Chapter 153
Ketika satu saat Bu Wi Hosiang harus menangkis kembali, secara mendadak ujung lengan baju hwesio itu hancur saat bertemu Ang-in-tok-ciang.
"Kres!" Bu Wi Hosiang terpekik.
Dia terhuyung dengan muka kaget, melihat lawan kembali menyerang dengan tangan kiri. Gugup melihat pukulan itu, ketua Bu-tong ini kembali menggerakkan ujung lengan baju satunya. Namun celaka, ujung lengan baju itu pun hancur. Sementara ia terdorong, tiba-tiba lawan berkelebat memutar kakinya.
"Dess!" Bu Wi Hosiang mengeluh tertahan. Kali ini ia mencelat, terlempar bergulingan. So-beng yang terkekeh menggerakkan kakinya, mengejar dengan tamparan ke kepala.
"Keledai gundul, malam ini kematianmu tiba!" Bu Wi Hosiang terbelalak. Ia membentak dan melompat bangun karena melihat lawan mengancam keselamatan jiwanya. Marah oleh kejaran lawan, sekonyong-konyong hwesio ini mengeluarkan ilmu simpanannya, Busan (Membidik Gunung Bu-tong), disertai pekik mirip singa raung. Begitu kedua lengannya bergerak menyambut, bertemulah dua pukulan dahsyat itu di udara.
"Dess!"
So-beng mencelat tiga tombak. Iblis Penagih Jiwa itu terpental, berseru keras terkejut oleh tangkisan lawan. Ketika Bu Wi Hosiang berkelebat ke depan untuk mengejarnya, tiba-tiba sebuah pukulan mengenai pinggang kirinya.
"Plak!" So-beng tak sempat mengelak. Ia terlempar dan kembali bergulingan. Saat lawan mengejar dan kembali menghantam, dua kali berturut-turut Iblis Penagih Jiwa ini terpelanting dan berteriak kaget, mengeluh oleh pukulan Bu-tong hok-san yang benar-benar dahsyat, antep, dan membuat napasnya sesak.
Namun, So-beng yang dapat meloncat bangun dan terhuyung memandang lawan membuat Bu Wi Hosiang tertegun. Ia kaget karena lawan rupanya memiliki kekebalan yang hebat, padahal pukulannya tadi dapat memukul roboh sebuah batu sebesar bukit. Heran serta terkesiap oleh kehebatan lawannya, tiba-tiba So-beng membalas dan menepuk kedua tangannya.
"Bu Wi Hosiang, aku juga belum mengeluarkan semua kepandaianku. Sekarang lihatlah. Haitt!" Iblis Penagih Jiwa yang berkelebat dengan tangan didorong ke depan itu tiba-tiba memekik dengan bentakan mengguntur, menghantam leher Bu Wi Hosiang dengan pukulan aneh. Pukulan itu mencuit bagai desis seekor naga, seluruh lengannya merah marong dan mengeluarkan hawa yang luar biasa panas.
Kun Houw yang melihat pukulan itu tiba-tiba berseru kaget tanpa sadar, "Tok-hwe-ji (Hawa Api Beracun)!"
Bu Wi Hosiang juga mencelos. Ia pernah mendengar nama pukulan mukjizat itu dari beberapa orang, namun belum pernah bertemu langsung. Melihat pukulan itu menyambar lehernya dan hawa panas menerjang lebih dulu, ia terkejut dan berusaha mengelak. Namun, hawa panas itu memburunya bagai lidah naga. Ketika pukulan sudah dekat dan tak dapat dihindari lagi, terpaksa dengan gentar namun marah, hwesio Bu-tong ini menangkis.
"Bress!" Bu Wi Hosiang berteriak. Ia merasa masuk dalam bara api yang panas bukan main; lehernya terbakar dan pakaian yang dikenakan langsung hangus. Bu Wi Hosiang yang kaget bukan main membanting tubuh bergulingan, menjerit, dan pucat melihat kehebatan Tok-hwe-ji itu. Ketika ia melompat bangun sambil menggigil, tiba-tiba ketua Bu-tong ini muntah darah dan terhuyung.
