Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 152

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 152

Namun, keduanya yang sudah kembali melenting dan saling menyerang dengan marah akhirnya membuat penonton terpaku dan melongo bagai orang bingung. Mereka melihat keduanya mempergunakan ilmu yang sama; mirip, tidak ada bedanya sama sekali. Ketika benturan-benturan dahsyat kembali membuat tanah terguncang dan angin panas mulai menderu, tiba-tiba saja para penonton panik dan melompat menjauh. Mereka merasa terbakar, muka mereka terasa panas. Saat dua pemuda itu melengking dan memperhebat serangan, tidak ada seorang pun di antara penonton yang berani mendekati; mereka menyingkir, pucat melihat pertandingan dahsyat itu.

Ketika Sin Hong dan Kun Houw sama-sama membentak dan melompat ke depan, benturan keras tidak dapat dielakkan lagi. "Blang!" Kun Houw dan Sin Hong terpental di udara. Mereka sama-sama mengeluh, mencelat, dan berjungkir balik dengan napas sesak. Saat keduanya melayang turun, tampak darah meleleh di sudut mulut mereka.

"Ah, kita sama-sama terluka, Houw-ko!" Namun, Kun Houw tidak peduli. Dia mengguncang dan mengusap bibirnya, mendesis, dan ingat bahwa mereka sama-sama memiliki warisan Bu-beng Sian-su. Sambil membentak tanpa memedulikan diri lagi, tiba-tiba Kun Houw menerjang lawannya. "Sin Hong, menyerahlah kalau ingin pertandingan berhenti!" Namun, Sin Hong terang-terangan menolak. Dia tidak mau mengikuti perintah itu. Melihat lawan menyerang dan menubruknya dengan pukulan dahsyat, Sin Hong menggigit bibir dan berkelit menghindari.

Lalu, sambil melompat jauh dan berteriak penuh kecewa, tiba-tiba Sin Hong menghajar pasukan di sebelah kiri yang sejak tadi menonton dan terkejut melihat serangan tersebut. Begitu mereka menjerit dan roboh tunggang-langgang, segera Sin Hong melewati mereka dan berputar-putar mencari jalan keluar.

"Houw-ko, kau tersesat. Kau membantu iblis-iblis berbahaya!" Kun Houw meradang. Dia marah melihat Sin Hong melarikan diri, berputar-putar, dan menyeruak di antara kepungan yang tebal. Ketika pemuda itu melompat-lompat dan bingung menghadapi lawan, tiba-tiba di sebelah timur terdengar pekik dan jerit kesakitan. Sekelompok orang menyerbu, yakni rombongan kaum pendekar. Kun Houw yang terbelalak menghentikan langkahnya saat melihat Sobeng dan teman-temannya muncul.

"Kun Houw, kejar lawanmu itu. Pendekar Gurun Neraka datang!" Kun Houw tersentak. Dia berdesir melihat tiga bayangan melindungi Sin Hong—bayangan seorang laki-laki gagah disertai dua perempuan cantik, wanita-wanita setengah baya yang mengamuk menerobos jalan darah, hebat dan mengerikan sekali. Kun Houw yang tertegun melihat semuanya tiba-tiba dihantam sebuah tangan kuat yang menepuk pundaknya.

"Bocah, jangan melongo saja. Hayo bantu kami kalau kau benar-benar tunduk pada Ok-ciangkun!" Kun Houw terkejut. Dia melihat Ang-kwi membentaknya, melotot, dan menepuk pundaknya untuk melampiaskan kekesalan. Kun Houw yang gusar oleh perbuatan kakek itu tiba-tiba melayang dan balas menamparnya.

"Ang-kwi, kau tua bangka keparat!" Ang-kwi terbelalak. Dia marah melihat Kun Houw menyerang, maka terkekeh dan menggerakkan lengannya untuk menangkis lengan Kun Houw menggunakan Ang-see-kang-nya (Tenaga Pasir Merah). "Dukk!" Ang-kwi terpental. Dia terdorong dan kaget oleh sinkang lawan. Namun, ketika dia memekik dan hendak membalas, tiba-tiba Kui Hoa muncul. "Ang-kwi, jangan bertengkar sendiri. Kejar mereka yang lolos!" Ang-kwi mendelik. Dia kecewa, tapi mendengus meninggalkan Kun Houw karena terpaksa menerima perintah itu.

