Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 151

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 151

Sebuah kemah terbakar, tidak diketahui dari mana api berasal. Sementara orang sibuk memadamkan api, tiba-tiba kemah yang lain juga terbakar. Tak tanggung-tanggung, hampir dua puluh buah! Kun Houw yang tertegun di luar kemahnya mendadak mendengar teriakan di belakangnya, "Tawanan lolos... tawanan lolos!"

Kun Houw terkejut. Dia melihat banyak orang berlari-lari ke sebelah barat dan menyaksikan lima bayangan berlompatan di antara api yang berkobar, dikejar serta menangkis hujan senjata para prajurit. Ketika dia bengong melihat semua itu, tiba-tiba Kui Lin muncul.

"Keparat, kau bantu kami, Houw-twako. Para pemberontak menyerang dengan cara gerilya!" Kun Houw menahan napas. Dia melihat bayangan Siang Mo-jibin juga keluar dari kemahnya sambil membentak-bentak.

Kui Hoa yang muncul dan melihat keributan itu tiba-tiba berteriak memberi aba-aba, "Ma-ciangbu, jangan semuanya mencari tawanan. Sebagian memadamkan api!" Gadis yang tampak terkejut dengan muka merah itu berkelebat di sampingnya, "Saudara Kun Houw, tolong tangkap orang-orang itu. Tawanan lolos!"

Kun Houw mengangguk. Dia melompat ke tempat yang gaduh itu dan melihat bayangan seorang gadis mengamuk di tengah-tengah ratusan prajurit, tampak gagah dan hebat bukan main, menerjang serta melempar-lemparkan lawan bagai boneka. Sementara dia menerobos menuju tengah-tengah keributan, di sebelah kanannya juga tampak seorang hwesio membabatkan tongkat, mengamuk di antara dua ratus prajurit yang mengepungnya. Itulah Bu Wi Hosiang!

Kun Houw tertegun. Dia melihat ketua Bu-tong itu menggerakkan tongkat dengan sangat ganas, tak kalah hebat dengan gadis di sebelah kiri. Di tempat lain, tiba-tiba tampak tiga pertempuran lain yang tak kalah dahsyat. Tiga orang mengamuk di sebelah utara. Tiga orang laki-laki; dua bersenjata, sedangkan yang terakhir tidak. Justru yang terakhir inilah yang membuat pasukan jatuh bangun, menjerit-jerit, dan membuat gaduh suasana. Kun Houw yang tertarik pada pertempuran ini tiba-tiba berniat datang ke sana.

Namun, pasukan terlampau banyak. Kun Houw terhalang oleh tiga ratus lebih prajurit yang ribut; dia harus menguak dan berlompatan di atas kepala mereka. Ketika dengan susah payah dia tiba di tempat itu, tahu-tahu pertempuran telah bergeser jauh ke sebelah timur. Kun Houw harus mengulang pekerjaannya. Dia terpaksa mendorong dan tidak jarang melempar prajurit yang menghalangi jalannya. Prajurit yang ada di depannya hanya berteriak-teriak tapi tidak mau maju karena takut.

Ketika dia mendekati pertempuran yang sudah bergeser itu, Kun Houw melihat jelas siapa laki-laki yang hebat tersebut. Kun Houw tertegun. Dia melihat seorang pemuda gagah perkasa mengamuk di tempat itu, menangkis semua senjata dengan tangan kosong. Pemuda tinggi besar itu bukan lain adalah pemuda yang dulu menolongnya dari keroyokan So-beng dan Mu Ba. Pemuda yang baru kali ini diketahuinya sebagai Sin Hong!

Kun Houw yang terkejut bukan main seketika bengong dan membelalakkan matanya. Dia sungguh tak mengira bahwa pemuda tinggi besar yang dulu menolongnya di kuil rusak itu adalah Sin Hong, murid si Naga Bongkok. Putra Pendekar Gurun Neraka, jadi adiknya sendiri lain ibu. Kun Houw yang tertegun oleh kenyataan ini tiba-tiba menggigil dan mengeluh. Celaka, kenapa baru sekarang dia tahu bahwa pemuda yang menolongnya itu adalah Sin Hong. Kini dia harus berhadapan dengan orang yang pernah berbuat baik padanya, adiknya sendiri satu ayah lain ibu.

Kun Houw yang gemetar oleh kenyataan ini mendadak pusing. Dia berada dalam kedudukan yang benar-benar tidak enak. Dia merasa betapa ramalan Phoa-lojin tepat adanya. Kun Houw menggigil dengan mata terpejam, tiba-tiba ingin menangis. Kenapa dia demikian sial? Dosa apakah yang telah diperbuatnya hingga bertubi-tubi tertimpa nasib buruk? Apakah getah dari perbuatan ibunya?

Kun Houw merintih. Dia merasa kenyerian yang sangat menghunjam jantungnya, pedih dan seakan disayat-sayat. Tapi mendengar suara orang berteriak dan lima prajurit terbanting roboh, tiba-tiba Kun Houw membuka mata dan menjadi beringas. Dia melihat Sin Hong membentak di tengah-tengah kepungan, melempar dan mendorong puluhan orang yang menghujaninya dengan senjata. Pukulan sinkangnya membuat lawan gentar dan menjerit-jerit.

Ketika lagi-lagi tujuh orang terbanting dengan tulang patah, tiba-tiba Kun Houw menyambar ke depan melewati kepala banyak orang, "Sin Hong, akulah lawanmu!"

Kepungan menjadi buyar. Para prajurit menyibak dan otomatis melompat mundur, mengenal Kun Houw yang siang tadi menghadap Kui Hoa niocu, yang kini dikenal sebagai utusan Ok-ciangkun. Pemuda yang diam-diam dikatakan sangat lihai karena pewaris tunggal diri si jago pedang Bu-tiong-kiam Kun Seng. Semua prajurit bersorak, melompat memberi ruangan, lalu melihat dua pemuda itu sudah saling berhadapan dan siap berlaga bagai dua ekor singa.

Pemuda tinggi besar itu terkejut. Dia memang Sin Hong, seorang di antara lima tawanan yang menyerahkan diri, yang kini lolos dan membobol kepungan dengan kepandaiannya yang hebat. Melihat Kun Houw membentak dan melayang turun menghadapinya, tiba-tiba Sin Hong mundur dan tersentak kaget.

"Ceng Liong-ko!" Kun Houw mendesis. Dia sekarang tahu bahwa adiknya satu ayah ini telah tahu hubungan mereka. Tapi mendengar Sin Hong menyebutnya Ceng Liong, tiba-tiba Kun Houw menggeram dan membentak, "Aku Kun Houw, Sin Hong. Bukan Ceng Liong!"

"Tapi ayah telah melihat bekas luka di lengan kirimu itu, Liong-ko. Kau adalah putra ayah yang selama ini dicari-cari!"

"Tidak, aku tak kenal itu semuanya, Sin Hong. Aku adalah Kun Houw dan murid sekaligus anak angkat Bu-tiong-kiam Kun Seng, ayah sekaligus guruku!"

Sin Hong membelalak, "Liong-ko..."

Kun Houw mendamprat gusar, "Aku tak sudi menggunakan nama itu, Sin Hong. Kau masih tuli tidak mendengar kata-kataku?" Tak mau banyak cakap karena percakapan hanya akan membuatnya sakit hati, tiba-tiba Kun Houw menerjang ke depan. "Sin Hong, menyerahlah!"

Sin Hong mendesis. Dia melihat kakaknya itu menggigit bibir, menerjang dengan lengan membacok ke depan, dahsyat dengan pukulan Tangan Pedang, mendesak dan menyambar lehernya. Sin Hong yang terbelalak oleh serangan ini tiba-tiba mengerahkan sinkang sambil berteriak, "Liong-ko, eh... Houw-ko, jangan membantu musuh!"

