Halo!

Pedang Medali Naga - Chapter 154

Memuat...
Pedang Medali Naga

Chapter 154

So-beng yang merendahkan tubuh telah mengelak, lalu menangkis tiga tusukan itu dengan telapak tangannya sembari berseru keras. Sementara lawannya terdorong, dia segera mencabut cakar bajanya dan membabat mereka.

"Awas!" seru Thian Kong Cinjin kaget, memekik memperingatkan dua temannya.

Namun, dua orang pendekar yang masih terhuyung itu tidak mampu mengelak. Mereka terkejut melihat cakar baja di tangan Iblis Penagih Jiwa itu menyambar ke arah mereka. Begitu terbelalak dengan muka pucat, senjata maut itu telah mengenai leher mereka tanpa ampun.

"Crak-augh!" Thian Kong Cinjin memejamkan mata. Dia melihat betapa ganas, kejam, dan tidak kenal ampun Iblis Penagih Jiwa itu.

Membentak marah melihat dua temannya roboh, ketua Kong-thong itu melengking dan memutar pedangnya dengan hebat. Dia menyerang dengan nekat, menusukkan pedang bertubi-tubi sekenanya. Namun, karena Hoat-ciong-ko melindungi lawannya dan pedang itu selalu terpental saat bertemu dengan So-beng, ketua Kong-thong itu akhirnya mengeluh dan ganti terdesak.

Ia tidak dapat menyerang kedua mata lawannya karena So-beng selalu mengelak dan melindungi bagian itu dengan baik, baik dengan menangkis maupun memiringkan kepala. Karena pedangnya selalu terpental mengenai bagian tubuh lain, tosu itu menjadi bingung dan gugup hingga mulai terkena pukulan.

So-beng terus melancarkan *Tok-hwe ji* dengan tangan kirinya, sementara tangan yang lain menggerakkan cakar baja untuk menangkis atau membalas serangan. Karena So-beng jauh lebih hebat—hal yang harus diakui oleh Thian Kong Cinjin—beberapa saat kemudian, ketua Kong-thong itu mulai terluka. Cakar baja mulai mencabik-cabik tubuhnya. Ketika pedangnya terlepas saat menangkis senjata lawan, So-beng terbahak dan menyerang lawan yang sudah tidak berdaya itu.

"Thian Kong Cinjin, susullah arwah teman-temanmu!"

Thian Kong Cinjin terbelalak melihat cakar baja menyambar dengan kecepatan kilat. Tosu itu mengeluh dengan muka gemetar dan berteriak ketika senjata maut tersebut menghunjam dadanya, tembus dan menghancurkan segala isinya hingga ia roboh terjengkang.

Begitu ketua Kong-thong itu tewas, Kun Houw yang sejak tadi terkesima tiba-tiba sadar dan tidak bisa menahan diri lagi. "So-beng, kau kejam!" Kun Houw berkelebat ke depan. Ia mengayunkan lengannya dengan gerakan *Kiam-ciang* (Tangan Pedang), membacok dan menghantam tengkuk Iblis Penagih Jiwa itu dengan penuh kemarahan.

So-beng, yang memutar tubuhnya karena terkejut oleh bentakan tersebut, segera menggerakkan senjata untuk menangkis serangan Kun Houw. "Plak!" Keduanya sama-sama terdorong mundur.

Kun Houw mendelik, beringas memandang lawannya. Ia teringat kematian gurunya dan lupa akan perjanjiannya dengan Ok-ciang-kun. Melihat lawan menangkis serangan *Kiam-ciang*-nya, dia segera mencabut Pedang Medali Naga dan berseru melengking, "So-beng, bayar utang jiwa guruku!" Kun Houw melompat dengan pedang berputar, menusuk tenggorokan Iblis Penagih Jiwa itu dengan dahsyat menggunakan jurus-jurus terampuh dari ilmu silat *Butiong Kiam-sut*.

Begitu ia membentak dan memutar pedangnya, So-beng segera berteriak-teriak melompat ke sana-sini. "Kun Houw, kita teman, bukan musuh!"

Namun, Kun Houw telah lupa akan segalanya. Ia terbakar oleh kekejaman Iblis Penagih Jiwa itu, teringat kematian gurunya yang mengenaskan sepuluh tahun yang lalu. So-beng yang didesak hebat akhirnya tidak dapat mengelak tanpa membalas. Iblis Penagih Jiwa itu menggeram, dan ketika pedang di tangan Kun Houw menyambar ulu hatinya, ia membentak keras dan menggerakkan cakar bajanya untuk menangkis.

"Crang!" So-beng terbelalak. Ia lupa bahwa Pedang Medali Naga di tangan Kun Houw memiliki ketajaman luar biasa. Begitu menangkis, ia merasa senjatanya ringan dan terkejut saat melihat ujung senjatanya putus terbabat; cakar baja lima jari buatannya hancur, menyisakan gagang yang mirip tongkat.

Sementara ia terbelalak, pedang itu membalik dan menyambar pinggangnya. "Aih!" Iblis Penagih Jiwa itu membanting tubuh dan bergulingan. Ia tidak berani mengandalkan kekebalan *Hoat-lek kim-ciang-ko*-nya karena gentar. Saat ia melompat bangun dengan mata melotot, Kun Houw kembali mengejar dengan tusukan pedang yang bertubi-tubi bagai hujan yang tidak pernah habis. Ketika satu babatan tidak dapat dihindari, terbuktilah bahwa *Hoat-lek kim-cong-ko*-nya tidak mampu menahan ketajaman Pedang Medali Naga hingga sobek dan mengeluarkan darah.

"Bret!" So-beng mencelos melihat pedang di tangan pemuda itu kembali menukik, diiringi lengkingan Kun Houw yang gembira melihat darah. Iblis Penagih Jiwa itu berkaok-kaok sambil berjungkir balik menyelamatkan diri. "Kun Houw, keparat kau! Kita teman, bukan musuh!"

Namun, Kun Houw tidak peduli. Ia terus mengejar dengan nafsu membunuh yang besar, menusuk dada lawan dengan jurus *Bianglala Menari*. Ketika Iblis Penagih Jiwa itu harus kembali bergulingan, terdengar bentakan Siang-mo Ji-bin yang menangkis pedang Kun Houw.

"Kun Houw, Kui Hoa-niocu tertangkap. Tahan pedangmu!"

Kun Houw terkejut, otomatis menahan serangan, dan terbelalak mendengar seruan itu. So-beng yang menyeka peluhnya dengan mata berapi-api membentak, "Kun Houw, jahanam kau. Awas, kulaporkan pada Ok-ciang-kun."

Siang-mo Ji-bin ikut marah, "Terlalu kau, bocah! Kenapa menyerang teman sendiri? Lihat, putri Panglima Ok itu tertangkap. Kau bisa dihukum Ok-ciang-kun karena perbuatanmu ini!"

Siang-bin memandang So-beng lalu berseru, "Kedok setan, mari kita ke depan. Kui Hoa-niocu ditangkap Pendekar Gurun Neraka!" Dua kakek iblis itu berkelebat pergi, disusul Iblis Penagih Jiwa yang sempat mendelik pada Kun Houw. "Hati-hati, suhengku akan menghukummu berat sekali, Kun Houw. Aku minta supaya kepalamu dipancung!"

Kun Houw menekan gejolak rasanya. Ia sadar dan termangu oleh kemarahannya tadi, merasa tidak enak karena telah melanggar janji. Namun, mendengar Kui Hoa tertangkap dan pertempuran berhenti, ia pun menyusul tiga iblis itu.

Kun Houw tertegun melihat Kui Hoa di tangan Pendekar Gurun Neraka dalam keadaan lumpuh tertotok. Semua orang yang mengepung rombongan kecil itu mendengar Pendekar Gurun Neraka berseru, "Ma-ciangbu, bagaimana keputusan kalian? Apakah pertempuran ini ingin dilanjutkan?"

Ma-ciangbu, perwira yang dekat dengan Kui Hoa-niocu, terbelalak. Ia tidak sanggup bicara dan menoleh ke sana-sini mencari Kui Lin, karena gadis itulah yang menjadi wakil Kui Hoa-niocu. Namun, Pendekar Gurun Neraka memberi isyarat dan menyuruh istrinya muncul. Ma-ciangbu bengong melihat Kui Lin tertangkap pula di tangan istri Pendekar Gurun Neraka.

So-beng yang muncul bersama Siang-mo Ji-bin membuat perwira itu girang karena merasa terlepas dari kesulitan. "Hu-ciangkun, dua keponakanmu tertangkap!"

So-beng mengangguk karena sudah melihatnya dari jauh. Mereka bertiga berhadapan dengan mata melotot ketika Ceng Bi mengangkat putri Panglima Ok itu. "So-beng, kami ingin menukar kebebasan kami dengan dua orang gadis ini. Bagaimana pendapatmu?"

So-beng mendengus, "Tentu saja boleh, Hujin. Serahkan dia dan kalian pergilah!"

"Hm!" Pendekar Gurun Neraka tersenyum mengejek. "Kami tidak dapat melakukannya begitu saja, Iblis Penagih Jiwa. Kalau ingin dua gadis ini selamat, buka kepungan dan minggirlah. Biarkan kami pergi!"

So-beng ragu-ragu. Ia memandang licik rombongan musuhnya itu, namun akhirnya mengangguk dan tertawa dingin sembari menoleh pada perwira bermarga Ma. "Ciangbu, buka pasukan dan suruh mereka minggir! Biarkan mereka lewat!"

Ma-ciangbu mengangguk. Ia memerintahkan pasukannya memberi jalan hingga terbentuk lorong panjang.

"Hujin, silakan lewat. Lepaskan sekarang dua orang keponakanku itu!"

"Hm!" Pendekar Gurun Neraka kembali tertawa mengejek. "Kami masih dalam kepungan Iblis Penagih Jiwa. Mana bisa aku melepaskan dua orang keponakanmu itu? Biarkan kami lewat hingga seratus meter di ujung pasukan. Setelah itu, dua orang keponakanmu bebas dan kami lepaskan!"

So-beng terpaksa mengikuti. Ketika Pendekar Gurun Neraka memberi isyarat agar rombongannya keluar, ia beradu pandang dengan Kun Houw yang baru saja tiba. Kun Houw terkejut melihat Sin Hong melompat ke depan.

"Houw-ko, sadarkah kau akan apa yang kau lakukan ini? Tahukah kau bahwa perbuatanmu ini adalah perbuatan sesat?"

"Cerewet!" bentak Kun Houw. "Kau tidak perlu menggurui aku, Sin Hong. Aku tahu apa yang aku lakukan!"

"Kalau begitu kau semakin tersesat, Houw-ko. Kau..."

"Dia persis ibunya!" Ceng Bi tiba-tiba melengking memotong ucapan Sin Hong. Ceng Bi yang terkenal galak membentak, "Kun Houw, kau tidak tahu malu membantu orang-orang jahat ini! Tapi karena ibumu adalah manusia iblis, tidak heran kalau kau menjadi iblis!"

Ceng Bi menyambar putranya keluar dari kepungan dan menampar muka Kun Houw yang langsung memerah padam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment