Chapter 155
Tapi Pendekar Gurun Neraka yang tersenyum pahit mencoba melunakkan kata-kata istrinya.
"Kau tak dapat keuntungan bergaul dengan orang-orang macam ini, Kun Houw. Aku akan menantimu di Ta-pie san kalau kau sadar!" Kun Houw terpukul.
Dia melihat satu per satu rombongan Pendekar Gurun Neraka keluar dari kepungan, rata-rata memandang tak senang padanya, membawa pula mayat Thian Kong Cinjin dan Bu Wi Hosiang serta orang-orang lain yang tewas. Dan ketika Pendekar Gurun Neraka melompat paling akhir di belakang barisan itu, akhirnya Kui Hoa dan adiknya dibebaskan, seratus meter sesuai perjanjian. Dan begitu Pendekar Gurun Neraka mengajak rombongannya pergi, maka mereka pun lenyap di balik kegelapan malam, meninggalkan ribuan orang yang bengong tak dapat berbuat apa-apa.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kun Houw telah dipanggil Ok-ciangkun. Dia melihat panglima itu duduk dengan muka merah, tampak berang. Dan Kun Houw yang maklum akan apa yang dihadapinya itu sudah menghadap panglima ini dengan pura-pura bodoh, mendengar panglima itu membentaknya kasar, "Kun Houw, apa yang kaulakukan semalam?" Kun Houw menenangkan hati.
"Apa maksudmu, Ciangkun? Kelakuan yang mana?" Panglima itu menggebrak meja.
"Kau menyerang adik seperguruanku, Kun Houw. Kau mengingkari janjimu sendiri hingga dua puteriku tertangkap!" Kun Houw terdiam.
"Apa jawabanmu sekarang? Masihkah kamu pura-pura tak tahu?" Kun Houw menarik napas.
"Maaf, semalam aku khilaf, Ciangkun. Aku lupa pada keadaanku saat itu."
"Dan kau diam saja, Kun Houw. Kau menonton saja pertempuran orang-orang lain. Kau tidak bergerak atau menghalangi orang-orang yang dipimpin Pendekar Gurun Neraka itu!" Kun Houw mengerutkan kening.
"Ini tidak benar, Ciangkun. Semalam aku juga menghadapi orang-orang itu."
"Siapa?"
"Sin Hong."
"Dan siapa lagi?" Kun Houw diam. Dia tak dapat menjawab karena yang dihadapi memang baru putera Pendekar Gurun Neraka itu. Dan Ok-ciangkun yang kembali menggebrak meja marah-marah sudah membentak pemuda ini, "Kun Houw, aku ingin kau melakukan sesuatu untuk menebus dosamu ini. Sekarang apa jawabanmu tentang kesetiaanmu kepadaku? Masihkah janji pertaruhan itu kau pegang teguh?" Kun Houw mengangkat kepala.
"Aku tetap memegangnya selama perjanjian itu masih berlaku, Ciangkun. Dan apa pun hukuman yang ingin kau berikan padaku, maka aku akan menerimanya."
"Bagus, kalau begitu hari ini juga aku memerintahkan padamu untuk menangkap Pendekar Gurun Neraka, Kun Houw. Hidup atau mati!" Kun Houw terkejut.
"Kau tak sanggup? Kau takut?" Kun Houw tiba-tiba marah.
"Aku tidak takut, Ciangkun. Tapi berhasil atau tidak, terus terang tak dapat aku menjanjikannya!"
"Tak peduli. Kalau kau tidak dapat menangkap Pendekar Gurun Neraka, maka kuanggap pekerjaanmu setengah-setengah, Kun Houw. Kau sengaja membantu musuh kalau tak berhasil!" Kun Houw panas.
"Tapi menangkap Pendekar Gurun Neraka tak semudah menangkap pencuri, Ciangkun. Kau sendiri tahu dan tak boleh memastikannya demikian!"
"Ah, itu alasanmu, Kun Houw. Betapapun kau harus dapat menangkap pendekar itu hidup atau mati. Kalau tidak, kuanggap janjimu kosong belaka!" Kun Houw terbelalak. Dia menjadi marah oleh kata-kata panglima ini, tapi Kui Hoa muncul di tempat itu, tiba-tiba berseru, "Ayah, kau tak adil. Tak mungkin Saudara Kun Houw harus menghadapi pendekar itu seorang diri!" Panglima Ok terkejut. Kun Houw juga kaget.
Dan mereka berdua yang tertegun melihat gadis ini kembali mendengar Kui Hoa berkata, membela Kun Houw, "Sebaiknya kita membuka mata melihat kenyataan ini, Ayah. Bahwa Pendekar Gurun Neraka tak mungkin dihadapi dengan cara seperti itu, seorang diri. Kun Houw harus dibantu!" Panglima Ok terbelalak.
"Maksudmu?"
"Maksudku, Kun Houw harus ditemani seorang atau lebih untuk menjalankan perintahmu itu, Ayah. Kalau tidak, sama halnya kau membunuh pemuda ini lewat musuh-musuh yang kuat!"
"Kui Hoa!" Panglima Ok membentak, bangkit berdiri. "Kau hendak mengatakan bahwa ayahmu sengaja mengumpankan Kun Houw untuk dibunuh? Kau menuduh aku memakai tangan orang lain untuk melenyapkan pemuda ini?"
"Tidak." Kui Hoa menggelengkan kepalanya tegas. "Aku tidak menuduhmu begitu, Ayah. Melainkan kukatakan di sini bahwa menyuruh Kun Houw seorang diri menghadapi Pendekar Gurun Neraka adalah tidak mungkin. Apalagi di sekeliling pendekar itu masih banyak terdapat anak istrinya yang lihai-lihai!"
Dan Kui Lin yang juga tiba-tiba muncul memasuki ruangan itu menimbrung. "Benar, apa yang dikatakan Enci Hoa memang tidak salah, Ayah. Sebaiknya Kun Houw ditemani seorang atau lebih untuk melaksanakan tugasnya itu!" Panglima Ok terhenyak. Dia melotot memandang dua orang puterinya itu, tapi Kun Houw yang tersinggung dan tersentuh harga dirinya tiba-tiba menggelengkan kepala.
"Tidak, semuanya itu tak perlu bagiku, Ok-siocia. Aku tak biasa merengek minta bantuan pada orang lain. Biarlah tugas ini kulaksanakan seorang diri dan tak perlu kalian ikut campur!" Kui Hoa terbelalak.
"Jangan sombong, Kun Houw. Pendekar Gurun Neraka orang yang amat lihai dan hebat!"
"Aku tahu. Tapi tak perlu mengasihani aku, Nona. Aku sanggup dan siap menjalankan tugas ini!" Dan tak mau Kui Hoa membantah omongannya, tiba-tiba Kun Houw menghadapi panglima itu. "Ok-ciangkun, aku siap menebus kesalahanku. Perkenankan aku pergi." Dan Kun Houw yang mengangguk memberi hormat sekonyong-konyong memutar tubuhnya dan berkelebat keluar!
Kui Hoa tertegun. Kui Lin juga terbelalak, tapi Kui Hoa yang melompat mengejar berseru, "Kun Houw, tunggu...!" Dan Kun Houw yang sudah dilompati kepalanya itu tiba-tiba berhenti dan mengerutkan keningnya.
"Ada apa, Nona?" Kui Hoa menggigil.
"Aku menyarankan sekali lagi usulku tadi, Kun Houw. Jangan sombong dan buang semua keangkuhanmu itu!" Kun Houw menyeringai.
"Itu urusanku sendiri, Nona. Sombong atau tidak sombong tak perlu kau nasihati!" Dan Kun Houw yang mendorong lengannya ke depan tiba-tiba berkelebat di samping puteri Ok-ciangkun ini, keluar tak menghiraukan gadis baju hijau itu.
Dan Kui Hoa yang mau menyusul tiba-tiba mendengar bentakan ayahnya. "Kui Hoa, jangan bersikap tak tahu malu!" Ok-ciangkun tiba-tiba telah mencekal lengan puterinya ini, marah dan menahan lompatan Kui Hoa. Dan Kui Hoa yang terbelalak memandang ayahnya itu tiba-tiba menangis.
"Ayah, kau mau membunuh Kun Houw. Kau sengaja mengumpankan pemuda itu pada musuh!" Ok-ciangkun melotot. Dia menampar puterinya, membuat Kui Hoa terpelanting dan bangun dengan kaki menggigil.
Dan Kui Lin yang juga menyusul menolong kakaknya lalu menghadapi ayahnya itu dengan dada dibusungkan. "Ayah, apa yang dikatakan Enci Hoa memang benar. Kenapa kau menamparnya?" Ok-ciangkun terbelalak.
"Siapa yang mengumpankan Kun Houw pada musuh? Kalian tahu apa tentang pemuda itu?" Dan mendesis mengepal tinjunya, panglima ini berkata, "Kun Houw adalah keturunan Pendekar Gurun Neraka itu, Lin-ji. Tak mungkin Pendekar Gurun Neraka membunuh puteranya sendiri. Dia anak Tok-sim Sian-li yang tewas bunuh diri!" Kui Lin tertegun.
"Tok-sim Sian-li?"
"Ya, kaukira apa, Lin-ji? Bukankah semalam kalian dengar sendiri istri Pendekar Gurun Neraka memaki anak itu? Dia memang anak si iblis wanita Tok-sim Sian-li, hasil hubungan gelapnya dengan Pendekar Gurun Neraka!"
"Aah...!" Dan Kui Lin serta Kui Hoa yang terbelalak mendengar ini tiba-tiba saling pandang dengan alis dikerutkan, teringat bentakan Ceng Bi yang memaki pemuda itu. Tapi teringat akan Ceng Liong, mereka menjadi heran.
"Tapi bukankah Ceng Liong yang menjadi putera iblis betina itu, Ayah?"
"Hmm, Ceng Liong bukan putera iblis betina itu, Hoa-ji. Dia adalah keturunan Pouw Kwi, teman ayahmu yang dulu menjadi murid Angi-Lo-mo."
"Dan ibunya?"
"Kalian mendengar nama Bwee Li, bukan?"
"Dialah ibunya. Selir Yue Chang itu telah menukar Ceng Liong dan Kun Houw ketika masih bayi!"
"Ah, kalau begitu Kun Houw adalah Ceng Liong, Ayah? Dan Ceng Liong sendiri, siapa dia?"
"Kun Houw memang Ceng Liong, Hoa-ji. Sedang Ceng Liong adalah Hua Kiat, Pouw Hun Kiat karena dia adalah keturunan Pouw Kwi."
Kui Lin dan kakaknya terhenyak. Mereka baru tahu itu, tapi sang ayah yang tak mau banyak bicara lagi sudah melompat ke dalam dengan muka gelap, masih marah. Dan Kui Hoa yang terbelalak memandang kepergian Kun Houw tiba-tiba berbisik pada adiknya, "Lin-moi, aku akan menyusul Kun Houw. Aku akan menemani dia dari jauh...!" Kui Lin terkejut.
"Kau mau pergi, Enci?"
"Ya, aku tak enak membiarkan Kun Houw menghadapi musuh sendirian, Lin-moi. Aku harus membantu kalau ada apa-apa!" Dan Kui Hoa yang siap melompat tiba-tiba ditahan adiknya yang terisak gemetar.
"Enci Hoa, kau tak ingat diriku lagi? Kau mengejar pemuda yang telah menjatuhkan hatimu itu?" Kui Hoa terkejut.
"Aku, eh... aku hanya mengkhawatirkan Kun Houw, Lin-moi. Aku merasa Ayah keterlaluan dengan membiarkan pemuda itu bekerja seorang diri!"
"Dan untuk itu kau tak segan-segan meninggalkan aku, Enci? Kaukira aku dapat hidup sendiri tanpa kau?"
"Ah, apa maumu, Lin-moi?"
"Aku mengikutimu pula, Enci. Aku tak mau kaubiarkan sendiri!"
"Tapi Ayah..."
"Tak perlu berpura-pura, Enci. Kau tahu Ayah tak mungkin menghukum kita. Paling-paling dia marah dan menegur kita kalau kita melakukan kesalahan. Aku ikut!" Kui Hoa tertegun.
"Atau kalau benar-benar kau mengkhawatirkan Kun Houw, boleh kita menukar diri, Enci. Aku yang akan mengikuti pemuda itu dan kau di rumah!"
"Tidak!" Kui Hoa menggeleng cepat-cepat. "Aku tak mau menukar pekerjaan ini, Lin-moi. Kalau kau mau ikut, baiklah, kita berangkat sekarang!" Dan Kui Hoa yang melengos menyembunyikan matanya yang basah tiba-tiba menarik adiknya melompat pergi.
Kui Lin terharu. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati kakaknya itu, betapa Kui Hoa mencintai dan ingin selalu berdekatan dengan Kun Houw. Cemas bahwa Kun Houw harus mencari Pendekar Gurun Neraka, menangkapnya hidup atau mati. Hal yang sesungguhnya sukar dilakukan dan terlalu berat bagi Kun Houw. Maka melihat kakaknya menangis dan diam-diam menggigit bibir, akhirnya Kui Lin menjadi gemas pada murid Bu Tiong-kiam itu.