Dukk! Keduanya terpental. Sin Hong terkejut bukan main dan berjungkir balik mematahkan benturan dahsyat itu, kaget bahwa Kun Houw bersungguh-sungguh menyerangnya. Ketika melompat bangun dan melihat Kun Houw menggerung dan kembali menyerang, mendadak Sin Hong menggigit bibir dan menjadi marah.

"Houw-ko, kau tersesat. Kau tertipu!"

Namun, Kun Houw menutup telinga. Dia sudah menerjang dan mengerahkan Kiam-ciang-nya, bertubi-tubi membacok dan menusuk dengan kedua lengan menyambar-nyambar hingga membuat Sin Hong terdesak, kewalahan, dan bingung menghadapi kakaknya ini. Tapi ketika tekanan kian berat dan para prajurit yang menonton bersorak-sorak, tiba-tiba Sin Hong membentak marah dan mulai balas menyerang. Dia tidak hanya sekadar menangkis, tetapi mulai melancarkan pukulan-pukulan dahsyat untuk menahan lawannya.

Begitu Sin Hong melengking dan memainkan Sin-liong-hoatnya (Silat Naga Sakti), tiba-tiba dua orang muda itu terlibat pertarungan sengit yang membuat para penonton mundur. Semua orang asyik menonton pertandingan itu. Mereka melihat dua pemuda itu sama-sama cepat, masing-masing bergerak dengan lincah dan pukul-memukul dengan hebat. Ketika masing-masing mulai mengeluarkan tenaga saktinya dan dua pukulan berbenturan di udara, tiba-tiba saja bumi bergetar dan beberapa penonton yang terlalu dekat jaraknya terlempar.

"Mundur... mundur... beri mereka ruang yang luas!" seorang komandan berteriak-teriak, menyuruh anak buahnya mundur agar tidak terserempet angin pukulan dahsyat itu.

Ketika semua orang terbelalak dan tidak bersorak-sorak lagi, Sin Hong dan Kun Houw telah lenyap berputar-putar, mempercepat gerakan mereka dan terpaksa mengerahkan gin-kang, ilmu meringankan tubuh. Begitu keduanya saling menjentik dan mengadu kepandaian, tiba-tiba saja kegaduhan di tempat itu terhenti karena semua orang terpaku menonton. Pertandingan itu memang hebat. Kun Houw penasaran karena Tangan Pedangnya belum merobohkan lawan, melihat lawan memainkan ilmu silat pertahanan yang kokoh di samping balas menyerang, meliuk-liuk bagai naga menari, menerkam, dan mematuk.

Ketika berkali-kali keduanya terpental oleh pukulan yang beradu, Kun Houw lalu mengerahkan Jing-liong Sin-kangnya yang didapat dari Bu-beng Sian-su! "Sin Hong, kau akan kurobohkan!"

Sin Hong terkejut. Dia merasa Kun Houw mengubah gerakan, mendorong dan mengibas dengan lengan yang tidak lagi mendesing-desing, melainkan meniup bagai angin gunung, lembut namun kuat bukan main, menghantam dan tiba-tiba menderu setelah dekat jaraknya. Sin Hong yang mengerutkan kening melihat perubahan ini segera tahu apa yang dilakukan Kun Houw. Tahu bahwa lawan mempergunakan Jing-liong Sin-kang, sinkang Menghimpun Seribu Naga itu.

Marah melihat Kun Houw mendesaknya dengan ilmu yang dahsyat itu, terpaksa Sin Hong memekik dan mempergunakan Jing-liong Sin-kangnya pula. "Houw-ko, kau terlalu..."

Plak-dess! Sin Hong yang sudah menangkis serangan kakaknya itu tiba-tiba sama mencelat dan terlempar terguling-guling, mengeluh, dan membuat semua orang terbelalak melihat benturan dahsyat itu. Mereka merasa tanah bergetar hebat dan beberapa di antaranya terjungkal roboh.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment