "Aku akan menghadapi siapa saja demi tugasku. Tapi..." Kun Houw memandang Siang-mo Ji-bin. "Apakah mereka ini tidak dapat menghadapi Pendekar Gurun Neraka? Dan di mana So-beng yang membantu kalian? Bukankah Iblis Penagih Jiwa itu bersama kalian menangkap pemberontak?"
"Hm!" Siang-mo Ji-bin tiba-tiba menyela dengan melotot. "Pendekar Gurun Neraka bukan hanya datang seorang diri, bocah. Dia dibantu dua istrinya dan orang-orang lain. Apakah yang lain-lain ini tidak perlu dihiraukan?"
"Tapi So-beng juga membantu kalian, Siang-mo Ji-bin. Apakah ini juga kurang kuat? Dan lagi masih ada tiga ribu pasukan di sini! Masa takut?"
Siang-mo Ji-bin menggebrak meja. "Bukan takut atau tidak takut, bocah. Tapi kelihaian mereka itu yang harus diperhitungkan. Apa kau kira pasukan besar bisa merobohkan orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi itu? Pasukan hanya bisa menahan, bukan mengalahkan!"
"Dan So-beng?"
"Dia lenyap semalam, Saudara Kun Houw," Kui Hoa mendahului. "Karena itu hampir saja kami kebobolan!"
Kun Houw tertegun. "Ke mana?"
"Entahlah. Tapi paman kami itu memang bisa begitu, Saudara Kun Houw. Dia datang dan pergi seperti siluman saja."
Teringat bahwa ia belum memperkenalkan siapa sesungguhnya pemuda ini pada Siang-mo Ji-bin, Kui Hoa lalu memandang dua kakek kembar itu. "Siang-mo Ji-bin, Kun Houw adalah pewaris tunggal Bu-tiong-kiam Kun Seng. Kau kenal jago pedang itu, bukan? Inilah muridnya!"
Siang-mo Ji-bin terkejut. Mereka telah merasakan sedikit kepandaian pemuda ini. Namun, mendengar Kui Hoa memperkenalkan pemuda itu sebagai murid si jago pedang Bu-tiong-kiam Kun Seng, tiba-tiba mereka merasa mendapat kesempatan.
"Wah, begitukah kiranya?" Dua kakek itu berdiri. "Kalau begitu aku ingin memberi ucapan selamat, Ok-siocia. Biarlah arak ini kami suguhkan sebagai tanda ucapan selamat datang!"
Pek-kwi, yang mendahului kakaknya, melempar cawan arak, tiba-tiba terkekeh dan mengebutkan lengannya. Kun Houw mengerutkan kening. Dia melihat arak di tangan Pek-kwi menyambar, didorong kebutan lengan baju untuk menghantam mukanya.
Kun Houw yang sigap segera berdiri dan menggerakkan lengan untuk menyambut. Namun, persis saat arak siap disentuh, mendadak arak itu meleset dan tumpah menyiram kepalanya.
"Ah, hati-hati, Anak Muda. Pegang dan sambar cawan itu kuat-kuat!"
Kun Houw gusar. Dia mengerti bahwa lawannya itu ternyata ingin mengujinya, bukan sekadar memberi ucapan selamat. Maka, sambil mendengus dan mendongakkan kepala, tiba-tiba Kun Houw meniup dan menyedot. Begitu dia membuka mulutnya, arak yang berhamburan di udara menggumpal dan masuk ke mulutnya dalam sekali teguk.
Sementara Pek-kwi terbelalak, cawan itu sudah disentil balik ke arah iblis putih tersebut dengan seruan mengejek, "Siang-mo Ji-bin, terima kasih. Tapi cawan kukembalikan, terimalah!"
Pek-kwi menyambut, tetapi persis saat cawan siap disentuh, mendadak cawan itu "bergulir" dan naik di atas kepalanya. Sambil berseru kaget, cawan itu "menjitak" rambut kepalanya yang tipis.
"Tak!"
"Ah, hati-hati, Orang Tua. Pegang dan sambar cawan itu kuat-kuat!" Kun Houw membalas ejekan, melihat iblis putih itu melompat mundur dengan marah.
Namun, Ang-kwi yang sudah menggerakkan cawannya sendiri tiba-tiba menyentil arak menyambar muka Kun Houw. "Anak Muda, jangan meleng. Aku juga ingin mempersembahkan arak!"