Kun Houw pun melompat meninggalkan Kui Hoa, lalu mengejar Sin Hong yang masih harus berloncatan mencari jalan keluar karena kepungan semakin tebal dan menyulitkan gerakannya. Karena rombongan pendekar menyerbu dan mengacau barisan, Kun Houw kebingungan mendekati tempat itu. Dia tidak dapat mengikuti karena mereka terus berpindah-pindah. Ketika dia membentak agar pasukan menyingkir, tiba-tiba Kun Houw tersesat di pertempuran lain antara Bi Lan dan para pengepungnya.

"Tikus-tikus busuk, kalian tidak dapat menangkap aku!" Kun Houw tertegun melihat Bi Lan menggerakkan kaki tangannya, menghajar pasukan hingga berteriak-teriak. Namun, ketika dia hendak melompat maju dan menghadapi gadis ini, tiba-tiba Kui Lin muncul dengan bentakannya yang nyaring, "Siluman betina, kau tidak dapat lolos!" Kui Lin membabatkan pedangnya ke leher lawan, tetapi dikelit oleh Bi Lan yang meloncat tinggi. Lalu, menukik turun dan menggerakkan tangannya, tahu-tahu Bi Lan telah menampar pedang di tangan lawannya itu. "Plak!" Kui Lin terhuyung. Ia membentak dan menerjang lagi, dan Pekkwi yang muncul di tempat itu membantu Kui Lin membuat Bi Lan terkejut, mencabut pedang, dan berteriak membabat lawan.

Begitu pertempuran menjadi kalut, sekonyong-konyong ibunya muncul membantu Bi Lan. "Bi Lan, lari ke barat. Pergunakan taktik tikus melompat-lompat!" Bi Lan girang. Dia berseru keras melihat kedatangan ibunya, bantuan yang membuatnya gembira. Sambil memekik mementalkan pedang Kui Lin, tiba-tiba Bi Lan membentak dan berjungkir balik melarikan diri menuju ke barat sesuai arahan ibunya, melompat-lompat di antara kepala pasukan yang dijadikan "jembatan". Ketika dia melakukan salto belasan kali di udara, tiba-tiba saja gadis ini telah jauh meninggalkan lawan.

"Kejar! Tangkap gadis itu!" Kui Lin marah, berteriak, dan mengejar mendahului lawan, mengerahkan ginkang dan berjungkir balik pula seperti Bi Lan, melewati kepala anak buahnya untuk menangkap Bi Lan. Tapi Bi Lan yang berputar di antara pengejarnya melompat-lompat lagi, mempergunakan kegaduhan sebagai tameng untuk menyelamatkan diri. Ketika Kui Lin mengejarnya ke tempat itu, dia pun sudah melenting jauh ke tempat lain. Main kucing-kucingan!

Kun Houw melihat gadis itu terus melakukan pengejaran. Karena merasa Bi Lan sudah diurus Kui Lin, dia pun mencari musuh lain karena Ceng Bi juga sudah melompat meninggalkan Pekkwi, yang menjerit dan marah mengejar nyonya ini. Ketika Kun Houw mencari-cari, tahu-tahu dia melihat amukan Bu Wi Hosiang.

"Keledai gundul, kau mampuslah!" Kun Houw terbelalak melihat sepuluh orang perwira mengeroyok ketua Bu-tong pai yang tampaknya dianggap lawan paling ringan. Tapi ketika Bu Wi Hosiang menguakkan tongkat dan menyambar semua senjata, tiba-tiba sepuluh orang perwira itu roboh dengan senjata patah-patah.

"Tikus-tikus busuk, kalian pergilah. Pinceng tidak mau membunuh!" Namun, sepuluh perwira ini sudah melompat bangun kembali. Mereka marah, mencabut senjata baru, menerjang, dan menusuk ketua Bu-tong itu dengan tombak dan pedang. Ketika tombak dan pedang yang patah bertemu tubuh hwesio ini, seketika para pengeroyoknya gentar. Sebuah bayangan tiba-tiba menyambar turun.

"Kerbau-kerbau dungu, mundur!" Sepuluh perwira itu kaget melihat sebuah bayangan merah meluncur menghantam ketua Bu-tong ini. Bu Wi Hosiang, yang tentu saja menangkis dengan tongkatnya, tiba-tiba berseru keras. "Krask!" Hwesio itu terkejut melihat tongkat di tangannya hancur. Saat melihat siapa yang datang, tiba-tiba hwesio ini berteriak kaget, "Sobeng!"

Iblis Penagih Jiwa itu terbahak. Dia menyipitkan mata di depan ketua Bu-tong ini dan tertawa dengan sikap dingin, lalu memutar-mutar kedua lengannya. "Ya, aku, Bu Wi Hosiang. Kau ingat ancamanku sepuluh tahun yang lalu?" Ketua Bu-tong ini menggigil. Dia terbelalak memandang lawan, teringat ancaman Iblis Penagih Jiwa itu yang ingin membunuhnya sepuluh tahun lewat. Namun, sambil membentak dan menggoyang tangannya, hwesio tinggi besar ini berseru, "Sobeng, pinceng tidak takut ancamanmu sepuluh tahun yang lalu. Pinceng akan membekukmu untuk diserahkan pada kaum pendekar!"

"Ha-ha, kau dapat melakukan perbuatan itu, keledai gundul? Terlalu pongah. Justru aku yang malam ini akan merobohkanmu untuk menepati janji. Bersiaplah!" Sobeng yang merendahkan tubuhnya tiba-tiba mendorong ke depan dengan pukulan pertama, menghantam dada ketua Bu-tong itu dengan telapak tangan kirinya. Bu Wi Hosiang yang menggerakkan ujung bajunya untuk menangkis sekonyong-konyong membentak dan merendahkan tubuhnya pula. "Plak!" Ujung lengan baju hwesio itu meledak di udara saat bertemu pukulan lawan yang dahsyat.

Ketika hwesio ini terdorong dua langkah, tiba-tiba Sobeng tertawa dan melejit ke depan. "Keledai gundul, kau tidak dapat mengalahkan aku!" Bu Wi Hosiang terkesiap. Benturan pertama tadi menunjukkan kehebatan lawan dengan tenaga sinkangnya yang menggetarkan tubuhnya. Sementara dia membelalakkan mata, Iblis Penagih Jiwa itu telah berkelebatan mengelilinginya dengan pukulan-pukulan dahsyat, menampar, dan mengibas dengan kecepatan luar biasa. Bu Wi Hosiang yang tidak mau menyerah tiba-tiba memekik dan berputar pula mengimbangi lawannya, menangkis, dan membuat ujung jubahnya kaku bagai toya sebagai pengganti tongkat.

Begitu dia membentak dan melayani lawannya, pertandingan hebat pun tidak dapat dihindari. Bu Wi Hosiang memainkan kedua ujung lengan bajunya dengan gerakan-gerakan Bu-tong Tung-hoat (Silat Tongkat dari Bu-tong), menyambar dan menangkis serangan lawan dengan ujung bajunya, hingga berkali-kali meledak dan sama-sama terpental. Tapi ketika lawan mulai melancarkan pukulan beruap merah, tiba-tiba hwesio ini terkejut. Apalagi ketika uap merah yang terhirup hidungnya itu berbau amis dan mengandung racun. Bu Wi Hosiang yang membelalakkan mata dengan kening dikerutkan tiba-tiba teringat akan sesuatu dan berteriak kaget, "Angciang (Pukulan Beracun Awan Merah)!"

Sobeng tertawa terbahak-bahak. "Kau mengenal pukulanku, keledai gundul? Bagus, kalau begitu tidak percuma kau menduduki jabatan sebagai seorang ketua partai!" Sobeng yang tertawa dengan suara menyeramkan mendadak memperhebat serangannya dan melengking tinggi. Kedua lengannya menampar dan mendorong, mengeluarkan asap yang semakin pekat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment