Chapter 156
Apakah Kun Houw laki-laki yang tidak punya perasaan? Apakah pemuda itu tidak tahu budi dan tidak tahu diri? Hmm, awas kau, bocah.
Kui Lin mengepal tinjunya. Kalau sampai ada apa-apa menimpa encinya, ia akan mencari Kun Houw dan membuat perhitungan. Kui Lin, yang terharu oleh pengorbanan encinya, lalu mengikuti kakaknya tanpa banyak cakap lagi.
Sementara di depan, Kun Houw yang sudah jauh meninggalkan kota raja juga berlari cepat mengerahkan ilmu ginkangnya. Dia langsung menuju Ta-pie-san karena di sanalah Pendekar Gurun Neraka tinggal. Namun, merasa diikuti seseorang, Kun Houw mengerutkan kening dan berhenti di luar hutan. Akan tetapi, aneh; orang yang disangka mengikutinya tidak muncul juga. Mengira perasaannya yang keliru, Kun Houw melanjutkan perjalanannya kembali dengan berlari cepat.
Namun, lagi-lagi ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Kun Houw mendengar suara-suara di belakang. Karena penasaran dan ingin tahu, Kun Houw akhirnya memasuki hutan dan melayang naik ke atas sebuah pohon yang tinggi. Kun Houw tertegun. Dia melihat Kui Hoa dan Kui Lin berkelebat di luar hutan, menyembunyikan diri sambil mengikuti langkahnya. Kun Houw, yang berdebar melihat bayangan dua gadis itu, tiba-tiba menjadi marah dan tidak senang.
Maka, begitu keduanya memasuki hutan dan berintip-intip mencari dirinya, tiba-tiba Kun Houw melayang turun dan membentak mereka.
"Apa yang kalian cari, Ok-siocia?"
Kui Hoa dan adiknya terkejut. Mereka tersentak kaget dan gelagapan. Namun, Kui Lin yang mendahului bicara segera menjawab, "Kami ingin membantumu, Houw-twako. Enci Hoa tidak sampai hati membiarkan kau bekerja seorang diri!"
"Hmm," wajah Kun Houw memerah. "Siapa suruh kalian membantuku? Dan siapa pula yang perlu dibantu? Aku tidak butuh bantuan, Nona. Sebaiknya kalian pulang saja dan kembali ke kota raja!"
Kui Lin dan kakaknya tertampar, mereka malu. Namun, Kui Lin yang marah oleh kata-kata Kun Houw segera membentak, "Sombong, kau tidak mengukur kekuatanmu sendiri, Houw-twako! Mana mungkin kau mengalahkan Pendekar Gurun Neraka seorang diri? Melawan kami berdua pun belum tentu kau menang. Tak perlu takabur dan pongah di hadapan kami!"
Kun Houw terkejut. Dia terbelalak mendengar ucapan Kui Lin ini. Kui Hoa yang juga terkesiap oleh kata-kata adiknya buru-buru maju ke depan. "Maaf, kami ingin membantumu setulus hati, Houw-twako. Tapi kalau kau tidak suka, baiklah, kami tidak akan membantumu. Namun, Pendekar Gurun Neraka bukan musuhmu seorang, melainkan musuh kami juga karena kami ingin membalas kekalahan di Wu-kian!"
Kun Houw mengerutkan alis. Dia beradu pandang dengan gadis berbaju hijau ini, tergetar melihat Kui Hoa berkaca-kaca; rupanya terpukul oleh pernyataannya yang kasar tadi. Namun, Kui Lin yang rupanya sudah terlanjur naik pitam berkata, "Tak perlu sungkan, Enci. Kalau Kun Houw merasa gagah, biarlah dia mengadu kepandaian dulu dengan kita. Coba lihat, mampukah dia mengalahkan kita sebagai batu ujian apakah dia sanggup menghadapi Pendekar Gurun Neraka."
*Srat!* Kui Lin mencabut pedangnya, lalu tiba-tiba mendorong encinya sambil menantang Kun Houw. "Orang she Yap, majulah. Mari kita main-main sebentar!"
Kun Houw terkejut. "Orang she Yap?"
"Ya, bukankah kau bermarga Yap, manusia sombong? Kami telah tahu siapa kau dan tak perlu cerewet lagi!"
Kun Houw tertegun. Seketika dia gemetar. Kui Lin, yang memutar-mutar pedang dengan mata berapi-api, tiba-tiba membuatnya sesak napas dan marah. Namun, Kui Hoa yang terbelalak memandang adiknya tiba-tiba membentak dan mencoba merampas pedang itu.
"Lin-moi, jangan kurang ajar!"
Kui Lin mengelak. Dia tidak mau pedangnya direbut, dan dengan marah ia memandang encinya, "Tak perlu membela pemuda macam ini, Cici. Dia tidak punya jantung dan tidak tahu budi!"
"Tidak!" Kui Hoa pucat. "Tahan mulutmu, Lin-moi. Jangan memaki-maki atau kutampar mulutmu nanti!"
Kui Lin terbelalak. "Kau mau menamparku, Cici? Kau, ah!" Kui Lin membanting kakinya, semakin marah, dan memaki Kun Houw karena tidak percaya pada kata-kata encinya. "Kun Houw, kau laki-laki siluman. Kau tidak tahu disayang enciku dan tidak tahu budi. Kau tidak punya jantung dan..."
*Plak-plak!*
Kui Lin tiba-tiba roboh terlempar. Kui Hoa telah menamparnya keras sekali, marah dan malu mendengar adiknya berteriak-teriak. Kui Lin yang terbelalak seakan tidak percaya, tiba-tiba melompat bangun dan menangis.
"Cici, kau... kau benar-benar menamparku?"
Kui Hoa tertegun. Sekarang dia menyesal dan sadar akan apa yang dilakukannya kepada Kui Lin, lalu terisak dan melompat memeluk adiknya. Tapi Kui Lin, yang mengibaskan lengan dan mengelak, sudah memandang Kun Houw dengan penuh kemarahan. Melihat betapa cinta telah membuat encinya bagai orang kehilangan akal, berani menamparnya padahal seumur hidup belum pernah encinya itu berbuat seperti itu.
Maka, sambil melotot dan jari menuding ke depan, Kui Lin berkata, "Lihat, buka mata dan perasaanmu baik-baik, Yap Kun Houw. Tidakkah kau lihat enciku telah menamparku sedemikian rupa? Kau telah menjatuhkan hatinya tapi tidak bertanggung jawab. Kau patut dibunuh. Kau tidak tahu akan cinta kasih orang hingga saudara sendiri dilupakan. Hiat!"
Kui Lin menerjang dengan pedang di tangan dan menusuk tenggorokan Kun Houw dengan ganas sekali. Kun Houw terkejut. Dia juga tertegun oleh perbuatan Kui Hoa yang menampar adiknya tadi, perbuatan yang membuat dia terbelalak dan kaget. Maka, mendengar Kui Lin melampiaskan semua kemarahan dan memaki dirinya bagai orang yang tidak punya perasaan dan cinta kasih, tiba-tiba Kun Houw menggigit bibirnya; malu setengah marah. Melihat Kui Hoa terbelalak memandangnya pula, mukanya merah dan pucat berganti-ganti.
Namun, melihat Kui Lin telah menyerangnya dengan tusukan maut, tiba-tiba Kun Houw membentak dan menangkis.
*Plak!*
Kui Lin memekik. Ia terdorong oleh pukulan itu, menjerit, dan semakin marah. Begitu melompat maju dan melengking tinggi, tiba-tiba ia pun menyerang kembali dengan pedang yang diputar cepat, menusuk, menikam, serta membacok bertubi-tubi. Ketika Kun Houw harus melompat ke sana kemari menghindari, tiba-tiba saja Kun Houw terdesak dan tidak dapat membalas.
Kun Houw bingung. Dia tidak dapat berpikir harus bersikap bagaimana saat itu. Apa yang akan dilakukannya kepada Kui Lin? Mencabut pedang atau berlompatan saja menghindari semua serangan lawan? Tapi ketika serangan Kui Lin semakin gencar dan beberapa kali dia tergores mata pedang, akhirnya Kun Houw menggigit bibir dan membentak marah.
"Ok-siocia, tahan pedangmu. Jangan membuat aku marah!"
Kui Lin melengking meneruskan serangannya. "Apa peduliku kau marah, Kun Houw? Kalau mau marah, silakan marah. Aku tidak peduli!"
*Bret!*
Pedang Kui Lin kembali mengenai lengan Kun Houw. Akhirnya, Kun Houw benar-benar tidak dapat menahan diri. Dia melempar tubuh bergulingan ketika gadis itu menyerangnya dengan tusukan cepat yang hampir saja menggores dadanya. Saat pedang mengejar dan dia melompat bangun, saat itulah Kun Houw mengerahkan *Kiam-ciang*-nya.
*Plak!*
Pedang Kui Lin kali ini tergetar hebat. Kui Lin terkejut, merasa lengannya kesemutan. Tapi gadis yang nekat dengan serangannya itu masih juga membalik dan membacok pinggang Kun Houw. Kun Houw, yang tentu saja tidak mau dilukai, segera menggerakkan *Kiam-ciang*-nya dengan lebih kuat. Begitu pedang tertampar untuk kedua kalinya, pedang di tangan Kui Lin terlepas dan mencelat dari pegangannya.
*Trang-aih!*
Kui Lin menjerit. Dia marah dan gusar melihat pedangnya terlepas. Namun, sambil membentak dan menggerakkan tangan untuk menyerang, ia masih nekat melancarkan pukulan tangan kosong ke arah Kun Houw, tidak peduli pada keselamatan diri sendiri. Ketika Kun Houw membalas dan satu tepukan mengenai pundak gadis itu, Kui Lin terlempar dan roboh terpelanting.
Akan tetapi, aneh sekali. Kui Lin seakan tidak merasa tepukan di pundaknya itu; ia bangun kembali dan menyerang semakin kalap. Ketika untuk kedua kalinya Kun Houw menampar dan gadis itu terbanting lebih keras, Kui Lin kembali melompat bangun seakan tidak merasa apa-apa. Kebal. Rupanya, ia memiliki perlindungan diri yang istimewa.
Kun Houw, yang teringat pada ayah gadis ini yang juga memiliki kekebalan aneh, segera teringat akan *Hiat-lek kimciong-ko* yang luar biasa itu, yang tidak mempan senjata tajam kecuali Pedang Medali Naga. Kun Houw yang mengerutkan alis melihat kekebalan gadis itu segera menjadi bingung untuk menentukan sikap. Haruskah dia mencabut pedang? Melukai dan mungkin mencelakai gadis ini? Tidak. Kun Houw tidak dapat melakukannya. Karena dia bingung melayani Kui Lin, akhirnya Kun Houw terkena satu tendangan keras yang membuatnya terkejut.
Kun Houw terlempar. Ketika Kui Lin yang kalap menyerangnya kembali dengan pukulan bersinar putih (*Gin-kong-jiu*), tiba-tiba Kun Houw mencelat dan terbanting hingga memuntahkan darah!
*Dess!*
Kui Lin terbelalak. Sekarang ia menghentikan serangannya. Kui Hoa menjerit dan berkelebat ke depan, tahu-tahu menolong Kun Houw dengan seruan gemetar, "Houw-ko, kau terluka?"
Kui Lin tertegun. Ia melihat kakaknya itu sudah mengeluarkan sapu tangan, mengusap darah di mulut Kun Houw dengan jari-jari menggigil, terisak, dan membangunkan Kun Houw dengan muka pucat. Kun Houw sendiri yang tertegun melihat pertolongan ini tiba-tiba tergetar dan mengeluh melihat pandangan mata Kui Hoa yang demikian penuh getaran mukjizat. Ia tidak kuat dan memejamkan mata oleh cahaya cinta kasih yang tidak dapat disembunyikan lagi oleh gadis itu; pandangan yang didorong oleh rasa cemas dan kaget.
Ketika Kui Hoa mengusap pula keringat di mukanya, tiba-tiba Kui Lin melengking dan memutar tubuh meninggalkan mereka berdua. "Enci, Kun Houw bukan manusia baik-baik. Dia tidak punya jantung dan tidak punya perasaan!"
Kui Hoa menggigit bibir. Dia sekarang melepaskan Kun Houw, mengambil sebutir obat, dan memasukkannya ke mulut Kun Houw.