Kun Houw, yang tahu bahwa ia diserang kembali, melihat cawan itu menghantam hidungnya dengan kecepatan luar biasa. Namun, Kun Houw yang maklum akan ujian ini sudah menggerakkan lengannya untuk menyambut, mendorongkan sinkang-nya. Begitu dua tenaga bertemu di udara, cawan arak itu berguncang dan berhenti di tengah jalan.
"Ah, kau tak mau menerima ucapan selamat kami, bocah?"
Kun Houw tersenyum. "Aku masih kenyang oleh arak saudaramu, Siang-mo Ji-bin. Biarlah kau simpan dulu, nanti kuminum."
Ang-kwi membentak marah karena araknya ditahan pemuda itu. Dia menambah tenaga dan mendorong lebih kuat. "Arak terlanjur kupersembahkan, Anak Muda. Sebaiknya kau minum dan tak perlu menolak. Terimalah!"
Kun Houw yang mendapat serangan hebat tiba-tiba melihat arak "berjalan" dan terdorong ke arahnya. Cawan mulai bergeser di udara. Kun Houw yang tentu saja tidak mau dipaksa tiba-tiba mengerahkan Jin-liong Sin-kang dan membentak. Begitu dia mendorongkan lengan menambah tenaganya, arak kembali menyerang lawan dan bergerak menyambar muka Ang-kwi.
"Aih... prang!"
Ang-kwi kaget bukan main. Dia terpaksa melempar tubuh ke kiri karena kalah kuat, mendengar angin berdesir dahsyat, dan melihat cawan menyambar sisi kepalanya lalu hancur menghantam dinding. Ang-kwi terbelalak dengan muka berubah, lalu meloncat bangun.
"Hebat, sinkang-mu luar biasa, bocah. Tapi aku masih penasaran!"
Ang-kwi kelihatan beringas. Dia mengebutkan bajunya yang kotor terkena percikan arak, bersiap untuk menyerang kembali. Namun, Kui Hoa melompat maju, mengembangkan lengannya dan membentak, "Siang-mo Ji-bin, kita teman sendiri. Tahan!"
Kemarahan Kui Hoa membuat Ang-kwi sadar. Ia terkekeh dan tersenyum kecut. "Aih, maaf. Aku lupa, Niocu. Tapi betapa Saudara Kun Houw memang hebat. Kapan-kapan aku ingin bertanding lagi!"
Ang-kwi yang rupanya kecewa oleh bentakan itu lalu berkelebat keluar, disusul adiknya.
Kun Houw tersenyum mengejek. "Beginikah orang-orangmu, Nona Ok? Tak tahu aturan, sungguh tak tahu malu!"
Kui Hoa menarik napas. "Siang-mo Ji-bin memang orang-orang sesat, Saudara Kun Houw. Maafkanlah." Dengan gugup memandang Kun Houw, gadis ini lalu berkata pada adiknya, "Lin-moi, tolong antar tamu kita ke tempat peristirahatan. Biar dia mengaso dulu."
Kui Lin mengangguk. Dia membawa Kun Houw keluar dan memberikan sebuah kemah tak jauh dari kemah induk. Sambil mempersilakan Kun Houw beristirahat, ia berkata, "Sebaiknya hari ini kau kumpulkan tenaga baik-baik, Houw-ko. Mungkin besok kita berangkat setelah pasukan segar kembali."
Sambil berbisik dengan kening dikerutkan, Kui Lin memandang pemuda itu, "Enci Hoa bukan orang yang membunuh gurumu, Twa-ko. Tak sepantasnya kau bersikap dingin padanya!"
Setelah Kui Lin melompat keluar kemah, Kun Houw tertegun dan terpaku memandang punggung gadis itu. Namun, setelah Kui Lin lenyap dan pelayan muncul membawakan minuman, akhirnya Kun Houw menahan napas dan duduk termangu.
Siang itu tidak ada sesuatu yang istimewa. Pasukan besar tetap berjaga-jaga setelah semalam dibuat kalut oleh serangan pemberontak yang hampir membebaskan tawanan. Kun Houw, yang beristirahat di kemahnya sendiri, tidak mendapat gangguan.
Namun, ketika senja mulai datang dan malam merayap menghampiri, tiba-tiba pasukan itu tampak gelisah. Kun Houw mendengar aba-aba diberikan setiap komandan, menyuruh anak buah mereka berjaga dengan kesiapsiagaan penuh. Ketika malam semakin larut dan sebagian pasukan tertidur, tiba-tiba kekacauan mulai datang.