"Ha ha, kau tak dapat menyelamatkan diri, keledai gundul. Pukulan Tok-hwe-ji-ku telah merusakkan jaringan otot di lehermu. Kau tak dapat menoleh ke kiri atau ke kanan!"
Bu Wi Hosiang terbelalak. Ia benar-benar tak dapat menggerakkan lehernya; kaku tak mau diputar ke kiri atau ke kanan. Persis celeng (babi hutan)! Bu Wi Hosiang mengeluh dengan mata merah dan memaki, "Kau keji, So-beng. Kau benar-benar iblis!"
Meraung bagai singa lapar, ketua Bu-tong ini menerjang maju dengan penuh kemarahan. Ia membabi buta menyerang lawan, menujukan semua pukulannya ke depan. Namun, ketika lawan mengelak ke kiri, kanan, atau belakang, tiba-tiba ketua Bu-tong ini kehilangan lawannya. Ia tak dapat memutar leher, dan ketika So-beng menghantamnya dari belakang, hwesio ini pun mengaduh dan terpental roboh. Ia nekat bangun dan kembali menyerang, tapi begitu lawan berkelit dan melancarkan pukulan dari samping, hwesio ini menjerit dan roboh terjengkang sambil memuntahkan darah.
So-beng terbahak dan mencabut cakar bajanya. Tahu-tahu dada hwesio tinggi besar itu telah disambar hancur dan terkuak oleh senjata maut tersebut.
"Crakk!" Bu Wi Hosiang terguling roboh. Ia tewas seketika, jantung dan paru-parunya sobek.
Kun Houw yang menonton dari jauh hampir saja membentak dan menerjang Iblis Penagih Jiwa itu, tak tahan melihat kekejamannya. Namun, seorang tosu yang berkelebat mendahuluinya sudah melakukan bentakan dengan pedang menusuk mata.
"So-beng, kau iblis keji!" Iblis Penagih Jiwa itu terbelalak melihat Thian Kong Cinjin muncul. Ia menyerang matanya dengan kecepatan kilat, tapi So-beng mendengus dan melempar kepala ke belakang. Tahu-tahu pedang lewat di sisinya dan membalik menikam dadanya.
"Takk!" Thian Kong Cinjin terkejut. Ia sudah dapat menusuk lawannya, tapi pedang yang mental bertemu dada lawan ternyata tak sanggup melukai dan justru menyerang dirinya sendiri, membalik bertemu kekebalan So-beng yang aneh. Thian Kong Cinjin terkejut, berteriak, dan berjungkir balik dengan muka pucat.
"Hoatciong-ko!" So-beng terbahak. "Kau tahu ilmu kekebalanku, Thian Kong Cinjin? Bagus, tak sia-sia kau mati di tanganku pula!"
So-beng berkelebat menggerakkan lengannya, mendorong dengan pukulan Tok-hwe-ji, menyerang Thian Kong Cinjin yang bergulingan. Ketua Kong-thong yang melihat kedahsyatan ilmu itu mengelak, meloncat jauh, dan melakukan salto dua kali. Lalu, dengan membentak dan melayang turun, ia menggerakkan pedangnya menusuk ubun-ubun lawan.
"Plak-dess!" Thian Kong Cinjin tertangkis. Ia terpental, memekik, dan marah dengan mata melotot. Namun, ketua Kong-thong yang gagah perkasa ini melengking dan memutar pedangnya kembali. Dengan hebat dan cepat, ia melakukan tusukan dan tikaman, gencar memainkan ilmu silat Kong-thong Kiam-sut.
Pedang berkelebatan menyambar-nyambar; Kun Houw melihat dua orang itu bertanding mengadu kepandaian. So-beng menunjukkan kekebalannya yang luar biasa, Toat-ciong-ko, ilmu kebal yang berbau ilmu hitam. Ia tangguh dan berkali-kali mementalkan pedang di tangan Thian Kong Cinjin. Ketika So-beng membalas dengan pukulan Tok-hwe-ji yang ganas, akhirnya Thian Kong Cinjin kewalahan dan harus berlompatan ke sana kemari. Terdesak dan mulai pucat, namun ia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Ketika tosu ini mulai keteter dan Tok-hwe-ji mendesaknya dengan ganas, tiba-tiba empat orang muncul membantu. Empat pendekar yang tak dikenal Kun Houw itu maju dengan golok dan pedang. Begitu Thian Kong Cinjin dibantu, ketua Kong-thong ini dapat melepaskan diri dan menyeka keringatnya.
"Su-wi taihiap (empat pendekar terhormat), terima kasih, tapi hati-hati menghadapi Iblis Penagih Jiwa ini. Jangan bentrok langsung dengan pukulan Tok-hwe-ji-nya!"
So-beng tertawa bergelak. Ia tak keder oleh bantuan baru itu, menyambut dan menerima tusukan pedang serta golok, kembali mendemonstrasikan Toat-ciong-ko yang hebat. Ketika empat senjata mental bertemu tubuhnya, tiba-tiba lengan kirinya mengibas dengan pukulan Tok-hwe-ji.
"Thian Kong Cinjin, kau benar-benar jantan. Empat orang sahabatmu ini solider sekali."
Thian Kong Cinjin berteriak memperingatkan temannya agar tak menangkis, tapi seorang di antaranya yang memegang golok memekik terlambat. Senjatanya disambar dan ia terpaksa menangkis. Begitu golok bertemu angin pukulan Tok-hwe-ji, golok itu mencelat dan hangus terbakar.
"Aih-plak!" Orang ini bergulingan. Tok-hwe-ji mengejar, tapi Thian Kong Cinjin menggerakkan pedangnya untuk membantu, berkelebat menusuk mata Setan Penagih Jiwa itu. So-beng menarik serangannya, tertawa, dan menangkis pedang di tangan ketua Kong-thong itu. Begitu pedang terpental, tiga orang lainnya maju menyerang membantu Thian Kong Cinjin yang harus mengelak dan membanting tubuhnya.
Begitulah, So-beng dikeroyok. Iblis Penagih Jiwa yang dikerubut lima orang itu mendapat serangan gencar yang tiada habis-habisnya, menusuk dan menekan dengan gerakan cepat. Namun, melihat Iblis Penagih Jiwa ini benar-benar kebal dan tak dapat dilukai kecuali pada bagian mata, akhirnya Thian Kong Cinjin memberi aba-aba.
"Cu-wi enghiong (pendekar sekalian), serang saja kedua matanya. Jangan di lain tempat!"
So-beng marah. Sekarang ia mendapat tusukan atau tikaman di kedua matanya secara bertubi-tubi dan gencar. Ia geram bahwa ketua Kong-thong inilah yang memberi aba-aba. Mendadak So-beng menggereng dan berkelebatan ke sana kemari. Ia mengelak semua serangan itu, lalu ketika sebuah golok dan pedang kembali menyambar, ia mencengkeram dan membetot dua senjata itu.
"Krek-krekk!" Dua pemilik senjata berteriak keras melihat golok dan pedang di tangan patah diremas Iblis Penagih Jiwa itu. So-beng langsung menyambitkan kutungan senjata ke dada pemiliknya. Disambut pekik ngeri, dua orang pendekar itu roboh terpelanting dengan dada tertembus patahan golok yang menancap dalam.
Sementara Thian Kong Cinjin dan dua temannya yang lain berseru kaget, Iblis Penagih Jiwa ini telah memutar kaki dan menendang mereka.
"Des-des-plak!"
Thian Kong Cinjin dan dua temannya terlempar. Mereka terkejut dan bergulingan menjauh, namun melompat bangun dan menyerang kembali dengan menusuk mata Iblis Penagih Jiwa, membentak marah melihat lawan membunuh dua teman mereka.